W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Detik Genting Sebagai Penghela

Madinah benar-benar mencekam. Belum pernah orang-orang Muslim menghadapi situasi seberat itu. Mereka dikepung sekutu: Quraisy, Yahudi, dan penduduk Najd. Dengan sepuluh ribu pasukan. Empat ribu dari musyrikin Quraisy, dan enam ribu lagi dari Yahudi Ghatafan dan penduduk Najd.

Sepuluh ribu sungguh jumlah yang sangat besar, jauh lebih besar dari seluruh kaum Muslimin di Madinah saat itu. Karenanya, para penulis Sirah mengisahkan, jika para sekutu itu sampai lolos menyerbu Madinah, bisa-bisa orang-orang Muslim itu binasa hingga akar-akarnya.

Tetapi kota suci itu masih menyisakan nyali. Lebih tepatnya nyala. Dari api keimanan dan bara perlawanan. Parit-parit telah selesai digali. Bahkan beberapa hariyang lewat. Para pemanah bermata tajam berjaga di belakang parit-parit itu. Pasukan sekutu terhenyak, berputar-putar bodoh. Tak ada dalam mimpi mereka sekalipun, bahwa akan ada pertahanan model parit seperti itu.

Bagi kaum muslimin, ini benar-benar detik hidup yang penuh pertaruhan. Tidak semata untuk sebuah eksistensi, tapi pertarungan hidup dan mati.

Tetapi jauh di lini belakang, tempat para wanita dan anak-anak dijaga dan diletakkan dalam pengamanan, sebuah kisah tentang pertaruhan bergelora dengan caranya sendiri.

Bermula saat Shafiyah binti Abdul Mutha-lib, bibi Rasulullah yang mulia, melihat sesosok laki-laki Yahudi menyusup dari belakang. Rupanya, orang-orang Yahudi Bani Quraizhah yang telah mengikat perjanjian dengan Rasulullah untuk tidak memerangi, telah berkhianat. Tempat tinggal mereka memang di belakang Madinah. Sehingga mudah baginya untuk menyusup.

Shafiyah berada di dalam sebuah bilikyang dikhususkan bagi para wanita Muslimah dan anak-anak. Ada Hassan bin Tsabit, penyair Rasulullah yang ditugaskan menjaga. Sementara para laki-laki kaum Muslimin sibuk di front depan. “Tidak mungkin mereka mundur ke tempat kami dan meninggalkan pos mereka jika ada orang yang menyerang kami,” jelas Shafiyah dalam kisahnya.

Shafiyah tidak tenang. Segera ia menemui Hassan bin Tsabit. “Wahai Hassan, seperti yang engkau lihat, orang Yahudi itu mengitari benteng. Demi Allah, aku merasa tidak aman jika dia menunjukkan titik lemah kita dari arah belakang ini kepada orang-orang Yahudi. Sementara Rasulullah saw dan para sahabat tidak sempat lagi mengurusi kita. Maka hampirilah orang itu dan bunuhlah dia,” kata Shafiyah kepada Hassan.

“Demi Allah, engkau tahu sendiri aku bukanlah orang yang mahir dalam masalah bunuh membunuh,” jawab Hasan.

Maka Shafiyah segera bertindak. Sendiri. Ia ikat pinggangnya. Lalu diambilnya sepotong tiang penyangga, dan bergegas mengendap turun dari benteng menghampiri Yahudi itu.

“Potongan tiang itu kupukulkan ke tubuhnya hingga mati. Setelah itu aku kembali ke benteng,” begitu Shafiyah mengisahkan tindakan beraninya.

Ya, itu memang tindakan yang sangat berani. Tak sekadar itu, tindakan itu benar-benar sebuah sukses besar mengisi detik-detik genting kehidupan keseluruhan kaum muslimin Madinah. Ada pengaruh yang sangat besar dan mendalam. Tidak semata untuk menjaga para wanita dan anak-anak Muslimin. Tapi ini adalah sukses besar sebuah perang opini. Bahkan ini penopang hebat bagi pembuktian dugaan-dugaan musuh. Sebab, selama ini, orang-orang Yahudi menduga rumah penampungan dan benteng bagi para wanita dan anak-anak dijaga ketat pasukan muslimin-padahal nyatanya tidak. Tidak oleh para laki-laki, maksudnya, tapi oleh para perempuannya.

Seperti juga Shafiyah, setiap orang punya masa-masa sulit tertentu dalam hidupnya. Untuk konteks diri pribadinya sendiri atau untuk kebersamaan dengan orang-orang yang ia cintai, keluarga, anak-anak, atau juga rum pun-rumpun saudara seperjuangannya.

Semacam detik-detik genting dalam hidup, akan selafu hadir dalam diri setiap orang, setiap kelompok manusia, organisasi da’wah, juga sebuah bangsa. Detik-detik dimana peris-tiwa-peristiwa pada sepotong waktu itu akan menjadi sangat vital bagi keseluruhan hidupnya. Sukses pada detik itu, akan memberi arti yang sangat mendalam bagi sisa-sisa kehidupan behkutnya.

Dalam kisah Shafiyah, sekiranya Yahudi itu bisa berhasil menyusup dan menusuk di jantung kaum muslimin, itu bisa sangat mengguncang. Bisa meruntuhkan semangat juang. Sebaliknya, bisa menjadikan pasukan sekutu semakin berani. Ini situasi yang sangat mengerikan. Sebuah entitas keimanan dimuka bumi bisa saja terlibas. Setidaknya, dalam kalkulasi ikhtiar kemanusiaan.

Apa yang dilakukan Shafiyah tak sekadar sebuah reaksi perempuan ketika harus menjaga anak-anak kaumnya. Ini adalah reaksi strategis, atas sebuah situasi genting, yang menghasilkan pengaruh strategis pada akhirnya pula. Kelak, usai pasukan sekutu porak poranda oleh angin kencang, Bani Quraizhah menuai akibat dari ulah mereka. Rasulullah bergegas mengepung mereka. Dan terjadilah apa yang terjadi.

Menyadari bahwa hidup punya detik-detik gentingnya, adalah keharusan bagi kita. Itu bahkan salah satu seni hidup yang paling rumit. Kerumitannya bukan terletak pada bagaimana mengerti bahwa hidup ada saat-saat sulitnya. Bukan itu. Tapi yang paling rumit adalah mengenali bahwa detik-detik sulit tertentu dimaksud adalah bagian vital bagi kesinambungan kehidupan sesudahnya.

Semacam kanal penyambung, atau jembatan penghubung. Yang tanpa kesuksesan di detik itu kita tak akan pernah sampai ke ruang hidup di seberang sana, secara waktu dan usia, atau secara perjalanan peran dan fase-fase pencapaian.

Tidak semua detik genting bisa kita mengerti kegentingannya seketika itu. Tidak pula bisa sesaat itu kita ketahui, bahwa detik genting dimaksud itu punya fungsi strategis sebagai penyambung bagi kehidupan sesudahnya. Bila kita sukses di detik itu, kita akan sukses sesudahnya. Bila gagal, akan gagal seterusnya.

Lebih jauh lagi, mengerti bagaimana bersikap di saat-saat genting, adalah keterampilan jiwa lain yang juga harus kita pelajari. Tidak mudah, memang. Keberanian bisa saja muncul begitu saja di saat genting, tetapi bisa juga tidak. Karena itulah tidak ada jaminan bahwa setiap orang bisa sukses di saat gentingnya, hanya dengan mengandalkan “naluri keberanian mendadak” itu. Ada proses yang harus disiapkan. Ada pengantar yang harus dihayati. Ada kedewasaan yang harus diasah. Ada kematangan yang harus ditempa.

Setiap momentum dalam hidup adalah kosa kata perubahan. Setiap benda membunyikan bahasa perubahan, semacam semiotika khusus yang berkata-kata kepada kita, bahwa segalanya benar-benar berubah. Berlayar menuju akhir perjalanannya. Tetapi di penggal-penggal perjalanan itu, di ruas-ruas pelayaran itu, selalu ada detik-detik gentingnya.

Penghayatan akan siklus, memberi arti begitu luas. Ia punya relevansi dan fungsi yang sangat beragam. Tidak saja dalam soal-soal pergantian kekuasaan. Perputaran kejayaan, tapi juga soal kalah dan menang, soal rugi dan untung. Soal duka di suatu hari, lalu gembira di hari yang lain.

Penghayatan akan siklus, adalah kemengertian kita akan hidup yang selalu bergerak maju. Hanya kita para manusialah yang sejujurnya berjalan mundur, kadang, atau bahkan di sering waktu. Tidak ada yang abadi alam hidup ini. Segalanya berputar.

Tetapi dalam spirit penghayatan akan siklus kehidupan itu, titik-titik genting adalah penghela sekaligus pelontar bagi lompatan perjuangan. Penghela dalam kapasitasnya sebagai jenak pengambil nafas, pelontar dalam fungsinya sebagai pendorong untuk bergegas agar tidak jatuh di detik-detik itu. Kita hanya perlu memahaminya, lalu mengerti bagaimana menyiasatinya.

Dahulu para orang-orang shalih, para sala-fusshalih, punya banyak cara untuk menghayati siklus tersebut. Sebagaimana mereka juga punya caranya sendiri dalam menyiasati detik-detik genting itu. Tetapi bagaimana dengan kita?

Sumber: Majalah Tarbawi Edisi 81 Th. 5/Shafar 1425 H/2 April 2004 M

Dipublikasi ulang oleh Admin DPD PKS Sidoarjo

Konten lainnya: