W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Agar Penyakit tidak Menjadi Wabah

Di Madinah yang damai, suatu hari, Rasulullah pergi ke perkampungan orang-orang Anshar. Ini bagian yang lazim dari kepedulian Rasulullah pada rakyatnya, yang ia cintai sepenuh hati, bahkan hingga deti-detik akhir hayatnya.

Sejurus kemudian Rasulullah memasuki sebuah kebun. Tiba-tiba, Rasulullah melihat seekor unta yang sangat kurus. Ketika melihat Rasulullah SAW, unta itu menangis, merintih, dan meneteskan air mata. Maka Rasul pun mendekati unta itu, lalu mengusap perutnya sampai ke punuk dan ekornya. Unta itu pun tenang kembali.

Kemudian Rasulullah bertanya ke orang-orang yang ada di sekitar, “Siapa pemilik unta ini?”

Maka datanglah seorang pemuda dari Anshar, kemudian berkata, “Itu milikku wahai Rasulullah.”

Setelah mengetahui pemuda itu adalah pemilik unta tersebut, Rasulullah berkata kepada pemuda itu, “Tidakkah engkau takut kepada Allah dalam memelihara ternak yang telah Allah berikan kepadamu itu? Sesungguhnya ia mengeluh kepadaku bahwa engkau melaparkan dan melelahkannya.” (HR. Ahmad)

Di kali lain, ketika Rasulullah tengah duduk-duduk bersama para sahabatnya, datang seorang pemuda. Pemuda tanggung itu memohon kepada Rasulullah agar diizinkan berbuat zina. Para sahabatyang ada di sekitar Rasulullah
begitu geram. Tetapi Rasulullah meminta para sahabat untuk tenang. Lantas, apa yang dilakukan Rasulullah?

Rasulullah mengajak pemuda itu untuk berpikir, berdialog. Agar ia menyadari tentang perbuatan tersebut. Bahwa tak seorang pun sesungguhnya secara fitrah yang rela dengan perbuatan itu.

Rasulullah bertanya kepada pemuda itu, “Bagaimana pendapatmu kalau itu terjadi pada ibumu?”

Pemuda itu menjawab, “Ayah dan ibuku sebagai jaminan, aku tidak akan ridha.”

Lalu Rasulullah bertanya kembali, “Bagaimana pendapatmu kalau itu terjadi pada istrimu?”

Anak muda itu menjawab, “Ayah dan ibuku sebagai jaminan! aku tidak akan ridha.”

Demikian seterusnya, Rasulullah beliau menanyakan bagaimana kalau terjadi perzinaan itu pada keluarganya, anak perempuannya, kakak perempuannya, bibinya, ternyata dia tidak ridha. Maka Rasulullah menambahkan, “Kalau begitu orang lain pun tidak ridha perzinaan itu terjadi pada ibu-ibu mereka, istri-istri mereka, anak-anak perempuan mereka, saudara-saudara perempuan mereka, atau pun bibi-bibi mereka.”

Dua fragmen di atas, bercerita banyak tentang bermacam orang yang dihadapi Rasulullah. Bermacam kondisi, bermacam bentuk perilaku, lalu bercerita pula bagaimana Rasulullah menyikapinya.

Adakah pemimpin yang lebih peduli dari Rasulullah, yang tidak saja memberi perhatian pada kelaparan rakyatnya, tetapi bahkan kelaparan yang dialami seekor unta. Ini tidak saja kisah tentang kasih sayang Rasulullah. Tetapi ia juga bimbingan, ajaran betapa Rasulullah tidak ingin membiarkan sebuah kedzaliman terjadi di muka bumi ini.

Ya. Membiarkan seekor ternak kelaparan adalah kedzaliman. Karenanya ia harus dihentikan. Sebagaimana membiarkan anak-anak muda melakukan kemungkaran, adalah kemungkaran juga. Kisah tentang bagaimana Rasulullah menyikapi sebuah kedzaliman, kemungkaran, bahkan kekejian begitu banyak. Semua menggambarkan satu kesimpulan, bahwa Rasulullah tidak pernah rela dengan terjadinya kedzaliman dan kemungkaran.

Kini, ratusan tahun kemudian, kita tidak sekadar disuguhi kisah tentang ternak-temak yang lapar. Tetapi bahkan anak-anak yang lapar, petani yang lapar dan nyaris mati di sawah sendiri. Kita juga tidak lagi bisa tentang anak-anak muda yang dalam keluguannya ingin berbuat nista. Sebab, kenistaan itu telah nyata menjadi warna kehidupan mereka. Kenistaan itu tidak lagi kehendak dan angan-angan belaka.

Antara kedzaliman dan kemungkaran seperti sebuah roda yang berkelindan. Tak pernah berpisah. Keduanya bahkan selalu menemukan cara-cara barunya untuk membuat ulah.

Dari rasa lapar lahir begitu banyak perilaku tidak terpuji. Ada korupsi, ada pencurian, pe-rampokan, penipuan. Karena ukuran rasa lapar pun kini telah berubah.

Begitupun kemungkaran. Ia semakin menemukan bahasanya sendiri yang terkesan modern, elegan, untuk sebuah kenistaan yang dianggap berkelas. Penyakit biologis itu, bahkan telah berubah menjadi penyakit sosial.

Tetapi hari ini, tidak ada lagi Rasulullah yang penuh kasih mengelus ternak-ternak yang lapar itu. Tidak ada lagi Rasulullah yang mendidik pemuda-pemuda bernafsu itu agar membuka pikirannya. Merenung dengan hatinya sedalam mungkin. Yang ada adalah retorika politi kyang mengenyangkan telinga. Yang ada hanya anjuran-anjuran palsu, bahwa penyakit AIDS bisa dicegah dengan cara-cara yang kampungan.

Sesungguhnya, kebaikan tidak bisa ditegakkan tanpa diimbangi dengan menekan pintu-pintu keburukan. Karena yang baik dan yang buruk ibarat petarung, tidak mungkin duduk berdampingan, apalagi merelakan yang satu atas yang lainnya.

Karenanya, kisah Rasulullah di atas harus menggugah kesadaran kita, bahwa harus ada keseimbangan antara seruan untuk melakukan kebaikan, dengan upaya mencegah kemungkaran. Dengan kata lain, Islam ini tidak saja mengurusi perintah untuk melakukan kebaikan (amar ma’ruf), tetapi juga mengajarkan kepada umatnya tentang pentingnya peduli pada hal-hal yang tidak beres (nahi mungkar).

Di sekeliling kita terlalu banyak ketimpangan yang terjadi. Terlalu banyak kekacauan yang berlalu. Setiap ketimpangan adalah penyakit. Setiap kedzaliman adalah penyakit. Sejujurnya, kebahagiaan itu tidak akan pernah bisa dibangun di atas penyakit-penyakit itu. Sampai kapanpun.

Sekecil apapun, penyakit-penyakit itu tidak boleh diabaikan. Harus ada yang berani mencegah. Harus ada orang yang peduli. Memang, tidak semua orang bisa menjadi pembelayang lantang, atau pencegah yang berani. Tetapi bila tak seorang pun ada yang berani mencegah sebuah kemungkaran, maka semua orang terkena dosanya.

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Bila tidak bisa maka dengan tangannya, bila tidak bisa, dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim).

Di hari-hari panjangyang kita lalui, begitu banyak kemungkaran menghiasi sekeliling kita. Ia ibarat hamparan kehidupan yang gelap dan kering dari rasa bahagia. Di hampir setiap sisi hidup, orang merindukan para pembela yang berani, menantikan para pencegah kemungkaran, yang tidak saja bersuara lantang, tapi juga penuh kasih meneteskan rasa tentram. Semoga, orang-orang yang dirindukan itu adalah kita.

Sumber: Tarbawi Edisi 45 Th. 4/Sya’ban 1423 H/10 Oktober 2002 M hal 7

Dipublikasi ulang oleh Admin DPD PKS Sidoarjo

Konten lainnya: