W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Dalam Pencegahan, Ada Kehidupan

Jiwa manusia itu ibarat pohon. Bila ia dipelihara, disirami, dan dipupuk dengan enar, maka ia akan tumbuh secara sehat dan memberi manfaat yang besar. Tetapi, bila ia tidak diurus dengan baik, dibiarkan terserang hama, terbakar terik matahari, ia bisa mati mengenaskan. Tetapi di kali lain, ia juga harus dipotong, dipangkas daun-daunnya yang kering. Bahkan diikat atau diarahkan ke tempat yang benar.

Dalam tataran sosial, seluruh proses menyiram atau memangkas itu hanyalah ungkapan lain dari menyeru kepada yang baik dan mencegah dari yang mungkar. Maka, memberi perhatian kepada pencegahan atas terjadinya sesuatu yang buruk, yang mungkar, sama pentingnya dengan mengajak kepada kebaik-an atau menyerukan kebajikan.

Seperti juga seseorang yang ingin membangun rumah. Tidak saja ia harus menata tumpukan bata. Tapi ia juga harus menebang pepohonan yang mengganggu di lahan calon rumah itu. Menyiangi rerumputan, mengang-kut bebatuan. Bahkan kemudian menggali tanah tersebut.

Begitulah kehidupan sehari-hari kita. Kebaikan yang ingin kita bangun, di sektor apapun, harus pada saat yang sama diimbangi dengan upaya menjauhkan gangguan-gangguan dan penyakityang bisa menghalangi perjalanan kehidupan sehari-hari.

Bila kita ingin membangun rumah tangga yang baik, misalnya, maka sama pentingnya antara memupuk rasa sayang dengan meminimalisir rasa benci yang tidak berdasar. Sama harusnya, antara membangun kepercayaan dengan menjauhkan buruk sangka.

Dalam sebuah organisasi, perkumpulan, atau komunitas apapun, menjalankan kedisiplinan, sama pentingnya dengan menjauhkan segala bentuk diskriminasi atau dilanggarnya hak-hak sesama.

Dalam sebuah perusahaan, menjalankan usaha yang sehat, menguntung-kan, sama pentingnya dengan menjauhi segala bentuk penipuan, atau kerja-kerja yang tidak beraturan.

Begitulah, membangun, pada saat yang sama adalah juga meruntuhkan di sisi lain: membangun yang baik dan meruntuhkan yang buruk. Menyuruh, pada saat yang sama adalah juga harus mencegah.

Itu sebabnya, aturan dan hukum-hukum dalam hidup ini ada yang berfungsi sebagai teras depan. Indah, menyenangkan. Tetapi juga ada yang berfungsi sebagai teras belakang.

Untuk emergency, untuk kedaruratan. Bahkan untuk reparasi. Dan, reparasi secara umum tidak enakdi lahirnya.

Dalam Islam, banyak dijelaskan alasan mengapa kita harus peduli pada upaya mencegah kemungkaran. Berikut, barangkali, beberapa di antaranya.

1. Agar yang Benar Tampak Benar dan yang Salah Tampak Salah.

Hari-hari ini, begitu terasa, betapa berjuang mengenali yang baik, telah begitu luas radius prosesinya. Dahulu, ketika kebaikan bisa dicerna dengan sederhana, di sudut-sudut kehidupan yang sepi, orang hanya perlu sedikit tenaga untuk berperilaku baik dan memilih jalan yang benar.

Tetapi hari ini, menjadi baik atau pun benar, adalah juga perjuangan berat mengurai mana yang baik dan mana yang buruk. Perjuangan sangat melelahkan, untuk mengenali mana yang benar, dan mana yang salah.

Sebab, dimana-mana orang telah menjungkirbalikkan norma. Sesuatu yang baik, menjadi tidak lagi dikenali sebagai kebaikan. Sesuatu yang benar, tidak lagi dianggap sebagai kebenaran. Sebaliknya, sesuatu yang buruk, salah, dan rusak, justru dianggap sebagai norma positif dan kebenaran yang harus dilakukan.

Perang istilah telah melanda setiap negeri muslim, menerobos masuk ke rumah-rumah kaum muslimin. Tidak semua orang sadar, bahwa menjalani kehidupan sebagai seorang muslim secara maksmimal, adalah tuntutan yang biasa. Tetapi dunia mengubahnya dengan sebutan fundamentalisme atau terorisme. Berlaku jujur, tidak menyuap, adalah hal yang semestinya dijalani para pekerja, pejabat, dan siapa saja. Tetapi dunai mengubahnya menjadi istilah untuk rasa sok bersih yang munafik. Menjaga kehormatan diri, keber-sihan diri, dari segala rayuan syetan adalah keharusan biasa sebagai seorang muslim. Tetapi, dunia mengubahnya menjadi istilah untuk ketertinggalan dan keterbelakangan.

Maka, harus ada orang-orang yang berbicara lantang, yang mencegah segala kemungkaran tersebut. Agar yang benar dan baik, mampu muncul sebagai sebuah kebenaran dan kebaikan. Dan, agar yang buruk, juga nampak sebagai sesuatu yang buruk. Allah SWT secara khusus mengingatkan, “Katakanlah, tidaklah sama antara yang buruk dengan yang baik, meski banyaknya yang buruk itu menakjubkan hatimu.” (QS. Al-Maidah: 100).

2. Agar Terhindar dari Azab Kolektif.

Hidup ini tidak bisa dijalani sendiri. Ada ketergantungan antarsesama. Maka, mencegah kemungkaran sesungguhnya merupakan pintu pertama untuk menghindari dari kehancuran bersama. Karena kedzaliman itu seperti penyakit menular. Bila tidak dicegah atau dihilangkan sejak dini, ia bisa menular, lalu menggerogoti yang lain hingga berubah menjadi wabah yang mengerikan.

Dahulu, di jaman orang-orang Yahudi, terjadi peristiwa mengerikan. Kejadiannya bermula ketika Allah menguji orang-orang Yahudi di sebuah kampung di tepi pantai. Mereka tidak boleh mencari ikan pada hari Sabtu. Tetapi orang-orang Yahudi itu mengakali, dengan meletakkan penangkap ikan pada hari jum’at, lalu mengambilnya pada hari Ahad.

Tindakan itu jelas keliru. Melihat kejadian itu, ada orang-orang peduli dan mengingatkan mereka. Tetapi ada juga yang diam. Kelak, di kemudian hari, orang-orang yang memberi peringatan itu diselamatkan Allah. Sementara yang diam, meski mereka tidak turut mela-kukan kesalahan, diancam Allah dengan azab yang pedih. Sementara yang menipu dengan memasang penangkap ikan, diubah Allah menjadi monyet. Begitulah, kisah tersebut diabadikan di dalam Al-Qur’an, Surat Al-A’raf ayat 163 sampai selesai.

Itulah yang juga diingatkan Allah dalam firman-Nya, “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang dzalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksa-Nya.“(QS. Al-Anfal:25).

Di jaman ketika dunia menjadi begitu sempit, hidup berubah menjadi lautan limbah. Yang buruk dan yang baik tumpah ruah dari segala ujung dunia. Globalisasi menjadi aliran termudah bagi segala nilai. Maka, mencegah arus kerusakan itu, adalah juga berarti mem-bentengi diri dan orang-orang di sekitar kita dari bencanayang mengerikan.

3. Untuk Menjaga Kesinambungan Cenerasi.

Berjuang mencegah atau melawan kemungkaran, sangat erat kaitannya dengan kesinambungan sebuah generasi. Secara normatif maupun secara fisik, apa yang kita alami hari ini, baik atau buruknya, tak bisa dilepaskan dari andil para pendahulu kita.

Dari sudut baiknya, apa yang diperjuangkan para salafusshalih dengan mengajarkan Islam, menulis buku-buku, telah menyisakan lentera iman dan Islam pada generasi hari ini. Begitupun, apa yang mereka cegah dari kemungkaran, menyisakan untuk kita banyak sekali manfaatdi hari ini.

Secara fisik, apa yang menimpa masyarakat kita saat ini, tentang kemungkaran yang telah mewabah, seperti soal narkoba, soal pergaulan yang rusak parah, tidak bisa dilepaskan dari tidak tegasnya sikap pihak-pihak berwenang sejak detik pertamanya. Bila saja, sejak kali pertama kemungkaran itu muncul langsung dicegah dan diberi sanksi secara tegas, mungkin kondisinya tidak separah saat ini. Pemerintah tidak tegas. Aparat berubah menjadi penjahat. Lingkungan juga tidak tegas. Akibatnya, pelaku kemungkaran tidak lagi takut kepada siapa-siapa.

Dahulu, dijaman Nabi Nuh, orang-orang membiarkan secara perlahan mereka yang datang mengunjungi patung-patung orang-orang shalih. Lama kelamaan patung itu yang dijadikan sembahan.

Maka, mencegah yang mungkar, sesungguhnya pada saat yang sama adalah melempangkan jalan kebaikan bagi anak-anak cucu kita kelak. Bukankah hidup ini sambungan-sambungan generasi? Satu pergi dan satu datang. Yang dulu mati, yang kemudian menggantikan. Itu sebabnya, Rasulullah menjelaskan, bahwa barangsiapa membuat jalan kebaikan, maka baginya pahala atas kebaikan itu ditambah pahala orang-orang yang meniti jalan itu di kemudian. Sebaliknya, barangsiapa yang melempangkan jalan keburukan, maka baginya dosa keburukan itu ditambah dosa orang-orang yang turut mengikuti jalan keburukan tersebut. (HR. Muslim).

Diperlukan keberanian yang tidak ringan, untuk mencegah kemungkaran yang kian merajalela. Agar para ibu tak lagi takut dengan anaknya yang menginjak dewasa. Agar seorang guru tak lagi kuatir dengan masa depan anak didiknya. Sebab, apa yang mereka semai di rumah atau di sekolah tidak takut diserbu hama penyakit ganas di luar sana.

Dalam pengertian yang lebih umum, Allah SWT mengingatkan, “Dan hendaklah takut, orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An-Nisa’: 9).

4. Ada yang Tidak Bisa Diperbaiki Kecuali dengan Perlawanan.

Alangkah indahnya Islam. Terkumpul di dalamnya segala contoh keseimbangan. Carilah teori tentang kelembutan, kasih sayang, kebersaman. Pastikan, hanya dalam Islam semua kata itu menemukan maknanya yang nyata. Begitu pula soal ketegasan kepada kemungkaran, ketegasan kepada kerusakan, hanya Islam yang memberi solusi paripurna, bukan tambal sulam atau malah menimbulkan kerusakan baru.

Barangkali, ungkapan Utsman bin Affan bisa menjelaskan tentang semua itu, “Sesungguhnya Allah akan mencabut sesuatu dengan perantara kekuasaan, apa-apa yang tidak bisa dicabut dengan Al-Qur’an.

Pengertian luasnya ialah ada hal-hal yang harus dijalankan dengan pendekatan kekuasaan, otoritas, atau bahkan sesuatu yang mengikat dan memaksa. Sektor ini lebih banyak berkaitan dengan wilayah pencegahan dari yang mungkar. Seperti kisah Abu Bakaryang memerangi orang-orang yang menolak membayar zakat.

Tabiat manusia yang cenderung kepada hawa nafsu, serta godaan syetan yang tak berhenti, ditambah kerusakan di mana-mana, menjadikan banyak orang menjadi tebal hatinya. Ia tidak mudah sekadar dinasehati, dianjurkan, atau bahkan diberi peringatan. Ada orang-orang tertentu, yang hanya bisa diberi peringatan dengan cara yang keras dan tegas. Dan itu masuk dalam kategori peringatan yang dimaksud Allah, “Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang beriman.” (QS. Adz-Dzariyat: 55).

Kadang jiwa manusia itu seperti besi mentah. Yang hanya bermanfaat ketika melalui proses yang panjang dan berat. Dibakar, dipukul, dilempengkan, disepuh, dan seterusnya, sampai ia menjadi sebuah alatyang bermanfaat.

Dengan pengertian itu pula, Islam memaknai hukuman bagi para pelanggar. Bahwa hukuman dibuat untuk memberi penyadaran dan perbaikan, bahkan penebusan dosa. Sementara bagi orang lain, hukuman adalah pelajaran. Karenanya, Allah menyebut, bahwa di dalam hukum qishash itu ada kehidupan.

Begitulah, jiwa kita itu seperti layang-layang. Kadang kita harus mengulur talinya, bila angin datang begitu kencang. Agar ia tak keberatan, atau malah putus dan hilang. Tapi kadang kita harus menarik, atau bahkan menghentaknya, ketika angin tak ada yang berhembus. Agar ia tidak terlena, lalu justru tak bisa terbang. Begitulah peranan mencegah kemungkaran, bagi keberlangsungan hidup kita. Juga keberlangsungan hidup manusia dan alam seluruhnya.

Sumber: Tarbawi Edisi 45 Th. 4/Sya’ban 1423 H/10 Oktober 2002 M hal 8-9

Dipublikasi ulang oleh Admin DPD PKS Sidoarjo

Konten lainnya: