W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Meniti Detik-Detik yang Menentukan itu

Hidup kadang tak memberi pilihan pada kita. To be or not to be. Saat di mana kita hanya dihadapkan pada ada atau tiada. Menang atau kalah. Hidup atau mati. Perorangan, organisasi, bahkan peradaban tak terkecuali akan berhadapan dengan situasi ini. Tinggallah kita mencoba untuk mencari formula yang menjamin kita melewati titik kritis ini.

Beberapa rambu dapat dipertimbangkan untuk menjalani detik-detik hidup kita yang menentukan.

1. Jangan Sentuh Wilayah Abu-Abu

Ketika kita dihadapkan pada detik-detik yang menentukan, kejelasan sikap atau bahkan kepastian bersikap sangat diperlukan. Kepastian itu didapat dari sebuah keyakinan yang bulat. Menghunjam dalam lubuk yang paling dalam. Teguh tak tergoyahkan.

Allah menggambarkan keteguhan berakidah itu bagaikan pohon yang baik. Akarnya menghunjam ke bumi. Dan dahan rantingnya menjulang ke langit. Dari pohon yang baik inilah, atas ijin-Nya, akan tumbuh berkembang buah yang ranum (14:24). Menjadikan pemandangan yang indah. Memberi manfaat bagi manusia, hewan, dan alam sekitarnya.

Begitulah orang-orang yang yakin. Keyakinan yang membuahkan sikap. Keteguhan, bahkan keberanian. Inilah buah ranum yang akan memberi manfaat pada situasi-situasi sulit. Pada saat kebanyakan orang terombang-ambing, menjadi peragu, was-was dan pesimistis, ada jiwa-jiwa tegar nan perkasa. Begitulah jalan para nabi. Begitu pulalah jalan para pemimpin. Kekuatan yang memancar dari sebuah keyakinan yang tak terbendung lagi. Tak bisa ditembus, bahkan oleh kematian. Allah menyebut jiwa-jiwa seperti itu adalah jiwa-jiwa yang tetap hidup walau jasadnya telah berkalang tanah (2:154).

Ketidakyakinan akan kebenaran adalah bibit kemunafikan. Di dalam Al Qur’an digambarkan bagaimana orang-orang munafik selalu saja mempunyai dalih dan mencoba-coba membuat dalil untuk membenarkan perbuatannya. Ketika meniti detik yang kritis, mereka akan bersikap oportunistik. Ketika kaum muslimin menang mereka akan ikut, tapi ketika kaum musiimin kalah mereka akan menyeberang ke kubu orang kafir (4:141). Allah menyebutnya seperti kayu yang tersandar(63:4). Tidak punya akar dan ranting yang tumbuh menjulang ke langit. Apalagi memberi buah; yang segarnya memuaskan dahaga dan manisnya memberi kekuatan. Kayu tersandar memang seakan kokoh, bahkan sepintas mungkin indah, tapi sebenarnya mati.

Islam mengajarkan kita untuk tidak memasuki wilayah ghoror. Meninggalkan yang syubhat. Tidak dihinggapi syak wasangka. Dan jangan sampai was-was. Semua itu dalam rangka mencegah kita dari kebimbangan. Sebab kebimbangan bisa menjelma menjadi kemunafikan. Allah menggambarkan bagaimana kebimbangan orang-orang munafik; tidak masuk golongan orang-orang yang beriman dan tidak pula masuk ke golongan orang yang kafir (4:143). Sikap yang mendua antara iman dan kafir itu tak akan pernah menambah keimanan, tapi yang terjadi justru makin mengentalnya kekafiran (4:137). Allah memberi ancaman terberat bagi orang-orang munafik dengan menjebloskannya pada tingkatan terbawah atau keraknya neraka (4:145).

Jadi memang tidak ada pilihan lain ketika meniti detik-detik kritis dalam hidup; jangan sentuh wilayah abu-abu. Sedikit pun.

Rasulullah bersabda, “Perumpamaan orang munafik itu seperti perumpamaan domba yang bingung di antara dua ekor kambing, terkadang berpaling pada kambing yang satu, terkadang pada kambing yang lain dan tidak tahu mana yang harus diikuti.” Orang-orang yang tersesat tidak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepada mereka (18:17).

Oleh karena itu, pertegaslah posisi. Walau baru sedikit, mulailah.

Rasulullah bersabda, “Murnikan (berbuat ikhlaslah dalam) agamamu, niscaya amalmu yang sedikit dapat mencukupimu.”

Bayangkan, kemurnian akan mengantarkan kita pada kecukupan meski dengan amal yang sedikit. Dan itu, insya Allah, cukuplah untuk menyelamatkan kita.

2. Jangan Lalai dari Mengingat Allah

Salah satu detik-detik hidup yang amat menentukan bagi Rasulullah adalah ketika hijrah ke Madinah. Anak-anak muda terpilih dari berbagai kabilah Quraisy yang perkasa telah mengepung rumah Rasulullah untuk membunuhnya. Tapi beliau dengan tenang memerintahkan Ali bin Abi Thalib untuk tidur dipembaringannya, sambil memberikan selimut Hadhrami berwarna hijau yang biasa ia pakai. Lalu beliau keluar melewati pemuda-pemuda itu, menaburi tanah ke kepala mereka satu persatu sambil membaca ayat, “Dan kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), serta Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.” (Yasin: 30).

Allah menutup mata mereka hingga taksatupun yang melihat Rasulullah keluar menuju kediaman Abu Bakar. Lalu sebelum terbit fajar, Rasul dan Abu Bakar bersama-sama berangkat menuju Gunung Tsur, ke arah Yaman. Di sanalah terletak gua Tsur yang menjadi tempat persembunyian sementara sebelum melakukan perja-lanan ke Madinah. Tiga hari tiga malam mereka bersem-bunyi dalam keadaan mencekam. Sementara orang-orang kafir Quraisy melakukan berbagai upaya untuk menangkap mereka. Seluruh jalan keluar kota Mekah diblokir. Dijaga k-tat dengan persenjataan lengkap. Lalu diadakanlah sayembara bagi siapa saja yang berhasil menangkap Rasul dan Abu Bakar dalam keadaan hidup maupun mati, akan mendapat imbalan seratus ekor onta. Maka bertebaranlah orang-orang mengadu untung.

Salah satu rombongan pengadu untung itu ada juga yang sampai ke pintu gua persembunyian. Ketika itu, Abu Bakar mengangkat kepalanya dan melihat kaki-kaki kaum musyrikin di mulut gua. la berkata, “Wahai Nabi Allah, seandainya mereka melihat ke bawah (menunduk), tentulah mereka melihat kita berdua.” Tapi Rasulullah menjawab menenangkan, “Diamlah, wahai Abu Bakar, selain kita berdua adalah Allah sebagai pihak ketiga.” Dalam riwayatlain dikatakan, “Wahai Abu Bakar, janganlah kamu kira kita hanya berdua, Allah bersama kita.”

Kebersamaan dengan Allah, inilah kunci meniti detik-detik hidup yang teramat menentukan. Jangan sampai lalai walau sedetik pun. Jangan sampai luput walau sejumput. Selalu bersama Allah. Dengan senantiasa berzikir dalam keadaan apa pun. Berdiri, duduk, maupun berbaring (3:191). Dalam seluruh kondisi dan posisi kita harus selalu mengingat Allah. Dengan begitu akan datang pertolongan Allah dari arah yang tidak kita sangka-sangka.

3. Jangan Menjauh dari Umat

Lihatlah bagaimana Umar bin Khattab meniti detik kritis kekhalifahannya pada akhir abad 17 Hijriah. Saat itu kaum Musiimin di Semenanjung Arab sebenarnya tengah menikmati berita kemenangan pasukan mereka di Irak dan Syam. Harta rampasan yang didapatkan telah membuat mereka makin makmur. Namun di tengah kegembiraan itu, tiba-tiba mereka dikejutkan bencana kelaparan yang meluas di negeri-negeri Arab, dari ujung selatan sampai ujung utara. Selama sembilan bulan hujan tidak turun dan lapisan gunung berapi mulai bergerak dari dasar, membakar permukaan dan semua tanaman di atasnya. Lapisan tanah menjadi hitam, gersang dan penuh abu, yang bila datang angin, makin luas bertebaran. Tahun ini disebut “Tahun Abu”. Akibatnya, segala usaha pertanian dan peternakan hancur. Manusia dan binatang ternak banyak yang menjadi korban.

Saat itu, kondisi kota Madinah lebih baik karena penduduknya terbiasa menyimpan bahan makanan. Maka berbondong-bondonglah masyarakat meminta bantuan pada Amirul Mukminin. Kota itu menjadi penuh sesak karena banyaknya pengungsi yang datang. Penduduk makin merasa tertekan, kegersangan yang mereka derita sama seperti yang menimpa masyarakat pedalaman. Apa yang dilakukan Umar saat itu?

Setelah kelaparan mencapai puncaknya, Umar pernah disuguhi roti yang diremukkan dengan samin. Ia memanggil seorang Badui dan roti itu dimakannya bersama-sama. Setiap kali orang Badui itu menyuap roti, diikutinya dengan lemak yang ada di sisi luarnya.

Melihat itu, Umar bertanya, “Tampaknya Anda tak pernah mengenyam lemak?

“Ya,” jawab orang itu. “Saya tak pernah makan dengan samin atau minyak zaitun. Saya juga tak melihat ada orang yang memakannya sekian lamanya sampai sekarang ini.”

Sejak itu, Umar bersumpah untuk tidak lagi makan daging atau samin sampai semua orang hidup seperti biasa. la tetap dengan sumpahnya itu sampai deng an izin Allah hujan turun dan musim paceklik berakhir.

Komitmen itu ia laksanakan sungguh-sungguh.

Suatu kali di pasar, ada orang membawa samin dan susu masing-masing dalam satu tabung kulit. Kedua barang itu dibeli seorang anak muda dengan harga 40 dirham dan langsung diberikannya pada Umar. Awalnya Umar menolak halus, “Terlalu mahal kalau Anda sedekahkan. Saya tidak suka makan dengan berlebihan.” Tapi kemudian ia menunduk lalu berkata, “Bagaimana saya akan dapat memperhatikan keadaan rakyat jika saya tidak ikut merasakan apa yang mereka rasakan?”

Alangkah agung dan mulianya kebijakan itu. Dan lebih agung lagi karena saat itu beliau sebenarnya memiliki harta milik Kisra dan Kaisar. Begitu juga harta kekayaan Irak dan Syam. Umar sebenarnya mampu menggunakan sekehendaknya tapi ia lebih senang mengurus rakyatnya yang kelaparan. Dengan tindakannya ini ia telah memperoleh dua hal; pertama, merasakan penderitaan orang lain, hingga ia terdorong untuk melipatgandakan perjuangannya. Kedua, menentramkan hati kebanyakan orang bahwa Amirul Mukminin bersama-sama mereka dalam suka dan duka. Hati mereka tidak memberontak tapi menerima segala yang menimpa dengan lapang dada.

Inilah seharusnya yang menjadi sikap para pemimpin ketika menghadapi detik-detik kritis bangsanya. Pastikan selalu ada kebersamaan antara pemimpin dan rakyatnya. Hingga rakyat menjadi kuat. Inilah pula yang dicontohkan Rasulullah. Bayangkanlah, bagaimana rakyat tidak mencintai kalau ketika sakarat yang disebut-sebut Rasulullah adalah, “umatku, umatku, umatku.” Betapa beliau memiliki kepedulian yang tak berbatas pada umatnya. Rasulullah bersabda, “Barang siapayang tidak memikirkan nasib kaum muslimin, maka tidak masuk dalam golongan mereka.” Jadi, kebersamaan dengan umat adalah kekuatan. Bahkan identitas apakah seseorang itu menjadi bagian dari umat atau tidak.

4. Jangan Putus Asa Mencari Jalan Keluar

Ini kisah penderitaan Asma’ binti Abu Bakar suatu ketika. Ia bercerita dengan nada jenaka, “Kami mempunyai seorang tetangga Yahudi yang sedang menyembelih domba dan memasaknya. Aku bisa mencium bau masakannya yang amat sedap. Aku yang menggendong putriku, Khadijah, tidak sabar mencium bau itu. Maka aku keluar dan menemui istri tetanggaku. Aku berpura-pura meminta api, dengan harapan dia akan memberikan sebagian dari masakannya, sekalipun aku sebenarnya tak membutuhkan api. Setelah aku bisa melihat dan mencium bau masakan itu dari dekat keinginanku makin menggebu. Maka api yang kuminta dari tetanggaku kupadamkan, lalu aku mendatanginya lagi untuk kedua kalinya, pura-pura minta api.”

Asma’ bercerita bagaimana ia mengulang hingga tiga kali. Setelah itu ia duduk menangis sambil berdo’a pada Allah. Tidak lama kemudian, suami tetangganya yang Yahudi itu datang, la bertanya kepada istrinya, “Apakah ada seseorang yang telah datang ke sini?” “Ya, ada seorang perempuan Arab yang meminta api,” jawab istrinya. Sang suami berkata lagi, “Aku tidak akan mencicipi masakan itu sedikit pun, kalau engkau belum mengirimkan sebagiannya pada perempuan itu.” Lalu orang itu mengirim masakan beserta kualinya pada Asma’. “Tidak ada sesuatu yang lebih menarik bagiku di dunia saat itu selain dari masakan itu,” katanya.

Lihatlah bagaimana Asma’ tak berputus asa. Ia gigih berjuang. Hingga pada satu titik ia bersimpuh di hadapan Allah dan berdo’a. Hingga akhirnya memperoleh keinginannya yang sepintas sederhana. Bayangkanlah kalau untuk sepiring masakan saja Asma’ begitu rupa daya upaya, apatah lagi pada detik yang menentukan dalam hidupnya. Ini pengingat bagi kita. Janganlah berhenti berusaha. Jangan berputus harapan.

Pada detik terakhir hidupnya Abu Bakar memanggil Umar, dan berkata, “Hendaklah seorang hamba selalu memohon dengan sungguh-sungguh dan merasa takut. Tidak berangan-angan pada Allah, tidak pula berputus asa terhadap rahmat Allah. Jika engkau memperhatikan wasiatku ini, tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang paling engkau cintai dari kematian, dan engkau tidak bersikap lemah terhadapnya.” Begitulah komitmen seorang Muslim, berjuang dengan penuh optimis sampai detik terakhir hidupnya.

5. Jangan Sungkan Bersuara Lantang dalam Do’a

Simaklah kisah Umar bin Khattab. Bagaimana ia menghadapi detik yang sulit bersama Rasulullah. Ia bercerita begini, “Kami pergi ke Tabuk dalam cuaca sangat terik. Kami singgah di suatu tempat dan rasa dahaga menyerang, sampai-sampai kami mengira tengorokan kami akan putus. Ada seorang di antara kami yang mencari-cari air, dan ketika kembali tanpa membawa apa-apa, ia mengira lututnya putus. Ada pula di antara kami yang menyembelih ontanya lalu memerasnya agar keluar air lalu diminumnya.”

Pada situasi itu, Abu Bakar bertanya, “Wahai Rasulullah, bukankah telah dijanjikan dalam do’a? Maka berdo’alah untuk kami.” Rasulullah berkata, “Apakah engkau menyukai yang demikian?” “Ya,” jawab Abu Bakar. Maka beliau pun menengadahkan tangan ke arah langit. Belum lagi tangan beliau turun, langit sudah mendung, lalu turun gerimis yang disusul hujan deras. Hingga mereka bisa mengisi kantung-kantungnya. Ketika, akhirnya perjalanan dilanjutkan, Umar berkata, “Ternyata hujan itu hanya turun di sekitar pasukan.”

Jadi, adakalanya kita harus berdo’a dengan suara lantang. Ketika detik-detik hidup menuntut tak boleh kalah, maka tengadahkan tangan. Dan berdo’alah dengan lantang.

Sumber: Majalah Tarbawi Edisi 81 Th. 5/Shafar 1425 H/2 April 2004 M.

Dipublikasi ulang oleh Admin DPD PKS Sidoarjo

Konten lainnya: