W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Alquran Mushaf Istiqlal, Alquran Mushaf Pulau Robben

Oleh Taufiq Ismail

Selama 57 hari, sebuah pesta budaya rakyat bernafaskan Islam untuk kedua kalinya berlangsung di ibu kota. Festival Istiqlal II 1995 ini adalah kelanjutan festival yang pertama kali diselenggarakan empal tahun silam. Kegiatan besar budaya ini melipuli pameran, pertunjukan, forum ilmiah, sayembara dan bazar, yang diperkirakan akan didatangi oleh 10 juta pengunjung. Memang ini suatu aktivitas budaya dalam ukuran besar sckali.

Kegiatan yang mengambil masa hampir dua bulan ini melipuli lebih dari 100 acara. yang mencakup pameran benda sejarah, arsitektur, penerbitan buku, pementasan tari, musik, teater, baca puisi penyair 15 negara, film, seni tradisional, diskusi keilmuan dengan berbagai lingkupan studi, sayembara, dan juga bazar yang akan membuat suasanajadi semakin meriah.

Citra Indonesia dengan isi dan warna Islam sebagai unikum yang memolesnya sepanjang sejarah, tampil, tenlu tidak akan menyeluruh, tapi dalam representasi sejauh mungkin yang dapal diikhtiarkan pada saat ini. Agaknya ini komplementer terhadap kegiatan 4 tahun yang lalu dan mudah-mudahan masih akan disusul pada festival berikutnya.

Primadona festival, sebagaimana dikatakan Mar’ie Muhammad, ketua umum panitia adalah pameran Alquran Mushaf Istiqlal yang pengerjaan penulisan dan seni iluminasinya (hiasan bingkai setiap halaman yang dipetik dari 42 ragam hias dari 27 propinsi) sudah dimulai 4 tahun lalu. Pengerjaan mushaf 970 halaman ini, bila dahulu murni kerja tangan manusia, kini diperkuat dengan seni grafis komputer. Kesibukan besar mengerjakan mushaf ini menunjukkan berapa sentralnya posisi Alquran bagi kaum Muslimin sebagai sumber wahyu dan pegangan hidup mereka.

Melihat halaman Alquran Mushaf Istiqlal berukuran 123 x 88 cm yang indah itu, ingatan saya melayang kepada sebuah mushaf Alquran berumur lebih dari 200 tahun, yang ditulis oleh tangan seorang pejuang kita yang mengalami pembuangan ke Afrika Selatan pada abad ke-18. Kini, mushaf itu tersimpan dengan baik di Cape Town.

Pejuang abad ke-18 itu, Imam Abdullah Qadi Abdussalam yang belakangan termashur dengan nama Tuan Guru, mendarat di Cape pada 6 April 1780 sebagai buangan politik dengan tangan dirantai dalam usia tua, 68 tahun.

Karena angkat senjata melawan Kompeni di Tidore, Imam Abdullah atau Tuan Guru dibuang dari kampung halamannya, menyeberang Samudera Hindia sejauh 4.000 kilometer ke benua hitam Afrika. Sebelas tahun dia dipenjarakan di Pulau Robben, sebuah pulau kecil di Teluk Table, berjarak 40 menit naik kapal kecil dari pelabuhan Cape Town. Salah seorang “alumnus” terkenal penjara Pulau Robben, yang sangat hormat pada kakak kelasnya 2 abad sebelumnya itu adalah Nelson Mandela yang kini menjadi Presiden Afrika Selatan.

Selama masa pembuangan, 1780-1791, Tuan Guru menuliskan mushaf Alquran dari ingatan. Ya, beliau memang seorang hafiz. Mushaf yang dituliskannya berangsur-angsur dalam jangka sebelas tahun itulah yang belakangan menjadi rujukan utama bagi para buangan politik dan budak-budak yang dipaksa Belanda bekerja di kawasan Cape di ujung selatan benua Afrika itu. Mereka yang berasal dari berbagai tempat di Nusantara, seperti Makasar, Bugis, Jawa, Sumatera, Borneo, Ambon, Tidore, Ternate, Semenanjung Malaya, dan lain lain, seluruhnya beragama Islam.

Peraturan Kompeni berjudul Placaat (1657) menindas eksistensi Islam di sana lebih dari seabad lamanya. Maka itu, Islam terpaksa diajarkan secara sembunyi-sembunyi, karena kalau ketahuan, hukumannya berat sekali, yaitu on pain of death. Di tempat Belanda berkuasa mutlak tanpa tandingan kerajaan Islam, mereka ternyata sangat kejam dan tidak mengenal toleransi beragama.

Dengan demikian, mushaf Alquran yang ditulis Tuan Guru di penjara Pulau Robben itu menjadi sumber ajaran bagi mereka di pembuangan yang jauh itu. Sesungguhnya Alquran telah nuzul. telah turun di Pulau Robben pada abad ke-18 itu melalui kalam Tuan Guru. Kemudian diajarkan di Mesjid Dorp Street, Cape Town, yang pengunjungnya beberapa puluh orang keturunan Indonesia, lalu menyebar lebih luas di bagian selatan benua Afrika itu, yang populasi Muslimnya beberapa ratus orang saja. Kini, sesudah dua abad, jumlah mereka lebih dari setengah juta. Mereka menganggap Indonesia tanah leluhur mereka.

Saya membayangkan Alquran Mushaf Pulau Robben dipamerkan bergandengan dengan Alquran Mushaf Istiqlal dalam pesta budaya ini. Yang satu ditulis dengan kalam dan dawat oleh Tuan Guru, seorang hafiz pejuang kemerdekaan asal Tidore yang dibuang ke Afrika Selatan pada akhir abad ke-18, yang satu ditulis oleh sebuah tim dengan peralatan mutakhir pada peringatan 50 tahun kemerdekaan Indonesia di akhir abad ke-20.

Kalaulah kini, kita belum melihat kedua mushaf itu diletakkan bersebelahan dan ditatap oleh jutaan orang Indonesia, marilah kila berharap bahwa pada suatu waktu kelak, kita menyaksikannya.

Sumber: Majalah UMMAT, No. 8 Thn. 1. 16 Oktober 1995/21 Jumadil Awal l416 H

Dipublikasi ulang oleh Admin DPD PKS Sidoarjo

Konten lainnya: