W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Restoran Itu di Simpang Empat

Oleh Taufiq Ismail

Hikmah_Biru13Kawan saya, Daif, menonjol karena dia punya bakat menderita. Bakat ini menyebabkan nasib Daif selalu terletak di bawah garis rata-rata ukuran duniawi. Sejak Sekolah Rakyat Muhammadiyah Ngupasan, selepas penyerahan kedaulatan dulu, dia selalu kudisan, kalah terus main kasti, dan selalu jatuh kalau latihan naik sepeda torpedo. Dengan susah payah, Daif lulus dari Sospol dan sekarang bekerja di sebuah departemen di Jakarta. Pergi kerja naik bus kota, kawin terlambat karena patah hati, dan tinggal masih di rumah kontrakan.

Hati Daif bersih. Kerja lurus dan tak bisa ngobyek. Dia suka mengeluh.

Kawan saya, Tomo, terkemuka karena bakatnya yang menonjol, yaitu selalu curiga. Sesudah 20 tahun lebih berpisah, saya menduga Tomo bekerja pada salah satu badan intelijen. Tapi ternyata dia peneliti sebuah lembaga pembangunan. Tomo mendalami ilmu kemasyarakatan dan tamat S-3 pada sebuah sekolah tinggi Ivy League di Amerika Utara.

Tomo orangnya sinis. Sombongnya lumayan. Tapi suka bercanda dia.

Kawan saya, Bing Bing, menonjol karena tangannya. Tangannya dingin. Rupiah dalam satuan enam angka seperti berebutan meluncur melalui telapak tangannya. Sementara sewindu jadi kepala bagian purchasing, dia membuat usaha katering, bahan bangunan, biro iklan, agen perjalanan, batik halus, dan ekspor kodok. Nama seluruh perusahaannya dicetak dengan huruf gemuk di lembaran kuning buku telepon, dan semua dimulai dengan huruf A. Hutang bisnisnya banyak.

Bing Bing santai. Hoki tinggi, lalu agak percaya tahayul. Sopan dan dermawan pada kawan.

Kami berempat duduk-duduk di restoran itu, minum empat macam sari buah seraya menuliskan kenangan di kening masing-masing.

“Sekarang perlu kita rumuskan kembali kecurigaan kita,” kata Tomo

“Repot kalau musim kemarau berkepanjangan,” ujar Daif. “Gang dekat rumah kontrakanku baru-baru ini kebakaran pula. Mereka suka menyadap listrik.”

“Sajak-sajak kita tentang musim kemarau dan hama pertanian kurang banyak ditulis rasanya,” sela saya.

“Investasi di bidang pers penuh risiko, sudah lama tak bilangi,” kata Bing Bing. “Coba kalau kena bredel, sementara kredit masih belum lunas.”

Layar kaca memberikan gambar penyanyi yang mengenang Nike Ardila, yang sedang mengocok gitarnya. Mata biduan itu memandang jauh ke alam baka.

“Saya curiga orang-orang sekarang tidak herpikir lagi. Apa kita bergerak ke arah bentuk masyarakat monolit?” Tomo bertanya.

“Mana yang lebih baik: hidup termashur atau mati termashur?” Daif balik bertanya. “Muda termashur atau tua termashur?”

“Dulu Sam pernah bilang, ketika dia mengarang Tante Sun, mungkin ada hubungan antara mandi lilin dengan pembangunan. Siapa pernah dengar itu,” tanya saya.

“Kawanku pernah kepergok sedang melatih keponakannya mark-up. Itu tidak urgen untuk yang berbakat,” kata Bing Bing.

Martabak panas dengan acar ketimun dan cabe rawit dua sendok, terhidang di depan kami.

“Malas membaca dan tidak mampu menalar, itu musuh utama kita,” kata Tomo seraya mengunyah bawang.

“Kalau 60 orang murid satu kelas, seperti SMP dekat rumah kontrakanku, bagaimana bisa belajar. Mereka tidak pernah dilatih menulis surat, tidak pernah disuruh mcnulis buku harian,” keluh Daif yang mencicipi ketimun.

“Semua krisis,” komentarku. “Kreativitas krisis. Pers krisis. Hukum krisis. Lingkungan krisis. Krisis. Krisis.”

“Bagaimana mengukur tujuh turunan itu? Dan kenapa mesti tujuh? Sembilan barangkali angka yang lebih tepat,” kata Bing Bing.

Iklan-iklan televisi dengan nyinyir mengulang diri lagi, sebelum adegan tembak-menembak, sebagai kursus pembunuhan, dimulai lagi. Pengunjung-pengunjung restoran dengan tenang mengunyah makanan dan menghirup minuman.

“Penyelesaian sebuah masalah sebagai suatu teori. Kabarnya yang terbaik adalah membuatnya terapung-apung.” Sehabis mengucap itu, Tomo mengamati perputaran kipas angin yang penuh disiplin itu.

“Menjaga jarak dari harimau. Siapa yang pernah bilang itu,” tanya saya.

“Prinsipku, jangan berhutang dalam hidup. Wah, isteri saya juga tidak tenteram dengan kredit-kredit barang,” kata Daif dengan lega.

“Bangsa mana yang rajin, berdisiplin, gigih, bersih, akurat, dan hemat? Hayo,” tanya Bing Bing.

Tiba-tiba kami semua melihat arloji.

“Hai, sudah jam lima kurang lima.”

“Ah. Jam lima kurang tiga. Untung saya sudah salat asar,” kata Daif.

“Lho, jam lima tepat, kok,” sela saya.

“Yang bctul lima lewat semenit.”

Kami berpisah setelah Bing Bing bayar rekening.

Sumber: Ummat, tanpa nomor dan tahun

Dipublikasi ulang oleh Admin DPD PKS Sidoarjo

Konten lainnya: