W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Bersiasat dengan Pilihan Isu

Dakwah dan PergaulanAtas nama apa, kita berinteraksi dengan kehidupan sehari-hari? Kita bergaul dan berhubungan dengan dunia ini-manusianya juga alam seisinya-selalu membawa dua nama. Nama diri kita pribadi, dan nama komunitas dari mana kita berasal.

Membawa nama pribadi tidak sekadar mengenalkan ejaan huruf nama lahir kita: Muhammad, Ahmad, Fatimah, atau Aisah. Tapi ia juga berarti kita sedang menghadirkan sosok diri kita, pola pikir kita, kepribadian kita, bahkan juga jiwa kita, kepada dunia luar. Segala ekpresi kita adalah bahasa yang punya maknanya sendiri. Bahkan dalam ilmu semiotika, segala yang ada di dunia ini adalah bahasa. Saat itu, sesungguhnya kita sedang mentransformasikan keberadaan diri kita, keyakinan kita, juga baik-buruk prilaku kita.

Sedang komunitas kita, bisa saja berupa keluarga besar kita, marga kita, suku kita, RT kita, desa kita, negeri tempat kita berasal, perusahaan tempat kita bekerja, atau juga organisasi dakwah yang kita ikuti, atau partai yang kita dukung, serta komunitas-komunitas lain yang memang kita berada di dalamnya. Saat berinteraksi dengan dunia luar, setidaknya, kita juga akan membawa komunitas itu, sekecil apapun bentuknya.

Dalam konteks itulah, secara pribadi maupun secara kolektif, proses transformasi itu tidak selalu mulus. Tak selamanya, kehadirian diri kita diterima lingkungan kita. Demikian juga kehadiran komunitas kita, organisasi kita, atau jamaah dakwah kita. Setidakny,a selalu ada sisi-sisi yang berbeda dari dunia realitas dengan sisi kepribadian kita, keyakinan kita, atau pun prinsip organisasi kita. Selalu saja, ada ruang yang kosong antara idealisme dan realitas, antara keinginan dan kenyataan.

Lantas, bagaimana dalam konteks mengajak orang lain kepada kebaikan? Secara pribadi maupun secara kolektif? Atas nama individu maupun sebuah organisasi dakwah? Sama saja. Selalu ada yang belum serasi antara harapan dan kenyataan, antara teori dan praktek, antara gagasan yang kita miliki dengan masalah yang ada, antara kemampuan antisipasi kita dengan percepatan per-kembangan masalah. Tetapi, ketidakserasian itu sendiri adalah bagian dari proses. Sekaligus sunnah dalam menyampaikan sebuah misi kebaikan.

Tetapi, bukan berarti itu harus dibiarkan. Harus ada upaya serius untuk terus menerus melakukan peningkatan dan perbaikan. Barangkali, salah satu caranya adalah dengan “ketepatan dalam memilih isu“. Tepat, artinya, bahwa isu itu benar menurut ajaran Islam, dan pada saat yang sama sesuai dengan realitas yang sedang berlaku.

Setidaknya, ada tiga isu yang bisa dipilih untuk menyeru kepada kebaikan, sesuai dengan kondisi yang berlaku, secara pribadi maupun kolektif, agar sebisa mungkin bentrokan dengan kondisi realitas, seperti kultur masyarakat, budaya, situasi sosial, suhu politik, dan lain sebagainya bisa diminimalisir.

Tiga isu tersebut adalah:

Pertama, Isu Kemanusiaan. Artinya, dalam berinteraksi dengan dunia luar, untuk sebuah misi kebaikan,%atau misi dakwah maupun misi sosial kepada orang lain maupun kepada masyarakat luas, tema yang diangkat adalah tema-tema yang terkait dengan hajat hidup manusia banyak. Isu tersebut sebenarnya juga isu yang diangkat oleh Islam. Tetapi mungkin ia lebih dekat dengan bahasa orang banyak. Lebih mudah dicerna oleh logika kebanyakan orang. Misalnya isu pengentasan kemiskinan, isu perbaikan mutu dan anggaran pendidikan, kenaikan upah buruh, isu lingkungan hidup, isu peningkatan produktivitas kerja, peng-hematan energi, kerusakan ozon, dan lain sebagainya. Termasuk yang tidak boleh dilupakan, tentu, adalah isu-isu pelanggaran HAM dan upaya advokasinya.

Al-Qur’an sendiri mengecam segala bentuk kedzaliman, bahkan dalam kondisi kita benci kepada suatu kaum sekali pun, kita tetap dituntut berbuat adil.

Kedua, Isu Kebangsaan. Dalam berinteraksi dengan dunia luar, baik atas nama pribadi maupun atas nama organisasi da’wah atau komunitas lain, yang diangkat adalah tema-tema kebangsaan. Misalnya soal intervensi negara asing.

Ada tema-tema kebangsaan yang memang juga bagian dari ajaran Islam. Maka, mengangkat isu tersebut dalam dialog antar pribadi, antar institusi dakwah, ataupun ormas Islam bukan hal yang tabu. Termasuk di sini, adalah solidaritas antar bangsa, terutama negara-negara Islam, serta penolakan terhadap penindasan bangsa-bangsa yang merasa besar atas bangsa-bangsa kecil. Karena yang sengsara adalah rakyat.

Kedekatan hati dengan tanah kelahiran juga bagian dari fitrah manusia. Rasulullah sedih tatkala harus meninggalkan Makkah. Demikian juga Bilal. Di Madinah, saat langit kelam, hatinya serasa sepi, merintih merindukan Makkah dengan selisik malamnya.

Fitrah seperti itu bisa dipertemukan, misalnya, dengan program kembali ke desa. Isu-isu pengurangan urbanisasi tetap bisa diangkat dengan mainstream Islami, sekaligus juga mainstream pembangunan. Apalagi dari kacamata ekonomi, untuk Indonesia, sektor pertanian dan ekspor-impor adalah yang paling mungkin stabil. Meski realisasinya tidak ringan, setidaknya, disadari bahwa ada pilihan isu dan tema yang layak diangkat sesuai dengan kondisi dan realitas yang ada.

Ketiga, Isu Ke-lslaman. Artinya isu yang diangkat memang secara verbal maupun substansial berkaitan dengan Islam. Lebih jauh lagi, ia juga bisa berubah menjadi isu-isu keimanan yang lebih mendalam. Misalnya mensosialisasikan hubungan keimanan, ketakwaan dengan berkah bagi suatu bangsa. Soal ancaman untuk pemimpin yang durhaka, serta balasan bagi pemimpin yang adil, soal pentingnya mengembalikan hukum kepada Allah, soal ancaman bagi masyarakat yang membiarkan kemaksiatan merajalela, dan semisalnya, adalah isu-isu ke-lslaman yang punya waktu dan tempatnya sendiri. Termasuk di sini, tentu adalah isu kebanggaan {izzah) ke-Islaman, sebagai muslim secara pribadi maupun secara kelompok. Juga pembelaan tanah suci umat Islam, seperti Baitul Maqdis di Palestina.

Ketiga pilihan isu tersebut ibarat senjata. Dengannya kita membidik sasaran. la juga ibarat mata pena yang dengannya kita menggoreskan lukisan. Setiap isu punya waktu dan situasinya sendiri. Belum tentu yang satu tepat untuk situasi yang lainnya. Bila kita menguasai pilihan dan penggunaan isu dengan tepat, misi kebaikan yang kita sampaikan, secara pribadi maupun secara kolektif, akan lebih bisa diterima dan bisa merangkul lebih banyak pihak. Insya Allah.

Sumber: Tarbawi Edisi 13 Th. 2 Oktober 2000 M/2 Sya’ban 1421 H

Dipublikasi ulang oleh Admin DPD PKS Sidoarjo

Tulisan terkait: