W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Sisi Lain Kenabian itu

Bahasa paling verbal dari gembira adalah tertawa. Begitu juga sebaliknya. Makna paling orisinil dari tersenyum dan tertawa adalah gembira. Meski ada makna khusus lainnya. Lazimnya setiap kaidah, selalu saja ada pengecualian.

Rasulullah SAW sendiri sangat bisa dikenali bila sedang gembira. Air mukanya bercahaya. “Seperti sepotong rembulan, dan kami sangat mengenalinya,” begitu kisah Ka’ab bin Malik.

Penegasan salah satu dimensi kegembiraan dalam bentuk tertawa dan senyum bisa kita jumpai dalam banyak kisah dari suri teladan Rasulullah dan para sahabatnya. Ini menjelaskan betapa optimisme dan keteguhan memerlukan ekspresi lahiriyah: ekspresi kegembiraan, dalam tawa dan senyum itu. Di sini, kegembiraan mewujud dalam eskpresi termulianya. Rasulullah pun kadang tertawa, banyak tersenyum, meski ia tidak pernah tertawa terbahak-bahak. Di sini, berbicara tentang tertawa sebagai salah satu mata air bagi kantong kegembiraan, tentu dalam konteks yang penuh harga diri. Ini bukan ulasan tentang perilaku murahan orang-orang yang hidup hanya untuk tertawa, atau yang sibuk mentertawakan hidup.

Dalam keseluruhan riwayat shahih yang mengisahkan detik-demi detik kehidupan Rasulullah, selau dijelaskan secara detil, bahwa bila Rasulullah tertawa maka dalam riwayat itupun disebutkan Rasulullah tertawa.

Ini merupakan sisi lain dari kenabian. Tidak ada cara yang lebih lurus dalam memaknai tawa bagi kantong kegembiraan, kecuali melihat dan meneladani bagaimana Rasul mulia itu meletakkan tawa dan senyum. Juga bagaimana sebuah tawa memberi fungsi dan memiliki maknanya yang berharga. Seperti sebagian yang bisa dirangkai berikut ini.

Tertawa Sebagai Reaksi Kepemimpinan

Seorang pemimpin harus belajar bagaimana membangun reaksi-reaksi kepemimpinannya atas segala hal. Mendasarkan reaksi-rekasi itu di atas kalkulasi, keluwesan pribadi, dan keluasan kebijaksanaan. Setiap kita adalah pemimpin, setidaknya bagi lingkup di mana kita harus mengurus orang lain. Mungkin kita seorang suami, kita adalah pemimpin bagi keluarga kita. Mungkin kita seorang istri, kita adalah pemimpin di rumah kita. Mungkin kita seorang guru, kepala desa, pengurus partai, aktivis mahasiswa, pimpinan perusahaan, pengusaha dengan beratus karyawan, atau pemimpin-pemimpin institusi lainnya. Bahkan, mungkin kita hanya seorang diri: kita adalah pemimpin bagi diri kita sendiri.

Rasul, sang pemimpin tertinggi sepanjang jaman itu mengajarkan betapa di antara reaksi kepemimpinannya adalah sebentuk tertawa. Kadang tertawanya adalah pengesahan secara hukum atas sebuah perilaku. Bahwa Rasulullah merelakan atau setidaknya tidak melarang.

Suatu hari, para sahabat bepergian. Hingga tiba di sebuah kampung. Mereka meminta ijin untuk singgah dan mampir memenuhi kebutuhan perjalanan, tapi para penduduk kampung itu enggan. Tak lama, tetua kampung itu sakit. Segala cara dilakukan untuk mengobatinya, tapi tidak berhasil. Akhirnya, ia mengundang para sahabat itu. “Panggillah, siapa tahu mereka punya sesuatu,” begitu pinta tetua kampung itu.

Setibanya di hadapan mereka, seorang sahabat berkata, “Kalian semula tidak berkenan menerima kami. Kami tidak akan mau kalau tidak kalian berikan imbalan.” Orang-orang kampung itu sepakat untuk memberikan upah beberapa kambing. Lalu salah seorang sahabat pergi dan membacakan beberapa ayat Al-Qur’an.

Dengan izin Allah, tetua kampung itu sembuh. Dan, para sahabat pun menerima upah kambing-kambing itu. Tapi tidak serta merta mereka menyembelih dan menyantapnya. Mereka membawa masalah ini ke hadapan Rasulullah. Mendengar cerita itu Rasul pun tertawa, dan meminta agar diberi bagian dari dagingnya.

Inilah reaksi kepemimpinan itu. Tidak saja reaksi persetujuan, tapi juga pesona kepemimpinan yang menyemangati dan menggembirakan bagi orang-orang yang dipimpin-nya. Ini benar-benar seni menggunakan otoritas yang penuh keteladanan.

Setiap kita memang pemimpin, tetapi banyak dari kita yang gagal mengelola otoritas kepemimpinan itu. Kita kadang gagal melatih diri untuk mende-legasikan tanggung jawab kepemimpinan itu kepada orang lain. Para sahabat terlatih untuk mandiri. Tapi juga mengerti pada saat mana segala sesuatu harus ditanyakan legalitasnya. Ini inspirasi bagi kepemimpinan-dalam level apapun-tidak semata dalam soal halal atau haram, sah atau tidak, tapi juga dalam soal relasi sosial yang harmonis antara siapa yang memimpin dan siapa yang dipimpin.

Seorang pemimpin seringkali punya otoritas nilai yang dipaksakan kepada orang-orang yang dipimpin-nya. Seperti seorang ayah atau ibu yang mengukur kedisiplin anak-anak kecilnya dengan pikiran-pikiran tuanya yang sering macet. Anak selalu dipotret sebagai miniatur orang dewasa. Atau seorang presiden yang mengukur kelelahan otoritasnya dengan kerdil, seperti baru sadar bahwa dirinya seorang presiden yang harus bercapek-capek.

Dalam organisasi kepemimpin sekecil apapun, yang formal atau tidak, suasana seperti itu tentu tidak sehat. Para sahabat itu, telah memutuskan melakukan terapi, lalu mengambil upah kambing-kambingnya. Ini adalah kreatifitas dan kemandirian. Lalu tawa Rasulullah adalah payung ketentramannya. Sepotong tertawa adalah reaksi kepemimpinan yang mahal: legalitas dan apresiasi terhadap kekuasaan yang harus dibagi.

Tertawa Sebagai Bahasa Kepedulian

Di antara kebutuhan hidup terpenting kita saat ini adalah kepedulian. Kita merindukan kebersamaan yang tulus tapi tidak beku, hangat tapi tidak membakar.

Kian hari, kepedulian menjadi sangat langka. Orang tercetak menjadi mesin-mesin organik di lembah sosial yang mestinya elastis. Maka individualisme dan arogansi menjadi musuh yang menerkam dari dalam diri kita sendiri, hampir setiap waktu dan setiap kesempatan.

Di jalan hanya ada wajah-wajah beringas. Atau muka kecut yang penuh maksud. Bila bahasa kepedulian paling murah, tertawa, tidak lagi mendapati kanalnya dalam struktur sosial yang angkuh, jangan berharap ada kepedulian lebih dari itu. Padahal tertawa adalah bahasa kepedulian yang sering ditunjukkan Rasulullah, sang Nabi mulia itu. Pemimpin para nabi dan umatnya.

Dalam menjalankan tugas kerasulan, tak terkira betapa banyak beban dan kesulitan yang ia hadapi. Ia seorang rasul yang harus menyampaikan risalah kenabiannya. Ia seorang pemimpin politik dan militer. Ibnu Sa’ad mengatakan, setelah hijrah ke Madinah, Rasulullah terlibat dalam dua puluh tujuh peperangan, dan mengirim pasukan perang sebanyak lima puluh tiga kali. Ia juga seorang suami bagi istri-istrinya.

Di balik keperkasaan itu, ada sisi lain yang menjelaskan betapa Rasulullah menempatkan kantong kegembiraan dalam dirinya. Itu tidak saja berguna bagi dirinya, tapi sangat berguna pula bagi sahabat-sahabat dan umatnya. Rasul sang pemimpin itu begitu lapang melibatkan dirinya dalam soal-soal sederhana dari kehidupan orang-orang di sekitarnya. Dan itu terjadi dalam banyak kesempatan.

Kadang seseorang datang ke hadapannya hanya untuk menceritakan mimpinya semalam. Seorang pemimpin mendengar kisah mimpi rakyatnya? Ya, begitulah kemuliaan itu dibangun di atas realitas yang hidup.

Suatu hari, seperti dikisahkan jabir, dalam riwayat Muslim, seorang lelaki datang menemui Rasulullah. “Wahai Rasulullah, semalam aku bermimpi, seakan-akan kepalaku terputus,” kata lelaki itu. Rasul pun tertawa mendengar kisah itu. Lalu bersabda, “Jika salah seorang dari kalian dipermainkan syetan dalam tidurnya, maka jangan beri tahu orang lain.”

Ia seringkali menjadi tumpahan kisah dan pengaduan dari banyak orang, bahkan tentang soal-soal yang remeh. Tapi seorang pe-mimpin sekelas dirinya dengan kemuliaan perangainya bisa dengan lapang menerima, sabar mendengar, dan memberikan reaksi gembira dengan tawanya.

Bahasa kepedulian itu bahkan ia berikan, kepada mereka yang kadang bersikap kurang sopan. Seperti ketika seorang
Badui tiba-tiba menarik selendangnya, semacam syal dari Najran yang lebat bulunya. Anas bin Malik menceritakan, bagaimana Badui itu mengejutkan Rasulullah. Ditariknya selendang itu, hingga menimbulkan bekas di leher Rasulullah. Bulu-bulunya sebagian terlepas dan menempel di lehernya yang mulia.

Badui itu berkata, “Berikan kepadaku kekayaan Allah yang ada padamu.”

Rasul pun menoleh dan tertawa. Lalu meminta Anas untuk memberikan sesuatu.

Di kali lain, Jabir yang mencatat kenangan sangai membekas dalam batinnya, tentang Rasulullah yang murah senyum itu datang. Ia menemui Rasulullah, hanya ingin mengadukan betapa sulit dirinya tegak di atas punggung kuda. Ia sulit mengendarai kendaraan favorit di masa itu. Rasulullah pun dengan senang hati menerimanya, lalu menepuk dadanya secara berdoa, “Ya Allah tegakkanlah ia dan jadikanlah ia orang yang mendapat petunjuk dan memberi petunjuk.”

Ke hadapan Rasul mulia itu, selalu saja ada yang datang dengan tingkah kekanakannya. Sebab di wajahnya yang terang ada tempat berteduh. Seperti purnama yang selalu mengiringi ke manapun kita pergi. Bahkan, saat kita bersembunyi di kaki pohon, terangnya tetap memanggil-manggil. Siapa tak rindu pada Nabi tercinta? Tapi siapa yang mau menapaki jejaknya? Peduli pada sesama, bahkan pada urusan-urusan yang sangat sederhana? Meski dengan sepotong senyum dan tawa?

Tertawa Sebagai Pelembut Kasih Sayang

Alangkah luas cinta Rasulullah, untuk orang-orang di sekitarnya, dari yang tua hingga yang muda. Dari yang besar hingga masih kanak-kanak.

Ada tawa menghiasi kebersamaan indah itu. Sebentuk kasih sayang dan cinta tulus dari orang yang paling tulus. Ini menguraikan ajaran, bahwa lorong-lorong hidup ini harus mengambil bagiannya dari tertawa yang menyegarkannya.

Kadang di bulan Ramadban, Rasul mencium sebagian istrinya, dan para istri itu pun tertawa bahagia.

Ketika Jabir menikahi janda, ia menasehati, “Kenapa (tidak engkau pilih) perawan (sehingga) engkau bisa mencandainya dan dia mencandaimu, dan engkau (bisa) membuatnya tertawa dan dia membuatmu tertawa.”

Tertawa dan bercanda adalah pembukti kasih sayang paling sederhana, tapi kadang paling rumit penghayatannya.

Canda dan tawa Rasulullah adalah labuhan kasih sayang istri, anak-anak, juga cucu-cunya. Setiap kali Rasul pulang dari bepergian, anak-anak amat gembira mendengan kedatangannya. Mereka segera menghambur untuk menjemput. Begitupun Rasulullah segera menghambur kepada mereka. Seperti diceritakan oleh Abdullah bin Ja’far, “Apabila Nabi datang dari bepergian, beliau menghambur kepada kami, menghambur kepada saya, kepada Hasan dan Husain. Nabi membawa salah seorang dari kami di antara kedua tangannya, dan yang lain di belakangnya sehingga kami masuk kota Madinah.”

Suatu hari sepulang dari Tabuk, angin bertiup lumayan kencang. Aisyah yang menyertainya membawa mainan boneka tertutup kain. Angin itu menyingkap kain itu.

Rasul melihatnya. “Apa ini Aisyah?” tanya Rasulullah.

“Ini anakku,” jawab Aisyah.

Di sebelah mainan itu, ada mainan lain berbentuk kuda memiliki sayap.

“Yang itu apa?” tanya Rasul lagi.

“Yang ini kudanya,” tambah Aisyah.

Rasul berkata, “Kok kuda ada sayapnya?”

Aisyah menjawab, “Tidakkah engkau mendengar bahwa Sulaiman punya kuda yang memiliki sayap-sayap?”

Mendengar itu, Rasul pun tertawa bahagia.

Begitulah. Kasih dan sayang punya wajah pembuktiannya. Kegembiraan itu memerlukan kosa katanya. Dan Rasul telah mengajarkan, bahwa sebagian dari kosa kata kasih sayang itu ada dalam tawa dan senyum bahagia.

Tertawa Sebagai Kesertaan atas Hal-Hal Lucu di Sekitar

Lebih jauh, kantong kegembiraan itu berhamburan di sekitar kita. Rasul pun seringkali mendapati peristiwa-peristiwa lucu yang mengundang tawa. Segalanya berjalan begitu saja, alami, segar, tetapi tetap terhormat.

Ada-ada saja yang lucu yang ditemui Rasulullah. Dan keagungannya mengajarkan bagaimana semestinya kita menyertai perisitiwa-peristiwa lucu itu. Ini adalah potret lain tentang pentingnya belajar menjadi dewasa, menghadapi keluguan yang kadang muncul dalam hidup yang keras. Seperti polesan warna kontras di tengah kanvas yang gelap.

Suatu hari Rasulullah berada di hadapan para sahabat-sahabatnya. Bersama para sahabat itu, juga ada orang Badui. Rasulullah lantas berkisah tentang sebagian tingkah penduduk surga kelak. Di surga itu, di antara penduduknya ada yang meminta izin Allah untuk berkebun. Allah berfirman, “Bukankah kamu bisa berbuat sesukamu.” Orang itu berkata, “Ya, tapi aku ingin berkebun, menanam hingga lebat, lalu panen yang melimpah seperti gunung.” Mendengar kisah itu, orang Badui yang ada di hadapan Rasulullah itu menyahut, “Pasti orang itu orang Quraisy, atau orang Anshar. Sebab mereka itu para pekebun, sedang orang seperti aku tidak berkebun.” Mendengar itu ,Rasul pun tertawa.

Pada kesempatan lain, Adi bin Hatim berlaku lucu dan mengundang tawa. Setelah turun ayat tentang puasa yang menjelaskan kapan harus memulai imsak “hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam (yaitu fajar),” Adi segera meletakkan benang hitam di bawah bantalnya. Sebentar-sebentar ia memeriksanya. Esoknya ia datang menemui Rasul dan mengisahkan semuanya. Rasulpun tertawa dan berkata, “Alangkah panjangnya bantalmu wahai Adi. Sesungguhnya yang dimaksud itu adalah siang dan malam.”

Suatu hari, Rasulullah menjelaskan di hadapan para sahabatnya tentang hari kiamat. “Kelak bumi ini akan dilipat seperti satu adonan oleh Allah SWT Yang Maha Perkasa lalu dilempangkan untuk tempat singgah bagi para penghuni surga, layaknya kalian melipat adonan di perjalanan.”

Tak lama kemudian muncul seorang Yahudi. Orang itu menyapa Rasulullah, “Semoga berkah Yang Maha Rahman atasmu wahai Abul Qasim. Maukah engkau aku beritahu bagaimana para penghuni surga kelak akan singgah?”

Rasul pun menjawab, “Tentu.”

Orang Yahudi itu melanjutkan, “Bumi ini akan dilipat dalam satu lipatan seperti adonan, seperti kalian melipat adonan di perjalanan.”

Mendengar itu, Rasulullah menatap para sahabat, lalu tertawa.

Begitulah. Ada banyak sisi lain kenabian yang harus menjadi sumber inspirasi. Seperti soal tertawa itu. Ia memang bukan sepotong bagian yang boleh dikebiri untuk kepentingan penikmat tawa begitu saja. Ini kisah tentang tawa kemuliaan, dasar bagi seorang mukmin untuk meyakini, bahwa di tengah situasi hidup yang habis-habisan sekalipun, harus ada kantong kegembiraan yang kita sisakan.

Sumber: Tarbawi edisi 76 Th. 5/Dzulhijjah 1424 H/23 Januari 2004 M

Dipublikasi ulang oleh Admin DPD PKS Sidoarjo

Konten lainnya: