W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Lelaki yang Tak Pernah Mencaci Keledai

Lelaki itu heran. Dilihatnya orang-orang berbincang tentang banyak hal. Tetapi selalu saja sumber perbincangannya berasal dari sesosok orang khusus.

Abu Juray, lelaki yang heran itu terus mencari tahu. Siapa gerangan sosok khusus itu. Tak ada pembicaraan orang, kecuali bersumber dari sosok itu.

“Siapa sosok orang ini?” tanyanya pada orang-orang.

“Dia Rasulullah,” jawab mereka.

’Alaikassalam, wahai Rasulullah” gumamnya.

“Hei, jangan berkata ’alaikassalam, tapi assalamu’alaikum. Sebab ’alaikassalam itu ucapan untuk orang yang mati,” jawab orang-orang.

Setelah bertemu Rasulullah, Abu Juray bertanya, “Engkau Rasulullah?”

Rasul menjawab, “Aku adalah Rasul utusan Allah, Dzat yang apabila kamu terkena kesulitan, lalu kamu berdo’a kepada-Nya, niscaya Dia akan melepaskan kesulitan itu dari kamu. Jika kamu mengalami musim kering, lalu kamu meminta kepada-Nya, niscaya Dia akan menumbuhkan tanaman untuk kamu. Jika kamu berada di tanah tak bertuan atau padang gersang, lalu binatang tungganganmu hilang, lalu kamu memohon kepada-Nya, niscaya Dia akan mengembalikannya untukmu…”

Hari itu, Abu Juray belajar tentang Allah SWT. Tentang betapa Maha Pengasih dan Penyayangnya Allah, Tuhan seru sekalian alam. Tampaknya ia telah mendapat jawaban atas penasarannya. Begitupun rasa herannya. Ia mendapati sosok yang dari dirinya mengalir begitu banyak nasehat, ajaran budi, pijakan perilaku, dan penuntun ke jalan yang terang. Abu Juray kemudian meminta nasehat khusus kepada Rasulullah.

“Nasehati aku dengan nasehat yang mengikat,” pintanya pada Rasulullah.

“Janganlah kamu mencaci seorang pun. Janganlah kamu menghina sebentuk kebajikan apapun. Bicaramu dengan sesama saudaramu dalam keadaan wajahmu yang cerah, sungguh itu adalah sebuah kebajikan. Tinggikan kainmu dan jangan kau juntaikan, karena itu bagian dari kesombongan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai kesombongan. Dan jika seseorang menghina kamu dan mencaci kamu dengan sesuatu yang dia tahu bahwa itu memang ada pada dirimu, janganlah kamu membalas menghina dan mencacinya dengan sesuatu yang kamu tahu itu ada pada dirinya. Biarkan kesudahannya kembali pada dirinya. Dan bagimu pahalanya. Dan, jangan mencaci apapun.”

Hari-hari sesudah itu, bagi lelaki itu, adalah iman, pencerahan, jalan lurus, menunaikan janji yang diminta dari Rasululah dan perjuangan mempertahankan konsistensi. Abu Juray benar-benar mengambil jalan hidupnya yang tercerahkan. Ia menuturkan, “Sungguh, sesudah itu aku tidak pernah menghina dan mencaci seorang pun, budak maupun orang merdeka, tidak pula aku pernah mencaci keledai maupun domba.”

Di lain waktu, ia berkata, “Sungguh, sesudah itu aku tidak pernah mencaci orang atau binatang.”

Pada mulanya adalah mengenal Tuhan, mengenal Allah. Sesudah itu adalah perangai, akhlak, perilaku dan segala wanti-wanti untuk tidak melukai dan menyakiti orang lain. Bahkan tidak perlu membalas cacian orang, bila pun tahu apa yang jadi celah pembalasan itu benar adanya pada orang tersebut.

Maka ini, tak sekadar soal mencaci domba atau keledai. Ini adalah soal peta hidup seorang Mukmin, dan bagaimana ia menjalaninya. Bahwa mengenal Allah, memohon kepada-Nya, memahami Kuasa dan Sifat-Nya, sama pentingnya dengan memahami bahwa seorang Mukmin tidak sepantasnya menjadi penyebab orang lain pedih dan getir. Di sekitar tonggak pertauhidan, harus dibangun fondasi sosial berbasis moral dan akhlak mulia. Ini semacam keseimbangan antara hubungan iman yang vertikal dan hubungan moral yang horizontal.

Ini tak sekadar soal mencaci binatang atau manusia. Alangkah besarnya perhatian Islam kepada umatnya. Ini adalah pilar-pilar besar yang di atasnya dibangun model hubungan sosial antara sesama orang-orang beriman. Seperti kata Rasulullah dalam kesempatan lain, “Orang Mukmin itu bukanlah tukang menuduh, tukang mencaci, bukan pelaku perbuatan-perbuatan keji dan hina, bukan pula seorang yang mulutunya kotor.

Di dalam agama yang mulia ini, moralitas yang agung tak sekadar bagaimana seorang Mukmin berjiwa luhur, berniat ikhlas, dan menjadi luar biasa secara diri sendiri, di dalam telaga batinnya atau di samudera pikirannya saja. Akan tetapi pagar-pagar dan pengaturan lalu lintas interaksi kita dengan orang lain justru diurai dengan sangat luas, melingkupi banyak perkara, dan lebih dari itu, sangat detil. Rahasianya adalah karena kehidupan sesama manusia, bahkan sesama orang beriman sekalipun, sangat berpeluang melahirkan gesekan, konflik, perselisihan, yang bahkan bisa mengubah hidup orang lain menjadi pahit, pedih dan getir.

Singgungan hidup dimulai dari banyak pintu. Satu pintu besar di antaranya adalah cara kita berkomunikasi dengan orang lain. Bahwa segalanya bisa berubah buruk dan kacau balau hanya karena soal bicara.

Apa yang melebihi pedih dan getir yang diciptakan oleh tangan dan lisan? Adakah perhatian yang lebih detil dari penegasan Rasulullah tentang hubungan keislaman dengan tangan dan lisan?

Seorang Muslim ialah yang orang Muslim lain selamat dari lisan dan tangannya…

Adakah yang lebih detil, dari memberi contoh, bahwa sebentuk amal kebajikan, adalah engkau menuangkan air di embermu ke tempat air saudaramau?

Akan tetapi selalu ada berjuta jalan lain menuju petaka. Ada bermacam cara untuk menjadi penyebab bencana.

Di rumah-rumah sunyi yang hanya ramai oleh perabotan mewah, kini banyak berkerumun jiwajiwa pedih dan getir. Sebab para penghuninya sepakat untuk selalu tidak sepakat. Setia untuk selalu tidak setia. Kesakralan atas nama tanggung jawab sudah lusuh. Tapi cinta juga sudah jadi kisah romantisme masa lalu yang telah lama basi. Yang ada hanya petualangan, pengabaian dan pengkhianatan. Lalu kesedihan di atas kesedihan.

Yang miskin dan terpuruk tak punya daya tahan untuk sekadar tidak menyimpang. Kegetirannya melahirkan kegetiran lain yang beranak-anak. Kepedihannya menyemburkan kepedihan lain yang berbuntut-buntut. Benci, suami anak disiksa. Benci, istri anak disetrika. Benci, hidup anak dibakar hidup-hidup.

Di kantor-kantor, terlalu banyak para pejabat berwenang menabur kegetiran dan kepedihan. Seorang calon juru tulis ditolak jadi pegawai negeri kerena tak bisa membayar uang suap 30 juta. Di hutan-hutan, para pembalak kayu membunuh orang-orang dengan banjir lumpur kiriman, longsor, dan gelondongan kayu yang sekali menerjang bisa puluhan nyawa melayang.

Di sekolah-sekolah, anak-anak remaja membunuh diri sendiri secara perlahan. Mereka melukis masa depan di atas angan-angan, dengan coreng moreng harga diri yang tak lagi punya bandrol. Di kampus, mahasiswa-mahasiswa yang merasa sudah dewasa membangun kegetiran dengan membuang habis rasa malu, melakukan bermacam penyimpangan dengan lebih bangga dan tanpa beban.

Semua tindak tanduk itu ada tempat pengadilannya. Semua penyebab kepedihan ini akan ada perhitungannya. Kelak.

Yang lain diam dan merasa tidak masuk kubangan itu. Tapi kegetirannya adalah pertumbuhannya yang mandeg. Kepahitannya adalah proses belajarnya yang berhenti. Kepedihannya adalah waktu yang habis untuk pertemanan yang hanya sebuah siklus penga-ruh-mempengaruhi. Siapa yang kuat mengalahkan yang lemah. Usia terus merambat tua tanpa kunjung menambah ilmu, kesadaran, dan pengetahuan.

Abu Juray telah mengambil sisi besar dalam keputusan hidupnya. Ini bukan sekadar selera pribadi, atau pilihan suka-suka. Siapa pun yang sadar, bahwa tidak sepantasnya ia menjadi penyebab hidup orang lain pedih dan getir, dalam bentuk apa pun, sejujurnya ia telah menjaga keharmonisan hidup ini. Sebab sumber-sumber penyebab orang lain pedih dan getir, adalah salah satu bara di antara berjuta bara api yang bisa membakar kehidupan kemanusiaan.

Nilai-nilai estetis dan keluhuran, adalah satu cabang penting dari misi kenabian. “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia,” kata Rasulullah. Tak berlebihan bila ia memberi janji, “Orang yang paling dekat kedudukannya dengan aku di surga, adalah yang paling baik akhlaknya.

Bila fikih memberi batasan legalitas, akhlak dan moralitas memberi bobot yang luar biasa pada seni keindahan dalam hidup. Ada batasan wajib yang sah dan legal secara minimal, tapi ada pesona sunnah yang mempercantik dan membuatnya lebih berwarna. Seperti itulah ajaran agama ini. Seperti itu pula pilihan hidup ini.

Layaknya menahan marah, padahal bisa dan berhak menumpahfeannya, begitu pula soal menahan diri untuk tidak menjadi penyebab orang lain pedih dan getir. Tidak saja untuk sebuah konsistensi di atas jalan yang ditetapkan, tapi juga sebentuk seni memperindah kehidupan dan merajut kebersamaan, dengan pengharapan akan pahala di sisi Allah SWT.

Ini semua pilihan keterhormatan. Sekumpulan nilai-nilai dalam rasa keberartian kita bagi diri sendiri dan sesama. Sulit. Memang. Tapi menyuburkan keluhuran jiwa dan memperkaya kebaikan hati, selalu menghadapi godaannya yang paling besar: diri sendiri.

Sumber: Majalah Tarbawi Edisi 125 Th. 7/Muharram 1427 H/2 Februari 2006 M

Dipublikasi ulang oleh Admin DPD PKS Sidoarjo

Konten lainnya: