W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Bangunlah Ukhuwah dengan Berbaik Sangka

Hikmah_Biru07(Dialog dengan Dr. Salim Segaf Al Jufrie, MA)

Sosoknya yang tenang dan tutur bicaranya yang mantap semakin menambah kewibawaan doktor syariah lulusan Universitas Madinah Arab Saudi ini. Tarbawi menemui Dr. Salim Segaf Aljufrie, MA, untuk menyoroti berbagai fenomena ukhuwah di Indonesia. Berikut petikan wawancara dengannya:

Menurut Anda bagaimana fenomena ukhuwah di kalangan umat?

Saya amati, biasanya kalau umat menghadapi masalah bersama, maka baru muncul ukhuwah. Contohnya seperti yang terjadi pada saat ini. Ketika umat dihadapkan pada permasalahan bersama, di mana saudara-saudara mereka tertindas, terbantai, muncul suatu kebersamaan di antara mereka. Memang, tabiat sebagian besar umat Islam begitu. Padahal semestinya ada atau tidak ada masalah kita harus membuat skala prioritas. Ada hal-hal yang pada dasarnya harus kita pikirkan bersama, ada hal-hal yang harus kita maklumi bersama. Dan tidak mungkin selamanya dalam satu pendapat. Saya rasa dengan sikap yang demikian akan muncul ukhuwah. Ukhuwah itu artinya benar-benar memikirkan saudaranya yang lain dan berupaya untuk membantu dalam hal-hal yang baik, tolong-menolong untuk menjauhkan umat, diri kita, saudara-saudara kita dari hal-hal yang buruk.

Menurut Anda, di manakah posisi ukhuwah dan sejauh mana signifikansinya dalam membangun umat?

Posisi ukhuwah mendasar sekali. Seperti apa yang dilakukan oleh Rasulullah ketika hijrah ke kota Madinah. Pertama, beliau mempersaudarakan Muhajirin dengan Anshor. Kenapa Rasulullah memilih terlebih dahulu mempersaudarakan Muhajirin dan Anshor? Sebab beliau melihat, tanpa itu, apa yang seluruhnya dilakukan akan tidak terlaksana. Karena tidak mungkin melaksanakan sesuatu jika tidak dilakukan secara kolektif.

Dalam Islam, ada beberapa model kekuatan. Dan satu kekuatan yang harus dimiliki oleh setiap muslim adalah kekuatan iman. Kekuatan iman merupakan kekuatan yang sangat signifikan. Setelah itu, kekuatan ukhuwah atau persaudaraan. Baru setelah itu, kekuatan persenjataan, dan yang lainnya. Bila senjata ada, makanan banyak, tetapi tidak ada persaudaran, tidak mungkin kita akan memaksimalkan semua itu.

Bagaimana kategori ukhuwah itu?

Kategori pertama adalah ukhuwah yang paling tinggi. Yaitu ukhuwah dalam mem-pertahankan agama, dalam mempertahankan akidah. Di mana seseorang itu siap untuk menyerahkan ruhnya demi kemashlahatan umat. Artinya mendahulukan kepentingan saudara seakidah di atas kepentingan diri sendiri. Mendahulukan dalam artiyang seluas-luasnya. Seperti seseorang siap berkorban dengan dirinya, memberikan apa yang dibutuhkan oleh saudara seakidah, dan itulah yang dikatakan itsar.

Itu diungkapkan dalam Al Quran, “wayu’tsiruna ‘ala anfusihim walau kaanat bihim khashaashah.” Contohnya seperti apa yang diungkapkan oleh Umar bin Abdul Aziz kepada para gubernurnya. Dia katakan, “Buatlah rakyatmu itu senang walaupun kamu susah.

Kemudian yang kedua, ukhuwah dalam arti bersama-sama, sepenanggungan, di mana kesulitan itu dipikul bersama, dan kesenangan pun dirasakan bersama pula. Dan yang agak turun, ya memperhatikan, tapi tidak penuh. Artinya dari seluruh waktu yang dimiliki, dia baru memberikan sebagiannya.

Hal asasi apa yang dibutuhkan dalam membangun ukhuwah?

Hal asasi pertama dalam membangun ukhuwah adalah berbaik sangka. Sebab kalau sudah mulai dengan berburuk sangka, maka sulit ukhuwah dibangun. Kemudian, kita jangan maunya menang sendiri. Artinya, kalau kita berdialog tidak mau kalah. Bahkan kita jadi berdebat kusir, ngotot, dan kalau kalah seakan-akan kita dipermalukan di depan publik. Padahal tidak begitu. Berikanlah contoh, kalau memang bersalah kita mengaku salah, itu yang paling bagus. Janganlah ada unsur-unsur arogan, dan tonjolkan sikap rendah hati.

Hal lain yang dapat membangun ukhuwah adalah menyimpan aib orang lain. Kalau mau mengingatkan atau menasehati, panggil dia dan sebutkan kesalahannya. Jangan di depan publik. Kalau tidak, yang terjadi adalah saling bongkar-bongkaran aib.

Hal terakhir yang memperkuat ukhuwah adalah silaturrahim. Banyak hal yang mampu kita selesaikan dengan silaturrahim.

Walaupun kita merasa benar, tapi tidak ada masalah, kita mundur satu langkah untuk maju sekian puluh langkah ke depan.

Lantas, bagaimana cara mendidik umat agar iklim ukhuwah itu kondusif?

Seperti yang saya katakan, sebagian besar umat kita adalah umat yang masih suka ikut-ikutan. Umat ini masih tergantung kepada para pemimpinnya. Nah, kalau umat diberikan contoh yang baik, akan mudah menurut.
Umat kita itu disamping penurut juga sensitif. Kalau mereka mendapatkan pemimpin yang bisa memberikan contoh-contoh yang baik, jelas, dapat dan mudah dipahami, mereka akan mengikutinya.

Pengalaman yang paling berkesan mengamati fenomena ukhuwah ini?

Ketika saya berkunjung ke salah satu perusahan di Jakarta, saya mendapati seseorang yang masuk kerja pada hari libur. Pimpinannya juga datang, karena memang pimpinannya itu biasa datang di hari libur. Ditanya oleh pimpinannya, “Mengapa kamu datang kerja, padahal saya tidak mampu memberikan uang lembur buat kamu.” Jawab karyawan itu, “Bukan masalah itu. Kebetulan saya kosong dan asyik di sini. Saya mendapatkan sesuatu yang tidak saya dapatkan di rumah atau di tempat lain ketika bekerja.” Kenapa? Karena pimpinannya itu rendah hati, menyatu dengan mereka. Kadang makan pun bersama-sama dengan para karyawan. Hal ini membuat karyawan luar biasa pengabdian-nya. Bahkan sampai level tukang cuci pun merasakan sama.

Pengalaman lainnya?

Kadang dukanya itu muncul ketika saya dapatkan fenomena di mana beberapa orang sibuk dengan permasalahan bersama, tapi yang lainnya seenaknya sendiri.

Ini yang mem-buat ukhuwah menjadi kurang intim. Jadi masih kita dapati beberapa orang yang asal ngomong saja. Sehingga dengan omongan itu, dia tidak tahu bahwa dia telah melukai hati orang lain. Yang membuat sedih juga adalah bagaimana sebuah kelompok yang mempunyai satu visi dan misi, terjadi hal-hal yang mungkin tidak pantas dilakukan pada level-level pimpinannya. Semestinya hal itu tidak perlu terjadi, kalau masing-masing mengambil solusi yang benar dari Islam sendiri.

Siapakah tokoh yang menjadi inspirasi Anda?

Pertama, yang jelas adalah Rasulullah saw. Itu sudah menjadi kewajiban bagi setiap muslim. Kemudian dari keluarga saya, ya kakek saya. Kakek saya telah membuka lembaga pendidikan hampir 1000 buah jumlahnya. Semuanya tersebar hampir di seluruh propinsi di Indonesia. Misalnya kita akan dapatkan di Kalimantan Timur, di Sulteng, Sulut, Maluku, Irian. Itu semua dia lakukan sendiri saja. Padahal dari segi (penguasaan) bahasa Arab saja, dia lemah. Tapi kenapa sampai dia berhasil? Yaitu, keikhlasannya. Saya amati dia itu tanpa pamrih, mandiri, berusaha memberi tapi tidak meminta, dan pasrahnya kepada Allah luar biasa.

Keikhlasannya juga tercermin pada para anak didiknya yang berdakwah di berbagai daerah. Pernah saya bertemu mereka di salah satu pulau di Maluku Utara. Pada salah seorang, saya bertanya, “Sudah berapa lama di sini?” Di jawab, “Ya Alhamdulillah, 32 tahun.” “Soal nafkah, berapa setiap bulan pendapatannya?” lanjut saya. “Alhamdulillah, kurang lebih 30-40 ribu. Allah telah memberikan saya banyak jalan keluar,” jawabnya dengan yakin. Dia bisa berhasil karena mendapatkan motivasi dari orang yang meletakkan di situ. Jadi dia diamanahkan untuk “menggarap” pulau itu. “Nih, kamu di pulau ini, jangan tinggalkan lokasi ini. Pulau inilah tempat tinggalmu,” kata kakek saya. Dan itu dia pegang hingga sekarang.

Dalam keluarga, bagaimana Anda menanamkan soal ukhuwah ini?

Kami mengajarkan bagaimana menanamkan ukhuwah itu dengan sikap saling menghormati satu dengan yang lain. Jadi kalau anak salah jangan diungkap di depan teman-temannya. Itu akan membuatnya down dan bahkan muncul rasa kebencian. Anak-anak juga jangan dibeda-bedakan. Sehingga di antara mereka memiliki ukhuwah yang solid. Dan bagi mereka yang berprestasi selalu berikan ucapan yang baik, sekurang-kurangnya memberikan do’a, misalnya dengan kata-kata, “Jazakallahu khoiron jaza.” Ini akan berdampak luar biasa.

Dalam men-support kesibukan Anda sekarang, ibadah khusus apa yang biasa dilakukan?

Di samping ibadah pribadi seperti muslim yang lain yang tidak ada kelebihan-kelebihan khusus, saya banyak belajar dari mereka yang telah berjuang. Saya merasa bahwa apa yang kita lakukan belum seberapa. Seperti teman saya waktu di Mesir, ia punya banyak sekali halaqoh (majelis pengajian) yang kalau kita hitung kita nggak sanggup juga menanganinya. Biasanya kekuatan pengaruh mereka itu terletak dari keikhlasannya. Alhamdulillah, saya juga membaca ‘ma’tsurat’ tiap pagi dan sore. Itu merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Di samping itu, juga meluangkan waktu untuk qiyamul lail, dan sholat Dhuha.

Apa harapan Anda bagi umat?

Kami mengharapkan semoga Indonesia ini punya pemimpin yang kalau berkata sesuatu itu didengar. Kalaupun tidak oleh individu, ya kolektif lah. Atau ada satu lembaga, di mana apa yang diungkapkan lembaga itu didengar oleh umat Islam dengan prinsip “sam’an wa thaatan“(mendengardan taat). Ini yang belum kita miliki. Padahal ini sesuatu yang sangat signifikan dan mendasar. Dan menyelesaikan segala macam persoalan secara bersama-sama adalah perintah agama. Yang namanya ukhuawah itu kan kebersamaan. Bersama-sama untuk saling membantu dalam susah, duka, dan dalam keadaan apapun.

Sumber: Majalah Tarbawi Edisi 27 Th. 3/Syawal 1422 H/31 Desember 2001 M

Dipublikasi ulang oleh Admin DPD PKS Sidoarjo