W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Hamas: Belajar dari Kesalahan

Oleh Sami Moubayed

(Pemuatan tulisan ini bertujuan agar kita mampu melihat sesuatu dari beberapa segi dan aspeknya. Juga, membuat kita bisa belajar dari hasil pembelajaran orang lain terhadap kita.)

Hamas

Setiap orang yang mencermati performa Hamas atau mengikuti retorikanya sejak didirikan di Palestina pada akhir tahun 1980-an menyadari bahwa kelompok Islam (ini) telah sangat matang setelah melewati masa 20 tahun.

Awalnya, Hamas menghindari segala sesuatu yang terkait dengan Perjanjian Damai Oslo yang ditandatangani oleh Presiden Palestina Yasser Arafat. Hamas menyatakan bahwa dengan menerima resolusi-resolusi PBB, Arafat telah mengakui Israel secara de facto. Piagam pendirian Hamas menolak mengakui negara Israel dan berjanji berusaha menghapus (Israel) demi memulihkan semua wilayah Palestina sebagaimana tahun 1948.

Konsekuensi dari sikap itu, Hamas menolak terlibat dalam pemerintahan dan parlemen Pemerintahan Nasional Palestina (Palestinian National Authority/PNA). Hamas melancarkan pertempuran berdarah sejak pecah intifada kedua pada 10 tahun yang lalu, tepatnya pada September 2000. Hamas menolak keterlibatan Amerika Serikat di Timur Tengah.

Sekarang, 22 tahun sejak pendiriannya, Hamas mencermati dalam-dalam sejarahnya, belajar dari keberhasilan dan kesalahannya sendiri guna menjadi sebuah pelajaran baru bagi organisasi dan kepemimpinannya.

Dimulai dari tahun 2006, saat Hamas memutuskan ikut serta dalam pemilu parlemen pasca meninggalnya Arafat di teritorial Palestina (yang merupakan produk Perjanjian Damai Oslo). Dengan menyetujui untuk memegang jabatan dalam sebuah lembaga yang diciptakan oleh proses perdamaian, Hamas sebenarnya telah mengakui Perjanjian Oslo. Dalam kampanyenya, meskipun Hamas menyerukan mempertahankan perjuangan bersenjata melawan Israel, Hamas tidak menyerukan pembentukan sebuah negara Islam di Palestina seperti yang dinyatakan dalam piagam Hamas 1988, “Israel akan ada dan akan terus ada hingga Islam akan memusnahkannnya.”

Menteri Luar Negeri Hamas Mahmud al-Zahhar menegaskan, “Tidak ada tempat bagi negara Israel di tanah ini.” Sementara itu, pendiri Hamas Syekh Ahmad Yassin telah menawrkan gencatan senjata jangka panjang (hudna) dengan Israel. Syaratnya dua: setuju untuk kembali ke tapal batas tahun 1967 dan memberi “hak kembali” bagi pengungsi Palestina yang terpencar-pencar di perantauan. Pada Januari 2004, tawaran Ahmad Yassin itu diangkat kembali oleh Abdul Aziz Al-Rantisi, seorang komandan senior Hamas, yang menyerukan “pembebasan tanah bertahap” sebelum ia dibunuh oleh Israel tiga bulan kemudian, pada bulan April.

Mari kita lihat lebih dekat rincian sepak terjang Hamas.

Hamas memboikot pemilu presiden bulan Januari 2005, tetapi berpartisipasi dalam pemilihan dewan kota (parlemen daerah) bulan Mei 2005. Hasilnya, Hamas mampu mengambil kota-kota penting seperti Rafah di Jalur Gaza dan Qaliqiyah di Tepi Barat, dengan mendapat suara mayoritas. Dalam pemilihan parlemen tahun 2006, Hamas mendapat 42,9% suara dan 74 dari 132 kursi setelah mengusung tema “Perubahan dan Reformasi” ke pemilih.

Hamas berharap akan diberi kesempatan untuk membuktikan diri dan menguasai wilayah Palestina, menawarkan 10 tahun gencatan senjata dengan Israel sebagai imbalan bagi penarikan penuh Israel dari Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Jerusalem Timur. Sewaktu kampanye, Hamas tidak menyerukan pembebasan seluruh Palestina karena Hamas menyadari bahwa politik adalah seni kemungkinan dan permintaan seperti itu akan diacuhkan masyarakat internasional.

Daripada turut serta dalam kebijakan Hamas, masyarakat internasional memilih memboikot wilayah Palestina untuk menghukum orang-orang Palestina yang memilih Hamas. Pemberian sanksi itu atas desakan George W Bush di Gedung Putih, pada Mei 2006.

Pemboikotan ini membuat penganut garis keras dalam Hamas mencoba menghentikan semua tindakan moderat, menyatakan bahwa Israel hanya mengenal satu bahasa: bahasa kekerasan. Mereka meminta Hamas kembali pada usaha terbaik: memimpin perlawanan bersenjata melawan Israel.

Para pemimpin utama Hamas, bagaimanapun, jelas-jelas ingin diakui sebagai negarawan, bukan sekadar pejuang gerilya. Keinginan mereka ada sama dengan pikiran Arafat sendiri. Arafat yang setelah bertahun-tahun melawan dengan gerakan bawah tanah Palestina, bangkit untuk menjadi presiden terpilih pada 1990-an, bertekad menyediakan pekerjaan, membayar gaji, menarik investasi, membawa rasa aman dan kehidupan normal di wilayah Palestina.

Yang benar-benar penting, para pemimpin Hamas segera menyadari bahwa sekolah lebih baik bagi rakyat Palestina, bagaimana menyediakan rumah sakit murah dan standar hidup yang lebih tinggi bagi warga Tepi Barat dan Gaza. Membasmi korupsi dan memperbanyak lulusan-lulusan PhD di universitas Palestina menjadi lebih mendesak untuk Hamas daripada melancarkan pertempuran bawah tanah melawan Israel.

Beberapa bulan yang lalu, Ismail Haniyya, perdana menteri pemerintah pimpinan Hamas di Gaza, mengumumkan bahwa ia menyambut baik momentum positif yang dibawa ke Timur Tengah oleh Presiden AS Barack Obama. Ia bersedia memberikan Obama keuntungan dari keraguan tekanan apa yang harus dilakukan AS terhadap Israel untuk mengakhiri pengepungan Gaza. Hilang sudah hari-hari saat Hamas menolak peran AS di Timur Tengah.

Pekan lalu, Hamas membebaskan jurnalis Inggris Paul Martin dari penjara di Gaza. Pembebasan tersebut mengingatkan pada kejadian beberapa tahun yang lalu saat Hamas membantu melepaskan responden BBC Alan Johnston dari penyanderaan di Gaza.

Hamas juga, baru-baru ini, mengumumkan bahwa ia bersedia menerima Prakarsa Perdamaian Arab, yang digagas pada KTT Beirut tahun 2002, yang mengakui Israel dengan perbatasan tahun 1967. Tampaknya, hilang juga hari-hari saat Hamas menolak perjanjian damai apa pun tidak didasarkan pada pembebasan seluruh Palestina.

Ada banyak alasan mengapa Hamas telah berubah sikap, meski Hamas tetap menjaga bagaimanapun impian aslinya untuk membebaskan Palestina. Satu di antaranya adalah keinginan untuk berkuasa di wilayah Palestina dan pada saat yang sama mampu berbagi kekuasan dengan partai-partai politik lain sepanjang sejarah. Hal sama terjadi pada Fatah pada tahun 1993, ketika Arafat menyadari bahwa pertempuran bersenjata sendirian tidak akan pernah berhasil dalam membebaskan Palestina atau membawa dia untuk berkuasa di wilayah Palestina.

Alasan lain mengapa Hamas mengalami pelunakkan dalam kebijakannya adalah jumlah kerusakan dan pertumpahan darah diderita pada Gaza sejak perang 2008-2009. Meskipun bisa bertahan, Hamas menyadari bahwa rakyat Palestina yang ada dalam daerah yang dikuasainya mengalami derita tak tertahankan dan standar hidup mereka turun drastis. Jika pelunakan kebijakan itu merupakan harga yang harus dibayar sebagai untuk meringankan derita penduduk Palestina di Gaza, Hamas akan bersedia membayarnya.

Alasan berikutnya yang menyebabkan Hamas berubah cepat adalah kejadian di negara tetangga, yakni Lebanon. Pertama, Hizbullah bisa mempertahankan kebijakan garis keras, namun bisa berbagi kekuasaan dengan unsur-unsur pro-Barat. Bagi Hamas, tidak mungkin berbagi kekuasaan Palestina dengan Fatah.

Kedua, Hizbullah memiliki sekutu geografis yang menjadi tetangga Lebanon, yaitu Suriah. Sementara Hamas bertetangga dengan pemerintah Mesir yang bersikap sangat memusuhi. Jangankan memberi bantuan, sikap permusuhan Pemerintah Mesir itu membuat kehidupan penduduk Gaza semakin sulit.

Hizbullah bisa memanfaatkan kondisi medan sulit di Lebanon selatan dan bertempur dari goa dan gunung, sementara Hamas harus bertempur di medan datar Gaza, yang menjadi sasaran empuk jet-jet tempur Israel.

Selain itu, Hizbullah memproteksi keamanan dengan sangat ketat dan yakin tidak ada ilfitrasi Israel ke dalam komunitas Hizbullah. Terlihat jelas dari pertempuran di tahun 2006, Israel tidak mempunyai informasi tentang komandan-komandan senior Hizbullah. Jika tahu, tentu para komandan itu akan segera dibunuh, seperti yang Israel telah lakukan kepada para pemimpin Hamas sejak tahun 1990-an.

Dalam wilayah Palestina, kelaparan menjadi ancaman bagi setiap orang sehingga sangat mudah bagi Israel untuk mengirimkan pasukan mata-mata dan informan untuk menyuap mereka yang sangat membutuhkan uang. Karena inilah, Israel bisa melumpuhkan pemimpin-pemimpin Hamas seperti Yassin dan Rantisi. Ada dugaan, Israel turut andil dalam kematian Arafat di tahun 2004.

Di Januari 2010, Israel merancang pembunuhan seorang komandan senior Hamas Mahmoud al-Mabhouh di Dubai. Akhir pekan lalu, Israel menangkap pendiri Hamas di Ramalah, Maher Udda. Beberapa minggu yang lalu, putra Syekh Hasan Youssef, seorang pendiri Hamas, mengumumkan bahwa dia telah bekerja dengan intelijen Israel Mossad sejak tahun 1990 dan sejak pindah ke AS dan menjadi Kristen. Informasi yang dia berikan kepada Israel telah menyelamatkan nyawa Presiden Israel Shimon Peres dan menyebabkan penangkapan Palestina berpengaruh seperti Marwan Barghouti.

Kasus seperti di atas tidak terjadi di kalangan Hizbullah. Ini menunjukkan betapa berat kesulitan bagi Hamas untuk menerima kenyataan: karena kemiskinan, Israel telah menyusup ke dalam masyarakat Palestina secara dramatis dengan cara-cara canggih.

Kemiskinan di jalan, ketidakpedulian masyarakat internasional, keinginan untuk memerintah, menjelaskan mengapa Hamas di tahun 2010 lebih bijak daripada masa sebelumnya.

Sami Moubayed adalah kepala editor Majalah Forward.

Sumber: Asia Times Online (www.atimes.com), 20/03/10

(Diterjemahkan secara bebas dan mengalami sedikit penambahan dengan tidak mengubah substansinya. Dipublikasi ulang Admin DPD PKS Sidoarjo)