W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Sebelum Semuanya Bertambah Sulit

Sulit tidak akan selamanya sulit. Sebagai mana mudah tidak selalu terus mudah. Yang jelas kesulitan tidak akan mengalahkan kemudahan dua kali. Hanya saja yang kita khawatirkan, kesulitan mempunyai nafas lebih panjang daripada semangat kita mengalahkannya. Maka kita harus bersiap untuk menghadapi itu semua. Berikut persiapan yang mesti kita siapkan untuk menghadapi esokyang mungkin lebih rumit.

1. Siapkan Kemungkinan Terburuk dalam Hidup

“Tiada hari yang lebih sulit dibandingkan hari ini,” kata Anas bin Malik siang itu. Hari itu Madinah menangis. Bahkan dunia. Ditinggal manusia terbaik yang pernah ada dalam sejarah. Rasulullah telah wafat untuk selamanya.

Ada dua penyikapan yang bertolak belakang menerima berita yang mengejutkan itu. Umar dengan kemarahannya mencabut pedang dari sarungnya dan mengancam yang berkata bahwa Muhammad telah mati. Sementara Abu Bakar dengan ketenangannya datang dan membuka kain yang menutup muka beliau dan menciumnya sambil berkata, “Demi ayah dan ibuku yang menjadi tebusannya, engkau wangi saat masih hidup dan saat telah wafat.” Abu Bakarlah yang telah menyadarkan Umar dengan ayatyang sering dibaca Umar tetapi hari itu terasa baru. Bahwa Rasulullah pun pasti pergi.

Keadaaan memang sulit. Kebersamaan nabawi sudah berakhir. Cermin yang sangat bening itu tidak bisa lagi dilihat langsung. Mendung menggelayuti dunia secara keseluruhan.

Tetapi Abu Bakar telah mempersiapkan semuanya. Beliau telah meletakkan kemungkinan terburuk dan tersulit dalam kebersamaan itu. Yaitu perpisahan dengan orang yang lebih dicintainya dari seluruh yang ada. Sementara Umar belum lagi mempersiapkan hal itu dan masa sulit telah datang. Sehingga nampak betul bagaimana beliau terpukul berat. Tidak menerima kenyataan yang ada di depan matanya.

Pelajaran di atas begitu berharga bagi kita. Selain membangun optimisme pada setiap rencana besar ke depan, kita juga harus memberikan ruang bagi kemungkinan yang paling negatif dari rencana kita.

Mempersiapkan mental untuk gagal sebelum gagal jauh lebih baik daripada gagal dan mental kita belum siap untuk gagal. Orang besar seperti Umar masih mempunyai kendali diri hingga tidak melakukan hal yang tidak diridhoi Allah. Kita orang yang tidak sebesar beliau.

Kalau ternyata kita sukses, persiapan hati untuk gagal semakin menambah indahnya perjuangan. Sementara jika takdir belum berjodoh dengan usaha dan harapan kita, hati terminal akhir dari segala rasa itu telah siap dan tidak terpuruk payah.

Usaha kita, bisnis kita, studi kita, keluarga kita, pekerjaan kita, semuanya mungkin bisa lebih besar dan mungkin hancur dan tidak tersisa sama sekali. Maka hati kita juga harus menyediakan dua saluran agar jika salah satu dari sukses dan gagal terjadi, keduanya mengalir pada jalur yang telah kita buat. Tidak luber ke mana-mana yang menyebabkan bencana dalam hidup kita.

2. Siapkan Profesionalisme

Jaman ini terus bergerak. Meninggalkan mereka yang tidak professional di bidangnya. Pendidikan tinggi tidak jaminan. Banyak kursus juga bukan segalanya. Hari ini dan terus ke depan di sebut masa profesionalisme. Hanya bagi mereka yang memilik keahlian di bidangnya Iah yang mempunyai peiuang terbesar untuk bisa sukses.

Sebentar lagi, siapa pun bisa masuk dan mengais kekayaan negeri ini. Kalau tidak dari sekarang kita siapkan segala cara menuju profesionalisme, tidak lama lagi kita akan terkubur.

Totalitas dalam usaha kita. Tidak boleh lagi hanya sampingan atau iseng belaka. Tidak hanya setengah-setengah. Bukan hanya penyandang gelar tanpa keahlian.

Setelah itu, kita masih dituntut untuk memiliki daya kreatifitas yang tinggi. Pesaing datang dari tempat yang jauh dengan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit tentu telah berbekal pula dengan kredibilitas yang tinggi. Kebesaran bukan pula jaminan untuk tidak runtuh. Semua yang telah besar di masa lalu banyak yang telah terkubur oleh datangnya pesaing baru.

Perkembangan ilmu pengetahuan sangat luar biasa pesat. Cepat sekali, rasanya penemuan yang kemarin belum lagi kita kuasai. Kini telah muncul lagi yang lainnya. Kita harus mempunyai kecepatan secepat perkembangan ilmu itu. Kecepatan dalam belajar.
Bila kita berpikir dengan cara seperti ini pun sebenarnya kita masih tertinggal. Karena kita hanya menjadi konsumen dan sasaran orang-orang hebat itu memasarkan temuannya yang terbaru.

Jaman makin cepat. Kecepatannya bisa mempercepat kematian sebuah usaha yang telah dirintis. Kecepatannya bisa menambah ruwet pintal-pintal kesulitan yang ada. Belajar tidak boleh berhenti. Menciptakan pribadi-pribadi yang kelak menjadi rujukan utama dalam bidang tertentu.

3. Sebarkan Kebenaran di Lingkungan Kita

Islam harus sampai ke hati setiap insan muslim. Kebenaran adalah kebenaran. Ia berbeda dengan kebatilan. Dirasakan dan dipancarkan dari fitrah yang suci. Ia adalah fitrah imani yang tidak boleh diragukan. Wujudnya jelas dan transparan seperti matahari di siang hari.

Menyebarkan kebenaran adalah tanggung jawab kita semua. Ia harus disampaikan dengan cara yang benar dan tepat pula, agar tidak tergilas oleh kebatilan yang juga muncul bak sebuah “kebenaran baru”.

Para pendukung kebatilan telah bekerja dengan pengorbanan tenaga, pikiran dan materi yang luar biasa. Mereka telah menghancurkan sendi-sendi kehidupan kita, lingkungan kita, jiwa raga kita dan anak keturunan kita. Tangan-tangan jahil mereka telah merambah masuk ke ruang-ruang rahasia keluarga kita. Mencuci otak kita. Mengganti budaya kesopanan kita dengan budaya impor yang tidak lebih baik dari perilaku setan durjana. Semua itu tampak jelas di hadapan kita.

Maka mengapakah kita tidak melakukan perlawanan terhadap kemunafikan itu, padahal ada janji kemenangan dari Allah, yang mempunyai kebenaran itu? Membiarkan kebatilan memangsa kebenaran sama dengan memusuhi kebenaran itu sendiri.

Tetapi perjuangan menyebarkan kebaikan sangatlah berat. Hal itu diperberat lagi dengan semakin menggejalanya ketidak pedulian masyarakat dengan Islam. Buat mereka tidaklah penting apakah keluarga sholeh atau tidak. Yang sangat penting adalah apakah mereka sudah bekerja.

Kebaikan ini seperti air. Dia sebenarnya bisa mengalir dan memasuki lubang hati sekecil apapun. Maka terus alirkanlah air kebenaran ini untuk memadamkan api budaya yang tidak karuan. Dari sekian banyak yang kita sampaikan, mungkin belum ada yang diterima. Tetapi jangan berhenti, karena siapa tahu dari untaian kata berikutnya yang datang dari gumpalan harapan terhadap hidayah bisa menyentak mereka yang belum sadar.

Ini semua agar kita bisa hidup di lingkungan yang bersih dan berkah. Hidup akan nyaman dan aman. Paling tidak kita akan berada di lingkungan yang walaupun masih belum Islami tetapi tidak lagi memusuhi Islam.

Persatuan umat juga berawal dari sini. Yang akan memunculkan kemenangan. Pemahaman yang tinggi akan membuat mereka berteriak dari mimbar yang sama. Dan mempunyai ukuran-ukuran yang sama untuk menilai suatu peristiwa. Menjatuhkan pilihan-pilihan hidup yang tidak salah karena berdasarkan hawa nafsu belaka.

4. Budayakan Hidup Hemat

Nabi Yusuf memerintahkan untuk menghadapi musim kering yang panjang dengan menabung gandum. Gandum itu ditabung berikut tangkainya. Karena dengan demikian usi gandum akan lebih lama. Musim paceklik akan sangat panjang.

Menghadapi kesulitan memang butuh persiapan. Tidak tahu seberapa sulitnya masa depan kita. Seperti apapun masa depan itu, menabung itu penting.

Menabung adalah bagian dari hidup hemat. Nabi dalam bahasa yang sangat indah mengatakan, “Hematlah kalian dalam mempergunakan air walaupun kalian berada di aliran sungai.

Saat kita berada di aliran sungai yang airnya begitu melimpah dan tidak terkurangi saat kita menggunakannya dengan jumlah yang banyak. Dan Nabi masih mengajarkan hidup hemat. Ini hal yang menarik.

Kalaupun hidup kita melimpah bak aliran sungai, dan tidak terpikir oleh kita akan kekurangan, kita harus tetap hemat. Lebih lagi, ketika kita sulit. Maka bayangan hidup kita ke depan lebih tidak terjamin.

Menuruti nafsu tidak ada habisnya. Dia terus merongrong kita. Kalau kita cukup dengan barang yang kini ada pada kita, mengapa juga mencari yang baru demi kepuaasan mengejar mode terbaru. Bukan tidak boleh mengikuti teknologi terbaru. Tetapi masalah kita ke depan bukan semakin ringan, tetapi semakin berat. Berpikir dengan hitungan matematik prioritas sangatlah penting.

Pedidikan semakin mahal, harga-harga semakin naik. Jika sumber air kita sedot habis hari ini, tidak ada yang tersisa untuk generasi kita.

Membudayakan hidup hemat bukan saja pilihan orang bijak, tetapi juga bagian dari perintah Allah.

5. Banyaklah Mendekatkan Diri kepada Allah

Dekat kepada Allah adalah merupakan pendingin untuk semua. Setelah berbagai usaha kita lakukan, setelah berbagai kemungkinan buruk semakin menghantui.

Sandarkan semuanya kepada Allah. Buatlah ridho dengan ketaatan dan sejauh mungkin dari hal yang membuat-Nya murka. Ini akan memudahkan kita untuk menyelesaikan setiap masalah yang muncul dalam hidup kita.

Karena jalan keluar dari setiap permasalahan, tidak pernah bisa dipastikan oleh manusia. Walaupun usaha maksimal telah begitu banyak, tetapi terkadang masalah tetap tidak beranjak dari tempatnya. Memang bukan kita penyelesai masalah itu. Allah saja yang membuka pintu penyelesaian dari kesulitan.

Ikutilah perbuatan buruk yang terlanjur kita lakukan dengan perbuatan baik. Semoga bisa menghapus jejaknya. Karena jejak-jejak kebu-rukan hanya akan menjerumuskan kita kepada kesulitan dan dosa yang lain. Sehingga ketika jejak itu terhapus dengan kebaikan, semoga kita bisa berbalik arah. Mengikuti jalan setapak yang menghantarkan kita menuju pintu keluar dari setiap permasalahan.

Sesungguhnya setiap jiwa cenderung kepada kejelekan kecuali jiwa-jiwa yang dirahmati Allah. Untuk mengalahkannya membutuhkan perjuangan yang tidak ringan.

Jiwa ini harus diajari bagaimana mensyukuri yang banyak dan ridho kepada yang sedikit. Jiwa ini harus dibimbing menuju rasa menerima terhadap pembagian Allah. Jiwa ini harus dididik agar tidak menggenggam dunia terlalu kuat dan rasa berbagi yang tinggi.

Agar hari-hari depan yang mungkin lebih sulit bisa dengan mudah kita atasi. Mengatasi kesulitan berawal dari hati.
Kemudian persiapan demi persiapan yang telah kita lakukan kiranya dapat membantu hari-hari sulit.

Sumber: Majalah Tarbawi Edisi 74 Th. 5/Dzulqo’dah 1424 H/25 Desember 2003 M

Dipublikasi ulang oleh Admin DPD PKS Sidoarjo

Konten lainnya: