W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Masuk ke Sarang Izzudin Al Qassam, Sayap Militer Hamas

Tutupi Wajah dengan Kafiyeh ala Ninja

(Jawa Pos, 30/01/09)

Nama Brigade Izzudin Al Qassam kembali mencuat saat warga Gaza, Palestina, perang melawan Israel. Tempat persembunyian sayap militer Hamas itu menjadi target nomor satu mesin perang Negeri Yahudi itu. Namun, seperti “hantu”, mereka bergerak cepat dan diliputi kerahasiaan.

Izzudin Al Qassam berdiri hanya empat bulan setelah Syekh Ahmad Yassin mendeklarasikan Hamas pada 1987. Penggagasnya, antara lain, Sobhi Al Mazi (baca wawancaranya dengan Jawa Pos, 27 Januari 2009), Imad Aqel, Yahya Ayyash, Mohammad Al Deef, dan Hassan Salamah.

Mengambil nama pejuang Syria yang terbunuh dalam perang di Gaza pada 1936, sayap militer ini untuk mengoordinasikan gerakan perlawanan terhadap Israel. “Dari yang semula sporadis, diarahkan menjadi strategis dan terarah,” kata juru bicara Hamas Fauzin Barhoum kepada Jawa Pos.

Aksi kelompok itu, antara lain, serangkaian pengeboman antara 2005-2007, termasuk lima aksi bom bunuh diri di Israel. Menurut Ahmad, salah satu kepala Fasheel (struktur tentara Hamas untuk menyebut setingkat kota), aksi bom bunuh diri tersebut merupakan balas dendam atas terbunuhnya Yahya Ayyash, pemimpin brigade, akibat ponselnya dipasang bom.

Penggantinya, Hassan Salamah, pun bersumpah membalas dendam dan mengotaki lima bom bunuh diri di Israel yang menewaskan sekitar 200 orang. “Namun, Hassan Salamah ditangkap di Tepi Barat oleh tentara Israel dan dipenjara di sana,” kata Ahmad. Vonis yang dijatuhkan pengadilan Israel tak tanggung-tanggung. Yakni, hukuman penjara seumur hidup ditambah kurungan 1.125 tahun penjara. “Vonis macam apa itu?” kata Ahmad kemudian menggeleng-gelengkan kepala.

Sejak Hassan Salamah ditangkap, kini tampuk kepemimpinan dipegang Mohammad Al Deef. Belajar dari pengalaman masa lalu (pimpinannya selalu menjadi target pembunuhan), laskar tersebut betul-betul menjaga kerahasiaan pimpinannya. “Hanya pimpinan kelas tinggi yang bisa bertemu,” katanya.

Ahmad mengklaim hingga kini tak ada satu pun yang bisa mengidentifikasi siapa Mohammad Al Deef. Keberadaannya seperti legenda, tak pernah menetap, dan bila bertemu anak buah selalu mengenakan kafiyeh yang dipakai seperti ninja. “Tak ada satu pun yang tahu wajahnya. Israel memang tahu nama ini, tapi tak pernah punya fotonya,” tutur Ahmad dengan nada sedikit bangga.

Bahkan, dalam setiap pertemuan pucuk pimpinan Al Qassam, tokoh ini tak pernah menunjukkan muka aslinya. “Jadi, kalau dia (Muhammad Al Deef) melepas kafiyehnya dan berjalan-jalan, tak ada yang tahu. Saya sendiri pun tak akan pernah tahu,” tambahnya.

Soal merahasiakan pimpinannya, Hamas memang sangat ekstraketat. Ismail Haniyah, misalnya. Hingga kini Perdana Menteri Palestina tersebut hidup di tempat persembunyian. Ini setelah Israel bersumpah bahwa “Ismail Haniyah tak akan melihat lagi sinar matahari sampai Kopral Gilad Shalit (tentara Israel yang diculik Hamas) dibebaskan”.

Selain merahasiakan identitas para pentolannya, brigade itu membangun sistem untuk memperketat kerahasiaan tersebut. Dari penelusuran Jawa Pos, pasukan ini menggunakan sistem sel. Di antara anggota sel sering tak tahu satu sama lain. Kalaupun tahu, yang sekadar tahu bahwa temannya sama-sama anggota Al Qassam, tapi tak tahu dari sel mana.

Brigade itu membagi selnya sangat kecil, hingga hanya ada sekitar enam orang dalam satu kelompok yang dipimpin satu orang. Sebutannya adalah majmu’ah. Tiga atau lebih rais majmu’ah (pimpinan majmu’ah) kemudian mengelompok lagi menjadi tashkeel-setingkat kecamatan.

Di atas tashkeel, ada lagi struktur yang bernama fasheel-gabungan dari dua atau tiga tashkeel. Demikian terus berjenjang ke atas, para pemimpin fasheel mengelompok lagi menjadi sariyyah. Beberapa sariyyah itu mengelompok lagi menjadi katibah. Selanjutnya, beberapa pemimpin katibah membentuk struktur pimpinan pusat yang diberi nama liwa’.

Salah satu kiat untuk tetap menjaga kerahasiaan adalah dengan sebisa mungkin menghindari alat modern seperti ponsel, walkie talkie, dan peranti canggih lainnya. Dalam pertemuan penting, undangan tidak disampaikan lewat telepon atau SMS, tapi melalui kurir.

“Siapa pun tahu bahwa keunggulan mereka (Israel dan AS) adalah pelacakan lewat alat canggih. Maka, kami tak percaya dengan alat-alat canggih,” kata Ahmad.

Kalaupun terpaksa menggunakan telepon, bahasa yang digunakan pun ada kode tertentu, sehingga terkesan seperti pembicaraan biasa.

Soal hamniyah (kerahasiaan) memang menjadi salah satu kode etik anggota Al-Qassam yang terpenting selain masalah akhlak. Pelanggaran terhadap hal itu (hamniyah) merupakan pelanggaran terberat. Bila hanya berakibat mengganggu ritme kerja pasukan itu, maka sanksinya adalah dicopot keanggotaannya. Bila agak berat (seperti berkoar-koar di luar bahwa dirinya adalah anggota Izzudin Al Qassam), ditembak tapi pada bagian yang tidak mematikan, seperti kaki.

Namun, bila berat (misalnya sampai mengakibatkan kedok seorang pemimpin majmu’ah, tashkeel, fasheel, sariyyah, katibah, atau liwa’ ketahuan), anggota tersebut bisa dibunuh. Dengan kode etik seperti ini, anggota Al-Qassam lebih suka tak bicara macam-macam di luar lingkungan mereka. Ahmad kemudian memberikan contoh betapa efektifnya sistem seperti ini. “Seperti anfaq (terowongan bawah tanah). Ada divisi khusus yang melakukan penggalian,” tuturnya.

Anggota yang bertugas membuat terowongan tersebut sama sekali tak pernah komunikasi dengan yang lain. Kerjanya tiap hari hanya menggali terowongan selama enam jam per hari (satu terowongan biasanya selesai dalam waktu empat hingga lima bulan). “Yang lain baru tahu setelah terowongan tersebut jadi dan bisa dimanfaatkan,” urainya.

Hasil gerakan tutup mulut soal anfaq itu, Ahmad memperkirakan ada lebih dari 1.000 anfaq yang tersebar di seluruh Jalur Gaza. Ada yang antarkota, ada yang menembus Mesir, dan tak sedikit yang menembus batas wilayah Israel. “Yang ke Israel sangat penting, karena dari sanalah kami biasanya menyusupkan para syahidin untuk mengebom,” lanjutnya. Dengan total anggota sekitar 50 ribu orang, Brigade Izzudin Al-Qassam tetap masih kuat untuk menghadirkan mimpi buruk bagi Israel. (bersambung)