W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Menyesal School

Oleh Taufiq Ismail

Seorang gadis berumur 25 tahun mendirikan sebuah sekolah yang dlberinya nama “Menyesal School”. Muridnya 60 orang, khusus perempuan. Kebanyakan sudah bersuami, tapi ada juga yang masih remaja. Semuanya buta huruf Latin. Mereka menyesal tidak mendapat kesempatan belajar membaca dan menulis. Penasaran karena ingin menolong mereka, gadis itu nekat melawan ejekan pemuka adat yang tidak suka pada perlawanan terhadap adat pingitan yang berlaku masa itu.

Sekolah itu menumpang di salah satu ruangan Mesjid Pasar Usang di Padang Panjang. Tahunnya 1925, dua puluh tahun sebelum Indonesia merdeka. Nama gadis nekat itu Siti Rahmah, kelak dikenal dengan sapaan Kak Amah.

“Menyesal School” pindah ke sebuah rumah sewa, lalu dibuka kelas untuk remaja puteri yang ditambah dengan ilmu agama, dan diberi nama baru Diniyah Puteri (DP). Tiba-tiba, kota itu diguncang gempa bumi 1926 yang dahsyat. Seluruh Padang Panjang rusak berat. Jalan raya retak dan terbelah. Seorang guru Diniyah Puteri (DP) meninggal.

Dalam perkembangan selanjutnya, kurikulum yang dititikberatkan pada buku-buku teks bahasa Arab disempurnakan dengan pengetahuan berorganisasi, administrasi, koperasi, kepanduan, kesenian, memasak, dan menjahit. Bakat menulis disalurkan melalui surat kabar bulanan, istilah Belandanya maandblad, yang isi serta semangatnya seirama dengan perjuangan gerakan nasional di zaman itu. Lauhan pidato di sekolah menyiapkan mereka jadi muballighat, dan kesempatan menulis melatih penuangan pikiran mereka. Salah seorang siswa dengan nama samaran Kodrat Muda (Zamzami Rimini, yang berpena tajam) masuk penjara 2 bulan karena artikelnya yang tak disukai pemerintah Belanda.

Demikianlah sekolah-sekolah agama di Minangkabau waktu itu menjadi sumber calon pemimpin bangsa, dan Diniyah Puteri salah satunya. Dinamika kepemimpinan Siti Rahmah, yang lebih dikenal dengan nama Rahmah el-Yunusiyah, disokong oleh stamina fisiknya yang seperti tak kenal lelah. Dua peraturan pemerintah kolonial mengenai ordonansi kawin tercatat yang secara halus menyingkirkan fungsi qadhi di mesjid, dan ordonansi sekolah-sekolah liar yang mencegah terbentuknya anak-didik yang menentang kiprah kolonialisme, dilawan oleh pejuang-pejuang kita di seluruh nusantara.

Di Minangkabau, Rahmah el-Yunusiyah gigih menentang kedua ordonansi tersebut. Rapat umum diadakan di mana-mana membangkangi peraturan yang meriindas itu. Di Bukittinggi, Rahmah memimpin Panitia Penantang Ordonansi Kawin Bercatat itu. Aksi melawan ordonansi sekolah liar di Padang Panjang juga diketuainya. Pemerintah Belanda menawarkan subsidi uang, peralatan, dan gaji guru untuk DP, yang memang sangat diperlukan, tapi ditolak dengan tegas.

Ketika kantor-kantor dan masyarakat Padang Panjang masih ragu-ragu karena suasana akhir Perang Dunia masih belum jelas betul, sekolah Diniyah Puteri tepat pada 17 Agustus 1945 mengibarkan bendera Merah Putih, yang sudah disiapkan sebelumnya.

Gender tidak jadi masalah bagi lingkungan pejuang Republik di Sumatera Barat. Rahmah tercatat dalam sejarah revolusi aktif sebagai pelopor pembentukan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) Padang Panjang, besarnya satu batalyon. Laskar Hizbullah dan Sabilillah yang dibentuk di kota itu, yang dibiayai dengan zakat, infak, dan sedekah umat Islam untuk penyediaan seragam, makanan, dan persenjataannya, juga disertai oleh Rahmah dengan harta pribadinya dalam porsi yang besar. Karena itulah, masyarakat memberi Rahmah nama kesayangan Bundo Kanduang Hizbullah dan Sabilillah.

Ternyata beliau juga aktif dalam pertempuran. Idenya menggempur kota Padang dari luar dan mengacau di dalam, dilaksanakannya dengan pembentukan “Pasukan Ekstremis”. Selama aksi polisionil Belanda, asrama DP dengan 1.000 siswa dikosongkan, dan sejumlah guru ditugaskan mengantar mereka pulang sampai selamat ke kampung masing-masing. Sehabis itu, Rahmah ditangkap tentara Belanda dan ditahan 8 bulan lamanya di kota Padang.

Kini, telah 66 tahun DP memberikan sumbangsih alumnaenya yang tersebar di Indonesia dan Malaysia. Pemimpin politik pada tahun 30-an di partai PERM (Persatuan Muslimin Indonesia) di Minangkabau praktis semuanya adalah guru dan tamatan DP. Yang paling terkemuka adalah Rasuna Said, Rasimah Ismail, dan Ratna Sari. Rasuna Said dan Rasimah Ismail adalah “orator singa betina” yang kena ranjau peraturan kolonial sehingga masuk penjara perempuan di Semarang pada 1934. Di Malaysia, dikenal Senator Aishah Gani dan Dahn Sakinah Juned.

Menjelang PERMI dibubarkan Belanda, dan 3 pemimpin utama dibuang ke Digul, Ratna Sari menjadi Ketua Partai pada 1933. Jadi, bukan Megawati perempuan Indonesia pertama yang menjadi ketua sebuah partai politik, tapi Ratna Sari. Dari ratusan alumnae DP yang membaktikan ilmu sebagai guru, mubailighat, dosen, dan seterusnya, dapat disebut antara lain Aisyah Aminy (tamat 1948) ketua Komisi I DPR, dan Suryani Thaher (1958) pemimpin Perguruan At-Tahiriyah.

Kagum pada amalnya sebagai pemimpin umat dan pendidik perempuan, ketika Rahmah menjadi anggota DPR (1955-1958), Universitas al-Azhar mengundang beliau ke Kairo untuk menerima gelar Syaikhah, doktor honoris causa, yang pertama kali dianugerahkan kepada perempuan di universitas berumur 1.000 tahun itu. Baru tiga tahun kemudian, fakultas resmi untuk kaum perempuan Kulliyatul Banaat, dibuka di al-Azhar.

Dua puluh tujuh tahun silam (26 Februari 1969) Rahmah el-Yunusiyah wafat di Padang Panjang dalam usia 69. Kita kenang penuh hormat seorang pendidik terkemuka, pejuang besar, pekerja tak kenal lelah, teladan dan pahlawan bagi perempuan Indonesia.

Sumber: Majalah UMMAT No. 21 Thn. I. I5 April 1996/26 Zulkaldah 1416 H

Dipublikasi ulang oleh Admin DPD PKS Sidoarjo

Konten lainnya: