W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Sisakan Selalu Kantong Kegembiraan

Kegembiraan punya tempat istimewanya dalam Islam. Agama yang tak pernah melewatkan segala urusan, kecil atau besar, kecuali menjelaskan bagaimana kita menyikapinya. Kadang secara umum, kadang secara detil. Kegembiraan tak sekadar layaknya garam bagi sayuran. Atau gula bagi minuman. Ia bahkan menjadi salah satu dari dua pilar risalah kenabian. Sebab Rasul diutus untuk menyampaikan kabar gembira, dan juga untuk memberi peringatan akan azab Allah SWT.

Salah satu do’a yang sering dibaca Rasulullah dan diajarkan kepada kita adalah meminta perlindungan dari rasa gundah dan kesedihan. “Ya Allah aku berlindung kepadamu dari kecemasan dan kesedihan, dari rasa lemah dan kemalasan, dari kebakhilan dan sifat pengecut, dari beban hutang dan tekanan orang-orang (jahat).” Tak ada makna yang lebih mendalam dari pentingnya memiliki kantong kegembiraan, dari untaian do’a tersebut.

Allah juga telah menjanjikan, bahwa bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Sekali lagi, bersama kesulitan, pasti ada kemudahan. Pengulangan itu menandakan, bahwa kesulitan tak akan berdaya melawan dua kemudahan. Maka seharusnya tak ada tempat bagi kesusahan, setidaknya dalam alur keyakinan seorang muslim menjalani hidup. Meski dalam praktiknya, kesulitan itu harus dilewati sebagai jalan menuju kemudahan.

Di setiap situasi yang paling sulit, selalu ada celah untuk kita bergembira. Begitulah Islam mengajarkan kepada kita. Celah itu bahkan harus selalu kita adakan. Semacam kantong-kantong pertahanan yang harus kita sisakan. Kita mengerti bahwa hidup kadang tak sekadar persaingan. Tapi juga kerja keras dan pergulatan melawan alam yang rengus. Kadang ia seperti menghabisi jerih-payah kita, menguras kesabaran kita dan melumat sisa-sisa tenaga kita. Setiap hari yang baru mungkin serasa akhir segala harapan.

Tapi itu semua tidak boleh memberangus kantong kegembiraan kita. Kantong itu harus tetap ada, terjaga. Meski kala tertentu, di puncak keguncangan kita, suatu hari, dulu atau nanti, dalam perjalanan hidup yang melelahkan ini, mungkin kantong itu tercabik-cabik. Tapi isi kantong itu tak boleh habis. Kegembiraan tidak boleh binasa.

Seorang muslim harus mengerti bagaimana seni menyemangati dirinya sendiri. Dengan mengambil bagiannya yang mesti untuk kantong kegembiraannya. Kegembiraan punya peran dan kapasista sendiri untuk mengubah persepsi kita tentang hidup, memperbaiki semangatdan gelora pengharapan kita. Dan, kegembiraan memberi kita kekuatan kelapangan dalam memikul beban.

Lihatlah anak-anak kecil. Mereka selalu menjalani hari-hari dengan gembira. Kegembiraan mereka mengalahkan lelah-lelah fisik dan kekalutan pikiran. Mereka mungkin belum banyak memikirkan soal-soal berat. Tapi kegembiraan telah mengantarkan mereka pada banyak pencapaian. Belajar mengenal, berlatih merasa. Bagi anak-anak, kegembiraan tidak harus direncanakan, tidak pula dicari-cari alasannya. Itu inheren dengan cara hidup mereka. Segala sesuatu bagi mereka terasa hidup dan menarik. Mereka tidak punya ekspektasi yang kaku. Kegembiraan mereka bukan pelarian. Tapi bukan pula tanpa produktifitas. Orang dewasa layak belajar bagaimana anak-anak itu memiliki begitu besar kantong kegembiraan tanpa mereka sendiri nampak menghinakan etos kerja-kerja serius.

Seorang ulama berkata, “Di antara kenikmatan terbesar adalah kegembiraan, ketentraman dan ketengangan hati. Sebab, dalam kegembiraan hati itu terdapat keteguhan pikir, keriangan jiwa dan produktifitas yang berkesinambungan.

Siapa yang tahu cara memperoleh, merasakan, dan menikmati kegembiraan, maka ia akan dapat memanfaatkan pelbagai kenikmatan dan kemudahan hidup, baik yang ada di depannya maupun yang masih jauh berada di belakangnya.

Guncangan sedahsyat apapun tak boleh menghentikan hidup kita. Bila puncak keguncangan itu kematian, kita harus sadar, bahwa kematian tidak akan datang, bila memang belum tiba saatnya. Bila puncak keguncangan itu adalah ditinggal orang-orang tercinta, kantong kegembiraan berguna sebagai pelampung, atau sejenis kano, atau malah kapal kelanjutan, atau connecting flight kita. Bahwa semuanya belum habis. Dan memang semestinya tidak boleh habis, kecuali bila takdir telah menghabisi usia kita.

Seperti seni menyisakan kegembiraan yang sangat rumit yang diperagakan seorang perempuan yang ditinggal mati empat anaknya. Namanya Khansa’. Perempuan penyair terbaik di jamannya. la masuk Islam di masa Rasulullah dan hidup dalam umuryang panjang hingga awal masa Khalifah Utsman bin Affan. Empat anak laki-lakinya gugur di perang Qadisiah, di masa khalifah Umar bin Khatab. Tapi keislamannya mengajarkan padanya bagaimana menyisakan kantong kegembiraan.

Ia ikhlaskan kepergian anak-anaknya, “Segala puji hanya bagi Allah yang telah memberi kemuliaan kepadaku dengan kematian putra-putraku sebagai syuhada dan do’akanlah agar aku dikumpulkan bersama mereka di tempat yang penuh dengan rahmat-Nya,” begitu yang ia ucapkan setiap kali orang datang berta’ziah kepadanya.

Bandingkan ketika dahulu ia belum masuk Islam. Kala itu, dua saudara laki-lakinya, Mu’a-wiyah dan Shakhr mati di masa jahiliyah. Ia sangat sedih. Ia pun melepas kepergian keduanya dengan rentetan syair-syair ratapan yang panjang. Bahkan syairnya menjadi syair paling terkenal dalam soal duka dan ratapan.

Kemampuan Khansa’ untuk mengekspresikan duka dahulu sebelum Islam, atas kematian saudara laki-lakinya, lebih mudah dimengerti, ketimbang kemampuannya menabung kebahagiaan dan menyisakan kegembiraan atas kematian anak-anaknya. Ini tidak mudah dijelaskan dalam konteks keperempuan dan keibuannya. Tapi Islam bisa menjelaskannya, bahwa seorang Muslim harus menyisakan kantong kegembiraan. Bahwa agama ini menyediakan begitu banyak sumber kebahagiaan, terlebih di akhirat. Dan, Khansa’ telah menunaikan itu dengan sebaik-baiknya.

Begitu pula yang dijalani seorang sahabat mulia, Urwah bin Zubair. Kakinya terpotong di medan perang. Anaknya meninggal. Tapi ia masih menyisakan kantong kegembiraan. Dalam do’a terkenalnya, ia berucap, “Ya Allah, jika engkau mengambil satu anggota badanku, sesungguhnya Engkau masih menyisakan banyak sekali anggota badan yang lain. Dan jika Engkau mengambil satu anakku, sesungguhnya Engkau masih menyisakan anak-anakku yang lain. Maka, segala puji hanya untuk-Mu.

Seperti itulah etikanya. Seperti itu pula dasar alasannya. Pujian untuk Allah di tengah duka, itulah inti kantong kegembiraan. Hilangnya anggota badan tidak harus karena perang. Kematian anak juga tak harus gugur di medan laga. Banyak jalan bagi penyebab duka untuk menghampiri kita. Masing-masing ada timbangannya. Tapi kehilangan tetaplah kehilangan. Dan karenanya, semuanya memerlukan kantong kegembiraan.

Bergembira, tidak berarti bersenang-senang di atas penderitaan diri sendiri, apalagi penderitaan orang lain. Tidak juga sikap tak tahu diri atas segala peristiwa yang harus diantarkan dengan tangis dan air mata. Tapi ini lebih merupakan cara seorang muslim menyisakan sumber motivasinya, mata air gairahnya, agar tak hilang ditelan berbagai tekanan.

Rasulullah SAW menjelaskan, bahwa membuat saudara muslim gembira atau mamasukkan rasa gembira ke dalam hati muslim yang lain merupakan salah satu dari perbuatan yang paling baik. Jika memasukkan rasa gembira, membuat orang lain gembira merupakan ajaran yang agung, bagaimana dengan menana-kan gembira dalam diri sendiri?

Agama ini memang agama (untuk) orang-orang optimis. Karenanya, cita-cita kemuliaan itu harus tetap bergantung di langit kehidupan kita. Tidak ada yang boleh memutusnya. Selalu saja mungkin ada duka, tangis, dan kelelahan. Tetapi kantong kegembiraan itu tidak boleh kosong. Harus ada tersisa di sana. Kegembiraan itu tidak boleh sirna, sesulit apapun rintangan yang menghadang. Sisakan, ya, sisakan. Meski mungkin di puncak kesulitan kita ia tinggal sedikit saja.

Sumber: Majalah Tarbawi Edisi 76 Th. 5/Dz’ulhijjah 1424 H/23 Januari 2004 M

Dipublikasi ulang oleh Admin DPD PKS Sidoarjo

Konten lainnya: