W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Lelaki yang Bersedekah dengan Kehormatan Dirinya

Ia tidak punya apa-apa. Ketika Rasulullah saw menganjurkan para sahabat dan kaum Muslimin agar bersedekah, Albah bin Zaid, nama lelaki Anshar itu, mendapati dirinya tak punya sesuatu untuk disedekahkan. Tentu saja maksudnya harta. Tiba-tiba ia melantunkan sebuah do’a. “Ya Allah, aku tidak punya harta yang bisa aku sedekahkan. Maka, siapa saja dari kaum Muslimin yang pernah menyakiti kehormatan diriku, maka itu aku sedekahkan untuk mereka.”

Esok harinya orang-orang datang menemui Rasulullah. Maslng-masing membawa apa yang bisa disedekahkan, bukan untuk Rasulullah tentu. Sebab Rasulullah tidak menerima sedekah. Tapi mereka ingin menunjukkan betapa mereka telah menyambut perintah Rasulullah dengan segera, dan memberikan sedekah kepada yang berhak menerimanya. Ketika orang-orang itu datang, Rasul bertanya kepada mereka, “Mana orang yang kemarin bersedekah dengan kehormatan dirinya?”

Albah berdiri, “Aku wahai Rasulullah.”

“Ketahuilah, sesungguhnya Allah telah menerima sedekahmu,” jelas Rasulullah.

Lelaki tak punya harta itu ternyata bisa melampaui kemandekan finansial yang bisa menghentikannya dari memberi manfaat bagi sesama. Ia tidak punya apa-apa. Tapi ia tidak diam. Ia melawan keterbatasan tidak dengan merapatinya. Tapi ia mengubah keterbatasan dengan menyiasatinya. Lebih dari itu, ia tidak saja menyiasati keterbatasan, tapi juga mencari alternatif Iain dalam bersedekah. Bahagianya lagi, sedekah itu telah benar-benar diterima oleh Allah SWT. ’Kwitansi’ penerimaannya disampaikan langsung oleh Rasul utusan-Nya.

Lelaki itu bisa saja berhenti. Beralasan bahwa ia tidak punya apa-apa, maka ia tidak perlu bersedekah. Tapi ia sadar, bahwa bersedekah, pada dasarnya memberi untuk diri sendiri meskipun secara lahir memberi untuk orang lain. Maka ia tetap berupaya. Ia cerdas. Dan karenanya tidak menyerah.

Di antara kita mungkin ada yang sedang tidak punya apa-apa. Tapi pasti banyak juga yang lebih dari sekadar punya apa-apa. Masih banyak yang punya banyak. Menjadi berpunya atau tidak berpunya adalah situasi hidup yang penuh dengan liku-likunya.

Tapi-seperti lelaki miskin itu-kita ternyata punya permasalahan lain yang lebih penting: melawan kemandekan. Kemandekan adalah musuh orang miskin. Tapi ia juga musuh orang kaya. Kemandekan adalah musuh orang bodoh. Tapi juga musuh orang pintar.

Betapa banyak di antara kita yang kini, setelah merenung sejenak, ternyata telah melalui jalan panjang kehidupan. Sudah berapa usia kita? Sudah berapa puluh tahun kita lulus sekolah atau kuliah? Sudah berapa tahun kita menekuni sebuah pekerjaan? Sudah berapa tahun kita membangun rumah tangga? Sudah berapa tahun kita membesarkan anak-anak? Sudah berapa tahun kita menghabiskan waktu untuk belajar mengeja ilmu? Tapi, apakah yang bertambah dalam diri kita? Apa yang mening-kat dari capaian hidup kita?

Kemandekan bisa terjadi karena capaian yang sangat baik. Lalu capaian itu melenakan. Tapi kemandekan bisa juga terjadi karena bencana, tidak selalu harus besar. Lalu bencana itu mematikan semangat dan mengubur gairah. Yang paling buruk, adalah kemandekan yang terjadi tanpa pemicu luar apa-apa. Lebih karena mentalitas buruk manusianya.

Penyakit kemandekan menyerang dua hal utama dalam diri kita: eksistensi diri dan ekspansi aksi. Eksistensi diri terkait dengan iman, ilmu, penghayatan akan hidup, kearifan menjalani peran, dan juga kapasitas diri dalam berbagai bidang. Adapun ekspansi aksi, adalah terkait dengan amal, karya, kontribusi bagi sesama, dan apa yang bisa kita lakukan untuk mengisi kehidupan ini.

Eksistensi diri dan ekspansi aksi. Dua hal inilah orbit hidup kita. Eksistensi diri bertumbuh secara vertikal. Sedang ekspansi aksi berkembang secara horisontal. Maka bagaimana bila sampai terjadi kemandekan dalam diri kita? Dalam proses penumbuhan eksistensi diri dan pengembangan area amal dan aksi kita?

Agar eksistensi diri tidak mengalami kemandekan, kita memerlukan segala proses, upaya, dan gerak, yang menambahkan pada jati diri kita kekuatannya, karakternya, daya tahannya, kemampuannya, dan tentu saja kearifannya. Iman harus terus ditingkatkan, tidak boleh mandek. Sebab dengan kadar iman itu, kita akan diberi bobot oleh Allah. Ilmu harus ditambah, sebab ilmu bukan apa yang ada di dalam buku, tapi apa yang telah kita pindahkan dari buku ke akal dan perilaku kita. Itu sebabnya, jika Allah hendak menjadikan baik seseorang, maka dijadikan ia mengerti (faqih) dalam soal agamanya. Tapi untuk mengerti itu sendiri kita harus terus belajar. Seperti kata Zaid bin Rafi’, “Bumi tidak akan pernah kekenyangan karena hujan, dan penuntut ilmu sejati tidak akan pernah merasa kenyang dari mencari ilmu.

Adapun soal ekspansi aksi, di wilayah ini kemandekan juga punya tabiatnya sendiri. Di wilayah ini, ruang lingkupnya adalah tugas yang telah dibebankan Allah kepada kita sebagai manusia. Manusia diciptakan sebagai khalifah di muka bumi, untuk beribadah, memakmurkan bumi, dan menebarkan rahmat bagi sekalian alam.

Seluruh pembebanan (taklif)yang ditetapkan Allah kepada manusia bersifat bergerak dan deklaratif. Tidak mandek.

Shalat misalnya, selain ada niat, harus ada takbiratulihram. Ada gerak, ada bacaan yang dilafazkan. Dalam soal ibadah, kita tidak pernah merasa cukup. Dan secara hukum, ibadah wajib tidak berhenti sebelum manusia itu meninggal. Bila hanya sakit, yang berlaku adalah keringanan.

Sementara, tugas sebagai khalifah untuk memakmurkan bumi, adalah proses panjang antara memanfaatkan kekayaan bumi dan memerangi para perusak bumi. Ini kerja yang sekali saja mandeg maka bencana akan terjadi di mana-mana. Karenanya, perintah untuk terus kembali dan beribadah mentaati Allah, oleh Allah dibahasakan dengan ’berlari’. Di dalam Al-Qur’an Allah menjelaskan, “Maka berlarilah dengan segera menuju Allah (mentaati-Nya) Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.” (QS. Adzariyat: 50)

Eksistensi diri dan ekspansi aksi. Dua hal inilah orbit hidup kita. Kemandekan adalah musuh keduanya. Antara dua hal ini selalu saling kait mengait. Maka hampir selalu kita dapati, orang yang berjiwa lemah, berkepribadian buruk, akan banyak membuat kerusakan bagi lingkungannya. Paling banter, mereka tidak merusak tetapi juga tidak memberi manfaat apa-apa. Itu sudah cukup menjadi beban kehidupan. Semakin tinggi eksistensi diri kita, akan semakin kokoh kepribadian kita. Pada saat yang sama, semakin luas aksi kita, semakin banyak manfaat yang bisa kita berikan untuk kehidupan ini.

Kemandekan adalah bencana. Seperti air yang menggenang dan mengundang penyakit, hidup di kubangan kemandekan akan merusak jiwa, mengeruhkan pikiran, dan menguras deposit kesehatan. Kemandekan terberat akan dialami manusia ketika hal itu terkait dengan diri sendiri. Teman karib kemandekan untuk berkarya bagi diri sendiri adalah rasa malas dan cepat puas. Sedang teman karib kemandekan untuk berkarya bagi orang lain adalah kikir dan sombong.

Kita berhenti memberi untuk orang lain, biasanya karena untuk diri sendiri kita tidak pernah merasa cukup. Maka berapapun yang kita punya, tak pernah mengalir kepada orang lain. Sebaliknya, biasanya kita berhenti ’memberi’ untuk diri sendiri karena kita ’sudah merasa cukup’. Istilah cukup untuk diri sendiri, dalam hal ini adalah prinsip yang salah. Maka betapapun terbatasnya keampuan kita, ilmu kita, kita tidak pernah mau meningkatkan diri. Cukup untuk diri sendiri, pada kenyataannya seringkali artinya tidak mau bergerak maju, tidak mau menambah ilmu, tidak mau meningkatkan kualitas diri, dan tidak mau terus berkarya. Semua ini adalah sebenar-benar kemandekan.

Waktu terus berlalu. Tidak ada yang bisa menghentikan kehidupan ini untuk terus berjalan. Kecuali bila bumi dan langit telah dilipat. Seperti Albah bin Zaid. Lelaki itu. Ia miskin. Mungkin banyak di antara kita yang juga miskin. Tapi ia telah gemilang melawan kemandekan finansialnya. Tapi, sebagaimana memberi tidak harus dengan harta, begitu pula kikir bisa saja bukan karena harta. Di dalam penguatan iman ada godaan kemandekan. Dalam pencarian ilmu ada ancaman kemandekan. Dalam pemeranan tugas hidup ada tantangan kemandekan.

Kemandekan, seju-jurnya adalah musuh semua orang. Tidak mudah mengalahkannya. Tapi lebih tidak mudah lagi, bila ternyata selama ini kita tak pernah sadar, bahwa sebenarnya kita tengah mengalami kemandekan, dalam soal apa saja.

Sumber: Majalah Tarbawi edisi 150 Th. 8/Safar 1428 H/1 Maret 2007 M

Dipublikasi ulang oleh Admin DPD PKS Sidoarjo

Konten lainnya: