W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Pada Mulanya Cita-Cita

Di Badar yang penuh kenangan, tonggak-tonggak kejayaan Islam telah dipancangkan. Melalui perang yang memisahkan, dan kematian-kematian yang menegaskan. Saat Allah, Rasul, dan pasukan iman meraih kemenangan gemilang. Tetapi kenangan tentang Badar, hampir satu tahun kemudian, adalah kerinduan-dan juga sedikit kecewa-bagi mereka yang tak sempat menyaksikannya.

Rindu seorang beriman, akan puncak pencapaian hidup, ketika ia bisa mati mulia di jalan keyakinannya. Kecewa seorang mukmin, ketika ia tak bisa menjadi bagian dari kafilah terhormat itu. Terlebih orang-orang yang selamat dari Badar punya gelar sendiri: “golongan (ahlu) Badar”, mereka diampuni dosa-dosa masa lalu dan masa akan datangnya.

Rindu dan kecewa itu pula yang dirasakan Anas bin Nadhar. Sepenuh hatinya. Maka hari itu, lelaki baya yang juga paman Anas bin Malik itu, bergegas menemui Rasulullah.

“Wahai Rasulullah, aku tidak bisa turut dalam perang pertama di mana engkau memerangi orang-orang musyrik. Sekiranya Allah membuatku menyaksikan perang lagi untuk memerangi orang-orang musyrik itu, niscaya Ia akan melihat apa yang akan aku perbuat.”

Anas sadar bahwa momentum pertama telah berlalu. Ia tertinggal. Tapi ia berharap, bahwa segalanya belum berakhir. Maka, ketika perang Uhud terjadi dan orang-orang muslim telah bergerak, Anas bin Nadhar bergegas pula seraya berdo’a, “Ya Allah aku memohon maaf atas apa yang dilakukan oleh para sahabat-sahabatku. Dan aku berlepas diri dari apa yang dilakukan oleh para orang-orang musyrikin itu.”

Anas merangsek maju. Ia berjumpa dengan shhabat lain, Sa’ad bin Mu’adz. Ia berucap, “Wahai Sa’ad, aku mencium bau surga di belakang bukit Uhud.” Ia pun maju bertempur hingga gugur sebagai syuhada. Ada lebih delapan puluh luka di sekujur tubuhnya. Sampai-sampai tidak ada yang bisa mengenali kecuali saudara perempuannya. Itu pun hanya melalui potongan jarinya.

Lelaki baya itu telah berjanji, dan ia telah menepatinya.

Puncak kecamuk perjuangan selalu ada di medan perang. Meski hidup memberi tempat yang sangat luas bagi kosa kata perjuangan, tapi perang tetap menara tertinqginya. Karena di sana, perjuangan bertaruh di batas antara kematian dan kehidupan. Karenanya, ia punya bobot dan penghargaannya sendiri.

Namun begitu, tekad seorang Anas bin Nadhar dan bagaimana cara ia membayarnya adalah cermin tentang sebuah pilihan hidup dalam contoh perang, tapi inspirasinya luas hingga di luar konteks peperangan. Sebab, pada mulanya adalah cita-cita. Lalu kehendak. Sesudah itu perjuangan menepati janji-janji dan mengejar mimpi-mimpi. Itulah kesetiaan akan pilihan. Itulah perjuangan. Dan, itulah inti kehidupan.

Oleh karena itu, hidup sejatinya hanya bisa bergulir di tangan para pejuang. Yang memberi nafas bagi tarikan-tarikannya. Tetapi memutuskan diri untuk mengarungi hidup dengan spirit kejuangan, meniti jalan para pejuang, adalah pilihan yang tidak mudah. Meski sekadar untuk hidup saja, seseorang sesungguhrya harus berjuang. Untuk sekadar bisa makan, bisa minum dan bisa menjaiani hidup ini begitu saja, perlu perjuangan. Tidak ada yang benar-benar gratis dalam kehidupan ini.

Anas bin Nadhar bisa saja memilih sikap lain. Toh ia punya alasan untuk tidak ikut ke Badar. Toh, rombongan Rasulullah ke Badar, pada mulanya memang tidak diniatkan untuk berperang. Ia bisa memilih pemaknaan lain. Meski pun ia pada akhirnya harus ke Uhud, tapi bukan dengan kekecewaan dan kerinduan yang membuncah seperti itu. Bukan untuk membayar keterlewatan di Badar. Biasa saja. Datar. Dan mungkin enggan. Tapi, pilihan itu tidak diambilnya. Sikap itu tidak dipilihnya. la tahu bahwa ada permulaan, tapi tidak ada akhiran. Pemaknaan akan keterlewatan telah memberi dia energi yang luar biasa. Energi yang tidak semata menyema-ngati, tapi juga memberi kekuatan dan daya tahan untuk menepati janji.

Karenanya, berkaitan dengan peristiwa Anas ini, Allah menurunkan firman-Nya. “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak mengubah (janjinya) supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 23-24).

Janji dan kesetiaan itu lebih merupakan panggilan hati dan pilihan jiwanya yang besar. Tidak semua yang tertinggal dari Badar merasakan apa yang dirasakan Anas. Maka di sini menjadi jelas bahwa semua itu kembali kepada soal pilihan. Pilihan untuk bercita-cita. Pilihan untuk membayar ketertinggalan.

Peristiwa demi peristiwa selalu datang. Yang baru menggantikan yang lama. Bersama kita atau bersama orang lain. Suka atau duka. Momentum bisa nadir setiap waktu. Dalam hiruk pikuk yang memekakkan. Kelahiran adalah momentum. Perkawinan adalah momentum. Kematian ortng lain adalah momentum. Perubahan status sosial adalah momentum. Kemerdekaan adalah momentum. Prosesi pemilihan pemimpin adalah momentum. Pengakuan adaian momentum. Tapi, itu semua tak punye arti apa-apa bila tidak pernah menghasilkan pemaknaan. Pemaknaan cara pejuang, yang mengerti bahwa hidup punya harga. Pemaknaan para pekerja keras, yang menyadari bahwa hidup punya beban.

Sekali lagi, pada mulanya adalah cita-cita. Lalu kehendak. Sesudah itu, adalah kesetiaan mengejar mimpi dan menepati janji cita-cita itu.

Betapa banyak orang-orang yang terlewatkan darinya momentum-momentum bersejarah. Alangkah banyak orang-orang yang tertinggal kesempatan-kesempatan menentukan. Tetapi semua itu tak menghasilkan pemaknaan apa-apa. Dingin. Tak ada gelisah, apalagi gejolak.

Sebabnya sangat jelas, pemaknaan hanya bisa dilakukan oleh mereka yang berjiwa pejuang. Dalam lingkup apapun. Di medan apapun. Di ruanr-ruang kantor yang transaksinya kian pengap. Di ladang-ladang dan hamparan hutan yang tuannya semakin gelap. Di rumah kecil tempat seorang ibu setia mendengar tangis anak-anaknya yang lapar. Di sekolah-sekolah tempat para guru memahat pikiran dan garis masa depan. Di sana, ada banyak sumber pemaknaan. Inspirasi cita-cita. Untuk kemudian melahirkan kehendak. Bagi mereka yang berjiwa pejuang.

Tetapi puncak pemaknaan itu sendiri, terletak pada seperti apa akhir cita-cita perjuangan dimaksud. Dan bagi Anas, segalanya sangat jelas: surga. Begitulah kerinduan akan surga memutar balik cita-cita Anas, lalu mengantarkankanya untuk menapaki jalannya: dari ikrar permulaannya, pemaknaan kehendaknya, lalau menunjukkan jalan pertarungannya. Tidak ada kerinduan seorang mukmin melebihi kirinduannya akan surga. Tak ada puncak cita-cita melampaui keinginan masuk surga Allah, yang luasnya seluas langit dan bumi.

Anas bin Nddhar, juga orang-orang yang mengerti makna sebuah momentum yang terlewatkan, orang-orang yang telah memutuskan untuk Lercita-cita lalu menepatinya, tidak akan mundur selangkah pin hingga janji itu terpenuhi.

Maka bercita-citalah kita. Sebab sejujurnya telah banyak yang terlewatkan dari hidup kita. Mungkin di antara kita sudah berumur. Tertinggal sangat banyak kebaikan di usia muda. Mungkin di antara kita telah memasuki usia muda. Tetapi sangat terlambat untuk menjadi dewasa secara religi. Mungkin di antara kita telah banyak bergelimang dosa. Tertinggal sangat banyak kesempatan mengubah diri.

Bercita-citalah kita. Sebagai seorang mukmin yang berjiwa pejuang. Dengan surga sebagai ujung pengharapannya. Tetapi cita-cita itu ada jalan terapannya. Pengharapan itu ada pengorbanannya. Mungkin sangat lama dan melelahkan. Sebab perjuangan hidup ini selalu ada awalnya, tetapi tak pernah ada akhirnya. Ia seperti kafilah panjang, bila di antara kita tak sudi mengikutinya, ada banyak orang lain yang setia bersamanya.

Sumber: Tarbawi Edisi 82 Th. 5/Shafar 1425 H/15 April 2004 M

Dipublikasi ulang oleh Admin DPD PKS Sidoarjo

Konten lainnya: