W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Wahai Ahli Ibadah di Dua Masjid

Dakwah dan PergaulanAbu Hurairah tak mampu menahan tangis. Ia datang bersimpuh di hadapan Rasulullah sambil mengatakan, “Ya Rasulullah aku membawa kabar gembira. Allah telah mengabulkan doamu dan memberi hidayah kepada ibuku.”

Suasana hening.

“Alhamdulillah,” jawab Rasulullah.

Bagi Abu Hurairah’ boleh jadi saat itulah, ia benar-benar merasakan kebahagiaan yang paling berarti dalam hidupnya. Ya, hidayah Allah lah yang membuat hatinya senang hingga tak kuasa menahan air mata.

Hidayah Allah tidak datang begitu saja. Sifat dan prilaku kaum muslimin, terlebih putranya, telah membuat hati ibu Abu Hurairah terbuka dan yakin akan kebenaran Islam. Tanpa itu, mungkin ceritanya akan lain. Banyak orang merasakan kebahagiaan yang sulit dilukiskan setelah ia menerima hidayah Allah.

Dahulu pernah ada seorang pemuda melewati suatu daerah yang di dalamnya terdapat mata air kecil dan tawar sehingga ia merasa kagum. Ia mengatakan, “Duhai indahnya, jika aku mengasingkan diri dari orang banyak, aku akan memilih tinggal di tempat ini.” Keinginan itu lalu dikonsultasikan kepada Rasulullah.

Rasulullah bersabda, “Jangan lakukan itu. Sesungguhnya keberadaanmu di medan jihad fi sabililiah lebih utama daripada shalat di rumah selama tujuh puluh tahun.” (HR. Turmudzi)

Kemestian bergaul dan berbaur dengan masyarakat juga banyak disebut dalam hadits. Salah satunya, sabda Rasulullah yang dikaitkan dengan iman. “Iman itu mempunyai lebih dari tujuh puluh cabang. Yang tertinggi ialah “tidak ada llaah selain Allah”. Dan yang paling rendah adalah membuang duri dari jalanan.” Hadits ini menyebutkan posisi keterlibatan seorang muslim dengan kondisi sosial yang berkaitan erat dengan kualitas iman seseorang.

Al-Qur’an juga menjelaskan hal serupa dalam ayat yang cukup panjang. Allah SWT berfirman, “Apakah (orang-orang) yang memberi minum orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus masjidil haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hah kemudian, kemudian mereka berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah, dan Allah tidak akan memberi petunjuk pada kaum yang zalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta dan diri mereka adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah, dan itulah orang-orang yang mendapatkan kemenangan.” (QS. At-Taubah: 19-20)

Sekarang kita banyak dituntut untuk bisa memberi bukti kebenaran dan keindahan Islam. Tapi, mana yang lebih utama bertahan dan menyendiri untuk memelihara keimanan, atau berbaur dan berinteraksi dengan risiko keimanan yang mungkin tercemar?

Dr. Yusuf Qardhawi memandang masalah ini dengan menghubungkan fiqhul aulawiyat (pemahaman prioritas amal), fiqhul syar’i (pemahaman mendalam terhadap nash), dan fiqhu waqi’ (pemahaman kontekstual). Tiga fiqih itu dirangkum dalam istilah fiqhul muwazanat. Yakni menimbang antara satu maslahat dengan maslahat lain, menimbang antara satu kerugian dengan kerugian lain, dan menimbang antara maslahat dan kerugian bila keduanya berbenturan.

Fiqhul muwazanat-lah yang mungkin mendorong Imam Abdullah bin Mubarak, menulis surat dari negeri tempatnya berjaga di medan jihad, kepada sahabatnya Fudhail bin lyadh, laki-laki zuhud yang dikenal kuat beribadah serta berpindah-pindah dari masjidil Haram ke masjid Nabawi untuk beribadah.

Kata Ibnul Mubarak dalam suratnya:

“Hai ahli ibadah di dua Masjidil Haram
Jika engkau saksikan kami
Engkau kan tahu, engkau dengan ibadahmu itu bermain-main
Bila pipimu basah terguyur air mata, leher kami di sini berlumur darah…”

Wallahu a’lam bisshawab.

Sumber: Tarbawi Edisi 13 Th. 2 Oktober 2000 M/2 Sya’ban 1421 H

Dipublikasi ulang oleh Admin DPD PKS Sidoarjo

Tulisan terkait: