W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Mereka Berdoa selama Enam Bulan

Hikmah_Biru04Saudaraku. Dahulu, Abu Bakar Shiddiq ra tidak mampu lagi membendung air matanya saat mengetahui Rasulullah saw wafat. Abu Bakar, benar-benar merasakan agung dan mulianya karunia Allah SWT atas dirinya karena telah terpilih menemani Rasulullah saat melakukan hijrah ke Madinah, lalu sang Rasul mulia itu pergi meninggalkannya.

Saudaraku.
Bulan Ramadhan sama dengan tamu mulia. Renungkanlah betapa besar nikmat dan karunia Allah SWT yang amat agung dan mulia itu untuk kita. Karena Allah yang telah memilih kita sebagai hamba yang menerima tamu mulia Ramadhan dan hidup bersama dengannya selama satu bulan. Tapi kemudian, tamu mulia itu kini telah pergi…

Masih ingatkah kita dengan hari-hari Ramadhan?

Saat kita mengikuti rihlah ubudiyah (perjalanan ibadah) satu bulan lamanya bersama Allah SWT di bulan itu. Menapaki hari demi hariyang nyaris tak putus dengan ibadah. Melalui detik demi detik yang selalu saja semakin mendekatkan hati kepada Allah SWT. Bagaimana kondisi hati kita saat ini, saudaraku?

Mari mengukur-ukur sendiri perbandingan kondisi kita hari ini dengan hari-hari sebelum Ramadhan. Jika target dan tujuan puasa Ramadhan adalah kita menjadi manusia bertakwa, seharusnya suasana kita hari ini adalah lebih baik daripada sebelum Ramadhan. Bandingkan bagaimana kondisi ibadah pada pekan-pekan sebelum Ramadhan dan usai Ramadhan. Apakah kita mengalami surut ibadah sehingga sama dengan kondisi ibadah sebelum Ramadhan? Atau lebih baik ketimbang sebelum Ramadhan?

Bersyukurlah jika kita menilai kondisi ibadah kita meningkat dan perasaan kita lebih dekat kepada Allah menjadi lebih baik setelah Ramadhan. Semoga Allah SWT benar-benar menerima amal-amal kita di bulan Ramadhan. Jika tidak, tak ada jawaban konkret yang paling penting dilakukan, kecuali meningkatkan kewaspadaan dan ber-mujahadah lebih keras untuk meraih kebaikan pasca Ramadhan. Karena Ibnu Rajab mengatakan, “Orang bodoh adalah mereka yang meninggalkan Ramadhan, bersamaan dengan meninggalkan ibadah yang ada di bulan Ramadhan…” (Lathaif AI Ma’arif, 1/158)

Saudaraku.
Ternyata, Ramadhan mengajarkan bahwa melawan keinginan bermaksiat mempunyai kelezatan tersendiri dalam hati. Ternyata, Ramadhan meyakinkan kita bahwa memenangkan ketaatan kepada Allah SWT saat harus berhadapan dengan keinginan syahwat, menyusupkan kegembiraan dalam hati yang begitu menenangkan. Ternyata, tekad yang kuat dan keimanan yang tulus begitu memudahkan kita menjalani amal-amal ibadah yang begitu sulit kita jalani sebelum Ramadhan. Itulah salah satu tarbiyah yang kita peroleh selama bulan Ramadhan.

Saudaraku.
Mari, jangan tinggalkan kenikmatan dan kelezatan itu setelah kita usai menjalani bulan Ramadhan. Mari, jangan biarkan syaitan merenggut kembali kenikmatan dan kebahagiaan lahir batin yang sudah kita rasakan melalui ibadah di bulan Ramadhan. Syaitan pasti berusaha dengan cara apapun untuk menje-rumuskan kita, menanamkan kembali rasa berat berkorban, rasa malas melakukan ketaatan, keinginan yang begitu kuat memenuhi syahwat. Mari, pelihara baik-baik pengalaman hati yang begitu berharga untuk menjadi bekal di hari-hari ini dan selanjutnya.

Saudaraku.
Kita tidak boleh puas diri dengan amal-amal di bulan Ramadhan. Bahkan, rasa puas seseorang dengan prestasi ibadah yang dilakukannya, bukanlah pertanda baik. Seorang shalih mengatakan, “Jika engkau puas dengan dirimu dan amal-amalmu, ketahuilah bahwa ketika itu Allah tidak ridha kepadamu. Dan jika engkau merasakan bahwa dirimu sumber segala aib dan keburukan, lalu amal yang dilakukan penuh kekurangan dan ketidaksempurnaan, bagaimana Allah akan ridha dengan dirimu dan amalmu?” Jadi, terlalu yakin atau tidak terlalu yakin terhadap amal yang dilakukan, kedua-duanya sikap kurang baik.

Yang dilakukan para sahabat dahulu, mereka justru khawatir dengan amal-amal yang dilakukan. Sejumlah sahabat diriwayatkan berlomba mengeluarkan shadaqah dengan pengorbanan luar biasa. Tapi setelah itu, mereka diterpa kegelisahan dan bertanya, apakah Allah SWT menerima amal mereka? Maka, Allah SWT berfirman dalam surat Al Mu’minun ayat 60, “Dan orang-rang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut…

Takut dan khawatir kalau amal-amal ibadah yang mereka kerjakan tidak diterima Allah SWT. Mereka berusaha menyempurnakan amal dengan sungguh-sungguh, dan begitu memikirkan bagaimana agar amalnya diterima oleh Allah SWT. Maka, Ali bin Abi Thalib ra menasihati kita, “Jadilah kalian orang yang lebih besar perhatiannya dalam soal apakah amal diterima atau tidak daripada amal itu sendiri.

Saudaraku.
Mari merenung di detik ini. Berbicara pada diri sendiri. Apakah amal-amal kita di bulan itu diterima Allah SWT? Khawatirkah kita bila ternyata amal-amal kita di bulan Ramadhan tidak diterima?

Ibnu Mas’ud ra kerap menanyakan kepada saudara-saudaranya seusai Ramadhan, “Siapa di antara kita yang amal-amalnya diterima Allah SWT, kami akan beri selamat kepadanya. Siapa di antara kita yang amal-amalnya ditolak oleh Allah SWT, kami turut berduka cita kepadanya.

Berapa banyak amal ibadah yang kita lakukan di bulan Ramadhan? Berapa banyak dari amal-amal itu yang diterima Allah SWT?

Kita semakin mengerti tatkala membaca riwayat tentang Ma’la bin Fadhl dan Bisyr Al Hafy, para tokoh salafushalih yang terkenal wara’ dan zuhud di zaman generasi tabi’in. Mereka, selama enam bulan setelah Ramadhan, terus menerus berdo’a kepada Allah SWT, agar amal-amal mereka diterima selama bulan Ramadhan. Enam bulan bukanlah rentang waktu yang sebentar. Itu wujud kekhawatiran mereka terhadap amal-amal mereka yang sudah luar biasa dibandingkan kita.

Saudaraku yang dikasihi Allah, apa buktinya bila amal ibadah kita diterima?

Sumber: Majalah Tarbawi Edisi 143 Th. 8/Zdulqa’dah 1427 H/23 November 2006 M

Dipublikasi ulang oleh Admin DPD PKS Sidoarjo

Konten lainnya: