W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Mengirim Neokonservatif ke Irak

(Sebuah tulisan lama yang mungkin berguna menambah wawasan. Maaf, bagi yang pernah menerima tulisan ini)

Oleh Wawan Kurniawan *

In peace, sons bury their fathers. In war, fathers bury their sons. (Herodotus)

Kalimat “suasana di Irak menakutkan dan memburuk” mengawali laporan Kelompok Studi Irak (ISG/Iraq Study Group). Laporan setebal 160 halaman ini dikeluarkan pada 6 Desember kemarin setelah masa kerja 266 hari, terhitung sejak Kongres AS membentuk ISG pada 16 Maret lalu.

ISG merupakan kelompok bipartisan yang terdiri dari 10 orang: 5 Republik dan 5 Demokrat. Kelompok kajian yang bisa dikatakan sebagai komisi khusus ini dikepalai bersama oleh James Baker (menlu AS era Bush senior) dan Lee Hamilton (pernah memimpin Komite Hubungan Internasional Kongres dan wakil ketua Komisi 9-11).

Laporan dengan tema besar “The Way Forward, A New Approach” tersebut berisi 79 rekomendasi atas penilaian ISG terhadap kondisi Irak internal-eksternal sekarang. Ada empat pendekatan internal dan 8 eksternal.

Hadirnya laporan ISG ini otomatis menafikan beberapa laporan lainnya, semisal “National Strategy for Victory in Iraq” oleh National Security Council (NSC) Nopember 2005 atau “Measuring Stabiliy and Security in Iraq” buatan Dephan AS 29 Agustus kemarin.

Kekurangan Personal

Salah satu dari 8 kenyataan lapangan yang didapati ISG adalah AS sangat sulit memenuhi orang-orang sipil dengan berkualitas memadai untuk kebutuhan melatih warga sipil Irak. Banyak bidang penting seperti bahasa, budaya, pertahanan, urusan luar negeri, pembangunan, keuangan, kehakiman, pertanian dan intelejen tidak berfungsi baik karena ketiadaan SDM handal.

Bagi penulis, tidak ada yang mengejutkan dalam penilaian ISG itu. Jangankan untuk bidang sipil, militer AS saja kewalahan melaksanakan tugas-tugasnya. Pasukan koalisi dengan 141.000 tentara AS dan 16.500 tentara dari 21 negara sekutu tidak mampu mengamankan seluruh negeri. Gabungan 15 ribu militer AS ditambah 9 ribu tentara Irak, 12 ribu polisi nasional, dan 22 ribu polisi lokal masih membuat Baghdad (penduduk 4 juta) belum steril. Marinir AS dengan kekuatan hampir 30 ribu personil bertahan mati-matian di propinsi pusat perlawanan, Anbar (More US Troops Dying in Anbar Province, AP, 25/11).

Di sisi lain, 11 tentara AS dan 40 warga sipil Irak terbunuh pada hari Rabu bersamaan keluarnya laporan ISG itu. Total jenderal, AS sudah kehilangan 2918 tentaranya (AP, 06/12). Sepertiga lebih dari jumlah itu terjadi di Anbar. Tak heran, bulan Agustus lalu, Marinir AS mengeluarkan press release bahwa mereka tidak memiliki kemampuan lagi mengalahkan gerakan perlawanan di Anbar.

Mengangkut Para Neokon

Tentu saja, satu-satunya orang sipil AS yang (paling) kapabel di Irak adalah Dubes AS untuk Irak, Zalmay Khalilzad. Khalilzad adalah seorang neokonservatif (anggota PNAC), peraih Ph.D. dari Universitas Chicago, mantan peneliti senior Rand Corporation, dan mantan anggota NSC urusan Teluk Persia dan Asia Barat Daya 2001-2003.

PNAC (Project for the New American Century) merupakan kelompok kajian konservatif paling berpengaruh pada era menjelang milenium. PNAC berdiri pada musim semi 1997 dengan mengusung gagasan “kepemimpinan global AS” (PNAC, Statement of Principles, 3 Juni 1997). Kedua pendirinya, Robert Kagan dan William Kristol berafiliasi dengan kelompok kajian konservatif terkemuka lain, American Enterprise Institute (AEI) dan Carnegie Endowment for International Peace (CEIP).

Pada 26 Januari 1998, PNAC mengirim surat ke Bill Clinton. Surat tersebut berisi saran penyingkiran Saddam Husein segera. Donald Rumsfeld, Paul Wolfowitz, Peter Rodman, Elliot Abrams, Khalilzad, William J. Bennett, Richard Perle, John Bolton, James Woolsey, Richard Armitage dan Robert Zoellick adalah para penandatangan surat itu. Surat yang sama dikirim ke Kongres beberapa bulan setelah itu. Hasilnya, lahirlah UU Pembebasan Irak 1998.

Ketika Bush tampil memegang kekuasaan pada 2000, serombongan neokonservatif penandatangan di atas masuk ke lingkaran kekuasaan dengan memegang posisi-posisi strategis. Rumsfeld menjadi menteri pertahanan (20 Januari 2001-18 Desember 2006). Wolfowitz sekarang duduk di kursi empuk Presiden Bank Dunia setelah menjadi wakil menhan (2 Maret 2001-1 Juni 2005). Demikian juga Rodman (Asisten Menhan Bidang Keamanan Internasional), Abram (anggota NSC), Perle (anggota Dewan Kebijakan Pertahanan), Bolton (Duta Besar AS untuk PBB 1 Agustus 2005-30 Desember 2006), Armitage (wakil menlu 26 Maret 2001-22 Februari 2005), dan Zoellick (penerus Armitage di posisi sama).

Surat berikutnya tertanggal 20 September 2001, PNAC mengirim surat dengan isi yang sama plus tindakan militer segera ke Afghanistan kepada G.W. Bush. Para penandatangannya adalah William Kristol, Gary Bauer, Jeffrey Bell, William J. Bennett, Jeffrey Bergner, Eliot Cohen, Seth Cropsey, Midge Decter, Thomas Donnelly, Aaron Friedberg, Hillel Fradkin, Francis Fukuyama, Frank Gaffney, Jeffrey Gedmin, Reuel Marc Gerecht, Charles Hill, Bruce P. Jackson, Eli S. Jacobs, Michael Joyce, Donald Kagan, Robert Kagan, Jeane Kirkpatrick, Charles Krauthammer, John Lehman, Clifford May, Richard Perle, Martin Peretz, Norman Podhoretz, Randy Scheunemann, Gary Schmitt, William Schneider, Jr., Richard H. Shultz, Henry Sokolski, Stephen J. Solarz, Vin Weber, Leon Wieseltier, dan Marshall Wittmann. Tak lama kemudian, tepatnya setelah 17 hari, AS menginvansi Afghanistan.

Surat PNAC berikutnya dengan anjuran menumpas poros jahat (axis of evil) Irak, Iran, dan Korea Utara diterima Bush pada 23 Januari 2003. Anggota PNAC yang menandatanganinya adalah William Kristol, Gary Bauer, Max Boot, Frank Carlucci, Eliot Cohen, Midge Decter, Thomas Donnelly, Frank Gaffney, Daniel Goure, Bruce P. Jackson, Donald Kagan, Robert Kagan, Lewis E. Lehrman, Tod Lindberg, Rich Lowry, Daniel McKivergan, Joshua Muravchik, Danielle Pletka, Norman Podhoretz, Stephen P. Rosen, Gary Schmitt, Randy Scheunemann, William Schneider, Jr., Richard Shultz, Henry Sokolski, Chris Williams, dan R. James Woolsey. Lima puluh enam hari setelah itu, AS menyerang Irak.

Kini, Afghanistan masih membara. Irak masih melawan dengan sengitnya. Sayangnya, hanya Khalilzad saja yang pusing tujuh keliling melihat kondisi nyata negara yang dulu dia menganjurkan untuk menginvansinya. Para neokon lainnya hanya duduk-duduk di AS seraya memberi komentar sana kritikan sini.

Guna memenuhi rekomendasi ISG, para neokonservatif ini lebih baik diberi pekerjaan jelas: memperbaiki Irak dengan mengirim mereka ke sana seraya menemani kolega mereka, Khalilzad, yang lagi kesepian itu. Biar mereka melihat sendiri kondisi Irak seperti apa sekarang.

Kehadiran neokonservatif lebih dibutuhkan daripada anak-anak muda yang menjadi tentara. Mayoritas prajurit muda AS berasal dari kalangan miskin. Mereka mendaftar tentara karena ingin lepas dari jeratan ekonomi. Menjadi serdadu berarti uang bulanan yang lumayan (On Farthest US Shores, Iraq Is a Way to a Dream, James Brooke, New York Times, 31/07/05).

Kasihan, generasi muda yang membayar kemiskinan dengan nyawanya. Ironisnya, kemiskinan itu disebabkan oleh kebijakan (elite) pemerintah yang mengalihkan alokasi dana kesejahteraan menjadi dana perang. Konon, per 10 Desember kemarin, perang Irak sudah menghabiskan biaya sebesar 345,901 milyar dolar (zfacts.com).

*Wawan Kurniawan, Humas DPD PKS Sidoarjo. Tulisan ini merupakan opini pribadi