W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Kemerdekaan dan Guncangan

Oleh Fikri Yatir

Manakah yang lebih bagus: stabilitas atau dinamika; kesetimbangan atau ketimpangan; ekuilibrium atau dis-ekuilibrium?

Para politisi memilih yang pertama, para ilmuwan mutakhir mengambil yang kedua.

Menurut Hukum Thennodinamika Kedua, semua sistem bergerak ke arah entropi. Makin banyak entropi, makin sulit sistem berubah. Seperti sebuah mesin, makin lama ia bekerja, makin banyak energi yang dikeluarkan, makin aus komponen-komponennya, dan akhirnya hancur. Mobil apa saja, baik BMW maupun Timor, akan berkurang kinerjanya lantaran waktu. Akhirnya, mobil itu mogok, tidak bergerak, tidak berubah. Walhasil, sampai pada titik ekuilibrium. Dalam fisika, ekuilibrium adalah keadaan sistem ketika resultante, semua tenaga yang mempengaruhinya sama dengan nol.

Bila alam semesta ini sebuah mesin raksasa, ia akan mengalami nasib seperti mobil. Ia akan menjadi seonggok besi tua: stabil dan setimbang. Tak ada apa pun yang dapat mengubahnya. Ia mati. Setelah ribuan tahun, tak perlu sampai jutaan tahun, alam semesta akan berhenti pada satu keadaan, yang disebut Peter Coveney dan Roger Highfield sebagai “saat ketika entropi dan keacakan mencapai tingkat paling tinggi, saat semua kehidupan berakhir“.

Anehnya, alam semesta yang kita huni tidak menjadi barang rongsokan. Alih-alih kehancuran, setiap saat kehidupan baru lahir. Kenyataan menolak Hukum Thermodinamika Kedua. Hukum fisika ini membingungkan para ilmuwan yang menyaksikan proses evolusi yang menggerakkan semua menuju kesempurnaan. Para mufasir ilmiah ala Bucaille sulit mencocokkan “ayat kawniyah” ini dengan “ayat Qur’aniyah” yang mengatakan, “Yang menciptakan dan menyempurnakan.”

Anehnya, walaupun Hukum Thennodinamika Kedua ditolak dalam tingkat makroskopis, kita masih berpiktr dalam kerangka ini pada tingkat mikroskopis. Kita menganggap masyarakat akan berakhir dalam kehancuran, waktu akan menggiring kita pada kematian, negera ini akan jatuh dalam kebinasaan. Mungkin karena kita menengok tubuh kita: lahir, tumbuh, dewasa, menua, dan mati.

Tapi, sekiranya kita mengamati lebih jeli, kita akan melihat kelahiran baru dalam tubuh kita setiap saat. Menurut fisikawan Deepak Chopra, setiap satu bulan kita berganti kulit (lebih cepat dari ular), liver kita berganti setiap enam minggu. Dan otak kita, dengan seluruh sel yang menyimpan pengetahuan, mengganti kandungan karbon, nitrogen, dan oksigen setiap dua belas tahun. Setiap hari, ketika menarik dan mengeluarkan napas, kita mengeluarkan sel-sel kita dan memasukkan unsur-unsur dari organisme yang lain untuk menciptakan sel-sel baru.

Kita semua,” kata Chopra, “lebih mirip sungai yang terus mengalir ketimbang sesuatu yang beku dalam ruang dan waktu.

Walhasil, Hukum Thermodinamika Kedua hanya berlaku pada sistem tertutup. Alam semesta dan tubuh kita adalah sistem terbuka. Setiap saat, kita berinteraksi dengan lingkungan kita. Untuk sistem terbuka berlaku hukum yang dirumuskan Ilya Prigogyne, pemenang hadiah Nobel itu. Untuk memahami teori ini, ilmuwan harus meninggalkan perspektif Kehancuran dan menggantinya dengan perspektif pertumbuhan. Setiap saat, sistem mengeluarkan energi untuk menciptakan struktur yang baru. Prigogyne menyebutnya dissipative structure.

Sistem akan berkembang ke arah yang lebih baik bila ia digoncangkan oleh perubahan. Ia naik ke arah struktur yang lebih canggih bila ia dihadapkan pada gejolak (disturbances). Sebelum mencapai keteraturan yang baru, sistem harus mengalami ketidakteraturan. Alam semesta adalah sebuah sistem yang terus memperbaharui dirinya, self renewing system. Dengan apa? Dengan guncangan, kemelut ketidakteraturan, kekacauan, topan dan badai.

Mendidihkan air membawa molekul air pada struktur yang lebih menakjubkan, sebagaimana topan mengubah struktur udara menjadi lebih relevan dengan lingkungan. Masa pubertas adalah masa topan dan badai yang mengantar jiwa anak ke arah kedewasaan. Otak Anda menjadi lebih cerdas bila berulangkali dihadapkan pada guncangan pemikiran. Para sufi bercerita tentang derita yang harus diaiami sebelum mencapai maqam yang lebih tinggi. Organisasi atau perusahaan akan mengembangkan struktur yang lebih produktif setelah melewati kemelut. Kumpulan berbagai suku bangsa membentuk struktur negara kesatuan Indonesia setelah diguncangkan oleh revolusi.

Dalam berbagai situasi ini, yang membantu proses pertumbuhan bukan lagi kesetimbangan, tapi ketimpangan; bukan lagi ekuilibrium, tapi dis-ekuilibrium. Ekuilibrium bersifat temporer, dis-ekuilibrium abadi. Ekuilibrium adalah kematian, sedangkan dis-ekuilibrium adalah kehidupan. Jadi, mengapa kita harus membenci guncangan atau ketakseimbangan?

Guncangkan otak Anda untuk meningkatkan kecerdasan, timbulkan gejolak dalam hati Anda supaya mendekati kesucian, hadapi kemelut dalam organisasi supaya ada perkembangan, lihat kerusuhan sebagai wahana kemajuan. Dalam Thermodinamika klasik, ekuilibrium adalah rongsokan besi tua dari sistem yang tertutup. Dalam dissipative structure, ekuilibrium adalah kesementaraan yang harus diguncangkan dalam sistem terbuka.

Ketenangan bayi dalam susuan ibunya harus diguncangkan dengan sapihan, supaya ia dapat menikmati beragam makanan dan minuman yang lebih enak.

Rumi berkata, “Ketika manusia masih berupa janin, darah adalah makanannya; ketika ia dilepaskan dari darah, susu menjadi makanannya; setelah disapih dari susu, ia mampu makan yang keras. Kehidupan kita bergantung pada sapihan.

Setelah disapih Belanda, kita menikmati kemerdekaan. Carilah sapihan baru, supaya kita mengembangkan kemerdekaan. Tapi, apa pun sapihan yang kita pilih, kita harus menanggung keguncangan. Kita harus meninggalkan ketenangan bayi dan menggantinya dengan gejolak remaja.

Sumber: Majalah UMMAT No. 6 Thn. III 25 Agustus 1997/21 Rabiul Akhlr 1418 H

Dipublikasi ulang oleh Admin DPD PKS Sidoarjo

Konten lainnya: