W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Aneh, Ada Orang Konsisten dengan Kebatilan

Menggebah diri untuk terus berusaha meniti jembatan-jembatan kebaikan itu sebenarnya niscaya. Jejaknya memang tidak melulu mencapai derajat sama. Bahkan bisa jadi suatu saat kita tergelincir. Melakukan kesalahan. Hanya, kita segera memutar haluan, kembali pada sungai kebaikan yang tengah kita arungi.

Masalahnya, kadang kita dan orang lain di sekitar kita membiarkan diri tetap tergelincir. Terus berada dalam ceruk gelap kebatilan. Berulang-ulang kebatilan itu kita lakukan. Lagi. Lagi. Dan lagi. Terus. Terus. Dan terus. Sungguh ironis. Namun inilah apa yang nampak di depan mata. Dan inilah yang amat mungkin masih ada dalam mental serta perilaku kita.

Lingkaran Kebatilan dengan Dalih “Atas Nama”

Ahmad Dahlan, pembaharu gerakan Islam di tanah air, suatu ketika sengaja meletakkan secarik kertas di depan pintu rumahnya. “Berbahagialah orang-orang yang asing pada saat di mana Islam seringkali dipandang asing,” demikian penggalan apa yang ia tuliskan di sana, yang ia kutip dari hadits Rasulullah. Masa itu, Ahmad Dahlan mengalami “serangan” penolakan pada perbaikan-perbaikan yang disarankannya.

Pemilahan sesuatu yang haq dengan batil sebenarnya gamblang. Pemisahnya jelas. “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu juga jelas….”(hadits riwayat Bukhari-Muslim). Pencarian pada sumber untuk pemilahan itu terhampar di depan mata.

Tinggal berpulang pada kita. Mau mencari atau tidak. Mau jujur pada diri sendiri atau tidak. Mau mengambil resiko terasing atau tidak. Karena seperti pepatah “jaman selalu berulang”, jika kini kita berada dalam pencarian dan upaya melakoni panggilan kejujuran nurani itu, kita mesti siap pula bila suatu saat terasing.

Jika tidak, kita inilah sekadarsang penonton. Pasif. Berdiam diri memandang lakon demi lakon kebatilan. Malu bersikap. Meski sebenarnya kita tahu apa yang nurani kita katakan. Malah kita terhanyut pada pemakluman: inilah jaman edan. Atas nama “ini memang jaman edan”, maka apapun kebatilan yang terjadi, apapun kebatilan yang menjadi kebiasaan, kita anggap
memang sudah sewajarnya. Pemikiran semacam ini, membawa kita pada keengganan untuk melakukan perubahan positif, meski secuil. Kita cukup nyaman menjadi penonton. Pasif, seperti tunggul kayu yang sudah mati.

Jika tidak, kita inilah salah satu pemain dalam konsistensi lakon kebatilan. Tidak harus dalam lingkaran pemain utama. Mungkin kita sekadar turut tertawa. Atau kita turut berbicara, membela apa yang sebenarnya batil itu tanpa mengerti persoalan. Atas nama “inilah keindahan”, atas nama “kebebasan berekspresi” atas nama “seni”, atas nama hak asasi manusia yang disalahartikan, kita berbondong bersama kerumunan. Kerumunanyang sejatinya punya suara aneh: mendukung kebatilan dalam berbagai lakonnya.

Di sini, ada perbedaan jelas antara manusia “aneh” dengan manusia aneh. Manusia “aneh”, menjadi aneh dalam pandangan orang lain, karena ia menolak kebatilan. Ia tidak mau berada dalam lingkaran kebatilan. Ia tidak mau mendukung lakon kebatilan. Bahkan ia berusaha dengan cara yang ia mampu, dengan cara yang menjadi rahmat, untuk mengajak orang berpaling dari kebatilan.

Adapun manusia yang memang sungguh-sungguh aneh, ia konsisten melakukan kebatilan demi kebatilan. Aneh, karena ia malah mendukung lakon-lakon kebatilan. Bahkan bisa jadi, ia bersuara paling lantang membela, meski tidak mengerti esensi pembelaan itu. Apalagi sikap itu sering membawa pemerannya dalam ketenaran mendadak. Tidak punya keahlian, namun dipandang sebagai pakar. Ini membuat makin tenggelam dalam kubangan arogansi membutakan. Sungguh berbahaya.

Lingkaran kebatilan pun makin tak terputus. Maka pemimpin redaksi majalah anyar bermuatan pomografi pun justru berujar ringan, “Majalah kami masih dalam koridor islami.” Ini memang aneh.

Di mana kita dalam drama ini?

Kebatilan yang Tak Lagi Meresahkan

Kebatilan yang terus dilakukan memang bisa membuat terlena. Mungkin bermula dari keterpaksaan. Mungkin pada awal melakukannya masih tersimpan rasa malu. Mungkin kali pertama, masih muncul penyesalan. Tapi karena tak jua dihentikan, semua menguap. Lama kelamaan, karena terus berulang dan terasa akrab, semua itu tak lagi mengganggu. Tak lagi meresahkan jiwa. Bahkan meski ibadah tidak ditinggalkan, efeknya sudah tak berbekas. Karena prakteknya cuma dalam lisan.

Seorang pimpinan teras perusahaan BUMN di Jakarta, bercerita pada kontributor Tarbawi. Tiap hari Jum’at, jika tak ada dinas luar, ia shalat Jum’at di masjid dekat kantornya. Ia biasa shalat di shaf depan. Menjelang shalat dimulai, para pegawainya selalu beramai-ramai datang di shaf belakang. Ketika sang pimpinan berpaling ke belakang, inilah yang ada dalam hatinya, “Mereka itu (para pegawainya) bandit semua, sama seperti saya.”

Seorang pembimbing haji yang korup, pernah bertutur. Tiap tahun ia beribadah haji, sekaligus menjadi pembimbing. Tiap tahun pula, di tanah suci ia menangis ingin bertaubat. Namun selepas itu, kelakukan korup ia ulang kembali. Demikianlah lingkaran itu terjadi terus.

Kita tahu, persoalannya tentu bukan pada ibadah yang seharusnya memang kita lakukan. Juga bukan pada taubat itu sendiri. Karena setiap kita melakukan kesalahan, semestinya memang segera bertaubat. Tapi persoalannya adalah pada mutu ibadah kita. Pada lakon penyesalan yang tak kita tuntaskan. Pada lakon kebatilan yang terus kita ulangi.

Sesederhana apapun nampaknya kebatilan yang kita lakukan, yang bila kita bandingkan dengan orang lain mungkin terkesan ringan, namun tetap tidak bisa kita suburkan. Kebatilan bagaimana pun adalah sebuah kebatilan. Ia akan membunuh kita. Dalam banyak hal, ia juga membunuh orang lain.

Suatu siang pertengahan April lalu, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, seorang hakim diadili dalam perkara korupsi. Sang hakim didakwa melakukan pemerasan pada saksi perkara korupsi PT Jamsostek. Pemerasan itu dilakukan bersama panitera Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Perbuatan itu ia lakukan sejak akhir Desember 2005 hingga Januari 2006 lalu.
Ini cerita lama. Sekaligus menjadi bukti, bahwa kebatilan yang dipupuk, lama kelamaan akan melenyapkan keresahan manusiawi.

Ketika sudah dikepung kebatilan yang kita lakukan, ketika kegundahan sudah tiada lagi, ketika kita tak menghentikan lakon itu, sung-guh aneh karena kita masih bisa berdiri tegak, dalam dunia tipuan yang kita ciptakan.

Yahya bin Muadz ra berpesan, ada enam hal yang termasuk tipuan paling besar. Di antaranya, mengharapkan ampunan Allah tetapi terus menerus melakukan dosa tanpa penyesalan. Merasa dekat dengan Allah tetapi tidak melakukan ketaatan. Menunggu tanaman surga tetapi selalu menyemai benih amalan neraka. Dan mendambakan kasih sayang Allah tetapi selalu melanggar ketentuan-Nya.

Parade Kebatilan di Tengah Para Pemimpin

Penulis A.A. Navis, dalam catatan pengamatan pada kondisi keseharian orang di sekitarnya pernah bertutur tentang apa yang dialami warga desa di kampungnya di daerah Sumatera Barat. Warga desa mantan PNS yang sudah berumur itu mendatangi kantor pemerintah setempat untuk meminta uang pensiun yang tertunda-tunda.

Di sana, ia harus menunggu pimpinan yang sedang sibuk karena akan datang tamu dari pusat. Sang bapak tua kebingungan karena tak seorang pun mau mendengar keluhannya. Ia cemas tidak dapat pulang membawa uang yang diharapkan keluarganya. Dana itu akan digunakan untuk biaya pernikahan anaknya.

Menunggu hingga sore, bapak itu menanyakan lagi untuk kesekian kalinya, kapan masalahnya dapat didengar. Tapi yang ia dapatkan justru hardikan supaya ia pulang saja. Ia dianggap mengganggu, karena hari itu semua sibuk. Sibuk akan menyambut tamu “istimewa”.

Fenomena ini bukan sesuatu yang baru. Ia sudah lama ada di negeri kita. Laten. Ketika sesuatu yang semestinya ditangani justru diabaikan. Ketika sesuatu yang semestinya diperlakukan sewajarnya, justru diagung-agungkan.

Jadilah bumi pertiwi dipenuhi parade ngawur ulah para pemimpinnya. Ketika upaya mengagungkan pemimpin merambah ke segenap penjuru. Bagaikan permainan karambol, efeknya berimbas terus. Pejabat bawah menghamba pada yang lebih tinggi, demikian seterusnya. Bahkan seorang anggota DPR yang senior pun, dikenal di luar negeri karena permintaannya akan service yang berlebihan dari KBRI, jika ia mengadakan kunjungan.

Inilah parade kepiluan. Ketika ratusan guru di desa terpencil menanti turunnya gaji yang tertunda berbulan-bulan. Hutang sudah menumpuk. Bahkan banyak yang terpaksa menempuh jalan alternatif yang lebih jauh, demi menghindari melewati warung tempat mereka berutang. Ada pula yang terkantuk-kantuk saat mengajar, karena kelelahan menjadi tukang ojek motor pada malam harinya.

Inilah parade keanehan. Ketika mereka yang sudah diterima menjadi pegawai negeri sipil tiba-tiba dibatalkan begitu saja. Ratusan korbannya kecewa, malu dan terpukul. Atau ketika ribuan kepala desa yang berduka berunjuk rasa memohon peningkatan kesejahteraan. Dan jawaban pemimpin negeri cuma sekadarnya, “Mekanisme menyampaikan sikap harusnya mengikuti tatanan dan etika yang berlaku.”

Di sini, di negeri ini, kita justru terkesima, jika menemukan penguasa dalam berbagai levelnya, yang bersikap sebagaimana mestinya. Kita terbiasa disuguhi keanehan: pemimpin berlomba-lomba dalam kebatilan.

Kebatilan Tidak Patut Hanya Diratapi

Bila kita berada dalam lautan kebatilan, tentu kita tidak semestinya hanya meratapi kegelapan itu. Dengan segenap apa yang kita punya, dari diri sendiri, kita dapat memulai. Setidaknya, kita tidak berupaya meniru mereka yang konsisten dalam kebatilan itu.

Setidaknya, kita dapat memacu diri untuk meninggalkan penyimpangan yang kita lakukan sendiri. Setidaknya, kita dapat berupaya membuka keran-keran pembelajaran. Untuk kita sendiri. Untuk lingkungan kita.

Suatu masa memang tidak melulu melahirkan orang-orang bermutu yang sama dengan sebelumnya. Namun teramat tragis bila kita sampai mengalami kekosongan orang-orang yang punya otoritas. Orang-orang yang tidak asal bicara tanpa ilmu. Yang tidak berbangga hanya karena pendapatnya diikuti, meski sebenarnya keliru. Bahkan menyesatkan.

Kita dan lingkungan kita perlu berupaya mengisi kekosongan itu. Tentu dalam lahan-lahan yang kita mampu. Agar energi kita tidak hanya habis untuk meratap dan merutuk. Agar kecemasan kita pada lautan kebatilan membuahkan kekuatan. Bukan membawa kita tenggelam di dalamnya.

Sumber: Tarbawi Edisi 131 Th. 7/Rabi’ul Akhir 1427 H/11 Mei 2006 M

Dipublikasi ulang oleh Admin DPD PKS Sidoarjo

Konten lainnya: