W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Globalisasi dan Posisi Peradaban Islam – 1

Oleh Prof. Dr. Amer Al Roubaie
(Islamia No. 4 Thn 1/Januari-Maret 2005)

Prof. Dr. Amer Al Roubaie adalah Professor bidang Ekonomi di ISTAC, Kuala Lumpur. Malaysia. Doktor bidang Ekonomi luiusan dari McGill University, Mountreal Canada ini pernah mengajar di beberapa universitas di Amerika dan Canada. Globalisasi, Pertumbuhan Ekonomi dan Pembangunan di Timteng adalah bidang kajiannya.

Pengertian Globalisasi

Dekade-dekade sekarat dalam abad ke-20 ini telah menyaksikan pertumbuhan globalisasi; sebuah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan perubahan drastis dalam tubuh masyarakat global, setelah jatuhnya Uni Soviet dan berakhirnya perang dingin. Selama lebih dari 50 tahun sejak berakhirnya perang dunia ke-2 perseteruan ideologi dan konflik yang terjadi antara kapitalisme yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan Komunisme di bawah Uni Soviet telah mendominasi situasi politik global. Sedangkan bagian lain dunia ini yang kenyataannya terdiri dari negara-negara yang baru saja merdeka, masih terus berjuang untuk bertahan setelah dijajah selama berabad-abad untuk keluar dari keterbelakangan ekonomi. Selama mengalami penjajahan bangsa asing, bangsa-bangsa ini telah kehilangan porsi substansi dari warisan bangsa mereka berupa ilmu pengetahuan tradisional, gaya hidup, ciri bahasa, hubungan sosial antar mereka, kehilangan kestabilan ekonomi dan identitas nasional mereka. Kedua-duanya paham, baik kapitalisme ataupun komunisme kemudian menawarkan “wortel” kepada dunia ketiga untuk membeli dukungan politik dari mereka. Negara industri itu juga menjanjikan prospek yang lebih baik kepada bangsa-bangsa bekas jajahan ini melalui panduan teknik dari mereka, bantuan finansial, perdagangan internasional, investasi dari negara asing dan kemajuan ekonomi.

Sebagai salah satu sistem global, kapitalisme telah keluar sebagai pemenang dengan mengalahkan “kerajaan jahat” (evil empire) atau Uni Soviet dan pada akhirnya lahirlah pemerintahan negara-negara baru. Di era post kapitalisme, globalisasi telah menjadi sebuah kendaraan untuk membawa paham kapitalisme ke negara-negara non kapitalis melalui liberalisasi institusi-institusi finansial, swastanisasi badan-badan usaha negara, pengurangan peran pemerintah dalam ekonomi, peningkatan produksi untuk ekspor, penyebarluasan paham demokrasi liberal, dan pendalaman integrasi dalam sistem ekonomi global. Pertumbuhan pesat teknologi komunikasi menfasilitasi pengadaan informasi, mengkonsentrasikan kekuatan ekonomi dan finansial melalui kebijakan yang dibuat di tingkat global. Kita diberitahu bahwa sekaranglah “akhir sebuah sejarah” (the end of history) dan dimulainya sistem pemerintahan negara-negara baru yang menganut paham demokrasi liberal. Jadi bisa dikatakan dengan dibukanya pasar global dan peningkatan daya saing, globalisasi telah menjanjikan sebuah harapan bagi berjuta-juta rakyat miskin. Bagaimanapun juga, globalisasi juga merupakan sebuah tantangan untuk negara non industri, karena mengenalkan reformasi radikal dan rekonstruksi program yang bertujuan untuk menfasilitasi pergerakan bebas dari berbagai barang, layanan informasi, manusia, uang, berita, ideologi-ideologi, sebagaimana yang dijelaskan oleh Malcom Walters: “Bangkitnya paham kapitalisme menghadirkan dinamisasi global makro. Kapitalisme merupakan bentuk produksi yang efektif yang telah memberikan keistimewaan berupa kekuatan untuk mengambilnya. Kekuatan ini dapat digunakan untuk mengurangi atau babkan menghapus otoritas agama, politik, militer dan sumber kekuatan lainnya.”(1)

Tidak ada definisi tunggal untuk mendeskripsikan proses terkini globalisasi. Dikarenakan aspek multidimensinya globalisasi sering dideskripsikan sebagai proses yang tidak jelas, tidak menentu dan penuh kontradiksi. Jadi makna sebenarnya globalisasi untuk negara-negara non industri tetap saja kabur. Dengan pertumbuhan pesat teknologi komunikasi dan meningkatnya ketergantungan antar individu, golongan-golongan dan antar negara secara luas, globalisasi menawarkan kepada dunia satu keadaan di mana penduduk dunia dengan berbagai budaya kepentingan politik dan ekonomi dalam situasi tertentu dapat menjadi dekat satu sama lain.(2) Penduduk dunia di berbagai tempat dapat dihubungkan secara mudah dengan penggunaan komputer, satelit, telepon, mesin faksimil dan televisi. Terlebih lagi bisnis transportasi, dengan pengurangan ongkos perjalanannya, telah mendekatkan jarak yang tadinya jauh dan meningkatkan pergerakan manusia untuk melintasi dunia.

Masyarakat global baru juga disebut sebagai masyarakat dengan era informasi terkini yang satu sama lainnya dihubungkan dengan berbagai jenis sistem komunikasi mutakhir. Sebagai konsekwensinya, budaya baru global telah berkembang dan didominasi sebagian besar oleh ciri-ciri modernisasi, gaya hidup konsumerisme yang merupakan ciri-ciri budaya Barat. Pengertian luasnya, globalisasi berarti ketergantungan/keterkaitan antar manusia menjadi semakin besar di berbagai bela-han dunia ini. Di dalam situasi dunia yang seakan-akan mengecil seperti ini, meningkatnya intensitas hubungan secara meluas ke berbagai bidang seperti sosial, ekonomi, budaya, politik, ideologi, agama, bahasa/literatur, ilmu pengetahuan, lingkungan maupun teknologi. John Tomlinson telah mengintisarikan arti dari globalisasi sebagai berikut: “Proses hubungan yang rumit antar masyarakat luas dunia, antar budaya, institusi dan individual Globalisasi merupakan proses sosial yang mempersingkat waktu dan jarak dari pengurangan waktu yang diambil baik secara langsung maupun tidak langsung. Jadi dengan dipersingkatnya jarak dan waktu, dunia dilihat seakan-akan semakin mengecil dalam beberapa aspek, yang membuat hubungan manusia antar satu dengan yang lain semakin dekat.”(3)

Dengan kata lain aspek multidimensi dari globalisasi mengekalkan terjadinya perubahan dramatik di berbagai jenis hubungan antar manusia dengan mempengaruhi sikap-sikap individu, nilai-nilai moral dan kode etik, kepercayaan, agama, kedan-latan bangsa, budaya dan gaya hidup.

Globalisasi merupakan proses rumit yang melibatkan semua unsur dari kehidupan manusia seperti aspek sosial, politik, ekonomi, budaya, agama, bahasa dan teknologi.

Hingga saat ini, globalisasi tetap merupakan proses rumit bukan hanya karena definisinya yang tidak jelas, tapi juga karena dampak yang ditimbulkannya. Seperti yang dikatakan Giddens: “Globalisasi merupakan proses rumit dan bukan merupakan suatu proses lunggal. Proses-proses rumit ini juga berlanjut dalam model “yang berlainan dan berlawanan.”(4)

Di antara proses-proses yang lainnya, globalisasi dapat dilihat sebagai kekuatan dramatis yang menyebabkan perubahan “dalam aspek sosial budaya di semua lapisan masyarakat”. Pemenang-pemenang dari pemain global ini adalah siapa yang dapat memperkekal globalisasi dengan melakukan kontrol di atas semua faktor-faktor yang berlawanan dengan tujuan globalisasi. Globalisasi budaya menghadirkan ciri-ciri penting dari masyarakat baru global. Era post kapitalis telah mendukung penyebarluasan nilai-nilai Barat te-masuk hak asasi manusia (HAM), kode etik, kemerdekaan, demokrasi, dan paham sekuler-liberal. Jalan menuju pembangunan masyarakat “desa global” memerlukan standarisasi dari nilai-nilai dan dikuranginya peran budaya dan khasanah bangsa dalam ekonomi nasional. Kebanyakan dari negara-negara non industri adalah negara miskin dari segi ekonominya, lemah dalam pendidikan, keuangan yang makin merosot, terbelakang dalam teknologi dan ketidaksanggupan ilmu pengetahuan mereka untuk merespon secara efektif dari tantangan yang mereka hadapi di era globalisasi.

Pembuat-pembuat kebijakan di negara non industri ini berada dalam sebuah ilusi bahwa “akhir sejarah” adalah satu realita biasa dan satu-satunya jalan untuk memacu pertumbuhan adalah dengan ikut menganut paham demokrasi liberal. Sayangnya, rentang perbedan ilmu pengetahuan antara Barat dan belahan dunia lainnya sangatlah luas sehingga memerlukan sumber-sumber pemasukan untuk mengurangi perbedaan itu.

Yang disayangkan hanya sedikit seka-li penduduk dunia ini yang dapat meman-faatkan sistem informasi yang telah me-masyarakat secara luas itu. Dengan kata lain, akses untuk mendapatkan komunikasi modern sangatlah terbatas. Sebagai contoh, penggunaan komputer pribadi di negara-negara berkembang terhitung hanya 2,5 dari 100 orang, berbanding 43,3 dari 100 orang dari negara-negara yang penduduknya mempunyai pendapatan lebih pada tahun 2001. Hanya 0,2 dari 100 orang yang dapat mengakses internet di negara-negara berkembang, berbanding 40 dari 100 orang di negara-negara maju. Singapura dengan populasi sebanyak 4 juta orang, 500 ribu penduduknya mempunyai komputer pribadi. Internet memang menyediakan berbagai informasi dan ilmu pengetahuan, tetapi ini hanya bermanfaat kepada pemakainya saja. Dapat dikatakan bahwa 2 dari 3 orang AS dapat mengakses internet. Tapi hanya 1 dari 5000 orang yang dapat mengakses internet di seluruh Afrika. Contoh lainnya, sambungan telepon dapat lebih banyak ditemukan di Manhattan, New York daripada di seluruh bagian sub Sahara Afrika.
Jadi negara-negara berkembang dengan akses teknologi komunikasi yang terbatas, mempunyai penduduk yang menjadi konsumen dari berbagai macam informasi dan budaya-budaya asing yang dibuat dan didistribusikan oleh perusahaan media massa internasional.

Globalisasi dalam sistem tersebut menjadi jaringan kerja global Lintuk pendistribusian berbagai produk dari Barat seperti film-film, ide-ide, gaya hidup, musik, seks bebas, nilai-nilai dan ideologi-ideologi mereka.

Negara-negara berkembang tidak dalam posisi siap untuk menghentikan arus informasi-informasi tersebut ke dalam masyarakat mereka dikarenakan terbatas-nya teknologi komunikasi dan sarana media penyiaran.

Budaya Global

Budaya adalah suatu konsep multidimensi yang tidak dapat dengan mudah didefinisikan. Konstruksi suatu budaya memungkinkan untuk berada di setiap level yang berbeda-beda di semua populasi, baik di desa, kota, pedalaman, metropolis atau tingkat global. Budaya juga: “melampaui balas suatu ideologi dan substansi identitas individual dalam masyarakat, kesadaran kcseragamaunya bahasa, elnik, sejarah, agama, adat kebiasaan, institusi-institusi. Rujukan kepada salu pola hidup menandakan adanya ’pondasi budaya’ dan simbol identitas bangsa tersebut.”(5)

Dengan melihat makna lain dari budaya, Ensiklopedia Britannica terbaru mendehnisikan budaya sebagai berikut: “Budaya adalah model dari ilmu pengetahuan manusia, kcpercayaan dan pola tingkah laku yang satu. Budaya kemudian dilihat mempunyai aspek-aspek dari segi bahasa, ide, keyakinan, adat istiadat, kode moral, institusi, teknologi, seni ritual, upacara-upacara dan komponen-komponen lainnya yang saling berkaitan. Perkembangan budaya tergantung kepada kapasitas mauusia untuk terus mempelajari budaya itu dan mentransmisikan ilmu pengetahuan mereka kepada generasi berikutnya.”(6)

Budaya global yang disebarluaskan globalisasi, adalah budaya Barat yang bertujuan untuk menyebarkan suatu produk homogen. Bagaimanapun juga, produk suatu budaya dengan ciri “materialistiknya dapat menyebabkan pergolakan dan konflik sosial di masyarakat non Barat,” yang mempunyai warisan budaya dan kehidupan relijius yang berbeda-beda.

Dengan dikontrol oleh hanya segelintir pemain, globalisasi mempromosikan suatu kepentingan atau interest global dari pemain tersebut. Globalisasi terjadi tidak seimbang dan hanya memberi keuntungan untuk golongan kelas menengah dan atas, di daerah perkotaan. Sementara masyarakat pedesaan dan golongan rakyat kecil, bukan menjadi sasaran globalisasi. Ketidaksamarataan pendapatan global baik antar ataupun di dalam negara-negara itu sendiri menyebabkan kecenderungan kecemburuan sosial dan ancaman-ancaman lain terhadap keamanan umat manusia. Sebagaimana yang dijelaskan oleh PBB: “Mengalirnya arus budaya yang tidak seimbang pada masa ini karena berat sebelah pada satu sisi saja, yaitu dari negara kaya ke negara miskin. Ekspor terbesar dari Amerika Serikat bukanlab pesawat terbang atau automobil, melainkan ekspor hiburan-hiburan. Film-film Hollywood yang telab mendapatkan keuntungan lebib besar dari 30 juta dollar dari seluruh penjuru dunia pada tahun 1997. Meluasnya jaringan media global dan teknologi satelit komunikasi membangkitkan medium global baru yang berkekuatan super, jumlah dari televisi pribadi yang dimiliki 1000 orang bampir berjumlab 2 kali lipatnya antara tahun 1980 dan 1995 dari jumlah 121 menjadi 238. Penyebaran merk-merk produk global seperti Nike, Sony, telab membentuk standard baru dari Delhi ke Warsawa kemudian ke Rio de Jainero. Serangan dari budaya asing seperti itu membuat budaya masing-masing bangsa berada dalam resiko dan akan membuat masarakat luas kehilangan identitas budaya mereka.”(7)

Dalam budaya plural kita, terdapat 10000 jenis penduduk dengan budaya yang berbeda-beda di 200 negara. Masing-masing dari budaya tersebut sangat unik dengan beragam sejarah, khasanah, sosial, literatur dan adat istiadat tradisionalnya. Budaya adalah sumber motivasi dan perubahan dalam segala aspek di masyarakat demi pertumbuhan ekonomi, perkembangan umat manusia, lingkungan yang kita lindungi, nilai-nilai keluarga yang berusaha kita selamatkan, dan institusi-institusi masyarakat lainnya.

Jadi, budaya bukan hanya alat untuk tumbuh kembangnya nilai-nilai suatu materi, tetapi juga merupakan sarana untuk menyebarluaskan informasi, menciptakan ide-ide baru, menciptakan beragam ilmu pengetahuan, mempromosikan pengertian antar umat manusia dan pentingya hubungan sosial dan meningkatkan spiritualitas.

Dalam beberapa hal, superioritas telah memberi pengaruh besar kepada pemakainya, untuk memproduksi dan mendistribusikan beragam karya kita; barang, layanan termasuk budaya. Di tahun-tahun terakhir ini, dominasi teknologi Barat telah membantu mereka menciptakan “Budaya Global” yang pada intinya berfungsi untuk menghadirkan barang-barang dan produk hiburan dari Barat. Dampak langsung dari teknologi adalah kekuatan untuk mentransformasikan masyarakat termasuk budaya. Teknologi mengenalkan perubahan radikal di dalam sistem ekonomi yang mempengaruhi nilai-nilai tradisionil, hubungan sosial, peraturan tingkah laku manusia. Dalam istilah luasnya distribusi dari kekuatan globalisasi dapat dilihat berdasarkan siapa yang memiliki teknologi dan siapa yang tidak.(8)

Pada era global ini, ada suatu kebutuhan untuk diadakannya pengertian antar budaya dalam setiap masyarakat. Adanya interkoneksi antar budaya di berbagai belahan dunia ini tidak pernah terjadi sebelum era globalisasi. Malcolm Waters menggambarkan budaya global sebagai suatu kekacauan (chaos), sebagai wujud konsekuensi adanya perbedaan umat manusia. la berargumentasi: “Budaya global merupakan suatu chaos dan bukannya keteraturan seperti yang kita harapkan, ini merupakan satu bentuk integrasi yang komponen-komponennya saling berkaitan tetapi tidak menjadi satu. Globalisasi budaya yang absolut juga melibatkan pembuatan nilai-nilai baru tersendiri yang sangat berbeda, baik dari segi cita rasa ataupun gaya bidup yang dapat diakses secara mudah oleh masing-masing individu tanpa tujuan pasti, baik itu sekedar ajang ekspresi diri atau konsumsi tetap. Di bawah pengaruh budaya global ini, Islam tidak hanya dikaitkan dengan negara-negara Timur Tengah, Afrika Utara dan Asia, tetapi dapat juga di akses belahan lain dunia ini dengan mengamalkan nilai-nilai murninya seperti yang menjadi tujuan utama Islam, seperti halnya penyebaran ideologi politik. Adanya nilai-nilai politik dari properti privat yang saling mendahului dan bagi-bagi kekuasaan dapat dikombinasikan untuk menciptakan sebuah ideologi ekonomi terkini. Suatu budaya mendukung adanya arus deras yang membawa berbagai informasi, komitmen baru, nilai-nilai baru, cita rasa baru melalui alat komunikasi pribadi, simbol-simbol yang digunakan dan simulasi elekironik.” (9)

Imperialisme Budaya

Selama dua dekade terakhir ini, masyarakat dunia telah mengalami perubahan sosial yang tidak berkaitan satu sama lain, tetapi melingkupi segala aspek dari usaha umat manusia. Dalam tubuh masyarakat non-Barat, di mana gaya hidup tradisional, termasuk praktek kebudayaan yang sangat khas ini masih muncul, perubahan drastis tersebut diharapkan dapat memberi efek positif untuk kemajuan masyarakat tersebut di masa depan. Dalam tahun berikutnya globalisasi pasar dan penyebarluasan informasi telah menyebabkan tingginya gaya konsumsi dan jalan hidup dari Barat untuk disebarkan ke semua mayarakat ke berbagai tempat. Terlebih lagi kemajuan di bidang komunikasi telah memungkinkan banyak ide-ide baru, ideologi, seni, bahasa dan beragam ilmu pengetahuan untuk melintasi seluruh penjuru dunia. Proses globalisasi juga terdiri dari faktor-faktor yang men-jadi ancaman bagi satu kebudayaan asli di berbagai tempat di dunia ini. Dengan kata lain “proses globalisasi juga menciptakan bentuk baru aliansi budaya yang unik yang terdapat pada satu bangsa atau etnik tertentu”.(10)

Globalisasi telah meminimalisir perlindungan terhadap budaya lokal melalui proses liberalisasi (swastanisasi) pasar dan perdagangan luas di banyak negara berkembang. Distribusi luas produk budaya barat seperti film, literatur, gaya hidup, nilai-nilai baru melalui media elektronik, siaran satelit, internet, koran-koran dan majalah telah mencemari budaya lokal.

Dominasi dan pengaruh media Barat dan kontrol mereka atas teknologi di dunia ini telah membuat negara-negara berkembang semakin kesulitan untuk mem-batasi penyebaran program-program budaya asing dan informasi dari luar yang tidak sesuai dengan budaya mereka. Budaya global baru, khususnya gaya hidup Amerika yang materialistik, film-film Hollywood, nilai-nilai kebebasan pribadi menghadirkan bentuk lain dari pengaruh hegemoni mereka yang berkedokkan kemajuan teknologi dan hasil produk-produk dari negara-negara kaya. Bahaya dari budaya baru tersebut berbentuk pemaksaan untuk digunakannya ideologi asing, pendidikan dan nilai-nilai pada masyarakat di negara-negara berkembang ini dengan membuat mereka menjadi konsumen produksi perusahaan multinasional itu.

Pada era pasca penjajahan di negara-negara Afrika, Timur Tengah, dan Asia, proses modernisasi mereka berwujudkan perubahan sosial, yang berusaha untuk mereka selaraskan dengan modernisasi gaya Barat. Contohnya, pada kasus Afrika Utara, budaya dan bahasa Perancis sangat mengakar kuat sampai pada tahap di mana bagian substansi dari budaya Islam sudah punah begitu saja. Contoh dari Tunisia, Presiden Habib Burgaiba sampai-sampai menyalahkan Islam dan menyatakan nilai-nilai Islam sebagai lambang dari keterbelakangan dan tidak berkembangnya suatu masyarakat. Walaupun budaya Barat mempunyai peran positif, tetapi semua itu tidak dapat menggantikan ilmu pengetahuan milik mereka sendiri dalam kaitannya untuk mengatasi masalah lingkungan mereka, hubungan sosial antar mereka sendiri ataupun usaha mereka untuk maju.

Sebenarnya, ada ketidakselarasan pada hubungan rumit antara teknologi Barat dan proses indutrialisasi mereka dengan budaya sosial dan ciri khas lingkungan dalam masyarakat-masyarakat non-Barat. Setidaknya, sampai negara-negara berkembang itu belajar bagaimana berhadapan dengan resiko dari teknologi Barat dan mengembangkan kemampuan manajerialnya, menemukan teknik untuk menemukan solusi, membangun unsur-unsur keamanan, melindungi budaya milik mereka dan tahu kapasitasmereka sendiri bagaimana memanfaatkannya, mereka tetap saja akan mengalami kesulitan disebabkan ilmu pengetahuan dari Barat ini.

Ali Mazrui berpendapat, bahwa: “Walaupun Afrika telab lepas dari pemerintahan penjajah, ia seharusnya bertanya pada dirinya sendiri, defacto, bagaimana seharusnya ia menjalani modernisasi bidang ekonomi tanpa harus mengalami westernisasi budaya. Pada realitanya, Afrika justru mengalami westernisasi budaya dan bukannya westernisasi ekonomi. Afrika berhadapan dengan dua resiko (double jeopardy). Pertama, ia terlalu cepat mengalami westernisasi, dan kedua westernisasi budaya itu sendiri adalab produk budaya Barat yang tidak sesuai dengan identitas mereka. Mozambique contohnya, mengalami westernisasi dalam cara sembahyang mereka dan bukannya dalam bidang-bidang produksi lainnya, kemudian westernisasi dalam usaha mereka beradaptasi tetapi bukan dalam usaha mereka untuk menemukan sesuatu yang baru. Terakhir, westernisasi dalam busana tetapi bukan dalam komputer.”(11)

Meningkatnya keterkaitan (interkoneksi) antar umat manusia menandakan bahwasanya pemerintah suatu bangsa tidak mampu lagi melindungi warisan budaya nenek moyang mereka. Globalisasi telah menentukan garis batas wilayah antar umat manusia dengan adanya penyebaran informasi melalui media massa jaringan internasional dan internet. Batas antar negara yang nyata secara fisik tidak lagi diindahkan dengan adanya penyebaran secara luas tersebut. Untuk sebagian pihak, terutama pihak-pihak yang menginginkan adanya arus perubahan, globalisasi harus bertanggungjawab untuk perubahan sosial global pada masa ini, ter-masuk juga perubahan pada lingkungan budaya, arus politik teknologi maupun ekonomi mereka. Mereka melihat globalisasi merupakan suatu kekuatan perubahan yang bertanggung jawab atas terjadinya gejolak massa disuatu negara, ekonomi, institusi internasional dan kese-luruhan pemerintahan di dunia.(12)

Tidak diragukan lagi, interaksi-interaksi tersebut menjadikan manusia di semua belahan dunia menerima produk budaya asing dan jenis hubungan sosial yang tidak disaring terlebih dahulu. Kekuatan yang menghubungkan paham kapitalisme dengan produksi dan distribusilah yeng mengendalikan globalisasi. Dominasi dan kekuatan ini berada dalam perdagangan dan sistem finansial internasional sehingga dapat memungkinkan mereka untuk memaksakan produksi mereka dibeli seluruh dunia. Dengan kata lain, produksi budaya hasil globalisasi yang dibanggakan dan diutamakan adalah produk budaya Barat. Sehingga terjadi “ketimpangan antara budaya Barai dan budaya lokal masing-masing bangsa. Jadi, globalisasi bukanlah proses yang inklusif, integratif, pluralis dan juga bukan proses yang seimbang atau proses sintesis melainkan budaya global adalah budaya yang dipaksakan untuk dibeli dan menggantikan posisi budaya lokal hasil pengalamau sejarah masing-masing bangsa. Secara singkatnya globalisasi adalah ekspansi global budaya Barat.”(13)

Pandangan tersebut juga disetujui Malcolm Waters yang mengatakan: “Globalisasi adalah konsekuensi langsung dari ekspansi budaya Eropa yang melintasi seluruh planet ini, baik melalui cara mereka menjajah, memaksakan dibelinya budaya merekadan gaya pendidikan mereka. Globalisasi juga merupakan “kunci” kejayaan kapitalisme dan itu semua sudah terwujud di berbagai arena politik dan budaya”.(14)

Budaya dan adat istiadat adalah ciri dan faktor penting yang dimiliki masing-masing bangsa. Jadi, negaralah yang memainkan peranan penting untuk melindungi nilai-nilai asli milik masyarakatnya. Di kebanyakan negara-negara berkembang, perlindungan untuk warisan budaya itu sudah menjadi tanggungjawab pemerintah. Pemerintah biasanya berusaha untuk melindungi situs-situs dan mengalokasikan dana besar untuk men-gadakan festival-festival budaya guna memasyarakatkan kekayaan budaya bangsa dan mempromosikan industri wisata mereka.

Bagaimanapun juga, ada suatu kecenderungan bahwasannya peran pemerintah itu telah mengalami erosi disebabkan arus globalisasi. Pemerintah negara itu tidak mampu lagi memberikan layanan bidang sosial budaya mereka dikarenakan adanya perubahan kebijakan mereka yang lebih menitikberatkan pada upaya peningkatan ekspor dan daya saing global mereka. Dengan kata lain, globalisasi telah melemahkan kemampuan pemerintah untuk melindungi warisan budaya mereka dan untuk menyambung masa lalu dengan masa depan.

“Konsekwensi penting lainnya dari globalisasi adalab usaha globalisasi itu untuk menciptakan atau menguatkan hubungan antar kelompok-kelompok di dunia yang mempunyai kepentingan-kepentingan dan gaya bidup yang sama. Jadi, sebuah goiongan minoritas di negara-negara miskin dapat dihubungkan dengan golongan kelas menengab-atas di negara-negara industri. Budaya yang dimiliki bersama telab membuat kaum muda di seluruh penjuru dunia menjadi satu. Hubungan sosial budaya tersebut lebib menguatkan jaringan perdagangan internasional, produk-produk finansial dan investasi yang telah ditanam. Poin-poin dari kesamaan kepentingan ini telab melewati batas-batas negara dan berarti ikatan antar golongan dalam negara masing-masing menjadi semakin lemab.”(15)

Makin deras arus wisatawan manca negara pada tahun-tahun akhir ini juga ikut mengenalkan jenis hubungan sosial yang masih asing dan membawa produk budaya baru termasuk makanan, minuman, baju, obat, narkoba, seks bebas yang tidak selaras dengan tatanan sosial dari negara-negara yang menerima mereka. Seperti yang dijelaskan Bryan Turner:

“Di dalam dunia yang serba modern seperti saat ini, kita telab menjadi turis atau istilab sosia-nya menjadi orang asing di masyarakat kita sendiri. Jadi, budaya global yang sangat berbeda menciptakan lingkungan asing di mana budaya milik sendiri menjadi kelibatan sangat aneh. Satu-satunya faktor penting yang dapat melawan budaya asing itu adalah nostalgia kepada kejayaan budaya masing-masing bangsa untuk meraih kembali budaya dan identitas komunitas yang sebenarnya. Post modernisasi hanya menjanjikan suatu budaya buatan yang tidak lebib banya kedok saja.”(16)

Dampak-dampak itu dapat dengan jelas terlihat di jalan-jalan Kuala Lumpur dan di kota-kota negara Asia lainnya. Merupakan suatu berita baik bahwa negara-negara Asia sedang menyiapkan pelindung untuk bertahan dari arus globalisasi. Krisis ekonomi di Asia pada 1997, setengahnya adalah dampak dari arus globalisasi karena lemahnya fondasi ekonomi dan finansial negara-negara Asia itu dan ketidakmampuan mereka untuk menghadapi arus globalisasi. Kekuatan untuk menghadapi arus globalisasi memerlukan proses penataan organisasi, pendidikan, teknologi, ilmu pengetahuan, komponen-komponen finansial yang rumit. Kebanyakan negara-negara kecil tidak mampu untuk beradaptasi dengan globalisasi disebabkan kurangnya sumber kekuatan untuk berhadapan dengan pengaruh dari arus globalisasi.

Industri film Amerika dan stasiun-stasiun TV mereka seperti CNN, ABC, NBC dan CBS, telah mendominasi budaya global, termasuk produksi dan distribusi berbagai jenis hiburan tersebut. Bagaimanapun juga tujuan di belakang dominasi Amerika ialah untuk mencukupi kepentingan mereka sendiri dengan mengekspor produk modernisasi gaya mereka dan memprogandakan konsumerisme. Globalisasi juga merujuk kepada masyarakat post kapitalis sebagaimana dikatakan Holton: “Amerikanisasi itu sebenarnya makna lain dari kapitalisme dan bukan hanya Amerikanisasi yang mengglobal.”(17)

Thomas Friedman dalam bukunya The Lexus and The Olive Tree, juga mengindikasikan bahwa: “Agenda utama di helakang glohalisasi adalah pasar behas kapitalis. Globalisasi adalah penyebaran pasar hehas gaya kapitalis ke setiap negeri di dunia ini.” Ia melanjutkan “tidak seperti skenario perang dingin, glohalisasi mempunyai ciri dominasi hudaya yang unik, yang mana karena faktor itulah ia dapat memancangkan kekuasaan. Pada era-era sebelumnya, apa yang dimaksud sehagai homogenisasi hudaya itu telah terjadi di tingkat-tingkat regional. Seperti Romanisasi Eropa Barat dan kawasan Mediterania, pengislaman wilayah Asia Tengah, Afrika Utara, Eropa dan Timur Tengah oleh hangsa Arah dan diteruskan oleh Dinasti Uts-maniyah ataupun penguasaan Rusia di wilayah Eropa Timur, Eropa Tengah, dan bagian lainnya di Eurasia di bawah kekuasaan Uni Soviet. Secara singkatnya glohalisasi adalah Amerikanisasi Big Macs ke Imacs lain ke Mickey Mouse.”(18)

Kita harus bisa memahami bahwa hanya ada segelintir pemain yang mengendalikan perdagangan dunia dan telah mendominasi pasar global. Perusahaan-perusahaan multinasional ini kebanyakan berasal dari Amerika dan Eropa, termasuk di situ Mc Donald’s, Coca Cola, Pizza Hut, KFC dan lain-lain telah menjual produk sendiri yang sudah mereka standarkan dengan ukuran mereka sendiri untuk dijual di mana-mana.

Penggunaan istilah imperialisme budaya adalah untuk mengirimkan pesan kepada negara-negara berkembang bahwasanya era penjajahan secara fisik, baik politik atau ekonomi telah berakhir dan dominasi budaya global mutakhir telah bermula. Dalam tubuh masyarakat kini, produksi dari produk budaya dan konsumerisme adalah mengikuti tren dari negara-negara industri. Keseluruhan dunia kini menjadi pasar besar dengan batas ruang gerak dari barang dan layanan yang hampir tidak ada.

(Bersambung)

Catata Kaki:

1. Waters, Malcolm, Globalization (London: Rout ledge, 1995), p. 36.

2. Lihat untuk detailnya dalam : Kiely, Ray and Marfleet, Phil, (eds.). Globalization and the Third World (london: Routledge, 1998), p. 3.

3. Tomlinson, Tom. “Cultural Globalization: Placing and Displacing the West”, The European Journal of Development Research, Vol. 8, No. 2, December 1996, P 22-23.

4. Giddens, A, Runaway World: How Globalization is Reshaping Our Lives (London: Profile Books, 1999), P.12-13.

5. Bavlis. John and Smith. Sieve (eds.), The Globalization of World Politics (Oxford: Oxford University Press. 1997), p. 376.

6. The New Encyclopedia Britannica, Vo. 3, p. 784..

7. United Nations, United Nations Development Programme, Human Development Report 1999 (New York: Oxford University Press. 1999), p. 4-5.

8. Young, Gillian, Culture and Technological Imperative, in Talalay, Michael. Farrands, Chris and Tooze, Roger (eds.). Technology, Culture and Competitiveness (London : Routledge, 1997), p. 28.

9. Waters, Malcolm, Globalization (London : Routledge, 1995), p. 126.

10. Nobutaka, Globalization’s Challenge to Indigenous Culture, in Institute for Japanese Culture and Classic Globalization and Indigenous Culture (Tokyo, 1997), p. 12.

11. Mazrui, Ali Africa, Asia and the Dialectic of Globalization, Cooperation South, No. 2, 1998, p. 122.

12. Kirkbride, Paul (ed). Globalization: The External Pressure (chich-ester: John Wiley & Sons, LTD, 2001). PP. 30-31.

13. Tomlinson, John, Ibid. p. 25.

14. Waters. Ibid. p. 3.

15. Ghai, Dharam, Economic Globalization: Institutional Change and Human Security, United Nations Research Institute for Social Develompent, DP 91 (Geneva : November 1997), P. 3.

16. Turner, Bryan S., Orientalism, Postmodernism and Globalism (London : Routledge, 1994), p. 185.

17. Holton, Robert, Globalization and the Nation State (New York : Macmillan Press Ltd, 1998), p. 168.

18. Friedman, Thomas, The Lexus and the Olive Tree (New York : Anchor Books. 2000), p. 9.

19. Gosovic, Branislav, Global Cultural Hegemony, Cooperation South, No. 2, 2001.

Republished by DPD PKS Sidoarjo