W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Ketika Keburukan Berbalas Kebaikan

Oleh Muhammad Nuh

Hidup memang tak lepas dari saling memberi. Karena disitulah nilai hidup kian bertambah. Tapi, kata saling kadang tak selamanya berlangsung langgeng. Adakalanya kemestian memberi, justru terlahir ketika seteiah habis-habisan diminta.

Ungkapan di atas tidak melulu tertuju pada sebuah pengorbanan seorang hamba Allah dalam bentuk partisipasi sebuah perjuangan. Karena setiap hamba Allah yang takwa sulit memisahkan diri dari pengorbanan dan perjuangan. Bahkan, pengorbanan seperfi itu sudah menjadi identitas diri seorang mujahid.

Ada dunia lain yang sebenarnya akrab dalam kehidupan sehari-hari yang juga butuh pengorbanan. Cuma kadang, tak banyak orang yang menyadari bahwa itulah latihan dasar yang mesti ditempuh. Seperti itulah ketika kebencian terhadap seseorang justru berbalas pemberian.

Seorang ulama Mesir seperti Yusuf Al-Qardhawi mengumpamakan sifat itu dengan pohon buah. Walau dilempar banyak batu, pohon justru membalasnya dengan buah yang matang dan lezat. Seolah pohon itu mengatakan, “Biarlah kalian menyakiti saya, tetap akan saya balas dengan kebaikan.”

Begitulah suasana ketika pasukan Islam pimpinan Rasulullah saw. berhasil menaklukkan Kota Makkah tanpa perlawanan yang berarti. Saat itu, gundah dan gelisah menyelimuti para pembesar Makkah, Mau lari, mereka tak mampu. Berdiam diri sama dengan menyerahkan mati.

Terbayanglah apa yang telah mereka perbuat terhadap Rasulullah saw dan para sahabat beberapa tahun lalu. Terbayang bagaimana ketika mereka meletakkan kotoran dan isi perut unta di badan Rasulullah ketika beliau saw. shalat di Ka’bah. Terbayang ketika mereka mengisolasi umat Islam di bukit Si’ib selama tiga tahun. Terbayang ketika mereka menyiksa budak-budak muslim seperti Bilal, keluarga Yasir dan lainnya. Hingga, merenggut nyawa dua orang tua Amr yang sudah sangat tua.

Terbayang pula, bagaimana bernafsunya mereka mengepung rumah Rasul dengan satu target: bunuh. Tentu saja, bayang-bayang ketika mereka mengobarkan perang terhadap Rasulullah dan umat Islam di Madinah. Dan bagaimana sadisnya mereka membantai umat Islam, baik dalam perang maupun damai.

Kini, ketika lari tak lagi jadi pilihan tepat, kepastian hukuman mati tinggal nunggu waktu. Tak sesuatu pun yang bisa diperbuat, kecuali pasrah.

Mungkin, tak pernah terpikir oleh mereka, kalau semua berujung pada pengampunan. Bahkan, sebuah penghormatan. Khususnya buat seorang tokoh Makkah seperti Abu Sufyan. Dan ternyata, itulah yang akhirnya dibuktikan Rasulullah saw. Beliau saw. bukan sekadar me-maafkan, justru menghadiahkan peng-hormatan dan kemudahan. Subhanallahl

Semua orang mungkin terpesona dengan kenyataan sejarah seperti itu. Luar biasa! Tapi, teramat sulit menjadikannya sebagai teladan. Bahwa, kalau Anda benar-benar mencintai Rasulullah saw, teladanilah akhlaknya yang luar biasa itu. Buktikan itu dalam kehidupan sehari-hari.

Pembuktian itu memang teramat sulit. Karena, keburukan itu saja sudah menjadi sesuatu yang sangat dibenci. Siapa pun akan merasa benci bahkan marah ketika mendengar, melihat, atau menemukan seseorang menganiaya, menghina orang lain tanpa kesalahan yang jelas. Apalagi ketika keburukan itu menimpa diri kita sendiri. Dan reaksi yang pas menurut kita adalah pembalasan yang setimpal.

Mengolah reaksi marah dengan maaf saja sudah teramat sulit. Apalagi maaf juga diikuti dengan pemberian yang baik. Seperti hadiah dan sejenisnya. Sangat sulit. Dan Rasulullah saw melakukan semua itu justru di saat beliau saw berkuasa dan sangat mudah melakukan apa pun termasuk membalas dengan keburukan.

Mungkin saja seseorang mampu melepas maaf dan mengikuti maaf itu dengan hadiah. Tapi, itukah yang akan ia lakukan ketika kekuasaan sedang ia pegang. Langkah itukah yang akan ia ambil ketika apa pun bisa ia lakukan.

Tidak tertutup kemungkinan, ada beberapa hal yang dimiliki Rasulullah saw dan para sahabat yang saat ini tidak kita miliki. Dengan begitu, keteladanan itu bisa kita ambil walaupun bertahap.

Pertama, segala cacian, hinaan, perlakukan buruk yang diterima tak lain adalah ujian Allah SWT. Bukan semata-mata datang dari musuh. la boleh jadi sebagai alat tempa agar kedewasaan dan kematangan bisa tumbuh sempurna. Semakin banyak konflik, semakin tinggi nilai pelajaran. Jadi, ambillah isi, bukan kulit.

Kedua, segala kebaikan dan keburukan yang teralami mesti diterima dengan wadah hati yang ikhlas. Bersih. Segala keburukan yang teralami tak lain sebagai pembersih dosa-dosa yang pernah terlakoni. Hati yang bersih akan semakin terawat ketika segala keburukan yang teralami dihadapi dengan penuh sabar. Nikmat dan musibah berasal dari Allah SWT. Dan Allah jualah yang akan membalas syukur dan sabarnya seorang hamba.

Ketiga, dalam segala keburukan yang terhampar, sebenarnya di situlah pelajaran mengalir. Seseorang akan merasakan betapa sejuknya maaf ketika terus dihujani kebencian. Akan kian memahami pentingnya pembalasan yang baik ketika musuh terus mengumbar dendam. Di situlah terlihat sebuah perbedaan antara hati yang busuk dengan yang tersinari kekuatan iman.

Kekuatan imanlah yang akhirnya memberikan rute ketika hidup dipaksa menentukan berbagai pilihan. Memberi dan meminta memang tak sama. Sebagaimana berbedanya kebaikan dan keburukan. Balaslah permintaan dengan pemberian, dan keburukan dengan kebaikan.

Sumber: Saksi No. 14 Tahun VI 12 Mei 2004

Dipublikasi ulang oleh Admin DPD PKS Sidoarjo

Konten lainnya: