W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Orang-Orang Menjauh?

Ini memang hanya pertanyaan: mengapa orang-orang dekat menjadi jauh? Pertanyaan ini mungkln tidak untuk semua kita. Barangkali hanya sebagian kita. Tapi, entahlah bila kenyataan sesungguhnya, itu adalah pertanyaan untuk semua kita. Ya, sebab boleh jadi kebanyakan kita tiba-tiba merasakan suasana itu. Suasana sunyi.

Saat orang-orang dekat, perlahan-lahan atau tiba-tiba terasa sanqat jauh. Orang-orang dekat itu entah siapa. Mereka sangat banyak. Mungkln suami atau istri. Ayah atau ibu. Kakak, atau adik. Orang-orang yang dengan sabar memohon jodoh kepada Allah
serta mengikhtiarkannya dengan cara yang halal pun pasti punya orang-orang dekat yang dicintai sepenuh hati. Keluarga, sanak saudara, atau karib kerabat. Sahabat-sahabat setia kita atau teman-teman seperjuangan. Bahkan teman-teman yang sebenarnya tak ada hubungan darah atau keturunan, kadang bisa menjadi orang-orang dekat yang punya tempat tersendiri di dalam lubuk hati kita.

Begitulah karunia Allah yang diberikan kepada kita. Kita menjadi makhluk yang bisa memiliki jiwa sosial, jiwa kebersamaan, semangat kolektifitas yang luar biasa.

Tetapi, ada kalanya, semua itu berubah menjadi hambar, pahit, sepi dan kering kerontang. Seperti danau di musim kemarau. Tak ada lagi air tenang yang menggenang. Tinggal kerak-kerak tanah yang pecah-pecah dan mengundang iba. Apa yang salah dengan semua ini?

Sesungguhnya merupakan fitrah dan karunia Allah SWT, bila kita punya kedekatan terhadap berbagai hal tersebut. Bahkan termasuk di dalamnya adalah kedekatan dengan tanah kelahiran, kampung halaman, atau tanah air. Seperti yang dirasakan Rasulullah. Saat harus meninggalkan Mekkah, beliau mengatakan, betapa tanah di muka bumi ini yang paling ia cintai adalah Mekkah. “Kalau bukan lantaran para pendudukmu mengusirku, niscaya aku tidak akan keluar meninggalkanmu,” begitu kata Rasulullah. Begitu Juga yang terjadi dengan Bilal bin Rabah. Sahabat Rasulullah yang dikenal sebagal muadzzin, atau tukang adzan. Ia harus turut serta berhijrah ke Madinah. Di malam-malam yang gelap, sunyi, kerinduannya akan kampung halaman hadir dan menggoda dirinya.

Begitulah karunia Allah diberikan kepada kita. Hati kita bertaut pada apa-apa yang kepadanya secara fitrah kita bersandar. Tentu saja termasuk dalam hal ini, adalah kecenderungan kita untuk dekat dengan sesama manusia. Bertaut pada orang-orang dekat. Orang-orang dekat kita perlukan tidak semata sebagai sebuah sandaran obyek, tapi juga sebagal penjaga keseimbangan. Kita diciptakan dalam kondisi memerlukan orang lain. Sebagai sebuah ekosistem permanen. Bahkan juga sarana-sarana hidup yang halal. “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yagn banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah lah tempat kembali yang balk (syurga).” (QS. Ali Imran: 14).

Kita dilahlrkan dengan kebutuhan yang sangat alami akan orang lain. Keluarga, teman, tetangga, masyarakat, juga orang-orang lain yang mungkln bisa menjadi teman yang akan kita jadikan tempat untuk menimba berbagai sumber kehidupan. Tidak ada orang yang blsa hidup tanpa adanya bantuan orang tain. Bagi setiap kita, sumbangsih dan dukungan orang lain, sedikit atau banyak, adalah bagian tak terpisahkan dari kebutuhan hidup itu sendiri.

Karena itu, Allah mengingatkan, betapa kita para manusia, sering saling meminta. Bahkan orang-orang dahulu sebelum Islam datang, sering saling meminta dengan menyebut nama Allah. Ini bisa disebut semacam fakta ’saling ketergantungan’ antarmanusia. Orang-orang dekat, benar-benar dekat tidak semata karena rasa, tapi juga karena fungsl dan jasa-jasanya.
Maka kemudian Allah menyandingkannya dengan perintah menjaga silaturahmi, seperti dijelaskan dalam salah satu ayat Al-Qur’an. Benar-benar penegasan yang sempurna. Kita saling meminta, saling bergantung, bahkan dengan membawa-bawa nama Allah saat saling meminta. Maka, “peliharalah silaturahmi.”

Allah berfirman, “Hai sekallan manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari din yang satu dan dari padanya Allah menciptakan Isterinya, dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya, kamu saling meminta satu sama lain dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”(QS.An-Nisa’: 1).

Tetapi, semua harmoni itu bisa saja berubah menjadi nada-nada sumbang. Atau irama yang kacau. Seperti angin sepoi yang mengantarkan kita pada kantuk lalu tidur yang lelap. Bisa saja, ia berubah menjadi topan dan badai yang menghancurkan, melemparkan segala yang dekat ke tempat yang jauh. Semua pergi. Semua hilang. Dan kesepian pun datang mencekam.

Rutinitas yang menggesa, di antara ambisi atau kelengahan adalah sama saja. Sama-sama bisa mengantarkan pada rasa sepi itu. Ambisi bisa tiba-tiba membuat kita lupa. Lupa bahwa ternyata di sekeliling kita ada orang lain yang menjadi bagian kita, yang harus kita tunaikan pula hak-hak mereka.

Hidup kadang kita jalani seperti bandul pendulum. Kita mengejar satu sisi begitu jauh, tapi pada saat itu, sejujurnya mendapati dua hal yang sangat sulit: menjauh sangat dari sisi yang lain, atau begitu lepas dari sisi yang kita kejar, kita terjerembab menabrak sisi yang lain.

Hidup memang perlu dijalani secara seimbang. Seperti layang-layang. Manakala sisi-sisinya memiliki presisi yang baik, ia bisa terbang dengan dinamika arah yang indah. Tapi bila sisi sebelahnya lebih berat, maka layang-layang itu akan menghunjam ke bumi.

Seperti ambisi yang kelewat jauh yang menciptakan keterasingan, begitu juga godaan-godaan jiwa yang memanggil-manggil atas nama rasa bosan, atau juga sedikit iri pada mulanya. Seiring dengan waktu, semua bisa mengantarkan pada suasana yang hambar. Cinta yang hangat tiba-tiba berubah menjadi bara pertikaian hanya lantaran alasan rasa bosan. Persahabatan dan persaudaraan, atau hidup bertetangga, bisa tiba-tiba menjadi ajang permusuhan, hanya karena iri dengki pada mulanya.

Tapi, bisa saja segalanya bukan dalam kuasa kita. Saat tak ada pilihan kecuali menjalani hidup yang menjauh dari orang-orang dekat. Seperti para perantau yang meninggalkan tanah air. Jauh. Dan sangat jauh. Demi mencari peruntungan yang lebih menjanjikan. Ia tahu bahwa hatinya berlabuh di tanah airnya. Tapi kadang seperti nyanyian klise: rindu tapi benci, atau benci tapi rindu. Sebab setinggi apapun ia mencintai tanah airnya, ia merasa cinta itu tak berbalas. Negerinya dikenal sangat makmur, tapi penguasanya korup. Pengusahanya culas dan penegak hukumnya berdagang perkara.

Begitupun hidup harus memilih. Meski banyak juga orang-orang yang salah dalam memilih. Maka kesepian dan menjauhnya orang-orang dekat banyak juga yang murni karena kesalahan sebagian kita sendiri.

Di sini, di batas usia kita yang terus bergerak tanpa kompromi, kita tak boleh lelah untuk terus berbenah. Seorang mukmin, dalam Islam, disebut tempat untuk berakrab-akrab (’ma’laf). “Maka tak ada kebaikan pada yang tidak bisa diakrabi atau tidak bisa akrab dengan orang lain.” Itu semestinya lebih menegaskan lagi betapa kita harus segera sadar, bila ternyata kita mengalami suasana sepi itu. Suasana jauh dari orang-orang dekat. Atau ditinggal menjauh oleh orang-orang dekat. Apalagi, jauh dan dekat memang tak selalu diukur dengan jarak fisik atau bentaran geografis. Jauh dan dekat bisa saja diukur dengan hati dan perasaan kita. Ada orang-orang yang dekat di mata tapi jauh di hati. Tapi ada juga yang jauh di mata tapi dekat di hati.

Sekali lagi, mengapa orang-orang dekat menjadi jauh? Pertanyaan ini mungkin tidak untuk semua kita. Barangkali hanya sebagian kita. Tapi entahlah bila kenyataan sesungguhnya, itu adalah pertanyaan untuk semua kita.

Sumber: Majalah Tarbawi Edisi 120 Th. 7/Dzulqa’dah 1426 H/24 Nopember 2005 M

Dipublikasi ulang oleh Admin DPD PKS Sidoarjo

Konten lainnya: