W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Yang Berempati Karena Kemanusiaan

Kisah Salahuddin adalah contoh bagaimana seorang muslim dengan segala ketinggian aqidah dan loyalitasnyayang membaja kepada kebenaran, tetap saja bisa bersikap lembut kepada orang lain, dengan dasar kemanusiaan.

Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi adalah seorang panglima dan pahlawan muslim yang tidak asing lagi. Ia juga pendiri dinasti Ayubiah di Mesirdan terkenal sebagai ahli ilmu Islam. Lika-liku hidup Salahuddin penuh dengan perjuangan dan peperangan.

Peperangan yang dilaluinya begitu beragam. Adakalanya hanya memadamkan pemberontakan dalam negeri. Tetapi yang terbesar adalah perangnya melawan Pasukan Salib, yang berusaha menguasai dunia Islam dan merampas hak-hak penduduknya.

Perang antara tentara Islam dan tentara Salib yang sewaktu-waktu diselingi dengan perdamaian yang sering dilangar tentara Salib, mengisi lembaran perjuangan Salahuddin. Setelah Baitulmaqdis (Yerusalem) dikuasai Salahuddin, Paus Gregory langsung mengumandangkan Perang Salib. Seruang itu pun disambut raja dan masyarakat Eroyra. Di kemudian hari, perang itu diteruskan oleh Clement III, pengganti Gregory. Tak ketinggalan, Raja Philip II (raja Perancis) dan Raja Richard I (The Lion Hearted, raja Inggris) langsung memimpin pasukan.

Di sela pertempuran dengan Salahuddin, Richard jatuh sakit. Pertempuran untuk sementara dihentikan. Sewaktu ia terbaring lemah, para pimpinan tentara dibawahnya cekcok. Mereka memperebutkan kedudukan Richard, semuanya “bersiap-siap” menggantikan kedudukannya sebagai panglima perang, kalau ia akhirnya meninggal. Richard memang tak kunjung sembuh. Dan, sungguh di luar dugaannya, tiba-tiba datang dokter muslim utusan Salahuddin, musuhnya dalam pertempuran itu. Dokter itu disuruh Salahuddin mengobati penyakit Richard. Richard akhirnya menerima pengobatan itu dan sembuh.

Betapa mengherankan dan menimbulkan simpati mendalam sikap Salahuddin di mata Richard. Di saat anak buahnya bertengkar memperebutkan posisinya, musuhnya malah mengupayakan kesembuhannya.

Pada dasarnya, Salahudin memang memiliki toleransi yang tinggi terhadap agama lain. Ketika menguasai Iskandariah, ia mengunjungi orang-orang Kristen. Dan setelah perdamaian tercapai dengan Pasukan Salib, ia mengizinkan mereka berziarah ke Baitulmakdis.

Dari Indonesia, sikap empati dan kebersamaan atas dasar kemanusiaan juga dicontohkan pejuang besar, H. Agus Salim. Dalam suatu rapat Syarikat Islam yang mulai panas akibat pertentangan dengan SI merah, Muso, yang masih menjadi anggota SI, berbicara di atas podium. Saat itu, hadir H.O.S. Tjokroaminoto dan Agus Salim.

Di atas podium Muso menyindir, orang yang berjenggot itu seperti apa saudara-saudara?

Para pendukungnya menjawab, “Kambing!”

Muso bertanya lagi, “Orang yang berkumis itu seperti apa saudara-saudara?”

Dijawab oleh pendukungnya, “Kucing!”

Muso menyindir Agus Salim yang berjenggot dan Tjokroaminoto yang berkumis.

Setelah Muso turun dari podium, Agus Salim naik ke atas mimbar. Langsung ia berkata, “Tadi kurang lengkap saudara-saudara. Yang tidak berkumis dan tidak berjenggot itu seperti apa? “Anjing,” ujarnya.

Demikianlah kegusaran lawan-lawan politik pada sejumlah tokoh Islam, termasuk Agus Salim.

Namun ada kisah menarik soal hubungan Agus Salim dengan Sutan Sjahrir, yang juga tak sejalan dengan Agus Salim. Menurut penuturan Sjahrir, ia bersama sekelompok pemuda pernah sengaja mendatangi rapat di mana Agus Salim akan berpidato. Menurut Sjahrir, mereka memang bermaksud mengacaukan pertemuan itu. Setiap kalimat yang diucapkan Agus Salim mereka sambut dengan mengejek jenggotnya.

Setelah ketiga kalinya mereka menyahut ucapan Salim dengan “mbeeek.. mbee-eek…mbeeeek”, Agus Salim mengangkat tangannya sambil berkata, “Tunggu sebentar. Bagi saya sungguh suatu hal yang sangat menyenangkan bahwa kambing-kambing pun telah mendatangi ruangan ini untuk mendengarkan pidato saya. Hanya sayang sekali bahwa mereka kurang mengerti bahasa manusia,
sehingga mereka menyela dengan cara yang kurang pantas. Jadi saya sarankan agar untuk sementara mereka tinggalkan ruangan ini untuk sekadar makan rumput di lapangan. Sesudah pidato saya ini yang ditujukan kepada manusia selesai, mereka akan dipersilakan masuk kembali dan saya akan berpidato dalam bahasa kambing khusus untuk mereka. Karena dalam agama Islam bagi kambing pun ada amanatnya, dan saya menguasai banyak bahasa.”

Syahrir menuturkan, “Saat itu kami tidak meninggalkan ruangan. Namun muka kami merah melihat gelak tawa dari hadirin lainnya.”

Namun, hubungan yang tidak harmonis di medan politik, tidak menghalangi Agus Salim untuk menerima Sutan Sjahrir menginap di rumahnya.

Sjahrir justru terkesan dengan kehidupan keseharian Agus Salim dan keluarganya. “Saya turut mengenyam makanan hariannya yang tidak lebih dari nasi garam dan daun ubi kayu. Meskipun begitu tiap-tiap waktu makan sangat menarik karena suasana selalu gembira, terutama Haji Agus Salim, selalu menyuguhi pembicaraan dengan fikiran yang segar dan menarik,” kenang Sjahrir.

Bahkan, sewaktu bersama Agus Salim pergi ke Amerika Serikat membawa misi Indonesia yang baru merdeka, Sjahrir lagi-lagi terkesan dan memuji Agus Salim. Sjahrir mengisahkan, di Amerika saat itu, berkembang opini yang sangat buruk terhadap Indonesia. Pers, apalagi dari State Departement, sangat terpengaruh gambaran yang diberikan Belanda tentang Indonesia.

Dalam situasi demikian, di antara rombongan, Agus Salim paling optimis dan paling militan menghadapi dunia yang merendahkan hasil perjuangan rakyat Indonesia. “Di dalam pertemuan-pertemuan yang diadakan dengan wakil-wakil State Department yang waktu itu jauh dari pada manis terhadap kita, selalu kemahiran Haji Agus Salim dalam perdebatan yang menguasai pembicaraan,” tambah Sjahrir.

Demikianlah, orang-orang besar yang sesungguhnya, justru mampu melihat kekerdilan orang lain dengan kacamata kasih sayang. Betapa agama ini, telah mengantarkan manusia kepada kemuliaan kemanusiaan yang tiada bandingnya.

Sumber: Majalah Tarbawi Edisi 27 Th. 3/Syawal 1422 H/31 Desember 2001 M

Dipublikasi ulang oleh Admin DPD PKS Sidoarjo

Konten lainnya: