W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Jangan Jadi Api Pembakar Ilalang Kemanusiaan

Hidup adalah pedih dan getir itu sendiri. Demikian kerap kita katakan bila kita terlanjur terluka. Tapi, bagaimana pun pedih dan getirnya perlakukan orang-orang pada kita, semua itu kerapkali masih dapat tertanggungkan. Karena bukan kita yang kehilangan kedirian. Karena dalam situasi itu, kita lah manusia yang normal senormal-normalnya. Kita lah manusia yang bisa melihat dengan corak manusiawi kita. Karena kita “cuma” jadi korban.

Sebaliknya, pedih dan getirnya orang lain akibat sikap dan perilaku kita, itu yang sepatutnya tidak tertanggungkan. Itu yang sepatutnya kita hindari mati-matian. Menjadi pelaku, penyebab orang lain nestapa, sungguh membunuh kemanusiaan kita sendiri. Jangan sampai kita berucap, “Hidup adalah pedih dan getir itu sendiri, yang kita ciptakan bagi orang lain.” Jangan sampai kita jadi api yang membakar ilalang kemanusiaan, kebahagiaan, rindu, rasa sayang, kebaikan, ketenangan, bahkan hidup orang lain.

Atas Nama Keteledoran dan Ketidakpedulian “Kecil”

Hidup jelas bukan permainan. Bagi kita. Bagi orang lain di sekitar kita. Hidup adalah tanggung jawab. Kita punya tanggung jawab pada orang lain. Selalu. Begitulah bila kita ingin kepedihan pada orang lain dapat dihindari. Kepedihan akibat keteledoran yang kita anggap sepele. Kegetiran akibat keteledoran yang kita anggap ringan saja. Meski hati kecil kita sudah memperingatkan, keteledoran itu bisa berujung malapetaka, kita kerap tak begitu peduli.

Arman, demikian ia meminta Tarbawi menyamarkan namanya, di suatu malam beberapa tahun lalu, gemetar di belakang kemudinya. la baru saja menabrak seorang remaja di suatu jalan yang lengang, di malam gulita. Arman tengah pulang sehabis kongkow bersama teman-teman lamanya. Teman sejak ia masih muda, hingga usianya yang sudah 45 tahun kini. Di rumahnya, ia punya anak, remaja pula. Namun seusai tragedi itu Arman tetap melaju, tanpa pernah berhenti untuk menengok remaja yang entah masih hidup atau sudah mati. Di hatinya yang bergemuruh, ia tahu, semua bermula dari ketidakpedulian. Sebuah keteledoran yang ia anggap sepele.

Sewaktu meninggalkan rumah temannya, Arman sangat mengantuk dan lelah. Temannya menganjurkan untuk beristirahat dahulu, dan mengabarkan istrinya bahwa ia akan pulang larut. Namun Arman menolak. Meski ia tahu, dalam kantuk tak tertahankan, sungguh berbahaya menyetir mobil sendirian. Ia menenangkan hatinya, dengan meyakinkan diri akan kemampuannya di belakang kemudi, yang memang kerap dipuji banyak orang. Hingga terjadilah apa yang sangat mungkin terjadi. Terjadilah apa yang dikhawatirkan hati kecil Arman sendiri.

Insiden itu sungguh bukan main-main. Insiden itu nyata, seorang remaja tergeletak di jalan yang lengang, entah hidup atau mati. Tentang kesakitan yang mendiami remaja itu, entah bagaimana untuk diungkapkan. Tentang kepedihan orang tua dan kerabat remaja itu, kata apa yang sanggup menguraikan. Apalagi kalau mereka tahu, anaknya yang menjadi korban tabrak lari, terhantam mobil oleng yang dibawa orang mengantuk, yang menabrak seorang remaja di pinggir jalan, yang belum lagi melangkah untuk menyeberang.

Memang hingga kini, sesal meliputi Arman. Hingga kini, jika ia melewati jalan itu, masih terbayang bencana yang ia lakukan. Arman menyadari, meski lolos dari jerat hukum dunia, ada pengadilan yang Maha Adil. Atas nama keteledoran, ia sudah jadi penyebab tragedi orang lain, yang tak tahu apa-apa. Seorang remaja yang tentu tak pernah mengira, sosok yang tidak ia kenal, seorang yang “cuma” mengantuk, akan menjadikan tubuh sang remaja ajang keteledorannya.

Arman sudah mempersembahkan pedih dan getir hanya karena keteledoran yang ia anggap ringan. Berapa banyak Arman lain yang, atas nama keteledoran dan ketidakpedulian, menyodorkan pedih dan getir bagi orang lain.

Dalam diri kita, kadang kita pun menyisakan tempat bagi ketidakpedulian. Kita pun ada kalanya meremehkan keteledoran. Karena yang menjadi korban langsung bukanlah diri kita. Tapi orang lain. Karena yang akan merasakan kepedihan, duka, ketakutan, kegetiran, bukan kita. Tapi orang lain.

Padahal, kanak-kanak pun tahu, jika mereka bermain bola kasti dan melempar sembarangan, kaca tetangga bisa pecah berkeping. Mereka tahu, bagaimana pun itu sebuah keteledoran. Kita manusia dewasa. Bahwa kita dituntut untuk lebih mawas dan melek diri, tentu sudah semestinya. Jika kita diharuskan menjaga sikap dan perilaku kita supaya tidak menyebabkan duka orang, tentu sudah sepatutnya.

Kita kadang tidak peduli pada kata-kata yang kita lontarkan. Sungguh banyak ucapan berbahaya yang kita anggap sepele. Tentang menghujat orang lain sekedarnya, tentang menceritakan sedikit aib orang lain, tentang bergunjing sejenak di sela kesibukan. Sepantasnya kita tahu lakon itu sangat mungkin berimbas panjang. Menimbulkan kegetiran pada diri korban kata-kata gunjingan itu. Menjadi penyebab orang memusuhi korban gunjingan itu, tanpa ia bisa membela diri sama sekali. Tanpa ia tahu apa-apa.

Kita kadang menganggap ringan perilaku ketidakpedulian. Mudah saja bagi kita membiarkan tetangga miskin tanpa pernah menjenguknya, membiarkan pembantu rumah tangga memakan lauk ala kadarnya yang berbeda dengan kita, membiarkan bahkan ibu kita sendiri bekerja lebih keras dari semua anak-anaknya, membiarkan ayah kita limbung karena tekanan ekonomi, sementara kita merasa masih banyak kebutuhan sendiri yang harus kita capai. Nestapa mereka, sebenarnya buah ketidakpedulian kita.
Kini, tutuplah pintu pemaafan yang tidak, sepatutnya bagi keteledoran dan ketidakpedulian. Sudah cukup orang lain menjadi korban.

Atas Nama “Bukan Kita Pencetus Utama Rangkaian Bencana”

Kita hidup dalam kapal raksasa bernama lingkungan sosial. Setiap orang di dalam kapal besar itu, membawa pula perahu kecilnya masing-masing. Membawa impian, harapan, suka-cita, perjuangan sendiri-sendiri. Namun dalam proses perjalanan masing-masing orang itu, tetap saja ada hubungan timbal-balik satu sama lain. Tetap saja dampak sikap dan perilaku orang lain terhadapnya akan mempengaruhi laju perahunya. Pada akhirnya, mempengaruhi pula kapal raksasa lingkungan sosial itu. Semua berkait berkelindan, terus bergulir.

Sebenarnya, ada di mana kita dalam wadah itu?

Sungguh celaka bila kita justru kerap memainkan peran konyol yang kita pilih sendiri: terlibat dalam rangkaian panjang penyebab kegetiran bagi perahu kehidupan orang lain. Terlibat dalam kepedihan yang melanda kapal lingkungan sosial kita. Lebih celaka lagi, bila dalam kondisi yang demikian, kita masih menghibur diri, bahwa bukan kita pencetus utama kegetiran. Bahwa kita hanya pion. Hanya bidak catur.

Seperti kumpulan petugas tramtib yang menghancurkan rumah pendudukdi bilangan Kebun Pala, Kampung Melayu, Jakarta Timur, beberapa waktu lalu. Seratus delapan puluhan kepala keluarga cuma bisa termangu, menyaksikan rumahnya diberangus buldoser. Kanak-kanak terisak. Musholla satu-satunya di lingkungan itu, ikut rubuh bersama rubuhnya rumah seorang nenek di sampingnya. Pandan-gan nanar sang nenek, lebih dari cukup untuk menyiratkan hatinya yang pedih. Perahu kehidupannya retak sudah. Kapal bersama, lingkungan sosial yang sudah terbentuk berpuluh tahun lalu, porak poranda sudah.

Kepedihan terus berlanjut. Orang-orang yang tergusur itu tak tahu lagi harus tinggal di mana, tak tahu lagi bagaimana menjaga kesehatan anak-anaknya yang terpaksa tidur di alam terbuka, tak tahu lagi tentang banyak hal.

Petugas tramtib itu hanyalah alat, demikian kurang lebihnya “pembenar” perilaku mereka. Apa yang mereka lakukan hanyalah menjalankan tugas yang tidak dapat dielakkan. Bahwa di lapangan, ternyata uang ganti rugi korban penggusuran masih simpang-siur. Ternyata warga hanya menerima separuh uang dari yang semestinya dibayarkan, bahkan uang itu masih disunat pula, boleh jadi tak terdengar.

Meski demikian, tidakkah semestinya mereka mencoba mendengar? Tidakkah sepatutnya mereka mencoba mencari tahu lebih banyak lagi? Cukupkah kalimat pembenar, bahwa mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, sudah di luar kewajiban? Cukupkah pertanyaan, justru kalau tidak ada petugas seperti itu, bagaimana peraturan bisa dijalankan? Tanpa didalami, bahwa di lapangan warga yang digebah punya kisahnya sendiri.

Warga di bilangan Kebun Pala itu, misalnya, ternyata tengah menunggu banding perkara mereka di pengadilan. Korupsi dalam kasus ganti rugi penggusuran itu masih terus diselidiki pengadilan. Dalam kondisi demikian, tentu tidak sepatutnya penggusuran dilakukan.

Kita tidak sedang berbicara tentang penghakiman pada petugas tramtib atau petugas lainnya yang kerap menjadi kepanjangan tangan orang-orang di atasnya. Namun, lebih jauh dari itu, kita tengah berbicara pada diri kita sendiri, tentang layakkah kita membiarkan diri menjadi pion, yang tak tahu apa-apa, dan boleh jadi, memang tidak mau tahu. Terus-menerus berada dalam kumparan yang sedemikian, lama kelamaan dapat menjerat kita. Menjadikan kita makin tidak peka. Makin mudah memaafkan, bahwa bukan kita lah pencetus utama duka berkepanjangan bagi orang lain. Bahwa kita hanyalah bidak catur.

Padahal kita hidup dikaruniai akal, nalar dan kemampuan untuk mengolah rasa kebaikan. Sudah sepatutnya kita tidak membiarkan diri hanya menjadi pion orang-orang yang tidak bertanggung jawab, dalam kapasitas apa pun. Sudah sepantasnya kita tidak lagi mengusung kalimat pembenar, “bukan kita pencetus utama kepedihan itu, kita hanya setetes luka di tengah genangan kepedihan yang ditimpakan bagi orang lain.” Karena sekecil apa pun peran kita nampaknya, kegetiran yang melanda orang lain, sepatutnya tidak melibatkan tangan kita. Pada mulanya memang hanya sepercik nyala api, namun dari percikan-perci-kan itulah terjadi kebakaran besar.

Atas Nama “Bukan Kita Satu-Satunya yang Melanggar Norma Kepatutan”

Ada kalanya, dalam kondisi tertentu, orang melampaui sangat jauh kepatutannya sebagai manusia. Ada kalanya pula, sehabis melakonkan semua itu, orang berujar ringan, manusia lain juga melakukan hal yang sama. Dan mereka baik-baik saja. Masih bisa tersenyum. Masih bisa melanjutkan hidupnya. Seperti tidak terjadi apa-apa.

Bagaimana memetakan hilangnya kepatutan seorang anak dari ayahnya, dalam kisah nyata berikut. Seorang laki-laki dewasa, beberapa waktu lalu, sengaja meninggalkan ayahnya yang renta dan sakit parah di kolong jalan tol Jakarta Timur. Berita itu dimuat di koran-koran. Mulanya, sang ayah, yang berjalan pun sudah amat sulit, dibawa anaknya ke rumah kakak-kakaknya. Entah apa yang merasuki, mereka menolak merawat ayahnya sendiri. Tak ada pilihan. Laki-laki itu harus membawa sang ayah pergi. Setelah hari makin malam, ia mengaku merasa kebingungan dan lelah, lantas ia letakkan ayahnya teronggok di kolong jembatan tol. Seusai itu, ia melenggang pergi. Mengerikan.

Esok paginya, ayahnya ditemukan sudah tewas dengan posisi tertelungkup di tempat yang sama pada malam ia ditinggalkan. Entah, bagaimana malam yang ia lalui. Entah, seperti apa pedih dan getir yang mengoyak hatinya, sewaktu anaknya melangkah meninggalkannya. Sakit parah. Sendirian.

Ketika digelandang polisi, sang anak, laki-laki dewasa itu, berbicara tentang sikap kakak-kakaknya yang “membawa” dirinya untuk meninggalkan ayahnya begitu saja. la bertutur bahwa kakak-kakaknya saja tidak peduli, jadi mengapa harus dirinya yang menanggung beban sakitnya sang ayah. Mengapa harus dirinya yang merawat sang ayah, la bergetar menahan tangis. la mengaku tidak menyangka sang ayah akan tewas. Namun atas nama “saya bukan satu-satunya yang melanggar kepatutan”, kisah tragis itu terjadi sudah.

Memperlakukan orang tua kita dengan cara seperti itu, tentu tidak terbayangkan. Tetapi, ada kalanya kita pun tak mau tahu pada keniscayaan kepatutan dalam lingkup-lingkup yang lain. Ada kalanya, kita begitu saja melupakan cinta orang-orang yang berjasa dalam roda kehidupan kita. Di dalam roda itu, ada sejuta peristiwa bahagia, berharga, dan tonggak keberhasilan kita. Di dalam semua itu, ada guru kita yang amat peduli. Kini, masihkah kita tergerak untuk mengetahui kondisi mereka? Masihkah kita tersadar, untuk mencari tahu, apakah mereka baik-baik saja?

Dalam roda perjalanan kita itu, ada orang tua kita. Ada di mana mereka dalam hati dan sikap kasih sayang kita? Bahkan, membawa cucu yang amat mereka rindui untuk menjenguk kakek dan neneknya saja, barangkali amat jarang kita lakukan. Sebaliknya, ada kalanya kita justru membiarkan saja kesunyian mereka.

Dalam roda perjalanan kita, ada suami, istri, anak-anak, sahabat, kerabat dan lain-lainnya. Masihkah kita teringat untuk memperhatikan mereka secara sepatutnya? Masihkah kita memberikan kasih sayang yang sepatutnya pada mereka?

Kita mungkin berdalih, bahwa penyimpangan kepatutan yang kita lakukan itu, masih dalam batasan “wajar”. Apalagi orang-orang lain juga melakukan hal yang sama. Namun dalam hati kita sendiri, kita pun tahu, ada hak orang lain yang kita abaikan. Atas nama kesibukan, kita tidak punya tempat lagi untuk memahami bahasa kepedihan orang-orang yang merindukan kasih sayang kita itu. Kita tidak punya ruang untuk mengerti getirnya kerinduan yang tak terjawab.

Janganlah sampai kita terlambat untuk membuka mata, bahwa kita sudah berada di luar kepatutan kemanusiaan kita, sesederhana apa pun nampaknya. Pada siapa pun orangnya. Kita tentu tidak mengharapkan, suatu hari kita baru tergeragap, tapi yang ada cuma sesal. Di depan kita, orang-orang itu sudah terlanjur terluka. Di depan kita, orang-orang itu satu persatu sudah “pergi”, tanpa kita pernah menjawab rindu mereka secara semestinya.

Sumber: Majalah Tarbawi Edisi 125 Th. 7/Muharram 1427 H/2 Februari 2006 M

Dipublikasi ulang oleh Admin DPD PKS Sidoarjo

Konten lainnya: