W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Makna Tiada Akhir Perjuangan

Seperti perputaran siang dan malam, setiap kita punya siklus pribadi yang nyaris rutin. Mungkin ada dinamika di sebaoian waktunya. Semacam lonjakan atau turunan ritme yang tajam. Tapi tak setiap saat kita mengalami gejolak besar, berlompatan dengan kacau. Mungkin ada satu dua orang bertipe seperti itu, tapi mereka tidak banyak. Dan kaidah tidak didasarkan kepada indikator-indikator yang jarang.

Sebabnya jelas, bahwa manusia diciptakan dengan tingkat ekspektasi dan harapan yang mungkin berbeda pada kadarnya, tapi sama pada istilahnya: orang ingin bahagia. Tak ada orang di dunia ini yang tak ingin bahagia. Sia-papun mereka. Maka rutinitan hidup dimaksud adalah sekadar cara kita semua mengejar kebahagiaan itu dalam format-format yang konstan. Karenanya, kebanyakan kita lebih suka garis hidup yang pasti, agar kita bisa mengharapkan kebahagiaan dimaksud dengan lebih pasti juga.

Di sinilah, di sepanjang proses mengejar kebahagiaan itu. Kemudian kita sering menemui banyak orang melalukan kesalahan pada dua hal besar. Pertama, pada jenis kebahagiaan yang dikejar dan kedua pada mentalitas dirinya sepanjang mengejar kebahagiaan itu. Bagi seorang mukmin akhir dari seluruh harapannya tertambat di surga sana. Segala makna dari kerja-kerja dan amal-amal duniawinya hany-lah jembatan tempat ia mengumpulkan modal pengharapan kepada Allah. Agar Ia berkenan memasukkan ke surga.

Tetapi pada sisi mentalitasnya, kita memerlukan sebuah prinsip mendasar: bahwa sejujurnya, perjuangan mengejar puncak cita-cita itu, selama hayat masih di kandung badan, adalah perjuangan yang tak mengenal kata akhir. Bahkan, ia tidak pernah mengenal kata akhir selama orang-orang beriman masih ada di muka bumi.

Sebelum kiamat menutup seluruh lembaran alam semesta ini, Rasulullah saw bersabda, “Masih akan ada segolongan dari umatnya yang teguh di muka bumi ini hingga hari kiamat.”

Berikut ini makna-makna dari perjuangan tak kenal kata akhiryang kita mataud, dalam kaitan kepentingan kita semua mengejar puncak cita-cita tersebut.

1. Tiada akhir dalam pergertian sebagai sunnatullah.

Maksudnya, Allah telah menetapkan perjuangan manusia tidak pernah ada akhirnya. Dalam terminologi pengelompokan para pejuang, dikenal dengan dua kelompok yang sangat kontras: mereka yang berjuang di jalan kebajikan dan kebenaran, dan kedua, mereka yang berjuang di jalan kebatilan dan kefasikan. Dua golongan itu akan terus berseteru hingga hari kiamat.

Sumber energi orang-orang beriman adalah keyakinannya kepada Allah: kepada jalan yang diridhai-Nya. Kepada orinsip bahwa semakin dekat seorang hamba kepada Rabb-nya, maka semakin kuat energi yang ia miliki. Sedangkan orang-orang kafir, sumber energi mereka adalah hawa nafsu dan bisikan serta godaan syetan. Sementara syetan sendiri bersumpah tidak akan herhenti menggoda manusia sampai kiamat nanti. Itu artinya, pertarungan antara yang hak dan yang batil akan selalu abadi. Dan itu artinya, perjuangan hidup kita tidak mengenal kata akhir.

Allah SWT menjelaskan bahwa orang mukmin laki-laki dan orang mukmin perempuan, di antara mereka saling tolong-menolong, mereka beriman kepada Allah, menyuruh yang ma’ruf oan mencegah dari yang munkar. Sementara itu, orang-orang munafik, yang laki-laki dan perempuan, antara yang satu dengan yang lain saling tolong-menolong juga dalam rangka menyekutukan Allah, menyuruh kepada kemungkaran dan mencegah dari yang ma’ruf. Dalam ayat yang lain Allah menegaskan bahwa orang-orang beriman berperang di jalan Allah dan orang-orang kafir berperang di jalan thoqhut (syetan). Maka kita pun diperintahkan untuk memerangi para pengikut-penolong syetan.

Semua ayat-ayat tersebut, dengan sangat mudah, bisa kita saksikan bukti dan kenyataannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Bahkan semakin lama, kebatilan terus bersolek, menghiasi dirinya, sampai-sampai banyak yang tidak sadar, bahwa yang ada di depan matanya adalah sebuah kebatilan.

Perjuangan menuju akhirat, menuju surga Allah, dalam format kehidupan kita yang sangat pribadi, atau format kolektif kita, adalah perjuangan melawan godaan syetan, tarikan hawa nafsu, yang kini sudah beragam wajah dan perwujudannya. Ini adalah perjuangan yang tak mengenal akhir.

2. Tiada akhir dalam pengertian tangga ketakwaan yang tak terbatas

Sebagai seorang mukmin, seluruh kerja-kerja dan jerih payah kita, adalah kumpulan upaya kita mengejar tangga-tangga ketakwaan. Sebab di sanalah mahkota kemuliaan dan keterhormatan disunggingkan. Orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.

Mahkota itu sendiri sangat tinggi tempatnya. Di puncak, segala prestasi kebaikan ada mahkota itu. Tapi sekali lagi puncak itu sangat tinggi sekali. Ketinggiannya yang menjulang tak dimaksudkan untuk membuat orang mustahil menggapainya, tapi untuk memberi ruang dan tangga pilihan amal yang sebanyak-banyaknya bagi orang-orang beriman. Itulah mengapa, anak-anak cabang keimanan, misalnya, sangat banyak sekali. Paling rendahnya adalah menyingkirkan dun dari jalanan.

Maka dari sisi pilihan amal yang bisa kita lakukan, tangga-tangga pencapaian dari seluruh makna ketakwaan itu tidak ada batasnya. Di hamparannya yang luas, kita bisa berlomba, berlari bersama, dalam derai semangat dan gairah keimanan yang segar. Bersama anak-anak kita, kita bisa menabung ketakwaan. Dengan mendidiknya mengenali Allah, sebagai Rabb-nya yang paling berhak disembah. Mengajarinya akhlak dan budi pekerti yang terpuji. Bersama profesi-profesi kita, kita bisa mengabdi, menyumbangkan manfaat bagi kehidupan sesama. Begitu seterusnya.

Dalam pengertian lain, dengan cara apapun kita mendekatkan diri kepada Allah, cepat atau lambat, Allah tidak pernah bosan, sampai kita sendiri barangkali yang bosan. Bahkan bila kita mendekat kepada-Nya, Allah menyambut kita dengan lebih cepat. Bila kita berjalan, Allah menyambut kita dengan berlari kecil, begitu seterusnya.

Di antara kita sendiri, kemampuan kita berbuat baik juga berbeda-beda. Bila ada yang bisa bersedekah dengan seperempat hartanya, ada orang lain yang bisa memberikan setengah hartanya. Bila ada yang rela mengeluarkan setengah hartanya, masih ada yang bisa menyerahkan seluruh hartanya. Begitu seterusnya.

Maka, dari sisi tangga ketakwaan ini, seorang mukmin hidup di lintasan perjuangan yang ada awal tapi tak pernah ada akhirnya. Sebab orang yang paling bertakwa di sepanjang zaman adaiah Rasulullah. Dan itulah batas akhirnya. Sedang kita tidak mungkin menyamai Rasulullah. Maka ruang perjuangan itu tak pernah punya batas.

Lihatlah Umar bin Abdul Aziz. Ia punya cara sendiri dalam mengartikan perjuangan tak punya kata akhir itu. Arti itu bersemayang dalam jiwanya yang selalu ingin kemulian yang lebih. Bila telah ia dapatkan, ia terus menginginkan yang lebih lagi. Begitu seterusnya.

Saat ia masih menjadi gubernur di Madinah, pembantunya pernah membelikan baju seharga lima ratus dirham. Tapi ketika ia telah menjadi khalifah, ia membeli baju seharga lima dirham, itu pun masih dianggap mahal. Roja’ bin Haiwah, yang membelikan kedua baju itu, menangis. Umar bertanya. Lalu Roja’ mengisahkan ingatannya akan baju Umar saat jadi gubernur di Madinah. Umar mengerti maksudnya, maka ia pun berkata. “Wahai Roja’ sesungguhnya aku memiliki jiwa yang selalu dalam kerinduan. Setiap kali jiwaku yang rindu pada sesuatu terpenuhi, maka muncul kerinduan lain pada sesuatu yang lebih tinggi daripada sebelumnya. Jiwaku merindukan pernikahan dengan putri pamanku, Fathimah binti Abdul Malik, lalu aku pun menikahinya. Lalu jiwaku rindu pada kepemimpinan, lalu aku pun menjadi gubernur. Jiwaku rindu pada kekhilafahan, lalu aku pun mem-erolehnya. Dan kini, wahai Roja’, jiwaku rindu pada surga, maka aku berharap semoga aku menjadi salah satu penghuninya.”

Begitulah seorang mukmin mengarungi perjuangan hidupnya: tanpa batas, tanpa kata akhir, tanpa perasaan akan pemberhentian yang sebenarnya tidak ada. Pemberhentian itu hanya di sana, di surga.

3. Tiada akhir dalam pengertian semua capaian hidup harus diartikan masih permulaan.

Prinsip ini tidak sebatas bermakna etika bahwa apapun prestasi dan amal kita, itu belum cukup. Tapi lebih dari itu, ini adalah tradisi kesinambungan yang semestinya kita pahami dengan mudah.

Kesinambungan adalah definisi lain dari keberlangsungan hidup. Kita semua lahir. Dan momentum kelahiran itu sendiri menjadi tonggak sejarah, bagi orang tua kita, juga bagi diri kita. Momentum itu sarat dengan segala rasa batin dan suka cita semua orang yang ada di sekitar kita. Tapi, kelahiran itu hanyalah awal. Kita masih punya tugas sambungan yang sangat panjang.

Seorang bujangan yang mengakhiri masa lajang, sejujurnya tak benar-benar mengakhiri perjuangan hidupnya. Ia hanya berganti nama dan status, tapi perjuangan tetap berlangsung, lebih berat, lebih banyak tantangan, dan tentu lebih melelahkan. Maka pada detik ketika ia telah bersuami atau beristri, sesungguhnya itu baru awal dari perjuangan hidup baru. Ada begitu banyak beban yang menunggu. Mengarungi kebersamaan dalam seluruh bahasa-bahasa komunikasi rumah tangga. Menghidupi anak, mendidik dan seterusnya.

Sejak kita lahir, kemudian dewasa, atau kemudian menikah, lalu Allah memberi karunia anak, hanya rangkaian gerbong-gerbong peran penunaian tugas. Kita mungkin berpindah stasiun, tapi kereta kehidupan tak pernah berhenti. Sebab perjuangan di atas kereta itu tak pernah mengenal kata akhir.

Di dunia dakwah, saat kita mencapai kar-nia-karunia kebaikan, orang-orang berbondong masuk Islam, belajar Islam, atau kembali kepada Islam, itu semua belum selesai. Juga ketika dakwah berlambah ruang lingkupnya, dari ruang-ruang pribadi ke langit-langit publik yang luas, di jalur politik yang melelahkan, itu semua belum selesai. Juga bila masyarakat begitu tulus dan sadar mendukung dawah di jalur partai itu, memberikan suara-suaranya, mendukung dan memenangKannya, segalanya belum berarti selesai. Begitupun bila masyarakat tak juga mau mengerti, bahwa jalan Islam ini, jalan dakwah ini adalah jalan niscaya menuju keadilan, itu tak berarti perjuangan ini harus selesai di sini.

Tidak. Seperti kata seorang penyair, “Kerja ini belum selesai, belum lagi punya arti.”

Lihatlah Ibnu Jarir At Thabari, sang legenda di bidang tafsir. Ia tak pernah menganggap proses belajarnya selesai hanya karena ia telah mencapai derajat ahli rafsir.

Seperti dikisahnya oleh murindya, Ahmad bin Kamil Asyajari, bahwa At Tahbari hidup sangat sederhana. Bajunya banyak tambalan. Benangnya kasar. Ia menulis buku dari dhuhur hingga ahsar. Lalu keluar untuk shalat Ashar. Sesudah itu duduk membacakan untuk para jama’ahnya hingga maghrib. Kemudian duduk mengajar hingga isya’. Sesudah itu ia masuk ke rumahnya. Ia membagi siang dan malamnya untuk kebakan diri, agamanya, juga sesama manusia. Tapi pada hari menjelang kematiannya, ia mendengarkan sebuah do’a yang diriwayatkan dari Ja’far bin Muhammad. Maka At Thabari meminta diambilkan kertas dan tinta.

Orang-orang berkata, “Wahai Imam At Thabari, apakah dalam keadaan seperti ini engkau masih akan menulis?”

Maka ia menjawab, “Hendaklah seseorang tidak melewatkan kesempatan memetik ilmu hingga ia mati.”

Tak lama kemudian, kurang dari satu jam setelah itu, ia menghembuskan nafas terakhirnya, pulang ke hadapaan Allah SWT. Ia telah mengerti, dan ia teguh dengan pengertian itu, bahwa capaian-capaian diri seorang mukmin, secara pribadi atau bersama, tidak pernah mengenal kata cukup. Hingga kematian datang menghentikan capaian-capaian.

4. Tiada akhir dalam arti akan selalu ada yang baru

Memaknai perjuangan hidup yang tak ada akhirnya adalah juga menyadari bahwa selalu ada yang baru di esok hari. Hari ini bukan hari kemarin. Dan hari esok bukan hari ini. Maka perjuangan hidup, dalam lingkup apapun, harus menyiapkan diri untuk esok yang tak pernah pasti.

Dalam banyak haditsnya, bahkan Rasulullah telah memberikan begitu banyak ajaran-ajaran antisipatif. Dengan ilustrasi dan seting situasi yang para sahabat sendiri tak pernah bisa membayangkannya. Rasulullah menggambarkan begitu banyak hal, yang di zamannya tak terbayangkan, tapi hari ini kita mengalaminya sehari-hari. Soal kaum muslimin yang jadi rebutan orang-orang kafir, misalnya. Soal perselisihan. Soal kejahatan, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Bahwa Rasulullah telah selesai menunaikan tugas risalahnya, itu benar. Tapi sepeninggal Rasulullah, penyebarannya secara tentorial masih harus diteruskan. Peneguhannya menghadapi zaman yang berubah, masih harus ditahbiskan. Allah sendiri memerintahkan kita untuk menolong agama-Nya. Artinya, meneguhkannya, memperjuangkannya, meski Allah sendiri yang akan memenangkan agama-Nya.

Pada segala lingkup kehidupan yang kian rumit, kompleks dan carut-marut di serat-serat nilai dan moral yang kacau, kita harus selalu memperbarui semangat, belajar mengantisipasi dan cerdas menemukan pilihan-pilihan pola perjuangan yang unggul. Ada teknologi yang bisa merusak tapi juga bisa bermanfaat. Ada pengetahuan yang bisa menghancurkan tapi juga bisa membangun.

Semua membutuhkan para pejuang yang ruh dan nafasnya keimanan, yang talenta dan spiritnya hanya punya satu ganbar: bahwa perjuangan keimanan di dunia yang riuh ini, di sektor politik atau sosialnya, pendidikan atau ekonominya, moral atau edukasinya, adalah perjuangan yang punya awal tapi tak pernah punya akhir.

Sumber: Tarbawi Edisi 82 Th. 5/Shafar 1425 H/15 April 2004 M

Dipublikasi ulang oleh Admin DPD PKS Sidoarjo

Konten lainnya: