W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Globalisasi dan Posisi Peradaban Islam – 2

Oleh Prof. Dr. Amer Al Roubaie
(Islamia No. 4 Thn 1/Januari-Maret 2005)

Prof. Dr. Amer Al Roubaie adalah Professor bidang Ekonomi di ISTAC, Kuala Lumpur. Malaysia. Doktor bidang Ekonomi luiusan dari McGill University, Mountreal Canada ini pernah mengajar di beberapa universitas di Amerika dan Canada. Globalisasi, Pertumbuhan Ekonomi dan Pembangunan di Timteng adalah bidang kajiannya.

Hegemoni Budaya Global

Tidak diragukan lagi bahwa tujuan paling penting dari globalisasi adalah transformasi masyarakat global. Kemajuan teknologi komunikasi dan pertumbuhan pasar global seringkali dimanfaatkan oleh segelintir pemain dengan agenda globalnya. Kepentingan dari kelompok kecil pemain ini dapat langsung dikaitkan dengan finansial global pada sistem ekonomi.

Sebagai tambahan dari pengaruh ekonomi dan politik segelintir pemain ini, kontrol mereka di atas sistem komunikasi global, produksi dan distribusi media, teknologi komunikasi, riset dan pengembangan, mengizinkan mereka untuk mendirikan jaringan kerja multinasional dengan kontrol terbesar di atas distribusi dan penyebaran informasi dan ilmu pengetahuan secara luas. Dengan jalan ini, seluruh dunia menjadi konsumen dari produk budaya Barat, ideologi mereka, dan produk ilmu pengetahuan yang hanya sedikit menyentuh nilai-nilai budaya lokal. Apa yang diistilahkan Branislav Gonosliv sebagai “hegemoni intelektual global” sangat cocok dengan ungkapan di atas dan hal itu merupakan ciri-ciri yang mendominasi proses globalisasi selama lebih dari dua dekade. Gosovic mendefinisikan hegemoni intelektual global “strategi dan kepentingan geopolitik yang berfungsi seperti halnya Dewan Gereja zaman pertengahan, tapi dengan audience yang lebih global.”(19)

Sifat alami yang homogen dari proses globalisasi ini adalah untuk menyatukan pemikiran dan menfokuskan pandangan masyarakat dunia untuk menggunakan kode etik dan nilai-nilai bersama yang bersumber dari Barat, untuk memperkuat hegemoni intelektual mereka. Bagian lain dari dunia ini berada dalam posisi akhir penerima sistem informasi dan penyiaran satelit global, mendapatkan berbagai jenis dari produk budaya dan informasi gaya Barat yang sebenarnya bertujuan untuk mencuci otak kita. Sebagaimana yang dijelaskan Mike Fatherstone bahwa budaya global telah dibentuk melalui dominasi politik dan ekonomi dunia oleh Amerika Serikat yang telah memancangkan kekuasaan budayanya ke seluruh dunia. Dari persepsi ini gaya hidup Amerika yang sangat individualistik dan kepercayaan diri mereka yang sangat tinggi untuk bisa maju, apakah yang mereka manifestasikan dalam karakter-karakter film Hollywood seperti Donald Duck, Superman ataupun Rambo, dan yang dicerminkan seorang bintang seperti John Wayne, dapat diartikan sebagai kekuatan hegemoni bentuk baru yang menjadi ancaman bagi persatuan bangsa-bangsa kecil.”(20)

Dominasi dalam bentuk pengaruh budaya global seperti itu menandakan bahwa budaya lokal dan khasanah bangsa lainnya menjadi semakin lemah, karena hanya menjadi bagian kecil dari budaya yang lebih dominan, yaitu budaya Amerika. Makan di Mc Donald, atau minum Coca Cola selalu dikaitkan dengan status dan kedudukan seseorang di beberapa negara. Dengan kata lain, bisa pergi ke Barat atau dapat mengkonsumsi produk-produk Barat memberi kepuasan tersendiri kepada setiap individu di negara-negara kecil, karena mereka merasa puas sudah berhasil meniru gaya hidup Barat. Featherstone berargumentasi bahwasanya burger, bukan hanya dikonsumsi fisiknya saja, tapi juga mencerminkan bahwa kita mengkonsumsi imej atau lambang dari sebuah gaya hidup …bagi kelompok masyarakat kecil dapat mengkonsumsi produk seperti itu memungkinkan mereka merasa puas mendapatkan manjaat dan sejajar dengan golongan atasyang lebib kuat.”(21)

Koran Harian International Herald Tribune menulis: “Budaya Amerika itu sendiri selalu menjadikan kaum muda sebagai sasaran utama dengan menjanjikan kebebasan, uang, slogan-slogan: kerjakan olehmu sendiri, memompa kekuatan diri mereka sendiri. Orang-orang Amerika boleb mengatakan, “Ya, itulab kami.” Tapi di belaban lain dunia ini, orang-orang percaya bahwa produk budaya itu memberikan kepuasan universal yang bukan hanya milik Amerika.”(22)

Globalisasi berhasil menciptakan imej salah tentang budaya kehidupan gaya Barat di negara-negara non Barat, sehingga hal itu dapat diinterpretasikan juga sebagai bentuk lain dari penjajahan atau kolonialisme. Bentuk penjajahan seperti itu bagaimanapun juga berbeda artinya, karena bentuk penjajahan itu lebih mengarahkan sasarannya kepada anak-anak muda sehingga penjajah-penjajah itu dapat mengaburkan pandangan anak-anak muda tersebut. Produk-produk dari media Barat penuh dengan imej-imej yang sangat menarik, seperti imej sebuah kekayaan dan kejayaan. Mereka juga bangga menampilkan imej ratu-ratu kecantikan dan gaya hidup glamour di Barat. Di Malaysia contohnya, koran harian dan majalah-majalahnya sering mengkopi imej-imej ini dan mempublikasikannya tanpa memberi tanggapan pribadi mereka sendiri.

Post kolonialisme telah memperdalam menyatunya media lokal ke dalam sistem informasi media massa global dengan membuat media lokal dan fasilitas komunikasi Iainnya untuk memasukkan budaya Barat ke dalam pasar lokal. Dalam proses itu, budaya lokal menjadi tercerai-berai dan tidak utuh lagi bahkan semakin lemah untuk bertahan sendirian menghadapi derasnya arus budaya Barat yang sangat menarik itu.

Sayangnya di kebanyakan negara-negara berkembang, para elit yang memimpin negara mereka tepat setelah negara mereka itu merdeka, sesungguhya adalah produk didikan penjajah. Mereka bukannya menciptakan pemikiran baru untuk menata struktur baru, sistem politik, sosial dan ekonomi bangsanya dan meraih kembali warisan budaya mereka yang terenggut, tapi malahan melanjutkan pola kuno produksi penjajah dan memperkuat karakter-karakter institusi-institusi di negaranya dengan menjiplak tradisi Barat.

Setelah berakhirnya perang dunia ke II, studi pengembangan di negara-negara yang baru merdeka tersebut juga termasuk beragam literatur, model dan teori pengembangan sangat terakit dengan institusi-institusi dan ahli-ahli dari Barat. Banyak di antara pembuat kebijakan di negara-negara berkembang bergantung dalam hal intelektualitas terhadap literatur-literatur Barat atau teori-teori Barat, sehingga membatasi ruang lingkup analisis mereka sendiri terhadap masalah bangsa yang sangat rumit dan teoritis.

Negara-negara berkembang tersebut bukan hanya tidak mampu untuk mencapai rata-rata memuaskan dalam hal kemajuan ekonom-inya, tapi juga semakin melemah dalam posisi mereka untuk menghadapi tantangan globalisasi. Institusi-institusi internasional yang bermaksud untuk membantu dalam memberantas kemiskinan, mengurangi ketimpangan sosial dan memompa kekayaan di negara-negara berkembang tersebut, sebetulnya hanya kedok mereka untuk melicinkan masuknya pengaruh dari negara-negara Barat, khususnya Amerika. Hal ini sudah menjadi agenda khusus mereka dalam konsensus Washington, sehingga mereka dapat mempromosikan terbelinya teknologi Barat. Pada hari ini, kebanyakan dari pemimpin negara-negara ketiga sangat percaya bahwa modernisasi dari Barat dan demokrasi liberal yang dikendalikan oleh globalisasi adalah solusi tepat untuk menanggulangi penyakit masyarakat mereka.

Keyakinan ini memperkuat kesalahpahaman terhadap niat sesungguhnya mereka, niat hegemoni. Kita tidak boleh lupa, bahwa globalisasi bukan saja khas untuk bidang ekonomi, tapi juga menjadi agenda penting Washington dan bentuk dari teori ideologi mereka, neoliberalisme dan cuci otak yang intelek (intellectual brainwashing). “Sejarahnya, khususnya pada era kekaisaran di Eropa, globalisasi sering dikaitkan dengan perluasan pengaruh penguasa era kekaisaran Eropa telah berlalu, kelanjutan dari fase-fase terkini globalisasi bukan hanya pada ciri khas alami dari negara-negara liberal tetapi juga pematungan ciri hegemoni haus kekuasaan dari negara-negara liberal itu.(23)

Budaya di bawah rezim globalisasi telah menjadi sebuah alat untuk mempengaruhi dan memanipulasi psikis orang banyak. Globalisasi sering diekspresikan dalam bentuk produk-produk materi yang didukung oleh jutaan dolar untuk promosinya. Kontrol mereka diatas teknologi modern, terutamanya oleh segelintir pemain yaitu perusahaan multi nasional membuat mudah bagi negara-negara kapitalis untuk mengendalikan pasar global, mendorong pesatnya konsumerisme produk budaya Barat. Globalisasi juga menfasilitasi penyebaran pengaruh Barat dengan menyediakan akses ke pasar ekonomi di negara-negara non industri melalui beragam program-program budaya dan investasi langsung dari luar negeri. Di tahun-tahun berikut, internet telah menjadi media yang sangat efektif untuk menyebarkan produk budaya Barat itu seperti: ideologi politik, literatur, ide-ide program pendidikan dan gaya hidup mereka. Bahaya yang menghinggapi masyarakat non-Barat sangat besar sehingga sampai pada tahap di mana budaya Barat dapat masuk kedalam gaya hidup kaum muda yang rentan terhadap pengaruh. Dengan adanya akses teknologi elektronik dan komputer banyak dari mereka (kaum muda) tidak dapat dilindungi lagi oleh keluarga mereka atau masyarakat sekitarnya terhadap pengaruh-pengaruh negatif globalisasi budaya itu. Bagi anak muda di seluruh dunia, Barat adalah kiblat gaya hidup mereka.

“Globalisasi dalam proses sosial dan budaya sering ditandai dengan ketidaksinambungan dan penub kontradiksi. Gaya-gaya konsumsi dan pola hidup kelas menengah di negara-negara kaya dapat tersebar hanya dengan memakai layar tipis ke negara-negara miskin. Mayoritas populasi di negara-negara non-Barat semakin melupakan budaya milik mereka sendiri. Di manapun jua, bentuk-bentuk pengarub budaya Barat sangat mengakar dan dengan sangat cepat beradaptasi dengan budaya tuan rumab barunya”.(24)

Makna Peradaban Islam

Tidak seperti di Barat, di mana kebudayaan sangat rentan dan berubah-ubah sesuai dengan responnya atas perubahan-perubahan sosial, peradaban dalam Islam sudah ditetapkan oleh agama. Perbedaan makna kebudayaan bagi dunia Barat dan Islam adalah sangat mendasar. Di Barat, agama adalah bagian dari budaya, sedangkan di Islam, budaya didefinisikan oleh agama. Ini berarti bahwa sebagai jalan hidup, Islam telah mengatur tingkah laku masyarakat termasuk kode etik dan kode moral manusia. Salah satu dari petunjuk Islam adalah melarang manusia untuk mengikuti gaya hidup yang tidak diizinkan dalam Islam. Seperti mengkonsumsi makanan haram, berpakaian yang tidak pantas, tidak bermoral dalam berperilaku dan tidak percaya adanya Tuhan. Andaikan semua itu dilanggar, maka akan ada konsekuensi hukum yang telah ditetapkan oleh-Nya.

Umat Islam diberikan kebebasan sepenuhnya untuk menikmati rahmat Allah, tapi tidak boleh melenceng dari prinsip-prinsip yang telah digariskan oleh syariat Islam. Terlebih lagi untuk menganut budaya Barat yang selalu diidentikkan dengan gaya hidup materialistik dan berorientasi duniawi saja. Peradaban dalam Islam mencakup elemen-elemen spiritual yang tidak dapat diukur dengan uang atau materi duniawi lainnya. Kebahagiaan adalah tujuan utama yang menjadi target masyarakat Islam. Tapi itu hanya akan dapat diraih apabila keperluan duniawi dan ukhrawi sudah seimbang. Hal ini bukan menandakan bahwa masyarakat statis atau anti terhadap perubahan. Melainkan Islam mempunyai prinsip sendiri yang sudah ditetapkan langsung oleh Tuhan untuk mengurangi keterkejutan budaya (shock culture) dan tekanan sosial untuk membangun hubungan antar masyarakat yang harmoni yang berdasarkan wawasan ilmu pengetahuan dan petunjuk Allah. Sudah menjadi kewajiban individu dalam Islam untuk terus menggali ilmu demi meraih kebahagiaan diri sendiri ataupun untuk membantu orang lain, sebagai wujud lain mensyukuri nikmat Tuhan.

Globalisasi telah membuat ilmu pengetahuan sebagai komoditi penting untuk sesiapa yang memiliki uang. Konsep Hak Paten Intelektual (IPR) yang telah ditekankan secara global oleh Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) tidak hanya ditujukan untuk membatasi akses negara-negara yang membutuhkan sains dan teknologi, tapi juga untuk mempropagandakan budaya kapitalis melalui penjualan dan promosi dari ilmu-ilmu Barat yang materialistik itu. Perdagangan telah menjadi sumber penting untuk mengekspor atau mengimpor budaya. Untuk beberapa dekade, para elit di kebanyakan negara Muslim dapat mengkonsumsi berbagai jenis produk budaya luar negeri melalui perdagangan.

Mengatakan Islam seperti kebanyakan agama lainnya, adalah suatu kesalahpahaman. Sebagai suatu agama, Islam telah menghadirkan suatu sistem kehidupan yang sangat komperehensif, menggabungkan dan menyeimbangkan elemen-elemen makro dan mikro dengan kode-kode etik yang bertujuan untuk mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, lingkungannya dan sesamanya. Jadi, tidak wajar lagi kita memisah-misahkan aspek sosial, ekonomi, politik dan aktivitas budaya lainnya. Dalam hal ini budaya telah diobservasi untuk dapat mengekspresikan kebutuhan manusia untuk menggali ilmu, menciptakan ide-ide baru, menghasilkan berbagai jenis barang dan servis, mencari hiburan, perayaan ataupun makan dan minum manusia. Yang terpenting aktivitas itu haruslah dilaksanakan sesuai dengan petunjuk yang ditetapkan oleh syariat.

Islam bukan tanggungjawab pribadi seperti yang dilihat Barat selama ini. Tapi, Islam merupakan tanggungjawab bersama untuk membangun keseimbangan sosial dalam masyarakat. Pemisahan agama dari urusan negara atau dari kehidupan sehari-hari individu tidak ada dalam Islam. Jadi, keseluruhan aktivitas dalam masyarakat termasuk juga elemen-elemen budayanya mestilah didesain sesuai dengan hukum Tuhan. Seharusnya, makna budaya dalam Islam juga mencakup adat istiadat, kebiasaan, peradaban, dan kemajuan intelektual manusia yang sejalan dan seirama dengan peraturan dan hukum yang sudah ditetapkan oleh pemegang supremasi tertinggi dalam Islam.(25)

Sebagai agama yang pluralistik, Islam mengakui keragaman budaya umat manusia asalkan itu semua sejalan dan tidak merusak hukum Tuhan. Selain itu, komponen ilmu pengetahuan dalam budaya Islam telah membuat masyarakat Islam dinamis, karena ia terus menerus menggali ilmu pengetahuan. Secara bersamaan, dikarenakan komponen spiritualnya budaya dalam Islam menyebarkan kode etik dan moral yang sangat tinggi untuk meng-arahkan manusia berperialku sebagai khalifah Allah di muka bumi ini.

Menurut definisi Islam, budaya juga termasuk sebagai kontributor dalam bidang ilmu pengetahuan. Hal ini menandakan bahwa Islam tidak bertolak belakang dengan “sifat alamiah” sesuatu asalkan semata-mata demi kepentingan umat manusia. Seperti yang tertera dalam Al Quran: “Mereka mengajarkan yang berbahaya dan tidak bermanfaat” (QS. Al Baqarah: 102). Rasulullah saw bersabda, “Aku berlindung kepada Allah SWT dari ilmu pengetahuan yang tidak bermanfaat.”

Pada masa ini, umat manusia telah kehilangan warisan budaya mereka dan juga keinginan untuk meraih ilmu pengetahuan. Ismail Al Faruqi mengintisarikan permasalahan umat Muslim sebagai berikut: “Berlawanan dengan pengaruhnya yang sangat luas dan dirasakan di mana-mana, umat Muslim terus berlomba dengan waktu untuk bersaing dengan negara lain. Mereka telah meraih kemajuan pesat dalam periode yang sangat singkat semenjak mereka meraih kemerdekaan negara setelah perang dunia ke-2. Tapi, masalahnya adalab pendidikan mereka. Untuk menyadarkan masyarakat tentang identitas asli mereka, budaya dan peradaban mereka, juga bagaimana caranya meningkatkan kemauan mereka untuk mencapai tujuan dengan tangan mereka sendiri. Catatan mereka (umat Muslim) selama tiga dekade terakhir sering naik turun. Bahkan, beberapa di antara mereka sudah sangat terikat dengan ideologi-ideologi Barat, seperti nasionalisme, demokrasi, sosialisme, dengan sedikit atau tanpa kesuksesan sama sekali.”(26)

Di awal-awal sejarah peradaban Islam, ilmuwan-ilmuwan Muslim telah mem-beri kontribusi besar di bidang ilmu pengetahuan. Dengan menjadikan ilmu pengetahuan yang berasaskan agama, Islam telah memberikan kontribusi besar di bidang ilmu pengetahuan, dalam beragam riset dan penemuan. Periode pencerahan di Eropa pada abad ke-18 (Renaissance dan Enlightenment) bisa terwujudkan setelah ada kontak antara mereka dengan Muslim di Spanyol, di bagian selatan Perancis dan di bagian selatan Italia. Sebaliknya, orang-orang Eropa pada masa itu tidak ramah dengan penemu-penemu ilmu pengetahuan baru dan pemikiran baru manusia. Mereka memperlakukan penemu-penemu itu secara tidak manusiawi. Sedangkan ilmuwan-ilmuwan Muslim seperti Ibn Khaldun (1332-1395), Ibn Rushd (1128-1195), Ibn Sina (980-1037), Al-Blruni (937-), Al-Zahrawi (940-1613), Al-Khawarizmi (m. 940), Ibn Zakariyya al-Razi (865-925) dan AI-Tabari (838-870), telah membuat kontribusi yang luar biasa di bidang pengembangan ilmu pengetahuan dan pemahaman manusia. Sayangnya, umat Islam telah kehilangan kendali dan kemauan untuk meraih ilmu pengetahuan mereka sendiri dan lebih memilih untuk melihat ke Barat sebagai sumber pendidikan dan informasi yang sangat tepat.

Apabila umat Islam mampu mempertahankan warisan budaya mereka dan memperkayanya, mereka harus mau berinvestasi untuk pengadaan sumber daya manusia demi meningkatkan stok ilmu pengetahuan mereka. Pada era kemajuan sains dan teknologi seperti ini, umat Muslim bukan hanya memberi kontribusi yang sangat sedikit dalam bidang ilmu pengetahuan tapi juga menjadi bagian dari mereka yang berkomitmen sedikit untuk melakukan riset dan pengembangan. Bahkan mereka tidak ada kemauan sama sekali untuk melakukan eksperimen di bidang sains dan teknologi. Murad Wilfried Hofmann berpendapat bahwa: “Budaya dan teknologi superior akan mengalahkan budaya dan teknologi yang lebih lemah. Dalam hal ini, konsekuensi jangka panjang juga sangat dramatik, filosofinya Ibn Rushd atau Averroisme sangat menolong untuk terjadinya Renaisance di Eropa pada abad 16 dan 17 (CE) dan selanjutnya pada abad i8 dengan munculnya Enlightenment, yang hasilnya masih dapat dilibat sampai sekarang.”(27)

Hanya bila umat Islam mulai lagi untuk menghasilkan pengetahuan yang produktif (berguna) sebagaimana yang dilakukan oleh pendahulunya, barulah Islam akan diperhitungkan lebih serius lagi di dunia Barat. Tetapi, terlebih dahulu umat Islam diharuskan memenuhi tuntutan agamanya barulah mereka boleh melihat ilmu pengetahuan untuk melaksanakan ibadah mereka.

Jackson J. Spielvogel merefleksikan kontribusi orang Muslim dalam bidang budaya dan ilmu pengetahuan dan dampaknya kepada timbulnya peradaban Barat. Ia menjelaskan: “Umat Muslim telah menciptakan budaya kosmopolitan yang sangat brilian, pada waktu Eropa Barat masih berada dalam kehidupan pedesaan dengan kampung-kampung kecilnya, selama abad-abad pertama dari dominasi kerajaan Arab. Dunia Islamlah yang menyelamatkan dan menyebarkan ilmu pengetahuan dan karya-karya filosoji Yunani kuno yang tidak dikenali di Eropa. Karya-karya besar Plato dan Aristotle kemudian diterjemahkan dalam bahasa Arab. Karya-karya itu kemudian dijaga di dalam perpustakaan yang dipanggil sebagai House of Wisdom (Bayt al-Hikmah) di Baghdad, di mana karya-karya itu dibaca dan dipelajari oleh ilmuwan-ilmuwan Muslim. Perpustakaan itu juga memuat buku-buku matematika yang dibawa dari India. Pengkajian atas teks-teks kuno itu juga ditolong dengan penggunaan kertas. Pembuatan kertas-kertas sudah lama dikenalkan oleh Cina pada abad 8 dan di akhir abad itu juga, pabrik kertas sudah didirikan di Baghdad. Penjual buku dan perpustakaan-perpustakaan dapat mengambil manfaat darinya. Universitas-universitas Eropa kemudian memanfatkan ilmu pengetahuan dari Islam setelah karya-karya tersebut diterjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa Latin. Ilmuwan Muslim bukan hanya dipuji karena menyumbangkan banyak ilmu pengetahuan ke Barat, tetapi juga karena mereka sudah memajukan dunia mereka sendiri. Terlebih lagi pada masa ini, kontribusi Muslim dalam bidang ilmu pengetahuan, ilmu alam masih dapat dibuktikan di manapun juga. Daftar pencapaian umat Islam di bidang matematika dan astronomi sangat mengagumkan… Avicenna adalah seorang dari banyaknya ilmuwan-ilmuwan Muslim yang karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin sehingga dapat membantu kehidupan intelektual di Eropa pada abad ke-12 dan 13.(28)

Perbedaan diantara penggunaan teknologi oleh umat Islam pada saat ini dan masa lalu adalah pada periode-periode awal umat Islam menggunakan teknologi yang mereka ciptakan sendiri. Sedangkan pada masa kini, umat Islam menggunakan teknologi yang diciptakan oleh Barat. Sebagai Muslim, kita perlu untuk melihat kembali peran kita di dunia sekarang ini, untuk percaya bahwa kebutuhan kita sesuai dengan rencana Allah telah dipenuhi sekarang dan masa depan. Salah satu penunjangnya adalah teknologi yang mempunyai kontrol komando terbesar. Dengan mempelajari bagaimana menggunakan teknologi masa kini, kita dapat belajar untuk memainkan peran penting masa kini. Teknologi memberikan pengaruh dalam perubahan di tubuh masyarakat. Kemajuan model Barat mungkin tidak sesuai dengan kemajuan model Muslim. Dalam Islam suatu kemajuan itu mencakup faktor-fakktor materiil dan spirituil, meraih output maksimal demi mencapai keuntungan maksimal bukanlah ciri Islam untuk mempromosikan suatu kemajuan. Pencapaian teknologi dan aplikasi dari model kemajuan itu harus selalu dievaluasi untuk memastikan bahwa itu selalu sejalan dengan Syariah.

Konsep dari kebahagiaan mesti dijalankan sesuai dengan Al Qur’an dan Hadits Rasulullah dan bukan berdasarkan kriteria-kriteria dan metode dari Barat. Pemakaian teknologi mesti disesuaikan dengan kondisi pada saat ini. Hubungan global yang semakin kuat bukanlah hal asing bagi penulis dan ilmuwan Muslim. Sebagai contohnya Said Nursi ilmuwan Muslim dari Turki dan juga seorang pemimpin agama memberitakan kepada dunia bagaimana budaya Barat berpengaruh besar kepada masyarakat dunia. Nursi sangat kritis terhadap modernisasi Barat dikarenakan kekosongan religius mereka dan besarnya pengaruh gaya hidup materialistiknya. Berkurangnya peran agama, menandakan bahwa manusia telah mengambil tempat Tuhan dan menggunakan keputusan rasional mereka sendiri tanpa mengikuti ajaran Tuhan. Dikarenakan itu, agama tidak lagi diperlukan dalam kehidupan sehari-hari dan posisinya sudah digantikan rasio dan sains yang dianggap sebagai solusi jelas atas semua masalah.

Sekularisme sebuah negara menandakan terputusnya hubungan negara itu dengan tradisi mereka, karena mereka sudah beradaptasi dengan pola hidup model barn yang liberal, hasil modernisasi gaya Barat. Perpindahan kepada model baru seperti itu menandakan bahwa agama telah menjadi urusan individu masing-masing dan bukan tanggung jawab bersama. Seperti yang dijelaskan Rashid Al Ghannouchi: “Paket modernisasi yang dibawa penjajah ke tanab Arab dan kemudian dipakai oleh pemerintab nasional setelab era penjajaban itu, sebenarnya sudab didesain sedemikian oleh mereka untuk meletakkan kekuasaannya di Arab dan masyarakat Islam kbususnya. Seperti di Magrib, penjajah-penjajah itu menjelaskan kepada mereka manfaat modernisasi yang telah memberi kesuksesan politik dan ekonomi untuk dunia Barat. Elit-elit sekuler nasional yang mengaku sebagai agen modernisasi telah mewarisi peran penjajah termasuk mewarnai pemikiran dan metode mereka untuk mengatasi massa yang mereka anggap sangat primitif dan terbelakang.”(29)

Pada masa ini, Islam menjadi fokus pembicaraan media Barat. Adanya buku ’Benturan Peradaban’ (Clash oj Civilization) karya Samuel Huntington dan The End of History-nya Francis Fukuyama kemudian terakhir serangan di New York tahun 2001, semakin mengintensifkan media Barat untuk menyerang Islam dan umat Muslim. Huntington berpendapat bahwa budaya adalah sumber konflik. Dalam artikel di Newsweek, Huntington lebih jauh berpendapat: “Politik global kontemporer adalab perang Muslim, yang telah menggantikan posisi perang dingin sebagai sumber konflik inlernasional.”(30) Mereka takut Islam kembali sebagai penantang utama peradaban Barat, karena itu mereka membendung Islam Fundamentalis di seluruh dunia, agar kepentingan hegemoni Barat tetap terjaga.

Warisan

Media paling populer komunikasi global adalah bahasa Inggris. Hampir 80% dari situs-situs jaringan internet menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa internasional. Bukan menjadi suatu pilihan pribadi, apabila masyarakat mempelajari bahasa Inggris pada hari ini, melainkan karena terpaksa. Karena bila tidak, akses untuk mendapatkan informasi modern menjadi sangat sulit, terlebih lagi di negara-negara yang bukan pengguna bahasa Inggris. Selama dua dekade ini, banyak negara-negara mulai memperkenalkan bahasa Inggris sebagai pelajaran wajib di sekolah-sekolah untuk memasyarakatkan globalisasi dan meningkatkan daya saing ekonomi. Terutamanya supaya tahu bagaimana mengoperasikan mesin-mesin teknologi.

Dalam dua abad terakhir ini, hampir seluruh sains dan teknologi diciptakan di Barat. Negara-negara Barat mampu mentransformasikan ilmu pengetahuan menjadi kekuatan ekonomi mereka. Murad Wilfried Wofmann berpendapat: “Selama tiga abad terakhir, revolusi ilmu pengetahuan terjadi di Barat, seperti mikrofisika, makrofisika, nuklir, riset otak, matematika mutakhir, telekomunikasi, bidang kedokteran, komputer sains dan Iain-lain…”(30)

Ungkapan bahwa kita berada di ujung sejarah adalah untuk memaksa kita membeli nilai-nilai dari Barat, dengan maksud untuk mempropagandakan demokrasi liberal di negara-negara non industri. Masyarakat dunia seharusnya berpedoman kepada warisan masing-masing untuk mem-bentuk kembali tatanan sosial yang seimbang (32)

Bahasa adalah alat komunikasi yang sangat penting dan juga berfungsi sebagai sarana untuk berekspresi. Setiap bahasa sama penting, sama-sama alat berkomunikasi dan setiap bahasa berpotensi untuk menjadi bahasa internasional. Perwujudan/realisasi dari potensi-potensi itu bergantung kepada kesempatan yang diberikan. Satu masa, bahasa diyakini sebagai karya cipta yang hidup. Ia lahir, tumbuh, lemah dan akhirnya punah. Pandangan ini salah, karena bahasa berfungsi sebagai instrumen dan hasil budidaya masyarakat yang mereka pakai atau ting-galkan. Riwayat semua bahasa berasal dari hubungan antar manusia di segala aspek kehidupan.(33)

Bahasa Arab tetap dikaitkan dengan kemajuan masyarakat Muslim selama berabad-abad sebagai bahasa wahyu. Umat Muslim memasukkan bahasa Arab ke dalam budaya mereka dengan menggabungkan beberapa kosakata bahasa Arab ke dalam kosakata bahasa mereka. Beberapa bahasa seperti Urdu, Melayu, Suwahili, Persia, Ottoman berpengaruh besar terhadap bahasa Arab sebagai bahasanya. Pada sejarah munculnya Islam, bahasa Arab bukanlah bahasa yang baru berkembang tetapi ia merupakan bahasa kuno yang kaya yang sudah dipakai jauh sebelum munculnya Islam. Bahasa Arab ikut menunjang peradaban Islam yang sangat tinggi. Dampak globalisasi juga dirasakan pada peran bahasa Arab yang semakin lemah dan bahkan hampir punah seandainya ia bukan bahasa Al-Qur’an. Kita mesti menyadari itu.

Penutup

Dalam tulisan ini, hubungan antara globalisasi dan budaya sudah sangat jelas didiskusikan. Globalisasi adalah proses multi dimensi yang menghasilkan perubahan mikro dan makro baik lokal maupun global. Sebagai suatu konsep, globalisasi adalah produk dari kemajuan bidang telekomunikasi dan siaran satelit dalam dua dekade terakhir ini. Kemajuan itu telah membantu semua penduduk dunia untuk bisa jadi dekat satu sama lain. Pencapaian mediamedia Barat semakin mengglobal dengan berkedokkan film-film Hollywood, berita-berita artis dan lain-lain. Negara berkembang ditinggalkan dengan sedikit kemampuan untuk melindungi kekayaan dari warisan bangsa mereka dikarenakan terbatasnya finansial dan teknologi. Sebagai proses yang tidak tentu dan tidak dapat diprediksi, globalisasi menjadi penyebab terjadinya perpecahan sosial, fragmentasi dan neokolonialisme. Namun, peradaban Islam tidak seperti budaya Barat, Islam lebih menekankan pentingnya kode etik untuk mengatur tingkah laku manusia. Budaya dalam Islam didefinisikan oleh agama Islam sendiri dan tidak dapat diubah mengikuti tren-tren baru dari Barat, dan inilah yang patut kita syukuri sebagai umat Islam.

Catatan Kaki:

20. Featherstone, Mike, Undoing Culture: Globalization, Postmodernism and Identity (London: SAGE Publications, 1995), p. 87.

21. Ibid, p. 8.

22. The International Herald Tribune, October 27, 1998.

23. Mc Grew, Anthony, A Global Society?, in Mall. Stuart; Helda, David and Mc Grew, Tony (eds). Modernity and its Futures (Polity Press, 1992). p. 71.

24. Ghai, Dharam, Ibid, p 3.

25. See Da’wah Highlight, Vol XII-V, May 2001.

26. Al Faruqi, Ismail, Islam (Niles: Argus Communications, 1984), p. 80.

27. Hofmann, Murad Wilfried, Globalization: Another End of History or Just Semantics? Encounter 7:2, (2001), p. 212.

28. Spielvogel, Jackson J. Western Civilization, (Belmont : Wadworth Thomson Learning, 1999), p. 233-234.

29. Al Ghannouchi, Rashid, Secularism in the Arab Maghreb, in Tamimi, Azzam and Esposito, John (eds.), Islam and Secularism in the Middle East (London : Hurst & Company, 2000), p. 99.

30. See Newsweek, December, 2001.

31. Hofmann, Ibid, p. 214.

32. See Unesco, Ibid, p. 176.

33. Ibid, 179.

Dipublikasi ulang Admin DPD PKS Sidoarjo