W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Agar Tidak Terlambat Pulang

Hikmah_Biru12Hari ini, mungkin kita masih berada dalam petualangan dan perjalanan menyimpang, sesederhana apa pun nampaknya. Hari ini, semua itu harus dihentikan. Bagaimana pun kita harus pulang pada niat dan tujuan-tujuan utama. Pulang pada jalan-jalan perbaikan dan kerja pencapaian yang sempat ditinggalkan.

Ada banyak langkah yang bisa ditempuh agar kita tidak terlambat pulang. Antara lain:

Pelihara Konsistensi Kedekatan pada Kebaikan

Segala lakon kebaikan yang kita lakukan, memerlukan konsistensi kepedulian, ketahanan dan ketabahan. Mengamalkan ilmu, membutuhkan konsistensi keteguhan dalam berbagi ilmu itu dan menambah ilmu bagi diri sendiri. Dalam segala hal, inilah kuncinya. Mengabaikannya berarti mengkhianati diri. Berlama-lama dalam situasi itu, membuat makin sulit untuk pulang.

Usia yang yang sudah kita jalani, kepemilikan harta dan penguasaan ilmu, bisa tidak membawa ke mana-mana, bila tidak konsisten dimanfaatkan. Rasulullah saw bersabda, “Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat, sehingga dia ditanya mengenai empat perkara; tentang umurnya, untuk apa dia habiskan; tentang masa mudanya, untuk apa dia gunakan; tentang hartanya, dari mana dia dapatkan dan ke mana dia belanjakan; dan tentang ilmunya, apakah dia telah mengamalkannya.

Tentu tidak ada keinginan kita untuk konsisten dalam keburukan. Seperti Ludovici Maracci yang menggunakan 40 tahun usianya untuk mempelajari Al-Qur’an, hanya untuk menerbitkan terjemahan Al-Qur’an yang diberi judul Bantahan Terhadap Al-Qur’an. Terjemahan dalam bahasa Latin itu dilengkapi teks Arab dan beberapa nukilan dari berbagai tafsir Al-Qur’an dalam bahasa Arab. Maracci sengaja memilih sedemikian rupa nukilan itu untuk memberikan kesan buruk tentang Islam. Setelah berpuluh tahun mempelajari Al-Qur’an, konsistensi yang ia pilih tetaplah menyimpang.

Kita tentu tidaklah seperti Maracci. Atau orang lain yang konsisten dalam keburukan yang parah. Namun, adakah kita sebenarnya juga tersasar dalam kekacauan lain. Apakah jalan kita ternyata menjauhkan dari tujuan-tujuan awal. Dan kita malah konsisten dalam penyimpangan itu sekecil apa pun tampaknya.

Sadari Kembali Peran yang Disandang

Kita seringkali kurang ikhlas dan sungguh-sungguh menjalani peran-peran yang disandang. Bahkan mungkin kita kerap bersikap sekadarnya. Sekadar menjadi pemimpin, sekadar menjadi orang-tua, sekadar menjadi suami atau istri, sekadar menjadi guru, dan lainnya. Akibatnya, jalan kita dalam memegang peran-peran itu tak bermakna. Hasil yang kita peroleh pun demikian.

Ketika Umar bin Abdul Aziz diangkat sebagai khalifah, ia segera pulang pada kecenderungannya kepada tanggung jawab yang utuh. Ia bahkan amat berhati-hati pada harta yang secara sah dimiliki keluarganya. Hingga meminta istrinya menyerahkan semua hartanya pada baitul mal. Dampak kepemimpinannya amat luas. Bahkan ketika seorang gembala menyaksikan dombanya diserang serigala, saat itulah ia tahu, bahwa Umar tak lagi menjabat khalifah. Begitu matangnya Umar memerankan posisi sebagai suami yang mencontohkan keikhlasan, hingga ketika ia wafat, istrinya menolak usulan baitul mal, untuk mengembalikan semua hartanya.

Sahal At-Tatsari, seorang tabi’in, menghayati perannya sebagai ayah bahkan sewaktu anaknya masih di dalam kandungan. Saat itu, ia sudah mengajak anaknya untuk beramal saleh dan berharap agar Allah memberi kehormatan kepadanya dengan anak saleh. Katanya, “Sesungguhnya aku berjanji kepada Allah, aku akan memelihara anakku sejak saat ini, ketika anakku masih dalam bentuk benih atau janin, sampai nanti kelak Allah membangkitkan mereka pada alam kehidupan nyata.”

Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Abu Hanifah, menyandang peran pengabdian sebagai guru, tanpa mundur ke belakang. Tak heran kalau dari pengajaran itu, mereka mewariskan murid-murid yang menjadi ulama-ulama besar. Peran sebagai guru dan ulama pulalah yang membuat Imam Ahmad bin Hambal bertahan. Orang yang memandikan jenazah Imam Ahmad, beberapa tahun setelah fitnah besar di jamannya, masih melihat bekas cambukan di sekujur tubuhnya. Ia dapat berdiplomasi untuk cari selamat, namun itu tidak dilakukannya.

Ketika suatu hari diinterogasi dan beberapa sahabatnya menyarankan untuk bersikap “lunak”, ia bertanya, apa yang terjadi di luar benteng. “Mereka berkumpul dengan kertas dan pena, menunggu apa fatwamu?” (apakah Al-Qur’an itu makhluk, seperti yang
dipaksakan sultan). Dengan cepat Imam Ahmad menjawab, “Bagaimana mungkin aku cari selamat, sedangkan umat ini tersesat?

Demikianlah. Masing-masing orang menyandang peran dalam wadah, kerumitan dan kuantitas berbeda. Namun di dalamnya ada kesamaan: keharusan melakoninya secara maksimal. Di dalamnya ada tanggung jawab, keikhlasan, kerja keras, dan pengorbanan. Itulah jalan untuk pulang pada peran kita, bila selama ini kita meninggalkannya.

Berhenti dari Dunia Angan-angan Berkepanjangan

Sayyidina Umar bin Khattab ra pernah berpesan, tidaklah dunia akan menjadi obsesi seseorang, kecuali dunia menjadi sangat melekat di hatinya dalam empat keadaan, di antaranya adalah angan-angan yang tak ada ujungnya.

Dalam porsi kecil atau pun besar, kita kadang masih berkhayal tiada henti, sementara kerja untuk mencapai tujuan-tujuan belum seberapa. Lewat jalur mengkhayal inilah, akhirnya setan masuk, membuat khayalan-khayalan itu jadi kenikmatan dan solusi.

Dalam sebuah harian nasional, dimuat berita tentang perantau Agus Sutomo (32), yang berdiam dalam khayalan sepanjang hari-harinya selama 1,5 tahun di Jakarta. Hidup susah dan menganggur di ibukota, namun i mengkhayalkan diri sebagai orang kaya. Inilah yang terus ia kabarkan pada keluarganya di Surabaya. Bahwa ia memiliki pekerjaan dan penghasilan bagus sebagai karyawan perusahaan kargo. Hingga ketika ingin pulang kampung di Surabaya akhir September lalu, Agus membuat “khayalan” lain, tentang perampokan yang menimpanya, hingga harta fiktif sejumlah 30 juta miliknya amblas. Tak lain, ia ingin mendapatkan surat laporan perampokan dari polisi, agar keluarganya di desa percaya ia sudah sukses.

Di sini, kita bukanlah akan menghakimi Agus. Namun kisahnya bisa menjadi contoh, satu dari sekian jebakan kamuflase, yang kerap berawal dari khayalan tiada henti. Hingga mematikan kejujuran memandang diri sendiri. Mematikan semangat berlomba-lomba dan kerja keras. Bahkan mungkin, mematikan pengharapan pada pertolongan Allah. Semua seolah sudah tercapai, dalam dunia angan-angan.

Kini mulailah menghadapi fakta. Kita sebenarnya sampai pada tahap mana dalam kehidupan nyata. Sampai di titik mana tahap keimanan kita. Kemusliman kita. Amal saleh kita. Sumbangan karya kita. Pencapaian tujuan-tujuan positif kita. Setelah menyadari semua itu, kita harus mulai berjalan. Meski dari titik nol sekali pun.

Kita dapat belajar pada orang-orang saleh di sekitar kita. Kita dapat membangun lagi rasa malu untuk membiarkan diri berada dalam penyimpangan. Mengikis kesedihan berlarut-larut, karena seringkali rasa itu tidak patut kita tempatkan setinggi itu. Pencapaian nyata setelah itu, tentu lebih indah dari khayalan. Dalam proses demi proses itulah, kita menemukan lagi jalan pulang.

Mulailah Menghitung Diri

Hasan Al-Bashri mengatakan, “Orang Muslim itu sangat ketat melakukan muhasabah terhadap dirinya sendiri, lebih ketat dibandingkan kontrol seorang pedagang terhadap mitra dagangnya.” Bila tidak pernah melakukan muhasabah pada diri sendiri, bila terbawa dalam laju pergantian hari, tahun, musim demi musim tanpa pernah menghisab diri, maka bagaimana mungkin kita bisa kembali.

Seorang ulama dari kalangan salaf pernah berkata, “Aku pernah melakukan dosa 40 tahun lalu, dan aku pun memohon pada Allah agar mengampuni dosaku. Dan aku senantiasa memohon pada-Nya ampunan atas dosa yang selalu membayangiku hingga saat ini.

Ada banyak cara untuk memulai menghisab diri.

Rabi’ bin Khutsaim selalu menulis apa yang dia ucapkan dari hari Jum’at yang satu hingga Jum’at berikutnya. Jika apa saja yang dia ucapkan selama seminggu itu baik, dia akan memuji Allah. Dan jika jelek, dia akan beristighfar.

Langkah lain, seperti yang disarankan seorang ulama, “Biasakan selalu membawa catatan untuk melakukan muhasabah terhadap diri sendiri. Catat hal-hal negatif yang selalu dikerjakan. Kemudian mulailah mencari jalan keluar untuk menghindarinya.

Umar bin Khattab ra pun berpesan, “Lakukan muhasabah terhadap diri sendiri sebelum kamu dihisab, timbanglah amal perbuatan dirimu sebelum ditimbang di akherat, dan hiaslah dirimu untuk Hari Penampilan Agung.

Bila selama ini, kita terlalu banyak tidur dalam malam-malam panjang kita, kini bangunlah. Isilah waktu-waktu itu.

Seperti dinasihatkan oleh Ibnu Qoyyim, “Perjalanan panjang hanya bisa ditempuh dengan keseriusan dan berjalan waktu malam. Jika seseorang musafir menyimpang dari jalan, dan menghabiskan waktu malamnya untuk tidur, kapan ia akan sampai ke tujuan?

Bila selama ini, kita mengabaikan Al-Qur’an, maka pulanglah. Mulailah kembali membaca dan meresapinya.

Bila selama ini, kita sering membicarakan hal-hal tidak berguna, sudahilah. Rasulullah saw bersabda, “Di antara kualitas keislaman seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak berguna untuk dirinya.

Bila selama ini, kita mengabaikan kemestian untuk bersikap lemah lembut, pulanglah. Mulailah kembali mengobati hati dan bersikap jujur pada diri, karena sikap lemah-lembut sebenarnya fitrah kita.

Bila selama ini, kita mengikuti saja ke mana hawa nafsu membawa, pulanglah. Mulailah menahan hawa nafsu itu dengan berbagai cara, karena kita diberikan bekal untuk itu.

Bila selama ini, kita terlalu tergantung pada orang lain, berhentilah. Pulanglah pada kepercayaan diri kita sendiri.

Bila selama ini, kita mengabaikan mereka yang harusnya kita pedulikan, pulanglah. Bersama mereka, ada lahan untuk beramal dan kesegaran yang terbentang untuk kita.

Pulanglah dan hisablah diri kita dalam perjalanan ini. Di waktu pagi, siang, sore dan malam. Selagi masih ada waktu. Jangan patah dari keyakinan bahwa kita dapat mela-kukannya. Seperti pesan Hasan Al-Bashri, “Seorang hamba akan tetap berada dalam kebaikan selama ia masih bisa menasihati dirinya sendiri dan selalu memelihara untuk menghitung-hitung dirinya sendiri.

Sumber: Majalah Tarbawi Edisi 143 Th. 8/Zdulqa’dah 1427 H/23 November 2006 M

Dipublikasi ulang oleh Admin DPD PKS Sidoarjo

Konten lainnya: