W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Melepaskan Diri dari Konsistensi Kebatilan

Sesekali, kita mungkin terperangkap dalam kebatilan. Itu manusiawi. Karena kita punya nafsu. Ya, nafsu yang selalu mengajak kepada kejahatan dan kemaksiatan. Kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Allah SWT.

Meskipun cenderung kepada kejahatan, namun kehadiran nafsu pada diri kita tidak untuk disesali, ataupun dicerca. Sebab dengan perpaduan akal, justru disitulah letak kesem-purnaan penciptaan kita sebagai manusia. Kita bukan malaikat yang hanya diberi akal tanpa nafsu, yang sepanjang hidupnya untuk beribadah tanpa sedikit pun rasa bosan, lelah, dan tak pernah membantah.

Yang tidak manusia dalam hidup ini adalah ketika kita terus-menerus melakukan kebatilan demi memperturutkan hawa nafsu. Dan sangat lebih tidak manusia lagi bila suatu kebatilan yang kita lakukan itu terus berulang, bahkan kita seakan konsisten dengannya, seolah tidak terjadi apa-apa, dan dengan santai masih bisa tertawa lepas, senang dan bahagia. Padahal kita bukanlah hewan yang hanya diberi nafsu tanpa akal, yang hidupnya hanya sekadar untuk makan, tidur, dan berkembang biak. Hanya keledai, hewan yang sering dijadikan simbol kedunguan, yang biasa terperosok berulang kali ke dalam sebuah lubang yang sama.

Kita diciptakan dengan sistem keseimba-ngan yang luar biasa agar kita dapat menata diri kita masing-masing, sukses memadukan antara nafsu dan akal. Sukses meraih kebahagiaan hakiki. Dan sukses mendapatkan tempat yang istimewa di sisi Allah Yang Maha Tinggi. Karena itu, kita tidak boleh berlama-lama ketika terperangkap dalam sebuah kebatilan. Kita mesti bebas, melepaskan diri dari belenggunya.

Tak Ada Dosa Kecil jika Terus Menerus Dilakukan

Kebatilan itu, sekecil apapun ia tetaplah kebatilan. Pasti ada konsekuensinya. Sebab Allah telah menegaskan, “Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah (biji sawi) pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.

Akan tetapi, tidak ada kebatilan yang kecil jika ia terus-menerus dilakukan. Ini menyangkut sikap kita memperlakukan kebatilan. Karena seringkali kita hanya memandang sebuah kebatilan dari sisi lahirnya saja, lantas melupakan esensinya sebagai satu bentuk penentangan yang suatu saat akan mendapat ganjaran dosa. Seperti kata seorang ulama mengingatkan, “Janganlah kamu melihat besar kecilnya dosa yang kamu lakukan, tapi lihatlah betapa besarnya Dzat yang kamu tentang.”

Meremehkan kebatilan adalah sikap yang sungguh sangat salah. Karena sebenarnya itulah awal datangnya keberanian melakukan kebatilan berikutnya, selain bahwa kita juga tidak pernah tahu bagaimana Allah mengganjar perilaku buruk kita itu. Bisa jadi bentuk balasannya seperti yang dikatakan Ali Al Muzayyin, “Dosa yang dilakukan setelah berbuat dosa merupakan siksaan dari dosa yang pertama. Demikian pula sebaliknya, kebaikan yang dilakukan setelah berbuat baik merupakan pahala dari kebaikan yang pertama.

Dan mungkin karena itu pula, Rasulullah saw pernah mengingatkan kepada Ali bin Abi Thalib agar berhati-hati ketika melihat sesuatu yang diharamkan tanpa sengaja. Beliau bersabda kepada menantunya itu, “Wahai Ali, janganlah kamu mengiringi pandangan dengan pandangan, karena sesungguhnya yang pertama adalah (nikmat) untukmu dan yang kedua adalah (dosa) atasmu.” (HR. Tirmidzi)

Ini adalah penegasan bahwa jangan sekali-kali mengulangi atau meremehkan kebatilan agar kita terhindar dari dampak yang lebih besar, agar tidak terbuai dengan dosa-dosa kecil sehingga dengan enteng kita menjadi terbiasa melakukannya.

Menyesal Saja tidak Cukup

Siapa pun yang terjerumus dalam kebatilan, tentu punya keinginan untuk lepas darinya. Sebab kebatilan adalah belenggu, penjara, kegelisahan, dan kehampaan. Kesenangan yang kita dapatkan dari sesuatu yang batil semu belaka. Intinya, kebatilan adalah ketersiksaan, dengan segala macam bentuknya. Tidak ada orang yang ingin berlama-lama dalam kesesatan, meski secara lahir ia terlihat senang dan bahagia.

Akan tetapi, kenikmatan yang kita dapatkan dari kebatilan, meskipun semu, selalu membuat kita terlena. Lupa diri sehingga terkadang kita merasa tak kuasa untuk lepas darinya. Bahkan, kata Ibnu Jauzi mengingatkan, “Para pelaku maksiat yang terlena dengan apa yang dilakukan membuat mereka seperti para pembangkang. Hawa nafsu mereka telah menghalangi diri mereka sendiri untuk berpikir waras, hingga mereka tak memahami apa yang sebenarnya sedang mereka lakukan. Yang ada dalam benaknya hanyalah satu hal: memuaskan syahwat.

Dan jika kita membiarkan diri ini terus-menerus dalam kebatilan itu, suatu saat nurani akan buta. Kebatilan bisa dianggap sebagai sesuatu yang baik dan bermanfaat. Seperti dikatakan Muhammad Al Washiti, “Orang-orang yang terbiasa dengan kebatilan, mereka menganggap keburukan perilaku adalah suatu ketulusan, kerakusan adalah kesenangan, cita-cita yang rendah adalah ketabahan, sehingga mereka buta dari jalan, dan melalui jalan kesempitan. Akibatnya, tidak ada kehidupan berkembang di tengah-tengah mereka, tidak ada ibadah yang mensucikan amal mereka.” Jika sudah demikian, semakin sulitlah kita keluar dari kebatilan.

Kita memang sering menyesali diri yang terlanjur sering melakukan kebatilan, Lalu berharap besar keluar darinya. Hanya saja, terkadang kita hanya mampu berhenti pada titik itu. Tidak ada usaha yang lebih dari itu. Tidak berupaya meninggalkannya. Tidak berusaha menambah amal. Tidak membentengi diri dengan suasana, lingkungan, atau komunitas yang kondusif untuk keimanan kita yang begitu rapuh. Akibatnya, sedikit saja kesempatan terbuka, kita pun kembali melakukan kebatilan serupa. Dan jadilah kita sebagai orang yang konsisten dengan kebatilan. Karenanya, lepaskanlah diri kita dari kebatilan dengan tidak berhenti di tangga penyesalan.

Melangkahlah terus ke anak-anak tangga yang lebih tinggi, agar ombak kebatilan itu tidak mampu lagi menyapu kaki, dan menyeret kita kembali terjatuh.

Koreksi Kembali Kualitas Ibadah Kita

Konsisten dengan kebatilan tidak selalu ditunjukkan oleh orang-orang yang minim spiritual. Mungkin kita pernah terheran-heran melihat orang yang kita kenal rajin beribadah, bahkan kuantitas ibadahnya mengalahkan banyak orang, namun ia tetap konsisten dengan kebatilan. Bukan itu saja, terkadang ibadah yang dilakukannya terlihat begitu khusyu’, dan tak jarang diiringi deraian air mata dan tangis bergemuruh. Itu bisa saja terjadi. Sebab rasa penyesalan kita pada suatu kesalahan terkadang muncul begitu kuat, bersamaan dengan lahirnya rasa takut kepada Allah swt yang mendorong kita untuk segera bertaubat. Namun ia dapat pula menguap kembali.

Di sini, kualitas ibadah menjadi penting untuk kita cermati, agar kita dapat meneropong dan menemukan sebab-sebab, mengapa kita tetap saja konsisten dengan kebatilan. Mungkin ibadah yang kita kerjakan belum sempurna. Di sana-sini masih terdapat banyak kekurangan yang tak kita sadari, yang sesungguhnya bisa mengakibatkan ibadah dan amal kita sia-sia.

Dalil-dalil qath’i dari Al Qur’an dan Hadits cukup banyak yang menerangkan keterkaitan ibadah yang benar dengan jauhnya kemung-karan dari perilaku kita. Antara lain, firman Allah, “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS.AIAnkabut:45)

Allah juga berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah:T83)

Makna zhahir ayat di atas adalah, apabila shalat dikerjakan dengan baik dan sempurna akan menjauhkan kita dari perilaku-perilaku batil. Begitu pula puasa yang membentuk manusia takwa. Orang yang bertakwa juga akan dijauhkan dari kemungkaran. Maka ketika ibadah-ibadah itu belum mampu membentengi kita dari kebatilan, mungkin kita perlu memeriksa dengan teliti faktor-faktor yang membuatnya demikian. Mungkin kita perlu memastikan kehalalan setiap makanan yang kita konsumsi, kebersihan pakaian yang kita pakai, tempat yang kita gunakan, dan segala sesuatu yang menjadi sarana kita melakukan ibadah. Barangkali di sana ada hak-hak yang menyangkut orang lain.

Mungkin juga kita perlu melihat, apakah ibadah itu sudah kita lakukan dengan ikhlas, atau sekadaragar kita terbebas dari kewajiban. Semua akan berpengaruh kepada sikap dan tingkah laku keseharian kita.

Dunia Jangan jadi Tujuan Utama

Kesalahan yang terus berulang seringkali penyebab utamanya adalah orientasi kita yang salah terhadap dunia. Terkadang kita mengukur kebahagiaan hidup ini hanya berdasarkan keduniaan semata. Bahkan segalanya diselesaikan secara materi, sehingga dunia yang keberadaannya hanya sekadar wasilah merangkum beragam kebaikan, begitu lekat dengan hati, dan begitu susahnya kita lepas dari kendalinya, lalu kita pun melupakan hal yang paling fundamental dan menentukan, yaitu kehidupan dan kebahagiaan yang lebih kekal di akhirat.

Kita sebenarnya, bukannya tidak yakin dengan siksaan kubur, bukan pula tidak percaya dengan perhitungan akhirat. Kita bahkan sangat mengerti. Hanya saja kita sering diliputi rasa takut yang berlebihan jika dunia lepas dari genggaman kita. Inilah yang membuat mata kita buta. Lupa diri. Salah orientasi, dan menjadi manusia aneh yang konsisten dengan kebatilan. Seperti kata Ibnul Jauzi, “Barangsiapa yang berpikir dalam-dalam dan seksama tentang akhir kehidupan dunia, ia akan senantiasa waspada. Barangsiapa yang yakin akan betapa panjangnya jalan yang akan ditempuh, maka ia akan menyiapkan bekal sebaik-baiknya. Alangkah anehnya manusia yang yakin akan sesuatu, namun ia melupakan dan betapa anehnya mereka yang mengetahui bahaya sesuatu, namun ia juga menutup mata.

Kita sadar bahwa kita begitu mudah dikalahkan oleh hawa nafsu. Kita pun sangat tahu bahwa betapa kita kadang tidak selalu berhasil menaklukkannya. Anehnya, kita merasa gembira dengan ketertipuan kita dan larut dalam kealpaan terhadap hal yang tersembunyi di dalam diri kita. Kita terpedaya oleh kemilau harta yang begitu mudah kita dapatkan, namun kita juga lupa betapa seringnya harta itu datang dari pintu yang tidak halal. Padahal tipu daya harta bukan saja menggelapkan mata orang-orang awam, para pencari ilmu pun dapat tertipu. Muhammad bin Al Fadhl Al Balkhi menegaskan hal ini, “Jika kamu melihat seorang pencari ilmu memperbanyak masalah dunianya, hal itu adalah tanda dari awal kehancurannya.“.

Karena itu, dunia harus kita tempatkan di tangan, bukan di hati. Sebab, kata Abdur-rhaman Ad Darani, “Jika dunia telah menempati hati seseorang, akhirat akan pergi darinya.

Jaga Selalu Kebersihan dan Kesehatan Hati

Hati adalah organ yang paling vital dalam tubuh kita. Meskipun hanya terbentuk dari segumpal daging yang tak pernah kita lihat, tapi ia menjadi penentu segala kebaikan dalam hidup kita. Ia ibarat shalat dalam keseluruhan amal. Rasulullah pernah bersabda, “Sesungguhnya yang pertama kali dihisab dari amal seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Apabila shalatnya baik, ia telah beruntung dan berhasil, namun jika shalatnya rusak, ia telah gagal dan merugi.” (HR. Tirmidzi)

Hadits di atas seakan mirip dengan hadits beliau saw yang menyebutkan kedudukan hati di antara keseluruhan anggota tubuh kita. Beliau bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila segumpal daging itu baik, baiklah seluruh tubuh, dan apabila ia rusak, rusaklah seluruh tubuh.” (HR. Bukhari)

Inilah jaminan yang pasti untuk mendapatkan kebahagiaan dan keselamatan hidup. Hati harus bersih dan sehat. Bukan hanya harus sehat secara fisik, tetapi yang lebih menentukan dari itu, sehat secara batin. Karena segala sesuatu yang terpikirkan oleh akal untuk mela-kukan sebuah tindakan, atau untuk meren-canakan hidup kita ke depan, pada akhirnya akan diputuskan oleh hati. Hatilah yang menentukan apakah kita akan melakukan sesuatu yang baik atau yang buruk. Sedang akal hanya
memikirkan dan menimbangnya, tidak mengambil keputusan.

Ini bisa menjadi ukuran. Artinya, ketika ada orang yang melakukan sebuah kebatilan, dan ternyata kebatilan itu dilakukan terus-menerus, hatilah yang harus diperiksa pertama kali. Mungkin ia sedang sakit, berkarat, atau kotor. Sehingga harus segera diobati agar ia tidak terus-menerus mengambil keputusan yang salah, dan secara konsisten pula kita melakukan tindakan yang batil.

Hati memang hanya segumpal daging, tapi ia bisa berkarat seperti berkaratnya besi. Ad Darani berkata, “Setiap sesuatu ada karatnya dan karat cahaya hati adalah adalah perut yang kenyang.

Perut yang kenyang, dan apalagi jika kenyangnya karena makanan yang tidak jelas kehalalannya, maka akan mudah sekali ia berkarat. Cahayanya akan redup, dan akan sulit membedakan antara yang hak dan yang batil. Tidak heran kalau ia selalu mengambil keputusan yang salah. Tetapi ketika hati sudah demikian, Ad Darani sangat mengerti obatnya. Ia berkata, “Mungkin di hatiku terdapat satu titik hitam yang menyangkut orang lain dalam beberapa hari, namun aku tidak mau menerimanya kecuali dengan dua saksi yang adil: Al-Qur’an dan sunnah.

Barangkali ada kebatilan yang saat ini sedang membelenggu kita, yang setiap saat kita lakukan secara konsisten, maka segeralah obati hati. Karena sumbernya mungkin ada di sana. Ibrahim Al Khawwash menawarkan kita obat yang sangat mujarab, yang mungkin sering kita dengar, bahkan sudah kita hapal. Katanya, “Obat hati ada lima: Membaca Al Qur’an dengan merenungkan isinya; mengo-songkan perut; bangun malam; munajat di penghujung malam, dan berkumpul dengan orang-orang shaleh.

Kebatilan bukanlah sesuatu yang sepele, yang suatu saat bisa kita remehkan. la adalah bencana dalam hidup ini. Karena itu, segalanya harus kita upayakan agar kita bisa terbebas dari belenggunya. Agar jangan sampai kita menjadi bagian dari orang-orang yang konsisten dengannya.

Sumber: Tarbawi Edisi 131 Th. 7/Rabi’ul Akhir 1427 H/11 Mei 2006 M

Dipublikasi ulang oleh Admin DPD PKS Sidoarjo

Konten lainnya: