W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Esok Bisa Lebih Sulit

Memang kita tidak tahu nasib kita ke depan. Memang hanya bisa meramal nasib bangsa besar ini. Peluang untuk menjadi lebih baik sama besarnya dengan peluang untuk semakin hancur.

Banyak yang mengeluh hidup pada masa ini. Kesulitan seperti lilitan ekor naga panjang yang susah untuk dilepaskan. Luka karena jepitan kesulitan belum lagi kering. Bayangan suram ke depan sudah membayang lagi.

Walaupun seharusnya ini tak terjadi. Tetapi inilah kenyataannya, kita harus membaca sambil mengelus dada daftar kesulitan itu.

1. Sulit Mendapatkan Pemimpin yang Baik

Pemimpin adalah pembawa suluh yang menerangi jalan rakyatnya. la adalah arah tempat menuju masyarakatnya. Bahkan terkadang pemimpin adalah agama atau tuhan untuk bawahannya. Posisinya adalah posisi yang tinggi sehingga terlihat dari dataran sosial manapun. Teladan yang seharusnya memberikan contoh terbaik.

Sudah berapa banyak pemilihan kita lalui. Sudah berapa kali kita ganti pemimpin. Baik itu pemimpin dalam skala yang kecil hingga skala yang besar. Dan hasilnya, bisa kita baca sendiri. Dengan pandangan jujur nurani kita bisa lihat rapor mereka.

Setiap kali menjelang digelarnya pert-rungan pemilihan, masing-masing bersuara lantang membela wong cilik. Dan setiap kali itu juga masyarakat mendendangkan syair kepedihan, “Manis di bibir lain di hati.”

Ternyata ungkapan rakyat adalah pengalaman panjang mereka. Catatan sejarah yang tidak mungkin ditutupi. Selalu saja terulang janji memberantas korupsi, ternyata hanya meratakan korupsi. Bualan mengangkat harkat hidup rakyat kecil, buktinya hanya mengangkat taraf hidup para konglomerat dengan memeras rakyat. Hidup sederhana di mumkan, nyatanya para pemimpin buang-buang uang negara sekedar untuk jalan-jalan. Sudah bukan rahasia lagi, bagi orang yang sekedar ingin menyandang gelar pegawai negeri harus merogoh kocek yang tidak sedikit. Di dunia bisnis pun tidak luput dari contoh pemimpin yang melegalkan barang haram atau barang halal dengan cara haram.

Semakin sulit dicari pemimpin yang bijak. Inilah mungkin penga-laman yang dibacakan oleh Zubair ketika mengamati pergantian pemimpin dari yanr sholeh hingga tidaK bijak. “Dulu Umar jika ada orang yang melanggar peraturan (ringan), didirikan di hadapan masa, kemudian dilepas sorbannya. Ketika di masa Ziyad, dicambuk. Kemudian, ketika di masa Mushab bin Zubair dicukur jenggotnya. Saat masa Bisyr bin Marwan, dipaku tangannya. Dan ketika Hajjaj memerintah dia berkata, “Ini semua permainan.” Maka dia memutuskan untuk membunuh dengan pedang.”

Terasa betul keluhan hati Zubair. Sampai dia kenang sebuah hadits, “Tidaklah datang suatu tahun kecuali yang sesudahnya akan lebih buruk darinya.

Dalam riwayat Bukhari lebih jelas dikatakan, “Sabarlah, sesungguhnya tidak datang kepada kalian suatu jaman kecuali yang sesudahnya lebih buruk lagi hingga kalian bertemu tuhan kalian.

Permasalahannya, jarang yang menganggap jabatan sebagai amanah. Lebih banyak yang melihatnya sebagai anugerah. Sehingga dijadikannya ini sebagai kesempatan untuk menangguk dan menimbun harta sebanyak-banyaknya.

Bukan hanya itu, yang lebih parah lagi hukum Allah tidak mendapatkan tempat pada setiap keputusannya.

Memang sulit mencari pemimpin baik. Mungkin hari esok akan lebih sulit lagi mencari orang seperti Abu Bakar atau Umar. Bahkan pada sebagian masyarakat kita, mulai nampak kerut-kerut keputusasaan untuk mencari satu atau beberapa orang saja dari sekian ratus juga. Dan pemimpin itu bisa orang lain, bisa juga kita.

2. Sulit Mendapatkan Lingkungan dan Suasana Berkah

Lingkungan mempunyai kekuatan dahsyat untuk merubah kita dan generasi kita. Suasana adalah arus derasyang meluncur tak terhentikan. Dia akan menyeret semua yang ada di hadapannya. Hanya yang berpondasikan kuat saja yang tetap bisa bertahan.

Sungguh sulit mendapatkan lingkungan yang baik hari ini. Sesulit menciptakannya. Padahal keburukan yang sudah menggejala penyebarannya lebih cepat dari virus terganas yang ada. Terkadang ada yang tidak sadar, tetapi sudah terjangkiti virus itu.

Keberkahanlah yang sesungguhnya telah dicabut. Begitulah Imam Ibnu Hajar mengistilahkan. Keberkahan lingkungan, keberkahan suasana termasuk keberkahan waktu-waktu kita. Sehingga semuanya berlalu begitu cepat di atas kesia-siaan.

Lingkungan bebas, penuh dengan coretan hitam. Kalau masyarakat Islam dulu, sulit mendapatkan orang jahat. Kini kita kesulitan mendapatkan orang baik. Segala macam kemaksiatan hampir saja menjadi tradisi yang lumrah.

Kesulitan kita mendapatkan lingkungan dan suasana berkah selain memang ini merupakan fenomena dekatnya kiamat. Imam Khottobi mengatakan bahwa ini disebabkan oleh kelezatan hidup yang semakin melimpah. “Setiap generasi berlalu akan nampak kekurangan yang lebih banyak dari pendahulunya. Orang merasakan begitu pendeknya waktu kesenangan walaupun sebenarnya panjang. Dan mereka juga merasakan waktu sulit terasa panjang walaupun sebenarnya pendek,” tambahnya.

Jika keberkahan telah hilang, maka yang tersisa adalah kecelakaan beruntun. Baik kecelakaan fisik ataupun iman. Hingga kecelakaan atas hilangnya generasi yang dulu pernah baik.

3. Sulit Memenuhi Kebutuhan Hidup

Ini keluhan bersama. Keluhan yang bukan saja dirasakan oleh orang-orang kecil dan miskin. Mereka yang serba kecukupan juga
mempunyai keluhan tersendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup. Negeri ini kaya. Sepenggal Firdaus di muka bumi. Tetapi pengangguran dan kemiskinan sulit diatasi. Negeri ini adalah negeri impian banyak manu-sia. Tetapi kita hanya bisa bermimpi-mimpi untuk bisa makmur.

Negeri ini kaya. Tetapi entah ke mana perginya. Negeri ini kaya. Tetapi yang kaya hanya beberapa orang saja. Itulah sebenarnya permasalahan tunggal seputar kekayaan negeri ini. Karena kekayaan hanya ada di tangan orang-orang kaya, tidak terbagi. Inilah yang sudah jauh-jauh hari diingatkan oleh ayat, “Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.” (Al-Hasyr: 7).

Mereka yang kaya sering berpesta pora. Sementara yang miskin menunggu mengais sisa sampah mereka. Sungguh ironi yang tragis di negeri muslim terbesar.

Di masa pemerintahan Islam Umar bin Abdul Aziz, seorang pejabat baitul mal bertanya, “Wahai amirul mukminin, seseorang mempunyai hutang. Tetapi dia mempunyai rumah sendiri, pembantu dan kuda tunggangan. Apakah dia berhak mendapatkan zakat?” Umar bin Abdul Aziz menjawab, “Ya.”

Mempunyai rumah pribadi, kebutuhan primer yang sulit dijangkau rakyat biasa hari ini terutama di kota besar. Mempunyai pembantu rumah tangga yang harus digaji bulanan. Mempunyai kendaraan mahai di jamannya. Di jaman keemasan pemerintahan Islam, itu dianggap miskin. Standar hidup yang tinggi. Tentu kita sulit menggolongkan mereka yang memiliki kekayaan seperti itu termasuk orang miskin. Karena masih terlalu banyak yang hidup di bawah standar tersebut.

Ternyata bila dibanding dulu, kita terhitung kesulitan dalam memenuhi kebutuhan. Sementara ramalan akan perkembangan ekonomi yang terus meningkat terkadang menimbulkan optimisme. Tetapi ketika beberapa sisa bank yang masih bertahan hidup, dibobol juga oleh maling-maling itu, mungkin beban hutang itu pun akan dibebankan ke rakyat. Mungkin saja hidup di negeri kaya ini akan semakin sulit dan miskin saja.

4. Sulit Mendapatkan Pendidikan yang Layak

Pendidikan yang merupakan hak setiap warga negara semakin hari semakin mahal. Untuk mengenyam pendidikan yang tinggi tingal impian bagi sebagian besar orang. Jangankan itu, pendidikan wajib yang layak saja sebagian dari kita sudah sangat kesulitan. Akhirnya mereka memilih untuk tidak sekolah, dan memilih untuk bekerja. Karena mereka berpikir, bahwa tingkatan tertinggi yang bisa mereka capai kelak sulit untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Lebih baik bekerja sejak sekarang. Akhirnya buta ilmu pengetahuan masih terhitung banyak.

Secara pendidikan negeri ini tertinggal jauh. Anggaran negara pun sangat kecil. Sulitnya masyarakat mendapatkan pendidikan yang layak, semakin bertambah sulit.

Mutu pendidikan kita juga payah. Kurikulum kita nampak kerdil di hadapan negara lain. Kita tidak mampu bersaing dari sisi kualitas pendidikan. Hanya melahirkan pencari kerja dan tidak terbangun budaya ilmiah.

Sebagai layaknya seorang muslim, kita harus mempelajari Islam dengan benar. Mengandalkan pelajaran agama di sekolah dari ting-kat dasar hingga tingkat tinggi, sangat mengecewakan. Islam yang luas itu hanya kita ketahui kulitnya saja dan itupun sangat sedikit. Belum lagi bicara isi dan mutunya.

Akhirnya kita menjadi masyarakat yang pernah dikatakan oleh Hudzaifah sahabat Nabi, “Nanti Islam dipelajari, tetapi yang belajar tidak tahu apa itu puasa, sholat, haji, dan shodaqah.

Sudah banyak ulama kita yang meninggal. Sampai kini belum nampak juga penggantinya. Hingga sebagian kita bertumpu kepada mereka yang sebenarnya tidak tahu banyak tentang Islam. Bertanya dan dijawab dengan kebodohan.

Pendidikan kita mengarah kepada sistem sekuler. Sulit didapati perilaku Islami di perguruan tinggi Islam. Yang ada hanya keilmuwan Islam yang mulai keruh plus orang-orangnya yang sok modern dalam pemikiran tetapi sebenarnya kuno. Jauh panggang dari api. Tidak ada penerapan Islam dalam hidupnya.

5. Sulit Menyatukan Umat

Masalah yang satu ini klasik. Sudah berapa sering persatuan dibicarakan dan didiskusikan. Sudah berapa sering pemimpinnya buka bersama, sahur bersama dan bertemu bersama. Konsep persatuan sebatas menjadi kajian seminar dan diskusi yang menarik. Tetapi tidak pada tataran praktek. Hingga perlu seorang pemikir mengusulkan untuk dibuatkan kartu ukhuwah. Untuk menghindari bagi para pemegang kartu itu agar tidak bertikai. Usul yang lucu dan sekaligus menunjukkan begitu rumitnya permasalahan persatuan bagi umat ini.

Tentu kita tidak bisa menjadikan hadits Nabi sebagai pembenaran dari perbedaan itu. Di mana umat ini akan terpecah. Karena perpecahan tetap menjadi sesuatu yang salah dan tidak boleh.

Perbedaan adalah hal yang wajar. Tetapi jarang yang bisa mensikapinya dengan wajar dan benar. Pandangan obyektif sering tertutup oleh kecenderungan hati terhadap golongan. Kajian ilmiah yang benar sering dikalahkan oleh sekedar rumor yang tersebar dalam kelompoknya.

Beberapa kali dalam catatan sejarah Islam negeri ini mengatakan bahwa kita pernah sukses dengan persatuan. Tetapi persatuan itu sering tidak berumur panjang. Pengganjalnya selalu saja masalah dunia dan rebutan roti.

Kesulitan yang kita rasakan hari ini belum berakhir. Peluang untuk hilangnya kesulitan itu sama besarnya dengan semakin rumitnya kesulitan itu. Maka persiapkan segalanya untuk menghadapi kemungkinan semakin rumit dan sulitnya permasalahan kita.

Sumber: Majalah Tarbawi Edisi 74 Th. 5/Dzulqo’dah 1424 H/25 Desember 2003 M

Dipublikasi ulang oleh Admin DPD PKS Sidoarjo

Konten lainnya: