W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Ada Masalah Serius dalam Hidup Kita: Kemandekan

Ada Masalah Serius dalam Hidup Kita Kemandekan

Di kolong jembatan jalan Casablanca, Jakarta Selatan, awal Februari lalu, manusia menyemut. Kanak-kanak, remaja, lansia laki-laki dan perempuan, berdiam di sana. Di malam-malam yang diguyur hujah, mereka cuma bisa membayangkan rumah yang terendam banjir, bahkan sebagiannya roboh terkena terjangan air bah. Mereka tidak bisa lagi tertampung di tempat penampungan yang penuh. Pemandangan serupa terhampar di berbagai kawasan Jakarta, hari-hari itu.

Ida, warga jalan W, Kebon Baru, Jakarta Selatan, bertutur, meski rumahnya tak terkena banjir, tapi tengah malam Ahad awal Februari, ketika sungai Ciliwung mengamuk, ia tetap tak bisa tidur. Teriakan minta tolong dari or-ang-orang yang rumahnya berada dekat kali Ciliwung, membuatnya bergidik. Teriakan itu mengiris hati.

“Jeritan-jeritan minta tolong, di tengah malam, suara air kali menderu-deru, bagaimana kami bisa tidur. Membayangkan mereka terjebak di atap rumah,” ujar Ida, yang juga mendehgar lolongan anjing yang seperti ketakutan. Setelah beberapa saat terdengar, teriakan itu terhenti. Di tengah kegelapan, Ida tidak tahu, apakah mereka tertolong, atau hanyut terbawa derasnya sungai Ciliwung.

Asep, warga Bina Marga di belakang kantor BPK Kalibata, Jakarta Selatan, malam itu mendapat pesan singkat dari ponsel tetangganya. Leni, nama perempuan itu, memohon pertolongan, karena ia terjebak di atap rumah ketika banjir datang. Leni, yang mengelola toko di rumahnya, sudah membawa barang dagangannya ke lantai dua rumah. Ia pun berdiam di sana ketika banjir datang, karena tahun-tahun sebelumnya, banjir tak pernah mencapai lantai dua. Tapi malam itu, air terus naik, hingga Leni harus memanjat ke atap. Dalam ketakutan, Leni berkali-kali mengirim SMS, bahwa ia terjebak di atap. Mohon ban-tuan. Asep dan istrinyayang telah mengungsi, berusaha mengabarkan kondisi Leni. Namun arus yang deras, membuat pertolongan tertunda.

Akhirnya, setelah tiga kali SMS Leni masuk, tak ada lagi SMS susulan. Asep dan istrinya berkali-kali menelpon, tapi tak ada lagi jawaban. Di Masjid BPK, esoknya, Asep melihat limabelas jenazah korban banjir terbaring. Ia lega karena tidak menemukan Leni. Namun, hingga beberapa-hari kemudian saat ia menuturkan kisah tragis itu, kabar Leni belum terdengar.

Di kawasan Kampung Melayu Kecil, ketika banjir datang, satu keluarga berdiam bersama di lantai dua rumah mereka. Tak dinyana, kuatnya arus banjir, merobohkan rumah. Ketiganya langsung jatuh dan terseret air bah. Beberapa tetangga yang mengetahui kejadian memilukan itu, cuma bisa terpukau. Mereka sendiri saat itu tengah sibuk menyelamatkan nyawa. Hingga esok harinya, baru dua dari mereka yang ditemukan, sudah menjadi jenazah.

Bencana banjir yang terus berulang, ternyata bukannya semakin bisa ditanggulangi. Malah makin menjadi. Pertama kalinya, banjir kini sampai menggenangi 42 kecamatan di Jakarta atau seratus persen, dengan 168 kelurahan atau 63,4 persen. Korban jiwa diperkirakan akan mencapai seratus nyawa lebih.

Apa kaitan semua ini dengan soal keman-dekan? Ini adalah drama lain dari kemandekan para pemimpin. Ya. Pemimpin yang berkuasa tidak hanya sekali, tapi mengalami masalah sama berkali-kali. Itulah kemandekan kepemimpinan.

Ia pernah berkata, November tahun lalu, bahwa tidak akan terjadi lagi banjir yang besar. Kalimat itu keliru secara moral dan secara ikhtiar.

Keliru secara moral, karena itu sebentuk kesombongan dan melecehkan kekuasaan Allah. Maka alangkah banyaknya daerah yang seumur hidup penghuninya tidak pernah terkena banjir, tahun ini justru tergenang air. Keliru secara ikhtiar, karena toh pada kenyataannya tidak ada perubahan signifikan dalam menaggulangi banjir.

Suatu siang dahulu, ia pernah mengatakan, bahwa di Jakarta ini gedung-gedungnya kokoh dan tahan gempa. Sore menjelang petang, Jakarta tiba-tiba diguncang gempa.

Inilah harga yang harus dibayar, akibat kemandekan para pemimpin. Di dalamnya ada matinya kearifan, berhentinya inisiatif, matinya perencanaan, matinya kepedulian, matinya cinta. Cengkraman hawa nafsu, terpukau “kompensasi” atas keluarnya ijin pembangunan pusat-pusat bangunan komersil yang memakan lahan resapan. Kesalahan yang berulang, akhirnya membawa korban rakyat sendiri. Melahirkan tragedi massal.

Sungguh berbahaya, jika pemimpin mati rasa cintanya, mandeg berinisiatif memberi yang terbaik, berada dalam stagnan hawa nafsu sempit, dan “bermain-main” dalam kesalahan yang terus berulang sambil merasa tak ada yang salah. Bahkan tetap bertahan pada keyakinan dirinya mampu, meski fakta berbicara lain. Hari ini, dalam musibah banjir yang melanda Jakarta, bukti kemandekan itu amat nyata.

Seorang pejabat tinggi berujar bahwa ia sudah tahu akan adanya banjir lima tahunan.. Dan ia menganggap itu sebagai bencana alam. Seperti sesuatu yang memang harus terjadi. Dalam pola pikir semacam ini, antisipasi banjir semaksimal mungkin, akhirnya jadi sesuatu yang tidak begitu penting. Pembenahan terencana jadi sesuatu yang tidak begitu perlu.

Berani menjadi pemimpin, seharusnya berani pula tidak mandeg di sana-sini. Pemimpin, dalam lingkup apapun, harus berada dalam kutub berlainan dengan kemandekan. Karena ia membawa amanah orang-orang di bawahnya. Karena amanah itu akan mengikuti kita hingga liang lahat.

Kemandekan dalam Bentuk Terhentinya Kecintaan pada Ilmu

Tak ada karunia yang lebih baik setelah iman, yang diberikan Allah kepada manusia melebihi akal.” Begitu Rasulullah mengabarkan. Dengan akal, kita menimba ilmu. Dengan ilmu, kita menabung pengetahuan. Dengan pengetahuan, kita belajar kearifan. Dengan kearifan, kita arungi hidup dengan berdaya guna.

Kita lahir dan kita tak mengerti apa-apa. Kita belajar, tapi sejatinya kita juga masih banyak tidak mengerti apa-apa.

Pengetahuan sejati muncul ketika kita mengetahui bahwa kita tak tahu apa-apa, dan dalam mengetahui bahwa kita tak tahu apa-apa. Itulah yang membuat kita jadi orang terpandai,” ujar Socrates.

Dengan mengetahui bahwa kita tidak tahu apa-apa itulah, kita mestinya tidak pernah berhenti. Tidak pernah mandeg mencari ilmu. Tidak pernah selesai menggali ide. Seperti bejana kosong, jiwa punya kehausan untuk berjalan terus dalam tradisi belajar.

Sewaktu Perang Dunia II berakhir, para ilmuwan dipulangkan dari proyek Los Alamos yang fantastik, dan ilmuwan Richard Feynman lantas mengajar di Cornell University. Nyaris tak ada hal baru yang menarik di bidang fisika teoritis di masa itu, dan kebosanan menjelma jadi ketakutan akan kemandekan. Beberapa lembaga di luar Cornell menawari Feynman bergabung, mengingat reputasinya di proyek Los Alamos. Tapi Feynman membayangkan dirinya bukan Feynman yang dulu. Kini, ia Feynman yang mandeg. Ia sempat mengambil sikap “tak ambil pusing”. Ia hidup, tapi bukan untuk tujuan besar: semua dilakukan hanya buat ketertarikan pribadi. Membaca 1001 Malam, melempar-lempar piring di kafetaria, dan menghitung formulasi fisika yang sekadar lucu.

Salah satu yang membuatnya sibuk adalah kecepatan putar logo Cornell di piring yang dilempar, ketika piring itu bergelincirdi udara. Perbandingan kecepatan putarnya 2:1 terhadap kecepatan piring (ada yang menyebutkan 1:2). Hitungannya tidak sederhana. Ia menghabiskan waktu menghitung keseimbangan akselerasi pada sebaran massa. Hasilnya dipamerkan pada Bethe, pusat ilmuwan di masa itu. Namun tanggapan dingin saja, “Apa gunanya?”

Tapi Feynman tidak peduli. Ia ternyata tak dapat berlama-lama dalam kemandekan. Meski sempat terbenam bahkan memulai dari sesuatu yang terkesan tak serius, ia akhirnya hidup lagi, dan bukan untuk sekadar hidup. Setelah memulai, ia meneruskan ke sesuatu yang lebih fundamental untuk menyusun formula dasarnya. Bagaimana kalau partikelnya hanya sebesar elektron. Dan seterusnya dan seterusnya. Dalam pengakuan Feynman, penelitian itulah, yang berkelanjutan ke mana-mana, yang membuatnya menerima Hadiah Nobel Fisika, untuk formulasi elektrodinamika kuantum.

Dengan mengetahui bahwa kita tidak tahu apa-apa, kita mestinya tidak pernah berhenti. Tidak pernah mandeg mencari ilmu. Tidak pernah selesai menggali ide. Seperti bejana kosong, jiwa punya kehausan berjalan terus dalam tradisi belajar. Sejarah mencatat banyak pelopor intelektual Muslim di masa lalu.

Rasyid Ridha (1865-1935), seorang iimuwan Muslim dari Suriah yang mengembangkan gagasan modernisme Islam yang awalnya digagas Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh. Ridha mempelajari kelemahan masyarakat Muslim dibandingkan masyarakat kolonialis Barat dan menyimpulkan kelemahan itu antara lain kecenderungan umat mengikuti tradisi secara buta dan kemandekan pemikiran yang mengakibatkan timbulnya kegagalan mencapai kemajuan sains dan teknologi. Ia berpendapat kelemahan ini dapat diatasi dengan kembali ke prinsip dasar Islam dan melakukan ijtihad dalam menghadapi realita masa kini. Itulah mengapa sejak tahun 1898 hingga wafatnya, Ridha menerbitkan surat kabar Al-Manar yang penyebarannya bahkan hingga ke tanah air Indonesia, dan mempengaruhi kaum pergerakan Islam. Dari penolakan pada kemandekan, pesan-pesannya berjalan terus.

Sejarah juga mencatat seorang Muhammad Marrriaduke William Pickthall (1875-1936), intelektual Muslim Barat, yang terkenal dengan terjemahan Al Qur’an yang puitis dan akurat dalam bahasa Inggris. Pickthall juga seorang novelis, jurnalis dan kepala sekolah. Dididik di Harrow. Terlahir dari keluarga Inggris kelas menengah yang akar keluarganya mencapai ksatria terkenal William sang penakluk, Pickthall tak bisa hanya puas dalam “warisan” status, ia memilih berkelana ke banyak negara Timur Tengah, hingga mendapat reputasi sebagai ahli masalah Timur Tengah.

Setelah mendobrak penerimaannya yang pasif pada agama sebelumnya dan memeluk Islam, melalui perjuangan panjang, ia menerbitkan terjemahan Al Qur’an (The meaning of the Holy Qur’an). Terjemahan dalam bahasa Inggris pertama yang dilakukan seorang Muslim dan diakui Universitas Al Azhar. Malam sebelum wafat, dalam keadaan sakit, Pickthall tetap bergerak, menulis perbaikan buku pelajaran dalam madrasahnya. Setelah ia wafat, istrinya menemukan catatan terakhirnya di meja. Kalimat terakhir yang ia tulis berasal dari Al-Qur’an, “Mereka yang menyerahkan segalanya pada Allah, yang melakukan amal shaleh, ganjarannya adalah bersama Allah, tidak ada ketakutan atas mereka, dan tidak pula mereka bersedih.”

Sejarah mencatat banyak pelopor yang melanjutkan tradisi keilmuan. Gustave Le Bon bahkan mengatakan bahwa sebagian orang Eropa malu untuk mengakui dan menyembunyikan kenyataan bahwa kelompok Muslim telah menyebabkan Eropa meninggalkan kekejaman dan kebodohan.

Moral yang memengaruhi orang-orang Arab yang diawali dengan Islam telah mendahuiui bangsa Eropa yang tidak beradab, yang menggulingkan kerajaan Romawi ke arah kemanusiaan. Pengaruh mental kaum Musliminlah yang memperkenalkan sains, keahlian dan filsafat, yang kita benar-benar tidak mengetahuinya. Kaum Muslimin pelopor kita selama enam ratus tahun,” ujar Le Bon.

Will Durant dalam History of Civilisation pun mengatakan, “Selama lima abad dari tahun 81 H sampai 597 H Islam merupakan kekuatan pelopor dalam disiplin, perluasan wilayah, moralitas, pengembangan standar kehidupan, hukum-hukum kemanusiaan yang adil, menghormati pikiran dan gagasan orang lain, kepustakaan, riset keilmiahan kedokteran dan filsafat di dunia.

Persoalannya terhenti di mana tradisi keilmuan itu? Mengapa kita menyimpang dari jalan utama, jalan menuju arah kemajuan dan upaya kesempurnaan? Apakah cukup berlindung dalam opini: tabiat sejarah bahwa bangsa mengalami suatu batas jaman kemajuan dan perubahan dan kemudian mundur ke arah kebinasaan, kejatuhan dan kehancuran? Padahal sekarang adalah jaman di mana kita hidup. Inilah hari-hari kita, yang membuka peluang meneruskan tradisi keilmuan, meski dalam taraf berbeda bagi masing-masing kita. Soalnya cuma satu: tak ada lagi pintu bagi tipuan kemandekan.

Kemandekan Mental dalam Rutinitas Hidup

Jebakan rutinitas bisa melahirkan kemandekan. Ketika segenap energi dicurahkan untuk mencapai tujuan dan hasil instan, bisa muncul kemandekan. Apalagi bila ritme berulang tanpa inovasi. Spesialisasi dan profesionalitas kerja yang tiba-tiba mengubah kita menjadi pekerjaan itu sendiri. Obsesi dengan perjalanan karir yang akhirnya menjadi hidup dan mati kita. Di tengah semua itu bisa muncul kemandekan. Jebakan rutinitas. Ketika itulah muaranya jelas: berakhir pada kebuntuan.

Seperti sajak Abdul Hadi WM, “kita akhirnya berlari dari kehancuran yang satu ke kehancuran lain.” Alam semesta begitu patuh menggantikan siangnya dengan malam dan menggilirkan malamnya dengan siang, tapi manusia seringkali hanya sibuk memproduksi ungkapan berbeda untuk kenyataan sama. Habis waktu dan tenaga untuk mengulangi kebodohan dan keterperosokan sama, meski dibungkus jargon baru sambil meyakinkan diri atas jargon itu. Bahkan mental tak lagi siap untuk meneliti kebenaran.

Bagaimana caranya bicara dengan seorang fanatik yang mandeg dan termakan jargon? Cerita abadi dari Masjid Ibrahim, Hebron, Palestina, tentang seorang Yahudi yang menembak mati 54 orang di waktu shubuh. Langit Februari 1994, bertepatan dengan Ramadhan, kelam oleh patogen yang menjangkit seorang Baruch Goldstein. Jalan kekerasan, kepraktisan yang ditempuh dengan pengatasnamaan: iman. Ia percaya, seperti kepercayaan yang didapatnya turun temurun meski dibungkus jargon berbeda-beda, bahwa orang Arab sejenis penyakit epidemi yang harus musnah. Seorang rabi Yahudi selalu mengajarkan buatnya, “Sejuta orang Arab tak seberharga sepotong kuku jari orang Yahudi.”

Alhasil, ada kubangan berdarah yang diakibatkan oleh tiga hower peluru dan tiga granat. Goldstein sendiri tewas dalam kejadian itu, setelah seorang Palestina berusaha melawan dan menghantam kepalanya dengan kelengkapan pemadam kebakaran. Tapi, dimakamkan dengan penuh rasa hormat di kalangan Yahudi garis keras.

Atau jargon yang ditelan seorang lelaki, yang sebenarnya hanya kelanjutan “tradisi” penentangan pada nabi-nabi. Lelaki itu, datang dengan sikap angkuh. Di tangannya, terhunus sebilah pedang, diletakkan ke pangkal leher nabi Muhammad saw. Hanya ada mereka berdua malam itu, suasana senyap menegangkan.

“Siapa yang akan melindungimu sekarang?”

Pedangnya terjatuh, ia terkejut dengan lutut gemetar setelah Rasulullah saw menjawab, “Allah.”

Sang Nabi mengambil-alih pedang itu, kini ia yang menghunus dan meletakkannya ke dada lelaki pongah tadi.

“Sekarang siapa yang melindungimu?”

Nabi saw taksedikitpun melukai lelaki yang berniat membunuhnya.

Apa yang melintas dalam benak lelaki yang sejak melangkahkan kaki dari rumahnya sudah berniat membunuh lelaki pilihan Allah? Tak ada yang pernah betul-betul tahu. Tapi ada kesadaran, bahwa cengkraman kemandekan dalam bentuk ajaran keliru yang terus berulang akan menjadi pedang yang membinasakan mental si empunya sendiri.

Proses keluar dari kemandekan memang tidak bisa sekedipan mata. Tapi bukan berarti harus tertunda terus.

Nabi Ibrahim as, adalah sosok yang berproses untuk menemukan kebenaran. Pada tahap permulaan, Ibrahim as menemukan kebenaran berdasarkan indrawi mata. Ia baru menyadari akan kelemahan objek yang dijadikan Tuhan setelah menemukan fakta baru yang tidak logis. Ia kemudian menemukan kembali melalui proses pencarian. Ia berganti matahari yang lebih ajek dalam memberikan cahayanya, tapi juga gagal karena pada malam hari seolah lenyap dari pandangan. Ia menggunakan rasio-nalar “Bagaimana mungkin Tuhan ada dan hilang?” Akhirnya ia menemukan kebenaran itu melalui mata hatinya.

Proses keluar dari kemandekan memang tidak bisa sekedipan mata. Tapi bukan berarti harus tertunda terus. Al Qur’an banyak mengungkap persoalan kemanusiaan dan diri manusia. Dari sesuatu yang benar, kita dapat melahirkan proses yang benar, hasilyang benar serta manfaat yang benar pula. “Dan dengan kebenaran, Kami menurunkan Al Qur’an dan dengan proses yang benar Kami turunkan Al Qur’an.

Manusia yang mau keluar dari kemandekan dengan proses, hasil dan manfaat yang benar, adalah manusia merdeka. Tak ada ikatan apapun yang berhasil mengkandaskannya.

As-Sarakhsi menulis bukunya yang terkenal Al Mabsuth yang berjumlah lima belas jilid saat dipenjara di bawah tanah. Ibnu Qayyim menulis bukunya Zadud Ma’ad saat berada dalam perjalanan. Al-Qurthubi menulis syarah untuk Shahih Muslim saat berada di atas perahu. Sedangkan kebanyakan dari fatwa Ibnu Taimiyah, ditulis saat ia berada dalam penjara. Para ahli hadits mengumpulkan ratusan ribu hadits saat dalam keadaan miskin dan terasing. Abul A’la Al-Ma’arri mendiktekan kumpulan sajaknya justru saat dia buta. Tahha Husein buta, saat ia mulai menuliskan memoar dan buku-bukunya.

Proses keluar dari kemandekan memang tidak bisa sekedipan mata. Tapi bukan berarti harus tertunda terus. Ikatan masa lalu, jargon-jargon dan kebiasaan masa lalu yang menyimpang mestinya sudah ditinggalkan.

Wahai masa lalu yang telah berlalu dan selesai, tenggelamlah seperti mataharimu. Aku takkan pernah menangisi kepergianmu, dan kamu takkan pernah melihatku termenung sedetik pun untuk mengingatmu. Kamu telah meninggalkan kami semua, pergi dan tak pernah kembali lagi,” ujar Aid Al-Qarni.

Kemandekan dalam Bertaqarrub pada Allah

Pikiran kita seringkali tak mampu membaca langsung kebaikan-kebaikan Allah. Mungkin karena hati yang kerap tidak bersinar. Pergulatan hidup, sentuhan urusan dunia menyebabkan hati terselubung suasana pekat dan membawa kemandekan.

Rasulullah saw berpesan, “Tidaklah hati seseorang kecuali ia mengalami kondisi seperti awan dan bulan. Jika hati terdominasi awan, hati akan menjadi gelap. Tapi bila awan itu menyingkir, hati akan menjadi terang.

Alih-alih menyingkirkan awan gelap, kita kerapkali malah membiarkan. Sungguh malang, bila muncul keengganan ber-taqarrub pada Allah. Bila jam-jam dan hari-hari yang dihabiskan untuk bermunajat dan mengadu pada-Nya makin berkurang. Satu jam untuk amal shaleh, terasa begitu mahal, dan lebih “berharga” dipakai untuk urusan-urusan lain. Kenyamanan bersama keluarga malah melenakan dan memperkuat stagnan itu. Padahal dari semua itu, yang dituai hanya kesempitan.

Dan barangsiapa berpaling dari mengingat-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.“(QS Thaha: 123)

Seorang psikiater terkenal, Dr. Carl Jung dalam buku The Modern Man In Search of Spirit mengatakan, “Selama tiga puluh tahun, orang-orang dari berbagai negeri berperadaban datang menemui saya untuk berkonsultasi. Saya telah mengobati ratusan pasien dan sebagian mereka berusia setengah baya, 35 tahun ke atas. Dan, tidak ada di antara mereka yang persoalannya tidak dikembalikan pada agama sebagai pandangan hidup. Maka bisa saya katakan bahwa tiap dari mereka jatuh sakit itu, mereka karena kehilangan apa yang telah diberikan agama pada orang-orang beriman. Dan, orang yang belum mampu mengembalikan keimanannya yang sejati, tidak akan bisa disembuhkan.

Hati yang terkadang tertutup awan, akan terhalang cahayanya lalu menjadi temaram. Redup dan tak lagi bersinar. Mandeg untuk beramal shaleh dan bertaqarrub pada Allah. Kondisi iman dan apa-apa yang kurang darinya tidak lagi disadari. Padahal para sala-fushalih mengatakan, “Termasuk kecerdasan seorang hamba adalah jika ia menyadari kondisi imannya dan apa-apa yang kurang darinya.” .

Menurun dan mandegnya kadar iman, akan menutup semua pintu harapan, melahirkan kecemasan dan ketidakpuasan terus menerus. Sebaliknya, menutup kemandekan dan kembali pada iman, maka keinginan yang tidak dibatasi target, angka atau hasil yang bisa diraba, akan melahirkan ketenangan, ketentraman hati dan kepuasan.

Imam Ibnul Jauzi mengatakan, “Wahai orang yang ditolak dari pintu. Wahai orang yang terhalangi menemui kekasihnya (Allah). Jika engkau ingin mengetahui kedudukanmu di sisi raja (Allah). Lihatlah sarana apa yang bisa membantumu untuk mengetahui posisimu di sisi sang raja. Lihatlah pekerjaan apa yang menyibukkanmu. Betapa banyak orang yang berdiri di depan pintu istana raja. Tapi tak satu pun yang dapat masuk dan berhadapan dengan raja kecuali orang-orang yang memang telah dipilih oleh sang raja. Tak seluruh hati bisa mendekat. Tak semua jiwa bisa menyimpan rasa cinta.

Bagaimana jiwa yang mandeg dari ber-taqarrub dengan-Nya akan bisa melewati pintu itu? Susah-payah yang dilakukan sekadar untuk urusan dunia dan mengumpulkan harta benda, sibuk dengan banyak bertanya tapi sedikit beramal, sibuk mengikuti hawa nafsu.

Muhammad bin Fadl Al-Balhi berkata, “Sangat banyak orang yang mau susah-payah mengarungi lautan, menuruni lembah dan melewati jurang sekadar ingin melihat-lihat peninggalan para leluhurnya. Mengapa mereka tidak lebih bersusah-payah untuk mengekang jiwa dan memerangi hawa nafsunya agar bisa sampai dalam hatinya. Karena dalam hati yang bersih, dia akan menemukan peninggalan Rabb-nya.

Sumber: Tarbawi Edisi 148 Th. 8/Muharram 1428 H/1 Februari 2007 M

Dipublikasi ulang oleh Admin DPD PKS Sidoarjo

Tulisan Lainnya: