W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Serangga yang Terus Menerobos Api

Aku ini seperti orang yang menyalakan api,” begitu Rasulullah memberi perumpamaan.

Lalu serangga-serangga ingin mendekati api itu. Tak mudah dicegah, serangga-serangga itu banyak yang akhirnya masuk ke dalam api dan terbakar.

Lalu aku menghalau serangga itu agar menjauhi api. Tetapi mereka terus mendesak dan terus berusaha masuk ke dalam api. Hingga banyak dari mereka yang terjerembab ke dalam api. Seperti itulah perumpamaan aku dan kalian. Aku membentengi kalian agar jangan terjerembab ke dalam api neraka. Aku katakan, ’Jauhilah api neraka itu, jauhilah api neraka itu,’ tapi kalian terus memaksa dan mengalahkan aku hingga kalian pun terjerembab ke dalam neraka.

Ini adalah drama konsistensi. Rasulullah konsisten membimbing umatnya. Tapi, justru banyak dari umatnya yang konsisten pula
untuk terus melawan. Konsisten untuk terus mendekati panasnya api neraka. Neraka yang dikelilingi dengan hal-hal yang indah di dunia ini, menggoda, dan melenakan.

Rasulullah menghalau manusia dari jalan kebatilan. Tapi banyak dari mereka yang justru terus menapakinya, bahkan dengan upaya yang sangat-sangat. Hari-hari ini kita melihat sebuah fase hidup dimana orang tidak saja melakukan kebatilan, tapi banyak yang konsisten di jalan kebatilan itu.

Banyak dari mereka yang melakukan semua itu dengan sadar. Bahkan dengan niat dan kemauan yang terus diperbaharui. Ada yang ingin menunjukkan kehebatan intelektualnya. Ada yang ingin menonjolkan kemampuannya dalam menganalisa, mengurai dan mengkritik segala ajaran yang datang dari Allah. Ada yang dengan ringan menyebut Al Qur’an sebagai kitab suci yang paling porno.

Ada yang menawarkan sesuatu yang disebut pembaharuan padahal isinya penginkaran. Ada yang mengusung kebebasan dan liberalisasi dalam beragama, padahal isinya adalah penistaan terhadap ajaran Islam. Di sebuah perguruan tinggi terkenal, ada seorang dosen yang selalu marah bila mahasiswanya izin untuk melakukan shalat. “Ini yang membuat kalian terbelakang,” katanya dengan ringan.

Di antara mereka ada yang konsisten untuk memperjuangkan keseteraan dalam soal mengartikan yang benar. Baginya kebenaran tidak harus mutlak. Menurutnya tidak boleh ada monopoli dalam tafsir, bahkan tafsir tentang kebenaran yang datang dari Allah, sekalipun. Maka mereka merasa bisa membangun doktrin baru tentang salah, tentang benar, tentang baik. Itu semua akhirnya akan berefek terhadap penafsiran mereka tentang dosa. Secara langsung atau tidak langsung, mereka mereka telah memutarbalikkan hukum, sehingga dalam dialektika ilmiah yang mereka buat, bisa saja mereka seperti berani memikul dosa orang lain. Sebab, sesuatu yang salah dan berdosa, bisa saja mereka yakini tidak salah dan tidak berdosa.

Dan orang-orang yang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman, ’Ikutlah jalan kami, dan kami akan memikul dosa-dosamu.’ Padahal mereka sedikit pun tidak (sanggup) memikul dosa-dosa mereka sendiri. Sesungguhnya mereka benar-benar pendusta. Dan mereka benar-benar akan memikul dosa-dosa mereka sendiri dan dosa-dosa yang lain bersama dosa mereka, dan pada hari Kiamat mereka pasti akan ditanya tentang kebohongan yagn selalu mereka ada-adakan.” (QS. Al Ankabut: 12-13).

Yang lain menyebut bahwa apa yang mereka perjuangkan adalah warisan nenek moyang mereka sebagai sebuah budaya yang harus dihormati. Di masa para nabi-nabi terdahulu, banyak dari umat mereka yang menolak ajaran rasul mereka, dengan alasan untuk mem-pertahankan budaya peninggalan orang tua dan nenek moyang mereka.

Tapi ada juga yang konsisten di jalan kebatilan, karena jiwanya terlampau lemah untuk sekadar berkata tidak. Konsistensinya adalah keengganannya meninggalkan kubangan dosa. Ia tahu dirinya keliru. Tapi, seperti serangga-serangga itu, ia terus melihat api yang pa-nas sebagai cahaya indah yang harus dinikmati dengan cara meleburkan diri di dalamnya. Hari demi hari, hanyalah perpindahan dari kemaksiatan yang satu menuju kemaksiatan yang lain. Waktu demi waktu hanyalah berganti dari warna dosa yang satu menuju warna dosa yang lain.

Di ujung sana, ada orang-orang yang konsistensinya dengan kebatilan adalah kemalasannya untuk berubah menjadi baik. Tingkah laku buruknya ia anggap tak jadi soal, selama ia merasa tidak mengganggu orang lain. Dirinya adalah dirinya sendiri. Pilihan hidupnya adalah pilihannya sendiri. Risiko hidupnya adalah risiko hidupnya sendiri. Begitu ia meyakini. Ia merasa mandiri. Menjadi baik tidak harus karena dipengaruhi oleh siapapun atau siapapun. Ia merasa bisa kapan saja berubah kalau dirinya mau. Hidup baginya adalah puncak kemerdekaan memilih. Seterusnya ia begitu. Ia konsisten di jalan kebatilan. Sebab ia merasa, dengan itu, ia menjadi dirinya sendiri dan bukan menjadi orang lain.

Beberapa yang lain, konsisten dengan caranya sendiri. Ia tak pernah punya gairah untuk meningkatkan diri. Ia cukup puas menjadi orang yang biasa-biasa saja. Termasuk sangat biasa dalam soal amal dan kebajikannya. Ia tak perlu merasa menjadi hebat meski pun bisa. Sebagaimana ia pun terlalu sering memaafkan dirinya untuk segala kebatilan yang ia lakukan. Ia cepat lupa. Bahkan terhadap dosa-dosanya sendiri. Ia tidak harus peduli pada apapun. Menjadi baik, dengan peran-peran yang menonjol, biarlah diperankan orang lain, la sudah merasa cukup bahagia dengan selang-seling kesalahan yang dengan cepat ia maafkan. “Jangan memaksakan diri,” begitu ia berkilah.

Drama konsistensi selalu punya sisi ironisnya sendiri. Konsistensi Rasulullah yang terus menyeru, bukan untuk dirinya, tapi untuk kebaikan umat yang diserunya. justru mereka yang diseru banyak yang tak mempedulikan diri mereka sendiri. Mereka bahkan konsisten untuk melawan, konsisten untuk memilih jalan kebatilan, dan konsisten untuk membela jalan kebatilan itu.

Salah dalam berbuat, berbeda dengan sengaja melakukan salah. Keliru menjalani hal yang batil tidak sama dengan secara khusus memang bermaksud melakukan yang batil. Sesekali keliru dan tergelincir, sangat tidak sama dengan orang yang terus menerus melakukan kebatilan, bahkan konsisten dengan kebatilan itu. Konsisten ’memperjuangkan’ kebatilan itu.

Setiap kali ilmu manusia bertambah, tidak selalu berarti sikap bijaknya pun bertambah. Setiap kali pengetahuan manusia meningkat, tidak otomatis jiwa ketundukannya kepada kebenaran juga meningkat. Sebab, ketundukan terkait erat dengan sifat ikhlas, percaya, dan yakin. Ikhlas kepada ketetapan Allah. Percaya kepada kebenaran yang datang dari Allah, dan yakin bahwa apa yang ditetapkan Allah adalah yang benar dan paling baik bagi kehidupan makhluknya. Sedang pengetahuan, ilmu, tanpa ruh keimanan, bisa saja menjadi bencana dan hanya dipakai untuk membuat kerusakan di muka bumi.

Konsisten dengan kebatilan punya gradasinya masing-masing. Ada yang konsisten dengan kekafirannya, membela kekafiran dengan bermacam alasan ilmiah yang dipaksakan. Tapi ada juga jenis kebatilan yang terlihat kecil, tetapi orang menjalaninya secara konsisten. Di kemudian hari, ia tak menyangka, bahwa ucapan dari lidahnya yang tajam, misalnya, telah menumpuk menjadi segunung dosa.

Tidak menutup aurat adalah sebentuk kebatilan. Bila terus menerus dijalankan, sepanjang hidup, dengan sadardan keengganan untuk berubah yang diawetkan, itu artinya orang tersebut konsisten dengan kebatilan. Begitu juga dengan kekeliruan dan kesalahan yang lain. Membunuh diri sendiri dengan berbagai racun fisik atau racun pikiran, secara terus menerus, adalah sebentuk konsistensi kepada kebatilan. Begitu juga suami yang selama hidupnya selalu menyakiti istrinya, atau istri yang selalu tidak syukur dengan rezekiyang diberikan Allah. Atau pejabat yang setiap musim haji menangis di depan Ka’bah. Tetapi setelah itu selalu korupsi. Ia menangis bukan untuk bertaubat. Ia menangis minta harta haramnya setahun lalu diputihkan oleh Allah. Begitu seterusnya. Ada mahasiswa yang konsisten menyontek. Ada remaja yang konsisten bergonta-ganti pasangan tanpa status hukum kecuali hukum kebebasan.

Al Qur’an memberi apresiasi yang baik bagi orang yang bertaubat dan suka membersihkan diri. Tapi tak ada tempat bagi orang yang konsisten di jalan keburukan.

Tak ada konsistensi dengan kebatilan dan kekafiran yang melegenda seperti kafirnya Fir’aun. Ia menyeru, berbuat, menghukum, menyiksa, berkuasa. Dan satu lagi, ia konsisten. Sepanjang hidupnya ia menjalani misi itu. Namun Fir’aun yang angkuh itu, pada detik kematiannya menyadari betapa ia telah keliru. Di ujung setiap akhir hidup para pembela kebatilan, selalu saja ada drama yang menyedihkan. Ia toh bukan siapa-siapa.

Dan juga Qarun, Fir’aun, dan Haman. Sungguh telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa) keterangan-keterangan yang nyata. Tetapi mereka berlaku sombong di bumi, dan mereka orang-orang yang tidak luput (dari azab Allah). Maka masing-masing (mereka itu) Kami azab karena dosa-dosanya, di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, ada yang di timpa suara keras yang mengguntur, ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan ada pula yang Kami tenggelamkan. Allah sama sekali tidak hendak mendzalimi mereka, akan tetapi merekalah yang menzhalimi diri mereka sendiri.” (QS. Al-Ankabut: 39-40).

Aku ini seperti orang yang menyalakan api,” begitu Rasulullah memberi perumpamaan. Dan kita hanyalah serangga-serangga. Yang terus berusaha menerobos api. Di antara kita, mungkin banyak yang telah terjerembab, hangus, dan mati menelan api. Yang lain meronta, menerjang, dan melawan logika-logika jiwanya sendiri yang jujur. Yang lain bersabar untuk memahami, dan Allah pun memberitahu cara untuk mengerti.

Kita hanyalah serangga-serangga itu.

Sumber: Tarbawi Edisi 131 Th. 7/Rabi’ul Akhir 1427 H/11 Mei 2006 M

Dipublikasi ulang oleh Admin DPD PKS Sidoarjo

Konten lainnya: