W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Yang Bersekutu Karena Kepentingan

Di dunia ini, begitu banyak orang yang berteman hanya karena tujuan duniawi. Tidak sedikit orang yang menjalin kebersamaan semata-mata karena kepentingan sesaat. Ibaratnya, habis manis sepah dibuang. Bahkan, yang lebih sadis lagi, ada orang-orang yang berpura-pura menjadi teman, sekadar untuk menghisap dan menggerogoti orang lain.

Apa yang dilakukan Snouck Hurgonje yang berpura-pura masuk Islam, menjadi salah satu contoh akurat. Christiaan Snouck Hurgronje lahir di Leiden 26 juni 1936. Ia seorang orientalis yang pada 1889 diminta datang oleh penguasa Belanda untuk memberikan saran cara menaklukkan Aceh. Pada 11 Januari 1889, ia diangkat menjadi penasehat urusan pribumi dan Arab.

Ia akhirnya menjadi tulang punggung mengelabui mata kaum Islam di Indonesia, untuk mempelajari dan mencari celah-celah, supaya kekuasaan penjajah Belanda tetap langgeng. Ia memberikan nasihat-nasihat yang dijadikan garis peraturan-peraturan pemerintah kolonial dalam menekan dan menetralisir Islam di Indonesia. Dalam menempuh upayanya, ia bahkan berpura-pura memeluk Islam, menikah dengan wanita muslim, dan beribadah haji.

Tak sedikit masyarakat muslim Indonesia saat itu yang terkecoh dan mempercayainya sebagai muslim yang baik. Termasuk mertuanya, yang menganggapnya muslim yang baik dan bersedia menikahkannya dengan puterinya.

Lewat interaksi yang intensif dengan umat Islam yang sangat dipermudah dengan penyamarannya, ia memperingatkan penguasa Belanda atas berbagai hal, yang jika dibiarkan akan membahayakan kekuasaan Belanda di Indonesia. Maka tak heran kalau Harry J. Benda, seorang penulis Eropa menilai Snouck sebagai salah seorang negarawan-kolonial besar Belanda. Menurut Benda, pengetahuan Snouck tentang sifat Islam-Indonesia, sekalipun dalam beberapa hal dapat dipertanyakan, sangat besar artinya dalam menjalankan politik Belanda menuju keberhasilan.

Di antara sekian banyak sarannya adalah agar penguasa Belanda melestarikan tradisi nenek moyang orang Indonesia dan mengusa-hakan supaya Islam hanya menjadi “agama masjid”. Artinya agama yang semata-mata berisi ibadah ritual pada Allah. Jika tidak, menurut Snouck, Islam akan menjadi agama yang membahayakan kelestarian penjajah Belanda di Indonesia. Ia juga menganjurkan pemerintah Hindia Belanda untuk mengawasi kas masjid supaya tidak digunakan untuk membahayakan kekuatan penguasa Belanda dan melakukan pengawasan yang ketat tapi selektif terhadap jemaah haji Indonesia.

Ulah Snouck itu tak urung mengacak-acak keberadaan kaum muslimin yang dengan susah-payah harus berjuang melawan Belanda. Ia tidak sekadar duri dalam daging, atau musuh dalam selimut. la lebih sadis dari serigala berbulu ayam.

Dalam sejarah Perang Dunia II, juga ada kisah bagaimana persekongkolan dilakukan dalam level negara, demi kepentingan sesaat.

Pada 27 September 1940, Jepang menandatangani Pakta Tiga Kekuatan, yang lebih dikenal dengan Tripartite Pact bersama jerman dan Italia. Konsekuensi dari perjanjian tersebut, apabila salah satu negara anggota pakta itu berperang, maka otomatis kedua negara anggota lainnya ikut berperang bersamanya. Tegasnya, kalau Jerman berperang melawan Amerika, maka Italia dan jepang otomatis harus berperang melawan Amerika. Kalau Amerika berperang melawan Jepang, maka Jerman berperang melawan Amerika. Tapi dasar pertemanan yang dibangun oleh Jerman dan Jepang itu sekadar untuk menyelamatkan kepentingannya, untuk sesegera mungkin memenangkan peperangan di masing-masing wilayah pertempurannya.

Dengan kata lain, telah ada persekongkolan jahat atau monsterverbond. Mereka saling mendesak untuk menghancurkan negara-negara lain yang dianggapnya sebagai musuh, meskipun memiliki perjanjian dengan salah satu dari mereka. Contohnya, Jerman mendesak Jepang untuk segera menyerang Rusia, sebagai upaya Jerman untuk memecah kekuatan Rusia. Padahal telah ada perjanjian terselubung antara Jerm.an dengan Rusia untuk tidak saling menyerang. Jerman berharap, ketika Jepang menyerang Rusia, kekuatan Rusia akan terpecah.

Tetapi justru pada 13 April 1941, Menteri Luar Negeri Jepang, Yosuka Matsuoka mengadakan perjanjian terselubung tidak
saling menyerang dengan Soviet Rusia. Semuanya demi kepentingan Jepang sendiri. Agar bisa memindahkan tentaranya dari Manchuria yang berbatasan langsung dengan Siberia, Rusia, ke jurusan selatan, ke Filipina, Malaysia, dan Indonesia.
Akhirnya, Rusia memusatkan kekuatan tentaranya di Eropa guna menghadapi ekspansi Hitler. Sejak itulah, diawali titik balik jalannya perang dunia kedua, ditandai dengan kekalahan besar Jerman di front Leningrad Rusia.

Demikianlah, pertemanan yang dibuat oleh para kreator Perang Dunia II: Hitler, Stalin, dan militeris Jepang. Prinsipnya lawan dijadikan kawan, dan kawan makan kawan, sesuai kepentingan yang mereka inginkan. Perang memang tipu daya. Tetapi Perang Dunia tidak pernah memberi keuntungan bagi Islam, secuil pun. Justeru sesudah itu, negeri-negeri muslim dikapling-kapling oleh para penjajah Barat.

Apapun, kebersamaan yang hanya didasari kepentingan sesaat seringkali menjadi bumerang di kemudian hari. Kita memang harus banyak belajar.

Sumber: Majalah Tarbawi Edisi 27 Th. 3/Syawal 1422 H/31 Desember 2001 M

Dipublikasi ulang oleh Admin DPD PKS Sidoarjo

Konten lainnya: