W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Memaafkan

Oleh Fikri Yathi

Hikmah_Biru03Ketika Ali bin Husain ra berwudhu, budaknya menjatuhkan wadah air di atas kepalanya. Takut kalau sudah menyakiti tuannya, budak itu menggumamkan ayat Al-Qur’an, “Orang-orang yang mengendalikan amarahnya.

Ali berkata, “Aku tahan marahku.”

Budak itu melanjutkan, “Dan orang-orang yang memaafkan orang lain.

Ali berkata, “Aku maafkan kamu.”

Ia menyelesaikan ayat itu, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.

Ali berkata, “Aku merdekakan kamu.”

Menahan marah, memaafkan, dan berbuat baik adalah kesatuan nilai yang mendasari ketakwaan. Menahan marah saja tanpa memaafkan bukan ciri orang takwa, tapi ciri orang pendendam. Berbagai penyakit-fisik dan mental-dimasak matang dalam dada yang menyimpan kemarahan. Karena itu, psikolog menyarankan Anda untuk mencari cara paling aman buat meledakkan kemarahan.

Di Jepang, sebuah toko barang antik menyediakan tempat dan peluang memecahkan barang-barang di situ. Tentu saja dengan membayar mahal. Para eksekutif yang marah-pada dunia dan manusia-merasa lega setelah meremuk-remukkan keramik mahal. Di Indonesia, biarkan suami atau istri memecahkan tembikar di rumah dan menggantinya lain waktu. Cara demikian bukan pemecahan. Sejenak orang merasa lega, seperti penderita sakit kepala yang makan obat analgesik. Dalam waktu lama orang akan ketagihan.

Menahan marah hanya dapat disembuhkan dengan memaafkan. Dale Carnegie, penulis pop untuk kiat menghilangkan cemas, berkata, “Anda tidak cukup suci untuk mencintai musuh-musuh Anda. Tapi demi kesehatan dan kebahagiaan Anda, lupakan mereka dan maafkan mereka!”

Namun, memaafkan tidaklah gampang. Kata para sufi, memaafkan harus dilatih terus-menerus. Sifat pemaaf tumbuh karena “kedewasaan rohaniah.” Ia merasakan hasil perjuangan berat ketika kita mengendalikan kekuatan ghadhab di antara dua tekanan: pengecut dan pemberang. Sifat pemaaf menghias akhlak para Nabi dan orang-orang saleh. Rohani mereka telah dipenuhi sifat Tuhan yang Maha Pengampun (To err is human, but to forgive is divine).

Memaafkan jelas tak bisa direkayasa secara artifisial dengan upacara pemutihan seperti halal bihalal. Maaf yang tulus lahir dari perkataan yang tulus kepada orang lain. Orang yang hanya memperhatikan dirinya, tak akan pernah bisa memaafkan. Pada hakikatnya, orang egois adalah anak kecil yang menduga dunia diciptakan untuk memenuhi keinginannya. Salah satu akibat buruk dari kekuasaan ialah anggapan bahwa perkhidmatan orang lain kepada dirinya adalah kewajiban.

Karena itu, untuk dapat memaafkan, kita harus memusatkan perhatian kita kepada orang lain. Kita harus beralih dari pusat ego kepada posisi orang lain; dari egoisme kepada altruisme. Orang-orang altruis, dalam Al-Qur’an disebut sebagai muhsinin (orang-orang yang berbuat baik).

Nabi Muhammad SAW sangat terkenal sebagai orang yang pemaaf. Beliau taburkan maafnya kepada orang-orang yang menyakiti dan yang mengusirnya dari tanah airnya. Beliau serahkan sorbannya sebagai tanda maafnya kepada Wahsyi, yang membunuh pamanda tercinta, Hamzah.

Tapi menahan marah tanpa memaafkan hanya menumpuk penyakit. Memaafkan tanpa berbuat baik hanya menyemarakkan ritus sosial. Menahan marah, memaafkan, dan berbuat baik harus dilakukan sekaligus.

Tuhan menjelaskan ketiganya sebagai karakteristik orang takwa. Tetapi ciri orang takwa bukan hanya suka memaafkan. la juga mampu meminta maaf. Tak jarang meminta maaf lebih sulit dari memaafkan. Karena itu, setelah ketiganya, Tuhan menjelaskan sifat berikut dari orang takwa: “Dan orang-orang yang apabila berbuat keji atau berbuat dosa. Mereka ingat kepada Allah dan meminta maaf atas dosa-dosanya. Siapa lagi yang mengampuni dosa selain Allah. Dan ia tidak mengulangi lagi apa yang dikerjakannya padahal mereka mengetahuinya.” (Ali Imran: 135).

Dalam suasana Idul Fitri, saya ingin mengetuk perhatian Anda kepada orang lain dengan memohon maaf. Marilah kita bergabung dengan Ali bin Husain untuk membacakan doa I’tidzar, doa meminta maaf yang pernah diucapkannya:

“Ya Allah, aku mohon ampun kepada-Mu di hadapanku ada orang yang dizalimi aku tidak menolongnya.

Kepadaku ada orang berbuat baik, aku tidak berterima kasih kepadanya.

Orang bersalah meminta maaf kepadaku, aku tidak memaqfkannya

Orang susah memohon bantuan kepadaku, aku tidak menghiraukannya

Ada hak orang Mukmin dalam diriku, aku tidak memenuhinya

Tampak di depanku aib Mukmin, aku tidak menyembunyikannya

Dihadapkan kepadaku dosa, aku tidak menghindarinya.

Rabbi., aku mohon ampun dari semua kejelekan itu dan yang sejenis dengan itu.

Aku sungguh menyesal. Biarlah itu menjadi peringatan agar aku tidak berbuat yang sama sesudahnya.

Sampaikan salawat kepada Muhammad dan keluarganya.

Penyesalanku atas segala kemaksiatan. Tekadku untuk meninggalkan kedurhakaan.

Jadikan itu semua tobat yang menarik kecintaan-Mu.

Wahai Zat yang Mencintai orang-orang yang bertobat.”

Sumber: Majalah Ummat (tanpa nomor dan tahun)

Dipublikasi ulang oleh Admin DPD PKS Sidoarjo

Konten lainnya: