W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Ketaatan yang Tidak Tergantung Musim

Ketaatan yang Tidak Tergantung Musim

Musim penghujan. Pasti berbeda dengan musim dingin. Di negeri ini, kita hanya memiliki dua musim, panas dan hujan. Tidak ada musim dingin yang identik dengan musim salju atau suasana yang bisa menjadikan beku. Tapi ada kesamaan antara musim penghujan dengan musim dingin. Setidaknya, di kedua musim itu udara menjadi lebih sejuk dibanding musim lainnya. Untuk musim hujan, cuaca sejuk, dingin dan curah hujan yang meningkat, membuat sebagian orang sebenarnya cenderung menikmati waktu dengan mengurangi kegiatan.

Alhamdulillah alaa kulli haal. Segala puji bagi Allah atas segala sesuatu.

Saudaraku.
Tahukah kita, bila ternyata bagi para shalihin, musim di mana cuaca lebih dingin dan sejuk itu adalah musim mereka menunaikan amal-amal ibadah yang lebih banyak?

Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari Abu Sa’id Al Khudri yang menyebutkan sabda Rasulullah saw, “Musim dingin itu, penyejuk hati orang beriman.” Imam Al Baihaqi bahkan meriwayatkan kebiasaan Rasulullah saw yang “Memanjangkan malam dengan shalat dan memendekkan siang dengan puasa.”

Kenapa musim saat cuacanya lebih dingin bisa menjadi penyejuk bagi orang beriman? Jawabannya adalah karena musim cuaca seperti itu seorang mukmin lebih banyak mendapat kemudahan dalam melakukan ketaatan.

Di musim dingin, seorang mukmin lebih mampu berpuasa di siang hari tanpa kesulitan sebagaimana di musim panas. Ia tidak mengalami haus dan lapar seperti di musim panas,” demikian tulis Ibnu Rajab. Karena itulah, Rasulullah saw juga mengatakan, “Puasa di musim dingin adalah harta ghanimah yang dingin.” (HR. Ahmad)

Saudaraku.
Suasana dingin sebenarnya bisa memberi belenggu sendiri yang memberatkan untuk beribadah. Lebih lekat ke tempat tidur karena cuaca dingin membuat orang ingin mendapat kehangatan. Dan ternyata, justru menyempurnakan wudhu dalam suasana sangat dingin, termasuk amal yang afdhal karena harus dilakukan dengan pengorbanan.

Para sahabat dan orang-orang shalih, sangat gemar dengan datangnya musim penghujan dan musim dingin. Begitulah, mereka lebih banyak berpuasa dan melakukan shalat malam, menyempurnakan wudhu dengan membasahi bagian tubuh yang sebenarnya tak ingin disapu oleh air karena dingin. Mereka bahkan juga lebih banyak melakukan amal sosial di musim seperti ini. Ada di antara mereka yang bersedekah dengan pakaian mereka di musim dingin untuk keperluan para fakir dan miskin. Ada juga yang membantu orang lain mendapatkan kehangatan atau agar terhindar dampak cuaca yang bisa memunculkan bahaya.

Lihatlah cuplikan perkataan dan sikap mereka yang ditulis dalam kitab-kitab sejarah. Ibnu Mas’ud mengatakan, “Selamat datang musim dingin. Musim yang menurunkan barakah. Menjadi panjang waktu malam untuk shalat. Menjadi pendek waktu siang untuk berpuasa.”

Sedangkan Mu’adz ra menangis menjelang kematiannya. Ia lalu mengatakan, “Saya menangis bukan karena rasa h’aus di siang terik, shalat malam di musim dingin, dan berhimpitan dengan para ulama saat berada di halaqah-halaqah dzikir.” Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Sebaik-baik musim bagi seorang mukmin ialah musim dingin. Malamnya menjadi lebih panjang untuk shalatnya. Dan siangnya menjadi pendek untuk puasanya.”

Saudaraku.
Musim apapun yang kita lewati, kondisi apapun yang kita alami saat musim itu bergulir, semuanya ada dalam kuasa Allah SWT. Dan di setiap perubahan musim ilu, tetap saja ada alasan yang bisa kita jadikan kendala untuk melakukan amal-amal taat. Perubahan musim seperti inipun, sebenarnya juga tak menjamin orang lebih giat. Karenanya, bagi orang-orang shalih, mereka justru memandang suasana berat melakukan ketaatan sebagai kesempatan mendapat balasan yang Itblh besar dari Allah SWT jika tetap dilakukan. Mereka justru terdorong untuk lebih banyak melakukan ketaatan di dalam suasana yang memberatkan.

Umar ra mengatakan bahwa menyempurnakan wudhu dengan lebih banyak membasuh area tubuh yang tidak ingin basah di musim dingin adalah termasuk bukti keimanan yang tinggi.

Ibnu Sa’d ra berwasiat kepada anaknya, “Wahai anakku, peliharalah ciri-ciri keimanan.” Anaknya bertanya, “Apa itu clrl-ciri keimanan?” Ia mengatakan, “Puasa di hari yang panas di musim panas, membunuh musuh yang menyerang dengan pedang, sabar atas musibah, membasuh bagian tubuh yang tak disukai terkena air dalam berwudhu di musim dingin, mempercepat shalat di hari mendung, dan meninggalkan minum khamar.

Ibnu Sam’ani meriwayatkan tentang Daud bin Rasyid yang bercerita, “Ada seseorang bangun di malam yang dingin untuk mengambil wudhu dan shalat. Ia menyentuh air yang dingin lalu menangis.” Lalu ia mendengar suara yang mengatakan, “Tidakkah engkau rela, jika kami membiarkan mereka tidur pulas sedangkan kamu aku bangunkan dari tidur?”

Saudaraku.
Amal-amal shalih dan ketaatan memang tidak boleh bergantung kepada musim. Namun mengoptimalkan musim-musim tertentu yang lebih ringan untuk menunaikan ketaatan, itu sangat lebih baik.

Saudaraku.
Mari kita jalani musim-musim yang tak mengganggu ketaatan kita. Mari kita tingkatkan amal shalih lebih banyak lagi, di musim-musim yang memberi kemudahan kita melakukannya.

Sumber: Tarbawi Edisi 148 Th. 8/Muharram 1428 H/1 Februari 2007 M

Dipublikasi ulang oleh Admin DPD PKS Sidoarjo

Tulisan Lainnya: