W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Heryawan-Dede, Tren atau Kebetulan?

(Jawa Pos, 15/04/08) Kemenangan pasangan Heryawan-Dede Yusuf dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Barat, baik sebagai pasangan muda maupun sebagai pasangan yang diusung parpol menengah, merupakan tren ataukah kebetulan saja?Pertanyaan itu muncul lantaran kemenangan pasangan Heryawan-Dede Yusuf adalah kejutan. Tidak ada satun pun lembaga survei yang sebelumnya membeberkan temuannya yang menunjukkan bahwa mereka bakal menang.

Hampir semua analisis dan prediksi memperkirakan bahwa yang bakal keluar sebagai orang nomor satu di Jawa Barat adalah pasangan Agum Gumelar-Nu’man atau pasangan Danny Setiawan (incumbent)-Iwan Sulandjana.

Belakangan dalam banyak kesempatan terungkap adanya desakan agar ruang kepemimpinan politik sudah saatnya diisi pemimpin muda. Ada semacam kerinduan publik agar orang-orang muda yang masih segar, kreatif, inovatif, dan sarat vitalitas memegang kendali kepemimpinan politik.

Desakan regenerasi kepemimpinan politik mungkin juga dipahami sebagai kejenuhan terhadap kepemimpinan kalangan tua. Jenuh karena mereka -yang tua-tua itu- tidak lagi banyak diharapkan untuk mendorong perubahan dan pembaruan.

Mereka -yang tua-tua itu- sudah gagal. Tidak bisa lagi memberikan perbaikan bagi peningkatan kualitas kenegaraan, peningkatan kesejahteraan umum dan keadilan, serta hidup yang lebih beradab.

Persoalannya, apa parameter yang tepat untuk menggambarkan kegagalan itu? Perbaikan ekonomi, peningkatan kualitas lembaga-lembaga politik, penegakan hukum, pelayanan publik, dan pemberian rasa adil?

Dalam hal ini, tidak ada parameter yang benar-benar tepat untuk menggambarkan kegagalan itu. Semua dimensi kegagalan bersifat relatif. Bergantung dari sudut mana dan perspektif apa untuk melihat atau memahami.

Dengan kata lain, sekalipun kepemimpinan kalangan tua dianggap gagal, tidak bisa sepenuhnya memvonis bahwa mereka gagal total. Tetap saja ada sisi positif sekalipun mungkin kecil yang sesungguhnya telah mereka wujudkan selama kepemimpinannya.

Kalau demikian, misalnya, pada aspek dan perspektif apa desakan tentang perlunya reformasi kepemimpinan -orang muda sudah saatnya memimpin- itu dipahami atau ditempatkan? Harapan yang buntu.

Kalangan tua memang telah memberikan kontribusi dalam melakukan perbaikan. Hanya, karena kontribusi itu terlalu kecil, tidak cukup memberikan harapan ke depan untuk mewujudkan cita-cita besar.

Misalnya, karena terlalu kecil kontribusi perbaikan dalam kelembagaan politik dan tata kenegaraan, maka tidak cukup membuka lembaran baru ke depan yang optimistis guna mewujudkan Indonesia yang lebih adil dan lebih bermartabat.

Kemenangan Heryawan-Dede Yusuf dalam Pilgub Jawa Barat mungkin bisa dipahami dari perspektif ini. Hanya, terlalu dini untuk mengatakan bahwa kemenangan pasangan itu merupakan fakta empiris kondisi di Jawa Barat atau cermin kecil dari kondisi umum di Indonesia.

Jelasnya, belum cukup bukti untuk menyimpulkan bahwa kemenangan Heryawan-Dede Yusuf sebagai tren perubahan perilaku memilih. Paling realistis kemenangan mengejutkan itu adalah cermin kejutan, walaupun tetap bermakna besar guna mendorong reformasi kepemimpinan politik di masa mendatang.