W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Sampai di Mana Perjalanan Kita?

Sampai di Mana Perjalanan Kita

Sampai hari ini, perjalanan yang telah kita tempuh dalam mengarungi hidup ini mungkin sudah cukup jauh. Jika perjalanan itu tercermin dalam raut dan performa tubuh kita, barangkali kita sudah tidak pantas lagi untuk dikatakan muda. Garis-garis kerut di permukaan kulit wajah, atau cara berjalan kita yang sudah tidak segagah dulu, atau daya ingat yang mulai menurun, semua menjadi pertanda bahwa kita memang sudah melewati fase muda yang identik dengan sifatnya yang energik, gesit dan cerdas.

Tibanya masa seperti ini, hendaknya bukan kebahagiaan dan kegembiraan yang perlu kita rayakan, melainkan dengan merenungi diri sembari membolak balik apa yang telah kita perbuat, apa yang telah kita lakukan dan apa yang telah kita hasilkan untuk mengukur kesuksesan kita. Sebab, sebagai seorang yang mampu berbuat sebagaimana juga orang lain berbuat, harus ada sesuatu yang bisa kita banggakan, yang menunjukan adanya perbaikan diri dari waktu ke waktu, sebagai bukti bahwa hidup kita tidak stagnan atau mengalami kemandekan.

Di hari ini, seiring detak jarum jam yang tidak pernah berhenti untuk berputar, yang terus menambah panjang usia namun semakin mendekatkan kita pada batas kehidupan, seharusnya ada ruang yang cukup untuk bertafakur, merenung sambil menghitung-hitung kesalahan. Jika kita menganggap diri kita sebagai orang yang berakal, tentu kita akan bersedih, menangis, atau bahkan menjerit ketakutan. Sebab, ternyata memang kita belum melakukan apa-apa. Belum seberapa yang amal baik yang kita perbuat, belum seberapa manfaatyang dapat kita berikan, dan belum seberapa nilai-nilai kehidupan yang dapat kita kumpulkan.

Namun ironisnya, terkadang tidak semua kita menyadari hal ini. Di balik ketidaksadaran itu, kita bahkan merasa sudah melakukan banyak hal. Padahal sudah lama hidup kita mengalami stagnasi dan kemandekan. Ataupun kalau kita sempat menyadarinya, rasanya kita sudah kehabisan energi untuk melakukan yang lebih baik dari sekarang.

Kita tertipu dan terpedaya oleh tidak adanya persaingan di antara kita. Karena nyatanya memang, hampir semua kita berada pada kondisi yang sama: mandek. Di sadari atau tidak. Kita merasa telah sampai pada garis lingkaran yang paling luar, yang tidak ada lagi garis yang lebih besar di atasnya. Kita hanya mampu berputar di satu titik. Berhenti. Stagnan. Monoton. Ternyata, perjalanan kita terhenti sampai di sini.

Merenung untuk perjalanan ini, juga perlu kita lakukan bersama-sama untuk mengukur sejauh mana usaha yang kita lakukan dan kontribusi apa yang telah kita berikan untuk kemajuan masyarakat, bangsa, negara, dan agama kita. Sebab pada kenyataannya, hingga saat ini kehidupan pribadi kita tidak jauh berbeda dengan kehidupan berbangsa, bernegara dan beragama kita.

Kehidupan pribadi kita menjadi cermin bagi kehidupan berbangsa kita. Semua pada tingkat yang sama, berhenti pada titik yang satu. Ataupun kalau ada kemajuan, sejujurnya kita merasa malu untuk sedikit berbangga dengan apa yang kita capai. Sebab, ternyata banyaknya sumber daya manusia yang kita miliki dan melimpahnya sumber daya alam yang kita punyai tidak sebanding dengan kemajuan yang kita capai. Jauh dibanding kemajuan dan perkembangan bangsa dan negara lain yang tidak memiliki kemelimpahan potensi.

Memang kita punya rencana-rencana dan target-target besar yang kita buat di wilayah sosial, politik, ekonomi, budaya, olah raga, pemerintahan, dan di kehidupan masyarakat luas. Tetapi, semua itu hanya tinggal rencana dan target. Kita tidak merasakan adanya perubahan dan kemajuan yang berarti. Terlalu banyak contoh yang bisa kita kemukakan. Korupsi, misalnya, sesuatu yang dahulu menjadi musuh besar dalam birokrasi kita, namun hari ini masih terus berlanjut dan bahkan kian meraja lela. Meskipun sepertinya semua upaya telah dilakukan. Masih banyak contoh kasus yang bisa kita buktikan; kemiskinan yang semakin parah, lapangan kerja yang demikian langka, kemaksiatan yang kian merajalela, dan lain sebagainya.

Jika kita tidak merasakan semua itu sebagai sebuah kemandekan, hari ini kita harus merasakannya. Saat ini, kita mesti menyadarinya, untuk kemudian bergerak, berpikir, beraktifitas, berkreasi dan berinovasi untuk melawannya.

Ada banyak faktor yang sebenarnya telah mematikan akal sehat kita sehingga kita tidak menyadari bahwa kondisi ini adalah sebuah kemandekan yang harus dilawan. Di antaranya, karena kita kehilangan pemaknaan terhadap hidup dan kehidupan. Kemalasari dan sikap masa bodoh telah menjerat kita untuk selalu bertahan pada situasi dan kondisi yang telah ada. Kita kehilangan pengetahuan bahwa hidup ini hams bergerak dan terus bergerak, menggores setiap waktu agar ia menjadi sejarah yang bisa dikenang di sepanjang masa.

Faktor lain adalah bahwa kita tidak pandai menghargai kerja-kerja yang telah kita lakukan. Dalam teori psikologi, kejenuhan atau merasa statis dalam hidup salah satunya disebabkan karena seseorang tidak begitu menghargai apa yang ia lakukan. Psikolog terkenal Oliver Wendell Holmes mengatakan bahwa sesuatu yang bergerak menunjukan adanya dinamika, dan dinamika selalu disusupi dengan upaya, kreativitas, perkembangan yang semuanya mencerminkan hidup.

Pada dasarnya, seseorang yang merasa jenuh dan tak merasa hidup adalah orang-orang yang tak menghargai apa yang ia lakukan dan apa yang melingkari hidupnya,” ujar Oliver.

Perasaan jenuh muncul karena seseorang kurang menghargai dinamika amal dan aktivitas yang dilakukannya. Tentu banyak sebab yang melatarbelakangi kondisi ini. Tapi merasa bahwa pekerjaan kita tidak berharga, hanya sebagai rutinitas, akan menjadikan kita sendiri malas untuk bergerak. Sehingga akhirnya lebih memilih untuk tetap pada kondisi yang ada, serta diam dan tidak mau melakukan perbaikan-perbaikan diri.

Saat ini, kita sedang berada dalam situasi stagnan, mandek, dan belum ada perubahan kepada keadaan yang lebih baik. Tetapi semua unsur kehidupan yang ada masih bergetar dinamis. Artinya, masih ada waktu bagi kita untuk menjalankan tugas-tugas kita. Tidak masuk akal bila seluruh alam semesta bergerak memenuhi tugas yang dibebankan, tetapi kita justru berdiam diri.
Tak ada logika apapun yang bisa menerima sikap diam di tengah dunia yang bergerak. Keengganan bergerak karena alasan apapun hanya akan memunculkan keadaan yang lebih berat daripada kesalahan yang muncul karena risiko yang pasti ada dalam bergerak.

Hal penting yang harus kita syukuri bahwa hingga saat ini, Allah SWT masih menyayangi kita. Kita masih diberikan kesempatan untuk menghirup udara, masih bisa bernafas lega di tengah polusi stagnasi yang belum kita tahu kapan akan dapat bisa bergerak maju, dan masih diberikan kesehatan untuk berbuat. Itulah yang masih tersisa untuk kita bisa mengukir sejarah yang lebih terhormat untuk dikenang oleh anak-anak cucu kita, para penerus kita di kemudian hari.

Makna dari sabda Rasulullah, bahwa meskipun kiamat telah datang, biji yang masih ada di genggaman tangan kita harus tetap kita tanam, adalah sebuah petunjuk dan motivasi agar kita tidak berhenti berbuat, sekecil apapun. Karena semua perubahan itu, awalnya tentu bermula dari hal-hal yang kecil.

Menyadari Kemandekan Melalui Pemaknaan Hidup

Hidup dan kehidupan itu, sesungguhnya selalu identik dengan gerak. Sama seperti kematian, dalam pengertiannya yang luas, selalu sejalan dengan arti kata diam, mandek, atau terhenti. Maka, ketidakmampuan kita untuk mengiringi hidup dan kehidupan kita dengan gerak, otomatis akan memunculkan kesulitan bagi diri kita sendiri untuk menjalaninya, dan bahkan bisa membuat kita mati. Karena itu, bergerak, beraktifitas, melakukan berbagai eksperimen, berkreasi, berinovasi dan sebagainya merupakan tindakan yang mutlak dalam hidup ini. Tanpa itu, kehidupan bukan saja menjadi kehilangan makna, tapi juga akan membawa bencana serta menyimpan berbagai penyakit.

Bergerak bukan hanya monopoli manusia yang memang bertanggung jawab dalam menjaga dan mempertahankan eksistensi kehidupan, sesuai tugasnya dari Allah SWT untuk menjadi pemimpin dan pemakmur.bagi dunia ini. Akan tetapi semua benda yang ada di alam raya juga melakukan gerak untuk tugasnya masing-masing, sebagai harmonisasi untuk terciptanya kehidupan berkelanjutan, hingga tibanya masa yang telah ditentukan.

Meski dalam penglihatan kita yang terba-tas benda-benda itu tampak diam, tetapi pada hakekaktnya mereka semua terus bergerak dan berjalan. Matahari bergerak dan berjalan di tempat peredarannya. Bumi dan bulan juga bergerak dan berputar pada porosnya masing-masing, sambil beriringan bersama mengitari matahari. Galaksi bergerak cepat dalam superkluster, bintang-bintang berpacu mengitari galaksi, planet-planet mengitari bintang, dan satelit-satelit mengitari planet.

Dalam skala mikro, molekul-molekul bergerak selincah yang bisa dilakukannya. Elektron mengitari inti atom dengan gerak yang tak tertangkap pengamatan. Pada level yang lebih kecil, kita boleh heran memahami bahwa materi sebenarnya hanya wujud lain dari energi yang bergetar. Dan pada level yang lebih kecil lagi, ilmuwan-ilmuwan mulai menyusun teori bahwa seluruh materi dan energi adalah bentuk senar-senar multi-dimensi sangat kecil yang bergetar dan terus bergetar. Karakteristik getaran itulah yang menentukan identitas penampakannya; apakah ia akan jadi materi atau energi, dan sebagai materi atau sebuah energi tertentu. Umur semesta ini adalah sepanjang masa bergetarnya unsur-unsur yang bergetar itu, dalam perspektif mana pun kita memandang.

Maka bisa kita bayangkan, andaikan benda-benda yang punya peran krusial itu; dari yang sangat besar hingga yang terkecil; dari yang tampak jelas hingga yang tak mampu terlihat oleh mata kita, sama-sama berhenti sedetik saja dari pergerakannya, tentu kehidupan ini akan mengalami gangguan yang maha dahsyat, atau bahkan barangkali kehidupan ini akan berakhir seketika. Karena itu, bayangkan dan renungkanlah.

Kita harus menjauhkan kemandekan dari kehidupan kita. Kita memerlukan gerak yang bisa memberikan kehidupan dan perubahan, adalah gerak dengan banyak berpikir, beraktifitas, melakukan berbagai eksperimen, berkreasi, berinovasi dan sebagainya. Itulah gerak yang seharus kita lakukan. Sedangkan gerak yang tanpa pikir, aktifitas, kreasi, ataupun eksprerimen hanyalah gerak yang menciptakan kemandekan, kebosanan dan kejenuhan, yang menambah keruwetan hidup, dan yang mempercepat kematian.

Hidup ini, supaya tidak kehilangan maknanya ia harus selalu dinamis, bergerak dan terus bergerak, seperti angin yang meliuk-liuk di bawah lembah, lalu menanjak ke atas bukit. Dan setiap kita tentu akan berbeda-beda membuat makna hidupnya sesuai dengan perjalanan dan arah hidup yang kita lalui. Tuntunan Allah SWT dalam Al Qur’an dan petunjuk Rasulullah saw mengajarkan bahwa hidup adalah ibadah, hidup adalah ladang amal, dan hidup adalah medan perjuangan. Tapi semua orang akan mempunyai lorong sendiri-sendiri dalam hidupnya untuk bereks-presi, berbuat dan berkreasi.

Kita sendirilah yang akan menempuh jalan dan alur yang diciptakan Allah swt untuk kita. Islam mengarahkan kita untuk merenungi dan memaknai hidup lewattafakur dan dzikir. Setiap orang akan mengisi tafakurnya sesuai dengan garis kehidupan yang ia lalui dan ke mana rencana serta harapan hidupnya ke depan. Di sanalah, akan muncul semangat untuk terus bergerak dan dinamis. Upaya-upaya memaknai hidup lewat tafakur dan dzikir itu akan menyadarkan seseorang tentang berbagai amal dan tugas yang harus dilakukan dalam hidupl Di sanalah pula seseorang akan terdorong untuk terus bergerak, mengevaluasi langkah, meluruskan sikap, mengatasi rintangan, mewaspadai segala ancaman yang menghalanginya dari memperoleh hidup yang bermakna. Dan langkah itulah, yang tadinya hanya merupakan tindakan-tindakan individu, yang kemudian mensinergikan satu sama lain dalam satu kerja besar yang akan menghasilkan kehidupan yang baik dan berkembang.

Sumber: Tarbawi Edisi 148 Th. 8/Muharram 1428 H/1 Februari 2007 M

Dipublikasi ulang oleh Admin DPD PKS Sidoarjo

Tulisan Lainnya: