W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Tsaqofatuna

Pada level pemikiran, upaya pemaduan Asholah (orisinalitas) dan Mu’ashorah (kemoderenan) merupakan kasus yang cukup rumit.

Dalam artian, adalah bagaimana memadukan Tsaqofah Islamiyyah yang orisinil, prinsipil, dan mendasar dengan tsaqofah modern, kontemporer, dan kekinian pada diri kaum Muslimin. Pada banyak kasus, lahirnya berbagai sikap yang tidak proporsional disebabakan oleh hilangnya tawazun (keseimbangan) di antara tsaqofah-tsaqofah itu.

Sebuah umat yang diamanatkan membawa risalah ke seluruh umat manusia, sudah dipastikan memiliki tsaqofah zatiyah, yaitu kumpulan pengelahuan dasar yang mencerminkan identitas kultural, pemikiran, jiwa, tabiat, dan emosi umat tersebut. Tsaqofah zatiyah kita, sebagai Muslim, merupakan ilmu-ilmu keislaman dengan berbagai cabangnya. Tsaqofah ini merupakan basis internal yang merefleksikan wajah akidah, misi, budaya, dan moral kita, sebagai indovidu atau komunitas Muslim.

Di atas basis tsaqofah inilah, dibangun tsaqofah mu’ashorah seorang Muslim. Tsaqofah zatiyah, kata Al Ghazali, berbeda dengan ilmu yang tidak mengenal batas geografis, seperti kedokteran, teknik, fisika, kimia, matematika, biologi, arsitektur, militer, dan lainnya. Ilmu-ilmu seperti ini hanya akan memberi manfaat bagi suatu umat bila ia dibangun di atas landasan tsaqofah zatiyah umat itu. Sebab, tsaqofah zatiyah itulah yang dapat menjamin kebenaran orientasi dan pendayagunaan ilmu-ilmu tersebut.

Karena alasan ini, kaum imperialis berusaha sedemikian rupa merusak lembaga lembaga pendidikan tradisional Islam seperti Al Azhar dan lainnya. Sekulerisasi dunia pendidikan-katakanlah demikian-yang sampai detik ini masih berlangsung di negara-negara yang berpenduduk mayoritas Islam. Akibatnya, “Akal Islam” yang dulunya mengakar, raksasa, cemerlang, kritis, kreatif, kini kehilangan peran vitalnya-mengambang dan terperosok dalam jebakan taklid. Karena “Akal Islam” itu kehilangan orientasi dan misi yang justru merupakan sumber mata air kecemerlangannya. Efek lebih jauh lagi, yang terjadi di realita umat adalah keadaaan sebaliknya. Kecanggihan teknologi milter suatu negara Islam justru menjadi sumber musibah bagi umat Islam di negara Islam lainnya.

Kasus hilangnya tawazun antara tsaqofah zatiyah dan tsaqofah mu’shorah ini, tegas Muhammad Al Ghazali, merupakan salah satu rintangan terbesar yang menghambat laju roda kebangkitan Islam. Namun bukan berarti bahwa kita harus melahirkan manusia yang berpengetahuan “ensiklopedi”, yang serba bisa, serba ahli di segala bidang. Kenyataan ini, memang pernah ada dan terjadi di zaman ulama kita dahulu. Tapi sekat-sekat spesialisasi dan pengkhususan pengetahuan yang sekarang diterapkan dengan sangat ketat di zaman kita ini, belum atau bahkan tidak memungkinkah lahirnya manusia “ensiklopedi”.

Pesan yang ingin ditekankan di sini, adalah bagaimana merekonstruksi, menata ulang “tangga tsaqofah” yang benar bagi Muslim Mutaharrik yang hidup di zaman ini? Yaitu sebuah tangga, dengan tsaqofah zatiyah yang dibangun secara hirarki dengan spesialisasi ilmu-ilmu modern. Karena tsaqofah zatiyah inilah yang dapat memberi “Mana’ah Fikriyah (kekebalan pemikiran) bagi ilmuwan Muslim modern, yang pada gilirannya akan melahirkan manusia manusia jenius yang selalu On Mission.

Sumber: Inthilaq No. 8 /Th I 15 – 30 Juni 1993

Republished by DPD PKS Sidoarjo