W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Yang Bersama Karena Keimanan

Bila iman telah tertanam, orang lain yang jauh pun bisa menjadi saudara dekat. Ukhuwah, persaudaraan yang dibangun atas dasar iman, memang tak kenal batas. Apalagi sekadar ras, suku, bahkan negara.

Betapa banyak orang yang tak punya hubungan darah atau kekerabatan. Tetapi menjadi saudara lantaran iman yang menyatukan hati mereka.

Demikian pula yang terjadi antara Mohammad Natsir dengan Raja Faisal, seperti yang dituturkan KH. Hasan Basri, mantan Ketua Umum MUI, pada hari Tasyakuran 80 tahun Mohammad Natsir, Juli 1988.

Semua orang tahu bahwa pemerintah pada masa rezim Orde Lama sangat represif terhadap tokoh-tokoh Islam, termasuk kepada M. Natsir, yang pernah ditahan di Rumah Tahanan Militer Keagungan, Jakarta.

Pada akhir 1965, Hasan Basri diangkat menjadi Majelis Pimpinan Haji ke Mekah. Sewaktu ia singgah ke Jeddah, kawannya, salah seorang staf KBRI Jeddah, bercerita soal pengalamannya mengantar Subandrio menemui raja Faisal.

“Pak, Bapak tahu ada suatu rahasia besar waktu Subandrio naik haji,” ujarnya pada Hasan Basri. Kawan itu menambahkan, “Lama sekali kami mengusahakan dapat bertemu dengan Raja Faisal, tapi ia (Subandrio) tak bisa diterima. Ketika akhirnya Raja Faisal menerima juga, Subandrio cerita banyak tentang Islam di Indonesia, bahwa (perkembangannya) baik sekali. Subandrio melaporkan bahwa ia membela Islam, naik haji dan sebagainya. Raja Faisal diam saja. Setelah Subandrio selesai, Raja Faisal langsung bertanya, satu pertanyaan saja, ’Kenapa Saudara tahan Mohammad Natsir?’”

Raja Faisal tidak memberi reaksi tentang laporan Subandrio, tentang keadaan Islam menurut Subandrio. Tapi ia menanyakan satu hal saja pada Subandrio, “Kenapa kau tahan Mohammad Natsir? Saudara tahu, Mohammad Natsir bukan pemimpin umat Islam Indonesia saja, tapi pemimpin umat Islam dunia ini, kami ini!”

Kawan Hasan Basri yang mendampingi Subandrio itu menyaksikan betapa Subandrio menjadi pucat mukanya.

Begitulah, kesatuan iman menjadi dasar utama kepedulian Raja Faisal atas apa yang menimpa M. Natsir.

Selain itu, sejarah perjuangan umat Islam Indonesia juga pernah mencatat lahirnya semangat Pan Islamisme, yang membangkitkan penentangan pada Belanda. Sepanjang abad 19 sampai 20, ide Pan Islamisme telah memberi inspirasi bagi lahirnya banyak negeri Islam dan gerakan kebangsaan.

Di Indonesia, kekuatan persaudaraan seiman dalam semangat Pan Islamisme, menjelma pula dalam bentuk penentangan pada penjajah Belanda. Hal ini semakin bertambah, terutama dengan dibukanya konsul Turki di Jakarta.

Sampai-sampai, dalam surat rahasia kepada Cubernur jenderal Hindia Belanda pada 28 Juli 1904, Snouck Hurgronje, adviseur dari Islomitische en Arabische Zaken telah mengkhawatirkan pengaruh Pan Islamisme ini. Snouck akhirnya mengusulkan larangan imigrasi orang-orang Arab ke Indonesia. Menurutnya larangan ini bukan karena alasan ekonomi, tapi karena alasan politik. Ia mencontohkan pemberontakan di Aceh yang dipimpin Habib Abdurrachman Al Zahir dan beberapa orang Arab lainnya bersama masyarakat pribumi.

Menurut Snouck, di kalangan orang Arab di Indonesia pada masa itu memang tertanam harapan pada negara Islam besar, yaitu Turki. Dan semangat ini disebarkan pada penduduk pribumi muslim. Apalagi, lewat konsulatnya, pemerintah Turki sendiri sering memberi nasihat pada raja pribumi dan zelfbestuur, untuk mencegah mereka mengindentifikasikan diri dengan penjajah Belanda. Sejak konsulat Turki di tempatkan di Batavia, sejumlah besar orang Arab dan pribumi menganggap Konsul Jenderal Turki sebagai wakil kekuasaan, yang akan menolong mereka. Mereka merasa mempunyai pelindung yang lain, bukan kaum penjajah yang memerintah mereka.

Hal yang sama dikemukakan Dr. Hazeu, pengganti Snouck, dalam surat rahasianya pada 3 Juni 1908. Menurutnya, “fanatisme”
dan Pan-Islam, menimbulkan banyak keributan dan penentangan di pulau Jawa, hingga setiap waktu pemerintah Hindia Belanda dapat berada dalam keadaan yang sangat sulit.

Sementara, yang baru-baru ini terjadi, terkait dengan intervensi Amerika ke Afghanistan, adalah munculnya solidaritas yang kuat dari kaum muslimin di berbagai penjuru dunia. Gempuran Amerika ke Afghanistan dengan berbagai senjata berat itu mengundang kecaman dan caci maki.

Serangan tersebut menimbulkan solidaritas kaum muslimin seluruh dunia. Indonesia sendiri sebagai negeri muslim terbesar, memberikan reaksi solidaritas. Ada KISA (Komite Indonesia untuk Solidaritas Afghanistan), Dompet Dhu’afa, Mer-C, DSUQ, dan Al-Falah Surabaya, yang berusaha keras membantu kaum muslimin Afghanistan. Bahkan, KISA, dengan menggandeng LSM internasional telah menuju front depan Afghanistan di ibu kota Kabul.

Demikian halnya dengan kaum muslimin di Mesir, Malaysia serta Qatar. Bahkan di negeri yang muslimnya minoritas seperti Thailand, Jerman, Inggris, dan Amerika sendiri, solidaritas sesama muslim semakin kental. Mereka banyak membuat aksi solidaritas, mulai demonstrasi, pemboikotan produk Amerika, pengiriman bantuan, dan relawan.

Sekali lagi, iman yang tertanam di dalam dada begitu banyak melahirkan keajaiban, keagungan, sekaligus harmoni hidup yang nyaman. Dari sana, lantas lahir kebersamaan yang tak terpisahkan oleh batas-batas duniawi. Karena mereka menyandarkan kebersamaannya kepada Allah SWT.

Sumber: Majalah Tarbawi Edisi 27 Th. 3/Syawal 1422 H/31 Desember 2001 M

Dipublikasi ulang oleh Admin DPD PKS Sidoarjo

Konten lainnya: