W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Menanti Jiwa-Jiwa Penyayang

Kota Madinah, di pagi yang masih sangat buta. Butir-butir pasir saling merapat kedinginan. Langit nampak hitam. Tanda malam masih menyisakan banyak potongan gelapnya. Suasana hening, nyaris tanpa suara.

Rasulullah saw memasuki pagi itu dengan badan yang panas. Nampaknya, manusia mulia pilihan Allah itu terserang demam.

Aisyah, isteri Rasulullah juga sedang sakit kepala.

“Aduhai kepalaku,” gumam Aisyah.

Rasulullah menyahut, “Justeru kepalaku, wahai Aisyah.” Kemudian Rasulullah menambahkan, “Wahai Aisyah, tak usah risau bila engkau meninggal lebih dulu. Bukannya ada aku yang akan mengurusi, mengkafani, menyolatkan dan menguburkan engkau?”

Aisyah menimpali, “Tapi setelah selesai, engkau akan pulang ke rumahku untuk bermalam bersama istri engkau yang lain.”

Rasulullah tersenyum mendengar jawaban isterinya.

Malam sebelumnya, Rasulullah pergi ke Baqi’, tempat para sahabat yang syahid dimakamkan. Di sana, Rasulullah memohonkan ampun kepada Allah untuk para syuhada’ itu.

Beliau pergi ke sana bersama Abu Muwaihibah. Dalam perjalanan pulang, Rasulullah berkisah, “Wahai Abu Muwaihibah, telah didatangkan kepadaku kunci-kunci kekayaan dunia untuk tinggal di dalamnya, lalu ke surga. Aku disuruh memilih antara di dunia, atau bertemu dengan Allah dan masuk surga.”

Abu Muwaihibah menyahut, “Pilihlah tinggal di dunia dengan segala kunci-kunci kekayaannya, baru sesudah itu ke surga.”

Rasulullah menjawab, “Tidak, wahai Abu Muwaihibah. Aku telah memilih bertemu dengan Allah dan surga.”

Selanjutnya, sakit Rasulullah semakin parah. Ini kemudian menjadi awal dari hari-hari belasungkawa yang sangat mengguncangkan. Para sahabat mengalami apa yang mungkin tidak pernah mereka bayangkan. Betapa sosok agung yang selama ini mengajarkan kepada mereka tentang jalan hidup, tentang persaudaraan, juga kebersamaan tengah berada dalam ketidakberdayaan.

Tiga belas hari kemudian, kala matahari memasuki waktu Dhuha yang semakin panas, Rasulullah menghadap Allah.

Sosok pemersatu itu telah pergi selama-lamanya. Rasulullah saw yang telah mempersatukan kaum muhajirin dan Anshar, mempersatukan suku Aus dan Khazraj, dan menautkan ratusan ribu jiwa dalam satu nafas: nafas keimanan kepada Allah. Semuanya diabadikan Allah dalam firman-Nya, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara, dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imran: 103).

Seluruh sahabat berkabung, dirundung kesedihan yang sangat dalam. Anas bin Malik mengisahkan, “Aku tidak pernah melihat suatu hari yang lebih baik dan lebih terang selain dari hari saat Rasulullah saw masuk ke tempat kami. Dan, aku tidak melihat hari yang lebih buruk dan lebih muram selain dari hari saat Rasulullah saw meninggal dunia.

Seluruh ekspresi orang-orang yang mencintai Rasulullah itu adalah gambaran tentang tingginya kedudukan Rasulullah di mata mereka. Betapa tidak, kehadiran Rasulullah telah menjadi simpul kebersamaan yang sangat kuat. Bertahun-tahun mereka mengarungi perjuangan, suka, dan dukanya. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Rasulullah telah mencetak sebuah entitas kolektif baru yang penuh izzah: kaum muslimin, yang hidup bersama dalam ikatan ukhuwah dan iman kepada Allah.

Rasululah datang kala orang-orang jahiliyah saling bermusuhan atas nama solidaritas kabilah, atau atas nama kebanggaan dan keberanian yang lebih mirip arogansi ngawur. Meski di tengah segala keburukan itu, banyak sifat-sifat mereka yang baik, seperti jujur dan menepati janji. Rasulullah hadir, lantas mengais-ngais segala potensi kebaikan itu, lalu menganyamnya dengan penuh kesabaran hinga menjadi kumpulan jiwa-jiwa yang bersih, pemberani dan pembela kebenaran yang tangguh.

Kini, beratus-ratus tahun kemudian, kita hanya bisa merindukan suasana kebersamaan yang indah, kerekatan bersama yang nyaman, atas nama sebuah ukhuwah, seperti para sahabat itu. Seperti kerekatan Rasulullah dan orang-orang yang mencintainya sepenuh hati.

Ya, karena setiap orang memerlukan orang lain, dalam konteks apapun. Apalagi hari-hari ini, ketika umat Islam semakin tercabik-cabik. Ketika gelombang individualisme menyerbu sendi-sendi kehidupan. Sungguh, kita menantikan sebuah suasana kebersamaan yang tulus.

Tak bisa dipungkiri, setiap manusia memerlukan aktualisasi kolektif, memerlukan ruang kebersamaan tempat dirinya menemukan jati diri dan harga dirinya. Karenanya Islam pun memberi wadah dan ruang untuk semua potensi dan fitrah kemanusiaan itu. Bahkan, persekutuan yang dibangun oleh Islam begitu mulia, jauh lebih tinggi dari persekutuan yang pernah ada sebelumnya.

Tingkatan kepedulian dalam kebersamaan itu terbagi menjadi tiga hal. Pertama, empati kemanusiaan. Ini merupakan kulit paling luar dari sebuah kebersamaan. Dasarnya adalah firman Allah SWT, “Dan tidaklah aku utus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi alam semesta.

Empati kemanusiaan itu pula yang ditunjukkan Rasulullah kepada orang Yahudi yang sedang sakit. Rasulullah menjenguk Yahudi itu dengan tulus. Atau keinginannya untuk hadir dalam sebuah majelis advokasi dan sosial milik orang-orang Qurays yang kafir. Majelis itu bernama “Hilful Fudhul”, yang dengan biaya dari anggotanya sendiri majelis atau lembaga itu akan membantu siapa saja yang merasa terdzalimi.

Empati kemanusiaan juga didasarkan kepada ajaran Islam yang melarang kita berbuat tidak adil kepada orang yang tidak kita sukai. Allah berfirman, “Dan janganlah kebencianmu kepada suatu kaum membuatmu tidak berbuat adil.” (QS.Al-Anbiya: 107).

Semua itu menggambarkan sebuah situasi tentang kebersamaan yang dibangun atas dasar kepedulian kemanusiaan atau solidaritas kemanusiaan tanpa membedakan agama.

Kedua, persaudaraan kelslaman. Artinya, kebersamaan ini lebih tinggi dari sekadar kemanusiaan. Karena ia didasarkan kepada agama. Penjabarannya, bahwa setiap muslim itu bersaudara. Karenanya, harus saling memberikan bantuan, dukungan, nasehat, bimbingan dan pertolongan dalam bentuk lainnya.

Dasar dari persaudaraan keIslaman adalah sabda Rasulullah, “Tolonglah saudaramu, yang dzalim maupun yang terdzalimi.” Artinya, seorang muslim itu mungkin saja melakukan kedzaliman, sebagaimana ia mungkin saja didzalimi. Namun meski begitu Rasulullah menyebutnya “saudaramu”.

Dan, yang ketiga, kebersamaan yang didasarkan kepada keimanan dan kesatuan perjuangan. Seperti difirmankan Allah, “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara. Karena itu, damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (Al-Hujurat: 10).

Kebersamaan atas dasar iman dan kesatuan perjuangan menjadikan orang-orang yang bergabung di dalamnya betul-betul saling mencintai karena Allah, rela berkorban, berjuang, dan melakukan apa saja untuk menggapai ridha Allah. Karena ada sesuatu yang ingin dipersembahkan kepada Allah secara bersama-sama. Bisa berupa amal shalih, juga kegigihan dalam menegakkan kebaikan dan mencegah keburukan.

Karenanya, kebersamaan ini memerlukan banyak sekali pengorbanan. Seperti yang dilakukan oleh para kaum Anshar, yang rela memberikan apa saja demi saudaranya kaum Muh-jirin. Seperti digambarkan Allah dalam Al-Qur’an, “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9).

Dalam masa Rasulullah, misalnya, ada sahabat-sahabat yang berjanji setia kepada Rasulullah untuk membela Islam, meskipun nyawa sebagai tebusannya. Ini tentu berbeda dengan seorang Badui yang datang kepada Rasulullah untuk masuk Islam, namun kemudian berjanji hanya akan menjalani rukun Islam yang lima saja, tidak menambah dan tidak mengurangi.

Segala kebersamaan yang hanya didasarkan kepentingan sesaat, apalagi kepentingan yang buruk, tidak akan pernah kekal. Jangankan sampai akhirat, di dunia pun banyak yang tidak berumur panjang. Allah swt menegaskan, “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 76).

Dunia sedang menantikan sosok-sosk pemersatu. Kantong-kantong kebersamaan banyak yang telah bocor dan tercabik-cabik. Seperti keluarga yang amburadul, masyarakat yang kacau-balau, atau negara yang nyaris rontok diacak-acak perampok.

Ini mungkin terlalu utopis. Tetapi, di tengah sampah-sampah kehidupan yang terus menggunung, kita yakin seyakin-yakinnya, masih ada jiwa-jiwa yang bersih. Atau setidaknya jiwa-jiwa yang peduli dengan kebersamaan. Yang menjadi unsur perekat, yang me-nyatukan tulang-tulang yang berserakan. Yang menyayangi kala yang lain membenci, yang mengayomi kala yang lain memangsa. Semoga, jiwa-jiwa itu adalah jiwa-jiwa kita.

Sumber: Majalah Tarbawi Edisi 27 Th. 3/Syawal 1422 H/31 Desember 2001 M

Dipublikasi ulang oleh Admin DPD PKS Sidoarjo

Konten lainnya: