W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

ALA LA

Oleh: Musyaffa Abdurahmin

Judul ini bukanlah senandung orang yang tengah diliputi suasana senang; bukan pula karena taujih sebelumnya berjudul NASYID. Akan tetapi, judul ini adalah kutipan dari dua bait syair.

Kitab Ta’liimul Muta’allim menisbatkan dua bait itu kepada ’Ali bin Abi Thalib (radhiyallahu ’anhu). Sementara dalam kitab Diwan Imam Syafi’i, dalam Bab Qafiyah Nuun (syair yang berakhiran huruf nun), dua bait syair ini pun ada, meskipun kata pembukanya bukanlah ALA LA.

Dua bait syi’ir itu lengkapnya adalah sebagai berikut:

Enam Syarat Ilmu

“Ingatlah!
Engkau tidak akan mendapatkan ilmu kecuali setelah memenuhi enam syarat.
Saya akan beritahukan keseluruhannya secara rinci.
Yaitu: Kecerdasan, semangat, sabar, biaya, petunjuk (bimbingan) guru dan dalam tempo waktu yang lama.”

Saudara-saudariku yang dimuliakan Allah SWT…

Partai Keadilan Sejahtera adalah partai dakwah. Dalam berdakwah, ilmu merupakan sesuatu yang tidak bisa ditawar. Dalam istilah Arab-nya: syai’un la budda minim (sesuatu yang mesti dan tan kena ora).

Allah Swt. berfirman:

Q.S Muhammad 19

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosarnu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempunan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu.” (Q.S. Muhammad: 19)

Mengomentari firman Allah SWT ini, Imam Bukhari berkata,

Ilmu sebelum Berkata dan Beramal

“Ilmu dulu sebelum berbicara dan berbuat”

Sudah pasti, dakwah termasuk dalam al qaul dan al ’amal. Karenanya, ilmu dalam dakwah adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Sekali lagi. Karena Partai Keadilan Sejahtera adalah partai dakwah, gerakan ta’allama (belajar) dan ’allama (pengajaran) harus gencar. Mulai dari berbagai bentuk taklim; ada ta’lim fil masjid, ada taklim rutin partai, ada majlis taklim dan ada halaqah-halaqah ilmiyyah, baik di mushala ataupun di rumah.

Agar gerakan ta’allama dan ’allama ini sukses, bi idznillah, marilah kita bahas dua bait syair yang dikemukakan oleh Imam Syafi’i di atas!

Dalam dua bait di atas, untuk sukses mendapatkan ilmu, Imam Syafi’i menyebutkan enam syarat, yaitu:

1. Dzaka’ (Kecerdasan)
Kecerdasan ada dua macam. Pertama, pemberian (minhah) dari Allah Swt. Kedua, muktasab (seseorang bisa mengembangkan dan mengupayakannya).

Saudara dan saudariku yang dimuliakan Allah Swt…

Dalam rangka mendapatkan dzaka’ muktasab ini, banyak hal yang dapat Anda lakukan, yaitu:

a. Sering membaca buku. Malu kita kalau tidak rajin membaca buku. Jangan sampai kita terkena ejekan ummatu iqra’ la taqra’ (umat yang wahyu pertamanya berbunyi ’iqra’ kok malah tidak membaca)!

b. Sering-seringlah menuliskan apa-apa yang Anda baca, dengar dan saksikan. Belajarlah merapikan ide-ide dan pengetahuan Anda. Tuangkanlah segala gagasan Anda dalam bentuk tulisan! Ingatlah bahwa wahyu kedua yang rurun kepada Nabi Muhammad saw. adalah surat Al Qalam (pena), sebagaimana pendapat yang paling kuat yang dipegang para ulama. Dalam surat ini, Allah SWT bersumpah dengan Al Qalam dan apa yang dituliskan olehnya.

c Biasakanlah mengikuti dan melakukan diskusi-diskusi ilmiah! Bukan diskusi penuh emosi, adu otot, debat kusir dan semacam-nya tetapi, sekali lagi, diskusi ilmiah.

d. Ajarankanlah apa-apa yang telah Anda ketahui kepada orang Iain! Atau diistilahkan para ulama: tunaikanlah zakat ilmu Anda. Sebab, dengan zakat ilmu ini, ilmu Anda akan bersih (thahir) dan semakin berkembang dengan lebih baik (tazkiyah).

Kalau dalam istilah guru kampung saya: ilmu itu ibarat api (sebenarnya yang lebih pas sih cahaya, nuur, tapi nggak mengapalah). Bila kita mempunyai api, lalu ada orang lain datang membawa kayu dan meminta api kepada kita, maka api itu akan semakin besar dan semakin banyak.

2. Hirsh (semangat)
Menurut saya, hirsh adalah hasil dari kesadaran. Kesadaran apa?

  • Kesadaran akan kelemahan dirinya dalam ilmu pengetahuan.
  • Kesadaran bahwa dirinya mempunyai potensi untuk mendapatkan ilmu.
  • Kesadaran bahwa thalabul ’ilmi itu faridhah.
  • Kesadaran bahwa dirinya-sebagai dai-harus berbekal ilmu.
  • Kesadaran bahwa dirinya termasuk dalam kategori orang-orang yang la yadri lakinnahu yadri annahu la yadri (tidak mengetahui, tetapi mengetahui bahwa dirinya tidak mengetahui). Bukan orang-orang yang la yadri wala yadri annahu la yadri (tidak mengetahui, dan ia tidak mengetahui bahwa dirinya tidak mengetahui).

Saudara dan saudariku yang dimuliakan Allah Swt…

Sebagai kader partai dakwah, kita tidak boleh kehilangan hirsh ini. Jangan sampai kita datang ke majelis taklim sekadar untuk memenuhi buku kehadiran, atau karena pertimbangan daripada…, daripada… Kita harus datang ke majalisul ’ilmi karena sifat hirsh kita dan dalam rangka memenuhi faridhah islamiyyah.

3. Ishthibar (penuh kesabaran)
Ilmu adalah kesabaran. Jangan banyak keluh-kesah, jangan terburu-buru, dan jangan frustasi!

4. Bulghdh (biaya, ongkos)
Partai kita memiliki banyak acara taklim yang sangat murah, bahkan gratis. Artinya, persyaratan ini telah banyak dipangkas olehnya. Oleh karena itu, jangan kehilangan persyaratan lainnya.

5. Irsyadu ustadz (petunjuk dan bimbingan guru)
Salah satu ciri Partai Keadilan Sejahtera adalah da’watun salafiyyah. Partai ini hendak menghidupkan kembali apa-apa yang ada pada salafush-shalih. Di antara yang ada pada mereka adalah model-model qara’a ’ala (membaca kitab/ilmu di hadapan…), sami’a min (men-dengar pembacaan kitab/ilmu dari…), akhadza ’an (mengambil, yakni mendapatkan kitab/ilmu dari…), hashalal ijazata min (mendapatkan ijazah atau ijin untuk mengajarkan kitab/ilmu dari…) dan seterusnya.

Kita semua harus menghidupkan kembali sunnah (jalan dan metode) ini. Mengapa? Karena, salah satu tolok ukur orisinalitas sebuah ’ilmu adalah diambil dari mana (siapa gurunya) dan siapa saja yang belajar kepadanya.

6. Thulu Zaman (dalam jangka waktu yang panjang)
Janganlah mengandalkan hal-hal yang serba ’kilat’. Kursus kilat, belajar cepat, dan semacamnya!

Ingat! Rasulullah saw menerima Al Quran bukan dalam tempo cepat. Padahal beliau adalah orang Arab, dari suku yang paling fasih bahasanya, dan beliau sangat cerdas dan masih banyak lagi kelebihan beliau. Namun, beliau menerima Al Quran itu dalam tempo lebih dari 22 tahun!

Akhirnya, semoga Allah SWT senantiasa menambahkan ilmu kepada kita dan menjadikan semua ilmu kita bermanfaat fiddiini waddunya wal akhirah. Amin.

Sumber: Musyaffa Abdurrahmin, “Membangun Ruh Baru: Taujih Pergerakan untuk Para Kader Dakwah,” Syaamil Cipta Media, Bandung, 2005.