W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Modus Menjadi

Oleh Fikri Yathir

Inilah sepenggal kisah Abu Sa’id Abul Khayr, sufi besar yang hidup pada abad ke-9 dan ke-10 Masehi.

Pada suatu hari, muridnya mencari Abu Sa’id dan menemukannya di kamar mandi sewaan-kamar mandi sejenis yang bisa Anda temukan sekarang di Jepang.

Guru besar Sufi itu bertanya, “Wahai Abu Muhammad, bukankah tempat mandi ini menyenangkan?”

“Tentu saja.”

“Apa sebabnya?”

“Karena Tuan telah memberkati tempat ini dengan kehadiran Tuan.”

“Saya kira itu bukan alasan yang tepat.”

“Apakah Tuan berkenan memberikan kepada hamba alasan yang tepat?”

“Tempat ini menyenangkan karena di sini kita hanya memerlukan sebuah gayung untuk menyiramkan air ke tubuh kita dan selembar handuk untuk mengeringkan badan. Dan semuanya ini bukan milik orang yang mandi, tetapi kepunyaan pemilik tempat mandi.”

Dengan kalimat itu, Abu Sa’id ingin menyimpulkan satu gaya hidup, yang oleh Erich Fromm disebut sebagai modus “menjadi” (being mode). Kita hanya dapat memahami modus ini dengan memperhatikan lawannya-modus “mempunyai” (having mode}.

Ada sekelompok manusia yang meletakkan kebahagiaan itu pada apa yang dimilikinya. Sesuatu dikatakan menyenangkan apabila sesuatu itu miliknya, bukan karena sesuatu itu bermanfaat baginya. Ia membangun beberapa buah rumah besar lebih dari yang diperlukannya. Ia membangun kolam renang di tengah-tengah rumahnya, walaupun lebih praktis dan lebih murah menyewa kolam renang umum. Ia mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk membuat taman, padahal ia bisa berjalan di taman-taman kota tanpa bayar satu sen pun. Kesenangan hidupnya memang bukan pada tidur yang enak, tetapi pada pemilikan rumah; bukan pada berenang, tetapi pada pemilikan kolam renang; bukan pada berjalan-jalan, tetapi pada pernyataan “taman ini kepunyaanku.”

“I am what I have.” Bagaimana saya tergantung pada apa yang saya miliki. Jatidiri saya, kehormatan saya, kebahagiaan saya, bahkan seluruh hidup saya, ditentukan oleh apa yang saya punyai. Ketika saya kehilangan milik saya, saya kehilangan sebagian hidup saya. Ketika mobil saya tergores sedikit, hati saya juga terluka. Ketika jabatan saya hilang, gairah hidup juga lenyap. Ketika pengikut saya lari, wujud saya pun hancur.

Menurut Sigmund Freud, gaya hidup mempunyai adalah sejenis kepribadian yang patologis. Setelah fase oral yang pasif, anak memasuki fase anal yang agresif-eksploitatif. Ia memperoleh kenikmatan ketika mengeluarkan kotoran dan melihat tumpukannya. Bila anak terhenti dalam perkembangan kejiwaannya, ia besar dengan mempertahankan kepribadian anal. Karakter orang ini ditandai dengan kerakusan untuk memiliki, mengumpulkan dan menumpuk uang dan hal-hal material. Bersamaan dengan kebakhilan, menurut Freud, kepribadian anal ditandai dengan kepala batu, ketertutupan, dan kesetiaan yang berlebihan kepada keteraturan.

Menarik bahwa Freud menunjukkan hubungan simbolis antara tinja dengan uang. Lebih menarik lagi, karena Freud menjelaskan kerakusan sebagai kepribadian patologis yang terjadi karena orang tidak berhasil mencapai kedewasaah penuh. Karena karakter anal ini adalah penyakit, penderitanya mengalami berbagai ilusi dan delusi. Ia mengira bahwa hartanya atau apa saja yang dimilikinya memuaskan keinginan-nya akan keabadian. Alquran menggambarkannya dengan indah, “Celakalah pengumpat pencaci, yang menumpuk-numpuk harta dan menghitung-hitungnya. Ia mengira bahwa hartanya akan mengabadikannya” (QS. Al-Humazah: 1-4).

Modus hidup yang sehat adalah modus menjadi. Kebahagiaan diperoleh ketika memberi, bukan ketika mengambil.

Mengapa kaca dikatakan biru? Karena ia menyerap semua warna dan mengeluarkan warna biru. Identitas kaca ditentukan oleh apa yang ia berikan, bukan oleh apa yang ia terima.

Kata Fromm, kalau Anda ingin hidup sehat, hentikan upaya mencari ketenteraman dan jatidiri dengan bersandar kepada apa yang Anda miliki. Untuk “menjadi”, Anda harus mengeluarkan semua pemusatan ego, semua sikap “kepunyaanku”. Anda harus mengosongkan diri dari-keterikatan kepada pemilikan. Para sufi menyebut pengosongan ini sebagai “kefakiran.”

Kefakiran bukan tidak mempunyai apa pun, tetapi tidak dipunyai apa pun. Kefakiran diukur dari sikap, bukan dari jumlah harta. “Kefakiran,” kata Ibrahim bin Fatik, seorang sufi dari Baghdad, “ditandai dengan ketenangan ketika tidak ada, dan pemberian dan pengorbanan ketika ada.” Fakir mempunyai modus hidup “menjadi” yang ditandai dengan kesediaan memberi, berbagi, dan berkorban.

Ketika Nabi SAW menceritakan orang yang sangat dekat dengan Tuhan, para sahabat menanyakan apa yang dilakukannya. Beliau bersabda, “Ia mencapai derajat yang tinggi itu karena dua hal: kedermawanan dan kecintaan yang tulus kepada sesama Muslim.”

Dengan berderma, seperti kaca biru, ia menentukan jatidirinya dari apa yang dikeluarkannya, bukan dari apa yang diterimanya. Dengan kecintaan yang tulus, ia sebetulnya menggeserkan pusat perhatian dari dirinya kepada orang lain.

Sumber: Majalah Ummat

Dipublikasi ulang oleh Admin DPD PKS Sidoarjo

Konten lainnya: