W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Mina, Mina

Oleh Taufiq Ismail

Hikmah_Biru04Andaikata bibir Anda saat ini tak habis-habis menyerukan rasa gembira pernyataan kedatangan di Tanah Suci memenuhi undangan Allah, mengumandangkan pengukuhan bahwa Dia tanpa sekutu, bahwa seluruh puji hanya pada-Nya, bahwa seluruh alam semesta milik-Nya, dan sekali lagi Dia tanpa sekutu, dengan senandung bersama labbaik Allahumma labbaik, labbaik la syarika laka labbaik, innal hamda wanni’mata laka wal mulk, la syariika lak, beruntunglah Anda dapat menirukan perputaran bintang-gemintang di galaksi sebagai orang yang bertawaf di atas bumi seputar Ka’bah, orang yang mencium harumnya Batu Hitam, kemudian berjalan kaki tujuh kali antara dua bukit batu Safa dan Marwa seraya mengingat betapa lelah kaki Ibunda Hajar yang terpuruk-puruk di pasir panas ketika beliau dengan susah payah membawa Ananda Ismail mencari sumber mata-air penawar dahaga, lalu Anda berteduh di sebuah tenda Arafah di atas padang pasir seluas 5 kali 5 kilometer persegi, berwukuf pada 9 Zulhijah ketika seluruh pintu langit terbuka lebar sehingga jarak kau dengan Allah sedemikian hampirnya dan seluruh kedirianmu kau laporkan pada-Nya dengan segala apa adanya, terutama kekuranganmu bersama leleh keringat dan cucur air mata sepanjang jalan kehidupanmu ini, kemudian selepas matahari terbenam bersama 2 atau 3 juta saudara-saudaramu kau bergerak bersama, ada yang berjalan kaki menggendong anak, ada yang terpincang-pincang dengan tongkat kayu di ketiak kiri dan kanan, ada yang berjalan dengan tangan dan kaki yang pengkor, ada yang memutar kursi roda, ada yang naik sedan, banyak yang naik bus tanpa atap, sangat banyak yang naik bus duduk di atas atap, semuanya menuju Mina melalui Muzdaiifah, semuanya menggelombang bagai sehelai permadani raksasa yang benang-benangnya manusia. manusia yang mengenakan kain kafan putih dalam sebuah latihan hari akhir, suatu gladiresik padang Mahsyar, ketika ingatan adalah semata-mata daun timbangan amal selama x tahun diberi kesempatan bernapas di atas bumi, wahai, batu-batu yang kau kumpulkan di genggaman tangan atau dalam kaus kakimu, itulah yang esok hari akan kau bawa ke tiga tumpak di Mina, tempal dahulu Ayahanda Ibrahim, Ananda Ismail, dan seekor domba membuat sejarah teladan penyerahan diri mutlak pada kekuasaah-Nya, kemudian kau lontarkan batu-batu itu pada tiga sasaran yang diumpamakan sebagai setan yang akan menggaduh, menggoda, mengumpani, lalu mencekik leher tauhidmu habis-habisan bila saja kau beri dia kesempatan, dan sebelum dia lakukan itu, lontarlah dia kini, lontarlah dia kini, sekali lagi lontarlah dia kini dan ingat-ingat adegan ini karena sesudah tawaf perpisahan yang sedih itu, kau akan berlayar pulang, balik ke rumahmu di kampung halaman, lantas masuk lagi ke dalam kehidupan yang di sana-sini kau saksikan demikian banyak ranjau diiebarkan.

Demikianlah kain ihram usai dicuci.
Kemudian paspor masuk laci.
Foto-foto tersusun rapi.
Merjan tasbih menjelma perhiasan.
Jadi kalung di leher anak kecilmu perempuan.
Dan mushaf Alquran mungkin di lemari ditidurkan.
Berselimut tipis debu jalanan.
Yang lewat tingkap angin tunai melayang.

Kesibukan mengatur, membereskan, mengini-itukan dunia agar dia lebih beradab, luhur, dan sebagainya, dan sebagainya dan sebagainya, lalu untuk itu ide kau konsepkan, kau kumpulkan, kau simpulkan pada sejumlah dokumen yang beratnya 25.000 ton dan tumpukannya setinggi gedung lima lantai, intinya mengini-itukan dunia, barang-barang bergerak dan barang-barang tak bergerak, tanah, hutan, pulau, semenanjung, industri, organisasi, posisi, taktik, jaringan, teori, kesimpulan, intrik, ideologi yaag intinya mengini-itukan dunia, yaitu agar dia lebih beradab, lebih luhur, lebih menjanjikan, lebih begitu lebih anu, dan sebagainya, dan sebagainya, dan sebagainya, dan ketika selalu ada yang membisikkan ke kedua belah daun telingamu bahwa inilah pencapaian globalmu yang luar biasa yang sangat patut bagimu untuk mendabikkan dada, maka kau terkejul dan merenung sejenak.

Demikianlah tak begitu jelas, tiba-tiba kau ingat untuk mereposisi niat, niat mencapai kampung halaman yang sebenar-benar kampung halaman lewat pengurusan rumah kurungan global penuh asam arang ini, kemudian ingat pada adegan pelontaran tiga tempat simbolik selan itu, dan kesukaran kita yang luar biasa berkelahi melawan mereka, ibarat bertinju sebelah tangan dengan musuh di dalam gelap, yang menghadapi kita waspada luar biasa, sedangkan kita menghadapi mereka lebih banyak menguap ketimbang bermata nyalang, mereka yang selalu membisiki, menggaduh, menggoda, mengumpani, yang bakal mencekik leher tauhidmu habis-habisan bila kau beri mereka kesempatan.

Dengarlah gcmuruh beratus ribu kaki jemaah bergegasan melalui dua lapis jalanan. Mina, Mina.

Simaklah letusan-letusan batu dilontarkan beratus ribu tangan jemaah, bergema melintasi abad dan benua. Mina. Mina.

Sumber: UMMAT No. 23 Tahun I 13 Mei 1996/25 Zulhijah 1416 H hal. 46

Dipublikasi ulang oleh Admin DPD PKS Sidoarjo

Konten lainnya: