W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Kadar yang Sepantasnya

Segala sesuatu ada kadarnya. Begitupun dalam mengisi kantong kegembiraan. Agama kita menyuruh kita bergembira, tetapi bergembira tidak boleh berubah menjadi agama kita. Kita tidak boleh menjadi orang yang ideologinya sekadar bersenang-senang dan berhura-hura.

Kegembiraan yang berlebihan akan melenakan. Dan itu sudah keluar dari fungsi utamanya. Bagi seorang mukmin, kegembiraan yang diambil dari kantong-kantong apapun harus merupakan bagian yang selaras dengan cita-cita kemukminannya. Maka tangis dan tawa haruslah hiasan keimanan. Ia mesti selalu sadar, bahwa hidup ini tidak boleh berakhir di sini, di kefanaan dunia ini. Ia boleh mati secara fisik di sini, tapi perjalanan belum selesai.

Imam Ahmad, suatu hari ditanya muridnya, kapan ia akan istirahat. “Bila kaki telah menginjak surga, saat itulah istirahat kita,” begitu jawabnya.

Kegembiraan memang harus merupakan bagian tak terpisahkan dari cara kita membina diri, menguatkan kehendak, dan mengejar cita-cita kemuliaan sebagai seorang mukmin. Dan, puncak kemuliaan itu secara batin adalah ridha Allah, dan secara fisik adalah masuk surga.

Kadar-kadar kegembiraan yang kita maksud di atas, kadang tak bisa dihindari, terpengaruh oleh selera yang sangat life style sifat-nya. Sebab setiap orang punya ketersediaan sarana, kebiasaan, lingkungan keluarga, tradisi pertumbuhan, yang berbeda-beda. Di sini, seorang mukmin dituntut berhati-hati. Tidak ada ruang bagi yang haram dalam pembicaraan ini. Tetapi selera-selera dan gaya hidup yang halal dari keseluruhan life style dimaksud, harus tetap mempertimbangkan sisi lain dari moralitas kegembiraan: moralitas fungsi.

Maksudnya adalah, dalam mengambil kegembiraan, seorang mukmin tak selalu harus menuruti tradisi pribadi dan habibat kulturalnya. Sekali lagi, tidak harus selalu. Ia justru harus belajar menghargai, bahwa bagaimanapun, fungsi kegembiraan lebih penting dari performa dan selera kegembiraan itu sendiri, meski keduanya sama-sama penting. Sebabnya, tidak saja supaya kegembiraan itu tak melampaui batasnya, tapi juga agar kita sadar, bahwa kegembiraan yang kita ambil sepanjang di dunia ini, bukanlah tujuan utama.

Kadar paling tinggi dari seorang mukmin dalam menikmati sebuah kegembiraan, bila dalam bentuk performa fisik, adalah menyela-raskan dengan kesukaan Allah akan keindahan. “Allah itu indah dan menyukai keindahan.” Dengan demikian, hatinya tak boleh dikuasai mitos-mitos life style itu. Tidak boleh juga ada penghambur-hamburan dan kemubadziran di sana.

Lidahnya mungkin punya selera kegembiraan tertentu terhadapan makanan. Matanya mungkin punya selera kegembiraan tertentu terhadap pemandangan. Kulit tubuhnya mungkin punya selera kegembiraan tertentu terhadap cuaca dan pakaian. Tapi sekali lagi, batas maksimumnya secara performa adalah keindahan, tapi batas maksimumnya secara hukum adalah kehalalan. Dan, yang mempertemukan antara keduanya adalah fungsi.

Kita tidak boleh menjadi seorang mukmin yang kecanduan kegembiraan. Sebagaimana kita tidak boleh juga bergantung pada kegembiraan yang selalu berbiaya tinggi. Kegembiraan dalam bentuk performa fisik juga tidak boleh mengalahkan kegembiraan dalam bentuk performa batin.

Rasul sendiri, bila sedang gundah, segera menyuruh Bilal untuk adzan, “Istirahatkan kita wahai Bilal.” Dengan shalat itulah Rasulullah mengistirahatkan kepenatannya, lalu mengisi ulang semangat dan kekuatannya.

Kita memang harus terus berlatih. Bahkan untuk sekadar soal mengelola kegembiraan ini. Agar kita mengerti, seberapa kadar yang harus kita perlukan dari mengambil kegembiraan dan mengisi ulang kantong-kantongnya. Dan, agar kegembiraan itu tak berubah menjadi pintu pertama penelanjangan kepribadian kita sebagai seorang muslim.

Sumber: Majalah Tarbawi Edisi 76 Th. 5/Dz’ulhijjah 1424 H/23 Januari 2004 M

Dipublikasi ulang oleh Admin DPD PKS Sidoarjo

Konten lainnya: