W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Peringatan Telah Disampaikan

Malam menyelimuti Madinah. Seperti biasanya. Tiba-tiba Rasulullah SAW terperanjat dari tidurnya. la pun terbangun dalam kondisi yang sangat melelahkan. Seketika Rasul menyebut dan memuji nama Allah, “Subhanallah.”

Istrinya, Ummu Salamah mengisahkan, malam itu Rasulullah melihat bermacam fitnah dan cobaan yang akan dihadapi umatnya. Sesuatuyang kemudian menjadi kenyataan di sepanjang perjalanan umat Islam, dari jaman ke jaman.

Keguncangan malam itu adalah sepotong kabar, bahwa hari-hari belakang sepeninggal Rasulullah akan menjadi hari-hari yang sulit. Dan, memang begitulah kemudian keadaannya. Apalagi ratusan tahun kemudian. Segalanya berubah. Bahkan sangat jauh.

Karenanya, dalam banyak kesempatan yang lain, begitu sering Rasulullah menasehati sahabatnya-yang juga berlaku bagi para umatnya-agar jangan sampai sepeninggal-nya nanti mereka berubah menjadi orang-orang yang melepaskan diri dari buhul-buhul kemusliman. Seperti misalnya, nasehatnya yang sangat terkenal ketika ia berkata, “Janganlah kalian menjadi kafir kembali sepeninggalku, saling membunuh antara yang satu dengan yang lain.

Nasehat itu dan juga nasehat serupa yang bertebaran dalam kumpulan-kumpulan peri hidupnya yang diabadikan sejarah, menegaskan dua kenyataan penting: bahwa hari esok, kapan pun, adalah lebih sulit dari hari ini. Dan, kenyataan kedua, bahwa agama Islam, telah memberi peringatan tentang kesulitan-kesulitan itu, bahkan mewanti-wanti agar kita jangan sampai terkalahkan oleh kesulitan itu.

Peringatan itu lebih jelas lagi, ditegaskan dalam haditsnya yang lain, yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, “Bersabarlah kalian, sesungguhnya tidaklah sebuah jaman itu tiba, kecuali yang sesudahnya lebih buruk dari jaman itu.

Bila prinsip-prinsip itu kita tarik pada apa yang kita saksikan hari ini, di kehidupan bermasyarakat kita, kehidupan bemegara kita, kehidupan berpolitik kita, apalagi kehidupan ekonomi kita, sangatlah jelas, bahwa esok hari mungkin lebih sulit dari hari-hari ini. Berpikir positif itu perlu. Optimis itu harus. Tapi menyiapkan diri untuk menghadapi kondisi terburuk itu lebih penting.

Di kehidupan ekonomi, kita menghadapi beban utang yang menggunung, korupsi yang menggurita, dan penindasan-penindasan hak-hak ekonomi masyarakat oleh mereka yang punya banyak kesempatan jadi orang-orang berpunya. Ada pencurian kekayaan negara, di hutan, di laut, di perut bumi, dengan mudah dan ringannya. Ada uang bank dibobol. Padahal bank itu menyimpan tabungan rakyat yang mungkin dikais dengan keringat, setetes-setetes.

Di sisi politik kita menghadapi tantangan berat pada soal kredibilitas pemimpin. Instrumen demokrasi dimunculkan di sana-sini. Tetapi integritas orang-orang di jalur ini melahirkan begitu banyak keraguan. Tidak semuanya, tentu. Tapi jumlah mereka yang punya komitmen terhadap kebaikan masih jauh lebih sedikit dibandingkan mereka yang mengotori belantara politik ini dengan kerakusan pribadi maupun kelompok.

Di kehidupan bermasyarakat, kita menghadapi begitu banyak penyakit sosial yang telah menjadi fenomena gunung es. Apa yang tidak tampak jauh lebih mengerikan ketimbang apa yang nampak. Soal narkoba yang terus meggerus generasi muda, penderita HIV dan AIDS yang terus meningkat sangat cepat jumlahnya. Sementara itu, Indonesia menjadi salah satu dari tiga negara yang paling tidak siap menangani masalah penyakit ganas ini. Semuanya bisa menjadi bom waktu.

Pada kehidupan beragama kita, ada begitu banyak masalah. Dari soal kebodohan mereka yang tidak mau belajar agama, hingga arogansi mereka yang menjual agama untuk kepuasan petualangan intelektual, atau sekadar popularitas.

Begitulah, ada begitu banyak persoalan yang melilit kehidupan kita. Sebagiannya karena ulah orang lain, sebagian besarnya lagi karena kesalahan dan kelalaian kita. Sejujurnya, hari-hari yang akan datang mungkin lebih sulit.

Amerika melalui agen intelejennya boleh-boleh saja meramal bahwa Indonesia akan menjadi salah satu negara berpengaruh di masa yang akan datang, tapi menurutnya baru akan terjadi pada tahun 2020. Itu pun kalau nyata, sebab, tak ada yang tahu pasti, apa yang akan terjadi esok hari. Meski prediksi dan ramalan itu, mungkin telah didasarkan pada indikator-indikator yang sangat ilmiah.

Hari-hari yang kita hadapi saat ini, tak lebih hanya sepenggal masa, yang esoknya tak pernah bisa kita terka. Dalam konteks inilah Islam datang dengan salah satu karakternya sebagai agama yang ajaran-ajarannya sangat antisipatif.

Ya, ajaran-ajaran Islam memang antisipatif. Itu bisa dilihat dari segala sudut ajarannya. Prinsip ini menjadi semacam lingkaran timbal balik yang berkelindan dengan kenyataan bawa esok lebih sulit dari hari ini.

Perintah-perintah ibadah dalam Islam, secara langsung atau tidak langsung, adalah proses penempaan jiwa untuk menghadapi kehidupanyang sulit. Sholat, misalnya, adalah antisipasi dari perbuatan keji dan munkar. Puasa, adalah tangga untuk mengejar ketakwaan, yang dengannya manusia bisa punya daya tahan menghadapi beragam kesulitan. Larangan mendekati zina, diapit oleh dua ayatyang melarang pembunuhan. Ini adalah ajaran antisipatif. Kenyataannya, perzinahan yang marak di masyarakat memang benar-benar banyak yang merembet kepada pembunuhan.

Prinsip bahwa hari esok lebih sulit ini tidak saja dalam konteks kehidupan dunia, tapi juga dalam kehidupan akhirat. Begitu juga perintah kepada kita untuk menyiapkan diri menghadapi kesulitan esok hari, tidak saja dalam konteks kehidupan dunia, tapi juga dalam rangka menyambut kehidupan akhirat yang lebih kekal dan abadi.

Perhatikanlah firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri mempersiapkan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)

Begitulah, pada setiap kehendak kita ada harapan yang tersimpan. Pada setiap langkah kaki kita ada keinginan yang terpancang. Termasuk dalam menyongsong hari esok. Itu sudah sunnah yang lazim. Terlebih bagi kehidupan kemanusiaan kita. Tapi kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari. Kita mungkin bisa mengira, menduga atau merencanakan. Tetapi segalanya tidak bisa dipastikan.

Peringatan itu telah disampaikan. Dalam segala ajaran wahyu atau ajaran alam. Esok mungkin memang sulit. Dan mungkin memang benar-benar sulit. Tapi, haruskah kita tenggelam?

Sumber: Majalah Tarbawi Edisi 74 Th. 5/Dzulqo’dah 1424 H/25 Desember 2003 M

Dipublikasi ulang oleh Admin DPD PKS Sidoarjo

Konten lainnya: