W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Agar Tetap Bercahaya di Tengah Gelap

Dakwah dan PergaulanBerbaur dengan orang lain bukan tanpa risiko. Itu sebabnya Rasulullah SAW lebih memuji orang yang mau berbaur dengan masyarakat dan mampu bersabar atas risiko dan kesulitan-kesulitannya, ketimbang orang yang tak mau berbaur dan tak mampu bersabar. Jadi syaratnya jelas: sabar. Tanpa sabar, bukan mustahil perbauran justru mendatangkan akibat negatif. Orang yang tidak sabar, bukannya mampu memberi warna dan pengaruh pada orang lain, tapi dikhawatirkan justru ia terbawa dan terwarnai oleh lingkungannya.

Dahulu, saat kondisi suatu wilayah sangat pekat dengan kemungkaran. Tidak sedikit ulama yang menganjurkan dan melakukan uzlah atau hidup mengisolir diri untuk beribadah. jauh dari keramaian dan hiruk-pikuk duniawi, untuk menyelamatkan agama dan akhirat mereka. Itu mereka lakukan karena memang nyaris tak ada maslahat yang bisa diperoleh bila mereka harus berbaur dan berinteraksi dengan keadaan yang sudah sangat rusak.

Meski begitu, dalam hadits riwayat Turmudzi di atas, Rasulullah lebih memuji orang yang mampu berbaur dengan masyarakatnya dan ia bersabar atas risikonya. Kesabaran. Itu syaratnya. Dan kesabaran tak mungkin berdiri sendiri. Ada perangkat lain yang dibutuhkan agar seseorang mampu bertahan dan bersabar menghadapi berbagai gejolak dan risiko dari berbaur.

Pertama, memelihara niat ikhlas. Ibarat bangunan, keikhlasan adalah fondasi yang sangat menentukan kokoh tidaknya sebuah tembok yang akan dibangun di atasnya. Fondasi ikhlas yang kokoh takkan mampu menggoyahkan pemiliknya ketika ia harus menghadapi situasi sulit akibat dari kebenaran yang ia lakukan.

Hidup berbaur dengan tetap mempertahankan identitas dan prinsip pasti menghadapi banyak tantangan. Bukan saja tantangan yang sifatnya menekan atau menghalangi, tapi juga tantangan yang datang dari pintu rayuan dan godaan. Mungkin saja seseorang mampu mengatasi tantangan dan sukses melawan rintangan yang menghadang, tapi ia belum tentu berhasil saat digoda oleh kesempatan untuk melakukan kemungkaran. Di sinilah, keikhlasannya diuji. Karenanya, keikhlasan menjadi faktor terpenting untuk bisa menjadi pribadi yang kuat bertahan dengan prinsip dalam berbaur.

Kedua, meningkatkan ilmu pengetahuan. Seorang muslim di manapun mempunyai misi. Sebuah misi harus diiringi dengan wawasan muatan pesan yang dibawanya. Wawasan ilmu dalam hal ini mencakup ilmu syariat yang berkait langsung dalam kehidupan ma-syarakat. Kekurangan bekal ilmu dapat menyebabkan seseorang terlalu mempermudah suatu masalah, atau sebaliknya terlalu mempersulit.

Sesungguhnya agama Islam itu mudah. Barangsiapa yang ingin mempersulitnya, ia akan terkalahkan.” Begitu pesan Rasulullah. Artinya, seorang muslim harus mengetahui batas keluasan dan keluwesan Islam. Sampai di mana batas-batas yang bisa ditolerir oleh syariat dan di mana batas-batasyang tidak dapat ditolerir.

Rasulullah saw dahulu pernah marah atas meninggalnya salah seorang sahabat akibat kekeliruan pendapat sejumlah sahabat lain atas masalah yang ia hadapi. Ketika itu, ia menderita sakit parah dan harus mandi wajib. Sejumlah sahabat berpendapat bahwa ia wajib mandi sebagaimana biasa. Tapi akibatnya, penyakit yang dideritanya semakin parah.

Apalagi dalam kondisi sekarang. Tidak sedikit masyarakat yang memandang tugas-tugas agama sebagai beban yang memberatkan. Kondisi itu boleh jadi membuat mereka enggan berinteraksi atau ber-dialog tentang hukum. Padahal, kenyataannya tentu tidak demikian.

Rasulullah saw bersabda, “Berilah kabar gembira dan jangan mencerai-beraikan. Permudahlah, jangan mempersulit.

Ketiga, menjaga keteladanan dalam prilaku. Hal ini penting, karena umumnya masyarakat tidak terlalu tertarik pada uraian kata berupa nasihat atau wejangan. Mereka akan simpatik justru pada sikap dan prilaku baikyang langsung mereka lihat. Para ulama da’wah kerap me-ngumandangkan prinsip, “Ashlih nafsaka wad’u ghairaka,” (perbaiki dirimu baru seru orang lain). Ini adalah tuntutan dalam syariat Islam.

Memelihara jati diri ke-Islam-an dalam komunitas orang yang beragam sering memunculkan perhatian khusus. Istilah sekarang adalah, “berani tampil beda”. Di saat seperti itulah, sebenarnya, perlahan-lahan orang akan tertarik dengan nilai-nilai Islam.

Inilah salah satu hikmah dalam firman Allah yang memperingatkan kita untuk berupaya melakukan apayang kita katakan. Firman-Nya, “Hai orang-orang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat. Amat besar kemurkaan di sisi Allah, bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaff: 2-3)

Keempat, jangan lupa untuk selalu menjaga dan meningkatkan kualitas h-bungan dengan komunitas orang-orang shalih. Hal ini penting agar jiwa kita tetap memperoleh suplai semangat dan penyegaran saat bertemu dengan mereka. Rutinitas ini bahkan harus semakin ditingkatkan saat kita menghadapi banyak permasalahan dalam hidup. Sebab, terlalu sering berinteraksi dengan khalayak luas dengan bermacam-macam keadaan mereka, sedikit demi sedikit akan bisa membuat jiwa kita lemah. Hingga akhirnya bila tidak diantisipasi akan menjadikan kita mudah terbawa atau terseret arus.

Para salafushalih dahulu pun tatkala merasakan kekesatan hati, mereka biasanya mendatangi ulama dan memandang wajahnya sehingga hati mereka menjadi bersih dan semangat kembali.

Inilah hikmah dari statemen Rasulullah yang menegaskan bahwa seorang muslim harus memilih teman yang baik. Seperti yang beliau sabdakan dalam satu hadits shahih, “Seseorang itu tergantung agama temannya. Maka hendaklah salah seorang kalian melihat siapa yang menjadi temannya.

Kelima, memahami pedoman dan tahapan dakwah. Kewajiban Islam itu bertingkat-tingkat. Sebagaimana kemungkaran juga bertingkat-tingkat. Diperlukan start tertentu yang berbeda-beda dalam mengadakan pembenahan. Suatu pola yang berhasil diterapkan pada seseorang lain belum tentu bisa diterapkan pada orang lain.

Selain pola pendekatanyang khas seorang muslim seharusnya meyakini bahwa sebuah perubahan selalu memerlukan waktu. Dan waktu yang dibutuhkan untuk masing-masing orang hingga ia berubah pun tidak sama. Jika hal ini dipahami, seorang muslim tidak akan mudah kecewa atau merasa gagal terhadap upaya perbaikan yang dilakukannya. Sikap apriori terhadap keadan lingkungan yang belum mendapatkan cahaya hidayah akan menambah panjang rentang waktu perbaikan yang dibutuhkan.

Keenam, memahami seni bergaul dengan orang lain. Soal seni bergaul ini, Rasulullah SAW bersabda, “manusia itu ibarat seratus unta.” Maksudnya berbaur dan berinteraksi dengan manusia tidak mudah karena masing-masing mereka memerlukan pendekatan tersendiri, sesuai dengan karaktenya. Rasululah sangat memahami keadaan ini sehingga ia melakukan pendekatan yang berbeda antara satu sahabat dengan sahabat yang lain. Rasulullah juga tidak terburu memvonis atau mengklaim suatu kesalahan dalam menghadapi tiga pembelot yang menghindar dari mobilisasi jihad ke medan Tabuk. Di antaranya sahabat yang benama Ka’ab bin Malik.

Ketujuh, perluas dan perbanyaklah pengalaman (tajribah). Aspek ini tak kalah penting dan mempunyai pengaruh besar dalam membentuk pribadi yang bijaksana dalam berbaur dengan orang lain.

Mu’awiyah mengatakan, “Seseorang belum disebut bijak kecuali bila ia sudah berpengalaman.

Ada pula ungkapan yang berbunyi, “Seseorang tidak akan menjadi sabar kecuali setelah ia mengalami banyak kesulitan. Dan seseorang tidak akan menjadi bijak kecuali setelah memiliki banyak pengalaman.

Seorang yang berpengalaman akan lebih mudah berinteraksi dengan berbagai pihak. Semakin sempit pergaulan dan pengalaman seseorang semakin sulit pula ia bisa menjalin hubungan dan berkomunikasi dengan baik. Orang yang memiliki pergaulan luas, dari sisi syariat berarti ilmunya lebih bermanfaat dan da’wahnya akan lebih cepat diterima karena ia telah menempatkan diri sesuai kondisi. Pengalamanlah yang akan memunculkan potensi, menambah kearifan dan kesabaran.

Sumber: Tarbawi Edisi 13 Th. 2 Oktober 2000 M/2 Sya’ban 1421 H

Dipublikasi ulang oleh Admin DPD PKS Sidoarjo

Tulisan terkait: