W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Pagi dan Gairah untuk Bergegas

Pagi hari adalah gairah. Simbol kehendak. Juga kesegaran di awal waktunya. Bagi orang-orang beriman, pagi adalah inspirasi cinta, atas dasar iman itu.

Begitulah Rasulullah mengajarkan. Betapa ia membuktikan cinta untuk putrinya Fatimah, di waktu pagi penuh berkah. Cinta Rasulullah untuk adalah cintanya atas ampunan, pembersihan, untuk diri dan keluarganya. Maka seperti diriwayatkan Imam Tirmidzi, adalah Rasulullah selama enam bulan, setiap pagi yang mmasih gelap, selalu berjalan di depan tempat tinggal Fatimah. Ia ketuk pintunya setiap kali hendak mendirikan Shalat Shubuh. Rasulullah senantiasa memanggil, “Shalat, shalat, wahai keluargaku. Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan dosa-dosa kalian dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya.”

Maka pagi tak sekadar sepotong waktu, tapi juga dasar filosofi hidup: filosofi bergegas. Pagi selalu datang dalam sekejap. Ia hanya beri waktu dan kesempatan dalam detik-awalnya. Orang-orang harus berlomba: sedikit saja saja terlewatkan, sesungguhnya ia telah kehilangan kesempatan.

Seperti itu pula kehidupan itu sendiri. Selalu ada kompetisi, persaingan, bahkan perebutan kesempatan. Orang-orang yang hidup dengan semangat dan filosofi pagi sangat memahami bahwa persaingan menuju kehidupan ini diawali dari detik pertama kita menginginkan apa yang kita mau, bahkan sebelum kesempatannya datang.

Karena itu, bergegas seperti pagi, adalah kebutuhan siapa saja. Memahami filosofi pagi dalam kehidupan merupakan kebutuhan setiap mukmin. Sebab hidup adalah perebutan. Siapa terlambat tak akan mendapat.

Tak heran bila selalu ada penghargaan, apresiasi dan bintang pada setiap sambutan pertama, dalam hal apa saja. Dalam Islam dikenal dengan ’kesegeraan sambutan’ (istijabah fauriyah). Yaitu kemendengaran dan sambutan pada kali pertamanya. Merespon pada panggilan pertamanya. Seperti apresiasi Islam untuk orang yang terlebih dahulu masuk Islam. Orang-orang yang beriman lebih dulu di masa Rasulullah, tidak sama dengan mereka yang beriman belakangan.

Allah menegaskan, bahwa tidaklah sama mereka yang beriman sebelum dibukanya kota Mekah, dengan mereka yang beriman sesudah dibukanya kota Makah. Yang pertama lebih utama. Bagaimana tidak, orang yang lebih dulu itu telah memilih dengan susah payah, setelah hidayah Allah tentu, untuk menjadi muslim di awal-awal. Pada saat orang lain masih berpikir-pikir, menunda-nunda.

Begitu juga bagi mereka yang memulai merintis kebajikan menular dan berturun-temurun. Mereka yang mengawali selalu punya tempatnya sendiri dibanding yang mengikuti. Rasulullah mengabarkan, bahwa barangsiapa melakukan sebuah kebajikan, maka baginya pahala kebajikan itu, ditambah pahala kebajikan orang-orang yang meneladaninya, tanpa mengurangi pahala orang-orang yang meneladani itu.

Allah SWT menggambarkan, mereka yang bersegera menyambut seruan kebaikan, senantiasa membuktikan sambutan itu dalam amal-amal yang segera. “Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka. Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Tuhan mereka (dengan sesuatu apapun). Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka. Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-baikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (QS. Al-Mu’minun:57 -61).

Imam Qurthubi, sang ahli tafsir menjelaskan, “Yang dimaksud bersegera ialah bahwa orang-orang itu bersegara dalam taat kepada Allah, dengan harapan mendapatkan derajat yang tinggi di sisi Allah. Mereka bersegera dalam pengertian mereka mengerjakan ketaatan-ketaatan itu di awal waktunya. Maka, setiap kali tertampak di depannya kesempatan berbuat kebaikan, maka seketika ia bersegera melakukannya dan sangat ingin menjalaninya.”

Selain itu, orang-orang yang hidup dengan filosofi pagi, biasanya selalu mengiringi langkah-langkah hidupnya dengan keberanian. Tentu saja ada pertaruhan. Tetapi mereka mengerti bahwa apa yang ia pertaruhkan adalah keputusan yang sangat berhubungan dengan keyakinan. Maka tidak ada penyesalan di sini. Ia sangat sadar bahwa keputusannya untuk segera menyambut hidayah Allah, misalnya, adalah keputusan yang sangat berani, yang ia sendiri telah menghitung risikonya. Maka ia akan dengan berani memilih jalan kebenaran. Seperti para perempuan yang memutuskan untuk menutup aurat, berjilbab secara santun, menjaga kehormatan badannya, seketika pada kali pertama kesadaran itu datang. Tentu, berbeda dengan mereka yang masih mencoba berpikir-pikir, menunda-nunda, mencoba memberi ruang dialog pada batinnya, apa ia akan berubah. Padahal ia hanya ingin menghibur dirinya atas kelambanannya. Padahal kebenaran itu tidak membutuhkan perdebatan yang rumit. Yang diperlukan adalah keberanian seperti pagi.

Atau seperti para anak muda yang memutuskan untuk menapaki jalan keislaman, segera. Pada kali pertama kemengertiannya datang. Tentu berbeda dengan mereka yang masih terus menimbang-nimbang, apakah dirinya bisa mendapat pekerjaan kalau ia menjadi muslim yang taat? Apakah ia akan mendapat pasangan hidup yang menyenangkan bila segera menjadi muslim yang taat?
Atau seperti orang-orang muslim yang telah menumpuk pengetahuan keislamannya, tetapi tak segera kunjung nyata amal dan karyanya. Ia sangat baik, bahkan cenderung perfeksionis. Tapi ilmu dan keluasan wawasa-nya sangat sedikit menetes, jangan berharap akan mengalir deras menjadi arus kebajikan kolektif. Sebab ia tak ramah menyapa sesama. Sebab ia kurang suka dengan orang-orang yang masih perlu bimbingan.

Selalu ada orang-orang yang gemar menawar. Termasuk menawar pilihan hidup yang semestinya diambil dengan sangat segera. Seperti anak-anak yang kelewat matang sisi biologisnya tapi sangat mentah psikologinya. Mereka selalu mengatakan, bahwa memilih jalan menyimpang, hanyalah sekadar tafsiran fakta. Mereka bangga merasa tidak munafik, dengan penyimpangan itu. Toh ia merasa dirinya masih sangat muda. Masih ada hari tua, pikirnya.

Atau orang-orang yang sudah senja usianya. Telah jauh lewat masa paginya. Tapi, toh gairahnya untuk bersegera terlalu tumpul. Tak ada ketaatan yang membanggakan. Tak ada kearifan yang mengarahkan. Tak ada kesadaran yang menghidupkan.

Bergegas menuju ketaatan, adalah bergegas menuju Allah. Seperti apa kita berlari menuju Allah, Allah akan menyambutnya dengan lebih. Rasulullah saw bersabda, “Allah azza wa jalla berfirman, ’Aku, tergantung persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia menyebutku dalam dirinya, Aku pun menyebutnya dalam diri-Ku. Jika ia menyebut-Ku di satu golongan manusia, Aku pun menyebutnya di satu golongan manusia yang lain, di mana mereka lebih baik dari yang pertama. Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika mereka mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku mendatanginya dengan berlari kecil.’” (Shahih Muslim no. 4832)

Orang-orang yang memilih hidup dengan filosofi pagi, biasanya juga sangat meyakini dengan apa yang disebut dengan kemudahan dari Allah SWT untuk mereka yang memilih jalan yang diridhai-Nya. Sebab di sini berlaku hukum bimbingan untuk keputusan memilih jalan takwa. Allah SWT berfirman, “Dan bertakwalah kamu kepada Allah niscaya Allah akan mengajari kamu.”

Spirit pagi juga menjelaskan bahwa hidup harus dijalani dengan ketenangan sikap, kematangan sudut pandang. Tetapi pada saat yang sama, ia memberi efekyang sangat jauh. Seperti efek bayang-bayang pagi yang selalu lebih panjang di banding bayang-bayang siang. Bahkan bayang-bayang sore, sangat jarang bisa hadir secerah pagi.

Tak ada yang seramah pagi. Dalam heningnya, ia menenangka. Dalam segarnya, ia menggairahkan. Dalam hangatnya, ia menggerakkan. Bila pagi menyapa kita, di suatu hari, sambutlah. Lalu jadilah seorang mukmin yang senantiasa punya gairah untuk bergegas.

Sumber: Tarbawi Edisi 103 Th. 6/Muharram 1426 H/3 Maret 2005 M hal 8 – 10.

Republished by DPD PKS Sidoarjo