W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Tragedi Penguasaan

Hikmah_Biru09Hari itu, seperti biasa Rasulullah menerima pengaduan para sahabatnya. Sesuatu yang nyaris menjadi hiasan sehari-hari. Rasul mulia, penuh cinta, menerima segala tumpahan keluh-kesah orang-orang yang ia bimbing dengan sepenuh hati.

Seorang lelaki datang. Melapor, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya si Fulan itu punya pohon kurma yang dahannya masuk ke kebunku. Itu menggangguku dan mempersulit diriku karena letak pohon itu,” begitu lelaki itu menyampaikan permasalahan hidupnya.

Sederhana. Bahkan sangat. Sebatang pohon dan sejulur dahan. Mengapakah harus sampai ke hadapan Nabi? Ini gambaran tentang kepemimpinan yang adil. Tentang kebersamaanyang egaliter, dan kemengertian lelaki itu tentang indahnya hidup bersama Rasulullah yang sangat peduli.

Mendengar itu Rasulullah pun menemui orang dimaksud. Lalu mencoba menyelesai-kan permasalah antara kedua orang itu.

“Juallah dahan pohon yang menerobos ke kebun si fulan,” pinta Rasul.

“Tidak,” jawab lelaki itu.

“Kalau begitu berikan saja,” tambah Rasul.

“Tidak,” lelaki itu menyahut lagi.

Kalau begitu, juallah untukku dengan sebuah dahan di surga,” Rasul mencoba meminta lagi.

Lelaki itu tetap saja tidak mau dan berkata, “Tidak.”

Maka Rasul pun berkata, “Sungguh, aku tidak melihat orang yang bakhil seperti kamu. Tidak ada yang lebih bakhil dari kamu kecuali orang yang bakhil dari mengucap salam.”

Begitulah, tidak jelas benar bagaimana kesudahan dari penyelesaian itu. Silsilah para perawi dalam hadits ini, yang keseluruhannya sangat dapat dipercaya, tidak ada yang mempunyai riwayat tambahan yang menjelaskan bagaimana kesudahan dari dahan itu.

Tetapi hal penting dari kisah di atas, yang layak kita ambil pelajarannya ialah bahwa sebatang pohon kurma, bahkan sepotong dahan, bisa menjadi pusaran sebuah mentalitas yang rumit: kebakhilan, pelit, dan keengganan untuk berbagi yang luar biasa. Bagaimana tidak, bahkan ketika dijanjikan dengan pohon di surga sebagai gantinya. Ia tetap tidak bergeming.

Lelaki itu memang pemilik pohon itu. Karenanya dialah yang menguasainya. Hak miliknya ada pada dirinya. Dia punya kekuasaan penuh atas sebatang kurma itu. Kebakhilannya, secara perdata punya landasan: kekuasaan dan penguasaan atas hak milik. Tetapi secara moral itu semuanya sangat kacau. Dan, itulah masalahnya.

Salah satu penyebab rusaknya fungsi kekayaan adalah kekuasaan. Lebih tepatnya perasaan berkuasa, keinginan untuk menguasai, serta perasaan berlebihan untuk memiliki. Ini bibit yang paling subur untuk menjadi penyakit, yang menyebabkan kekayaan menjadi monumen batu di dalam hati orang-orang tamak. Tak pernah bisa dibagi untuk kepentingan orang banyak. Orang memiliki kekayaan, harta benda, dan segala sesuatu yang memang miliknya. Tetapi ia tidak pernah mau berbagi, hanya karena alasan kekuasaan penuh dan penguasaan atas hak-hak kekayaan itu ada pada dirinya.

Padahal hidup ini tidak berjalan secara mekanik. Sebab buminya tidak datar, permasalannya tidak datar. Selalu dibutuhkan rongga-rongga penyeimbang. Harus ada unsur-unsur lentur yang menyelaraskan. Rongga penyeimbang itu, unsur lentur itu, adalah nilai-nilai moral keutamaan, seperti kedermawanan dan kelapangan untuk berbagi, dan moralitas kemuliaan lainnya, di luar lingkaran penunaian atas kewajiban.

Selalu ada kisah klasik antara kekuasaan dan kekayaan. Atau, katakanlah, antara semangat penguasaan dan kekayaan. Dalam konteks pribadi maupun dalam struktur hirarkis sebuah tatanan masyarakat. Kekayaan yang tak pernah bisa dibagi, adalah kekayaan yang berada dalam genggaman kekuasaan. Atau kungkungan penguasaan. Begitulah kenyata-annya. Siapa pun yang menguasainya. Siapa saja yang menguasai kekayaan dengan paradigma kekuasaan itu, akan menjadi sangat pelit untuk berbagi.

Tetapi segalanya tak berhenti sampai di situ. Manusia kini tak lagi sekadar merasa berkuasa atas hak miliknya, tapi juga merasa berkuasa atas hak milik orang lain. Lalu terjadilah perampasan hak. Ini benar-benarjauh di luar kepatutan. Maka para penguasa sebuah negeri, para pembesar pemerintahan, biasanya punya catatan buruk yang berderet panjang tentang ketamakan, perasaan berkuasa atas hak publik, dan kedegilan yang membunuh rasa berbagi.

Dari sana, kemudian tragedi demi tragedi berlangsung. Sangat mengerikan. Kesenjangan yang menyiksa lahir dan batin adalah hasil langsung dari penguasaan atas kekayaan yang tak pernah bisa dibagi. Negeri-negeri kaum Muslimin adalah belahan bumi dengan kekayaan yang sangat besar. Tetapi mereka selalu hidup dalam keterbelakangan, kemiskinan, dan kekurangan. Lalu, seperti sebuah pasangan abadi, kemiskinan selalu nyaris berbanding lurus dengan kebodohan dan keterbelakangan. Meski, secara individu, ada orang-orang brilian yang mengguncang dunia.

Kekayaan bisa mengantarkan sebuah masyarakat dan bangsa kepada peradabannya, baik atau buruknya, posmo atau tradisionalnya. Tapi kekayaan pula yang seringkali mengakhiri kejayaan bangsa itu. Sendiri. Mengantarkannya ke jurang keruntuhan yang bahkan tak pernah terlintas dalam mimpi-mimpi indah mereka.

Inilah yang sesungguhnya terus kita tonton. Dari keseluruhan tahun-tahun yang diputar ulang. Tentang Andalusia yang runtuh, atau Baghdad yang remuk. Juga Indonesia yang porak poranda. Akibat kekayaan yang tak pernah bisa dibagi, dan tak hendak dibagi. Akibat ulah para penguasanya yang menelantarkan anak-anaknya sendiri. Gambar-gambar itu juga nampak jelas, tak berbayang, pada air muka kerakusan Amerika, ketika dengan licik menghancurkan dunia Timur yang kaya minyak hitam dan minyak putih.

Tragedi kekayaan yang tak pernah bisa dibagi, begitulah yang kini menyelimuti kehidupan kita. Kekayaan di kaki kekuasaan adalah lintah. Kita tak akan bisa nyaman. Tapi setiap saat bisa terjadi sebaliknya, kekuasaan di kolong kekayaan adalah lintah juga.

Pada mulanya, hanyalah keingingan yang wajar, datardan alami. Tapi orang-orang kerdil, rakus, di hadapan kekayaan bisa berubah menjadi monster yang tak pernah kenyang. Persis seperti kata Rasulullah, bahwa apabila manusia memiliki dua lembah kekayaan, maka ia akan mencari yang ketiganya. Dan tidak ada yang membuat dirinya kenyang kecuali tanah. Maksudnya, ia tidak akan berhenti dari ketamakan kecuali bila telah mati.

Pada level individu, orang per orang, kekayaan sering pula menyisakan kisah antagonis yang tak pernah habis. Pilu dan menyesakkan. Seperti ulah seorang majikan yang membantai pembantunya, di Tangerang, Banten, hanya karena sang pembantu mengambil sepotong roti dari dalam kulkas.

Sepotong roti telah mengantarkan perempuan itu ke alam kubur dengan cara yang sangat menyakitkan. Inilah paradigma kekayaan itu: paradigma kekuasaan dan penguasaan yang nista. Sang tuan-lah yang berkuasa atas sepotong roti itu, yang sebenarnya bila ditelan pun tak penuh di ujung lambung. Kekayaan memang memiliki caranya yang khas untuk meninggikan derajat manusia, atau sebaliknya, menjerembabkannya ke tempat sampah kehidupan. Yang harum namanya karena kekayaan mungkin banyak. Tapi yang hancur oleh kekayaan jauh lebih banyak. Bahkan hanya karena sekepeng atau segobang, atau secuil roti bantat yang tak pernah mengenyangkan.

Pada kisah sang tuan besar itu, kita jadi mengerti, mengapa Rasulullah dalam khutbahnya, tidak pernah meninggalkan dua nasehat. Setiap khutbah dua hal itu pasti diingatkannya: menyuruh bersedekah, dan melarang menyiksa dalam membunuh (tentu maksudnya membunuh binatang yang halal, atau membunuh dalam peperangan yang sah). Rahasianya ternyata, bersedekah bisa mengikis kebakhilan. Sedang bakhil itu bisa mengeraskan hati, lalu bisa dengan ringan menyiksa sampai mati.

Maka, pusaran dari kebakhilan yang mengerikan itu tak selalu harus kekayaan yang melimpah. Bisa sepotong roti atau selembar dahan pohon. Atau apa saja yang memang diyakini seseorang sebagai kekayaan, yang memberinya ketentraman, lalu ia kuasai sepenuh kekuatan. Tak ada tempat bagi orang lain, untuk dan atas dasar apa pun.

Segala perumpamaan dan metafora bisa dipakai untuk menggambarkan kekayaan, pahit dan manisnya. Sebab ia kadang begitu licin, kadang keras. Tapi, lebih sering ia seperti petromak tua. Cahayanya berdebu. Tapi manusia memburu dan beterbangan ke arahnya. Lalu jatuh tersungkur. Kekayaan memang sering menipu. “Sesungguhnya kehidupan dunia itu permainan dan senda-gurau.

Suatu saat Rasulullah saw menasehati Hakim bin Hizam, “Sesungguhnya kekayaan ini hijau dan manis, maka barang siapa yang mendapatkannya dengan baik, niscaya akan diberkahi. Tapi siapa yang mendapatkannya dengan cara yang berlebih-lebihan, mengambilnya dengan berlebih-lebihan, niscaya tidak diberkahi, seperti layaknya orang yang makan dan makan tanpa pernah merasa kenyang.

Kita mungkin entah berdiri pada ujung yang mana. Sebagai orang kayakah? Menengahkah? Biasa-biasa sajakah? Atau bahkan orang tak berpunya dan hidup dalam berbagai kesulitan? Kita mungkin menjadi salah satu-nya. Tetapi yang lebih penting dari itu, ialah bagaimana pradigma kita tentang kekayaan itu sendiri.

Pada kali pertama, engkau menanamkan di hati keingingan untuk menguasai, pada kali itu pula engkau menyemai bibit-bibit tragedi. Sebab paradigma penguasaan adalah paradigma tragedi.

Negeri ini sudah sangat sesak oleh orang-orang yang tamak. Bahkan termasuk para pemimpinnya. Jangan pula kita menyesakkannya lagi, dengan diri kita, dengan semangat penguasaan kita akan kekayaan. Karena sesungguhnya, kita sendiri tak pernah benar-benar bisa menguasainya.

Sumber: Tarbawi Edisi 77 Tahun 5 / Dzulhijjah 1424 H / 5 Pebruari 2004 M

Dipublikasi ulang oleh Admin DPD PKS Sidoarjo

Konten lainnya: